Tuhan dalam kepercayaan Tionghoa: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
Mario Elfando (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
Wagino Bot (bicara | kontrib)
k →‎top: Bot: Merapikan artikel, removed orphan tag
 
(27 revisi perantara oleh 13 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{Konsep Tuhan}}
[[kategori:Agama_Konghucu]]
'''Tuhan dalam agama dan Kepercayaan Tionghoa''' adalah konsep ketuhanan dalam agama masyarakat Tionghoa.
{{Agama_Konghucu|date=Agustus 2013}}
Dalam agama Khonghucu (Rujiao) sebutan Tuhan adalah 天 TIAN (baca, Ti'en) yang berarti Satu Yang Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Esa. Dalam kitab suci agama Khonghucu 五經 Wujing (Kitab Yang Lima) ada beberapa istilah/sehutan Tuhan seperti Huang Tian, Min Tian, Shang Di dsb. Nabi Kongzi menyebutnya dengan TIAN.
Konsep ketuhanan dalam agama Khonghucu seperti tersurat dalam Kitab Zhong Yong Bab XV sifat Tuhan itu Maha Roh, dilihat tiada tampak, didengar tiada terdengar, namun setiap wujud tiada yang tanpa Dia. Adapun kenyataan Tuhan itu tidak dapat diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Demikianlah kesempurnanNya hingga terasakan di atas dan di kanan kiri kita.

== Pengertian umum ==
Secara umum, orang Tionghoa biasa menyebut Tuhan Yang Maha Esa sebagai Thian Kong (Tian Gong) atau Thi Kong, ada pula yang menyebutnya sebagai Siang Te atau Shang Di (上帝). Sebenarnya pengertian ini rancu, sebab pengertian Thian Kong dan Shang Di maknanya agak berbeda. Istilah Thian (Tian) sebenarnya secara harafiah berarti ‘langit’, yang menunjukkan tempat kediaman dari Shang Di (Siang Te), sedangkan Shang Di sendiri berarti ‘yang termulia yang berada paling atas’.
Secara umum, orang Tionghoa biasa menyebut Tuhan Yang Maha Esa sebagai Thian Kong (Tian Gong) atau Thi Kong, ada pula yang menyebutnya sebagai Siang Te atau Shang Di (上帝). Sebenarnya pengertian ini rancu, sebab pengertian Thian Kong dan Shang Di maknanya agak berbeda. Istilah Thian (Tian) sebenarnya secara harafiah berarti ‘langit’, yang menunjukkan tempat kediaman dari Shang Di (Siang Te), sedangkan Shang Di sendiri berarti ‘yang termulia yang berada paling atas’.


== Zaman Tiongkok purba ==
Dalam buku-buku Tiongkok kuno (sebelum era [[Laozi]]), orang Tiongkok
Dalam buku-buku Tiongkok kuno (sebelum era [[Laozi]]), orang Tiongkok sudah mempercayai adanya ‘sesuatu’ sebagai penguasa segala sesuatu di jagat raya ini. ‘Sesuatu’ ini umumnya disebut Shang Di atau Thian, sebab menurut mereka, ‘sesuatu’ penguasa kedudukannya pastilah di atas. Sejalan dengan pemujaan kepada Shang Di atau Thian, mereka juga mempercayai bahwa di tempat-tempat tertentu memiliki penguasa-penguasa sendiri (semacam penguasa lokal), sehingga timbul juga pemujaan kepada ‘penguasa-penguasa lokal’ tersebut (misalnya penguasa sungai, penguasa gunung, penguasa bumi, dan sebagainya).
sudah mempercayai adanya ‘sesuatu’ sebagai penguasa segala sesuatu di
jagat raya ini. ‘Sesuatu’ ini umumnya disebut Shang Di atau Thian, sebab menurut mereka, ‘sesuatu’ penguasa kedudukannya pastilah di
atas. Sejalan dengan pemujaan kepada Shang Di atau Thian, mereka juga mempercayai bahwa di tempat-tempat tertentu memiliki
penguasa-penguasa sendiri (semacam penguasa lokal), sehingga timbul
juga pemujaan kepada ‘penguasa-penguasa lokal’ tersebut (misalnya penguasa sungai, penguasa gunung, penguasa bumi, dan sebagainya).


== Dalam Taoisme ==
Setelah era [[Laozi]], pemujaan kepada Shang Di dan pemujaan kepada ‘penguasa-penguasa lokal’, sedikit demi sedikit mulai tertata bentuknya sehingga hirarki pemerintahan langit menjadi semakin jelas. Menurut buku ‘Myths and Legends of China’ karangan
Setelah era [[Laozi]], pemujaan kepada Shang Di dan pemujaan kepada ‘penguasa-penguasa lokal’, sedikit demi sedikit mulai tertata bentuknya sehingga hierarki pemerintahan langit menjadi semakin jelas. Menurut buku ‘Myths and Legends of China’ karanganvWerner, orang Tionghoa percaya bahwa pemerintahan surga / langit / kayangan, termasuk para dewa dan malaikat, dipimpin oleh suatu sistem pemerintahan yang mirip dengan sistem pemerintahan yang ada di bumi. Dalam sastra Tionghoa disebutkan sebagai Tian Di Yi Li atau
Werner, orang Tionghoa percaya bahwa pemerintahan surga / langit /
kahyangan, termasuk para dewa dan malaikat, dipimpin oleh suatu sistem
pemerintahan yang mirip dengan sistem pemerintahan yang ada di
bumi. Dalam sastra Tionghoa disebutkan sebagai Tian Di Yi Li atau
‘Langit dan bumi punya tatanan yang sama’.
‘Langit dan bumi punya tatanan yang sama’.


Pemimpin tertinggi dan berkuasa penuh atas jagat raya, dipegang oleh Siang Te (Shang Di), dan menteri-menterinya dijabat oleh para dewa, baik sipil maupun militer. Kaisar yang memerintah di daratan Tiongkok dipercayai sebagai utusan dari langit (utusan Siang Te) yang diberi mandat untuk memerintah di bumi (oleh sebab itu, Kaisar Tiongkok selalu disimbolkan sebagai naga – hewan perkasa dari langit. Jubah kebesaran Kaisar disebut jubah Naga. Selain Kaisar, tidak seorangpun boleh menggunakan attribut ataupun hiasan Naga. Bagi yang melanggar akan terkena hukuman pancung, sebab berarti dia men-sejajar-kan kedudukannya sama dengan kaisar). Upacara sembahyang kepada Siang Te hanya dilakukan oleh Kaisar dan keluarga kerajaan, rakyat tidak boleh mengikuti ataupun menghadirinya. Bagi rakyat, memuja Kaisar sebagai utusan Siang Te
Pemimpin tertinggi dan berkuasa penuh atas jagat raya,
yang ada di dunia, sudah merupakan wujud pemujaan kepada Siang Te sendiri. Bila ada rakyat yang berani memuja kepada Siang Te secara langsung, berarti men-sejajar-kan dirinya dengan kaisar dan dapat
dipegang oleh Siang Te (Shang Di), dan menteri-menterinya dijabat oleh para dewa, baik sipil maupun militer. Kaisar yang memerintah di daratan Tiongkok dipercayai sebagai utusan dari langit
(utusan Siang Te) yang diberi mandat untuk memerintah di bumi (oleh sebab itu, Kaisar Tiongkok selalu disimbolkan sebagai naga –
hewan perkasa
dari langit. Jubah kebesaran Kaisar disebut jubah Naga. Selain Kaisar,
tidak seorangpun boleh menggunakan attribut ataupun
hiasan Naga. Bagi yang melanggar akan terkena hukuman pancung,
sebab berarti
dia men-sejajar-kan kedudukannya sama dengan kaisar). Upacara
sembahyang kepada Siang Te hanya dilakukan oleh Kaisar dan keluarga kerajaan, rakyat tidak boleh mengikuti ataupun menghadirinya. Bagi rakyat, memuja Kaisar sebagai utusan Siang Te
yang ada di dunia, sudah merupakan wujud pemujaan kepada Siang Te
sendiri. Bila ada rakyat yang berani memuja kepada Siang Te secara
langsung, berarti men-sejajar-kan dirinya dengan kaisar dan dapat
dikenai hukuman mati.
dikenai hukuman mati.


Karena rakyat tidak mempunyai hak untuk memuja Shang Di secara langsung, maka ketika mereka mempunyai seorang Kaisar yang
Karena rakyat tidak mempunyai hak untuk memuja Shang Di secara langsung, maka ketika mereka mempunyai seorang Kaisar yang lalim dan penindas kaum lemah, rakyat mulai mencari objek pengaduan agar penderitaan mereka berubah menjadi baik. Rakyat kemudian mempersonifikasikan dan melakukan pemujaan kepada Thian (Tian), yang sebenarnya hanyalah tempat kediaman Siang Te. (Mungkin mirip dengan zaman sekarang, dimana apabila ada kepala pemerintahan yang korupsi, maka rakyat lalu berbondong-bondong
datang dan berunjuk-rasa di gedung kepala pemerintahan tersebut). Pemujaan kepada Thian tidak dilarang oleh Kaisar, bahkan Kaisar juga kadang-kadang ikut memujanya (di Beijing ada ‘Tian Tan’ – altar pemujaan kerajaan), sedangkan rakyat biasanya melakukan pemujaan di depan pintu rumah masing-masing.
lalim dan penindas kaum lemah, rakyat mulai mencari obyek pengaduan agar penderitaan mereka berubah menjadi baik. Rakyat
kemudian mempersonifikasikan dan melakukan pemujaan kepada
Thian (Tian), yang sebenarnya hanyalah tempat kediaman Siang Te. (Mungkin mirip dengan zaman sekarang, dimana apabila ada kepala
pemerintahan yang korupsi, maka rakyat lalu berbondong-bondong
datang dan berunjuk-rasa di gedung kepala pemerintahan tersebut). Pemujaan kepada Thian tidak dilarang oleh Kaisar, bahkan Kaisar juga
kadang-kadang ikut memujanya (di Beijing ada ‘Tian Tan’ – altar
pemujaan kerajaan), sedangkan rakyat biasanya melakukan pemujaan
di depan pintu rumah masing-masing.


Dengan adanya pengaruh Taoisme, maka kemudian bermunculan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai Shang
Dengan adanya pengaruh [[Taoisme]], maka kemudian bermunculan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai Shang Di. Dalam buku-buku kuno, tokoh Shang Di memiliki beberapa sebutan, antara lain: Ming Ming Shang Di, Tang Tang Shang Di, Wei Huang Shang
Di. Dalam buku-buku kuno, tokoh Shang Di memiliki beberapa sebutan, antara lain: Ming Ming Shang Di, Tang Tang Shang Di, Wei Huang Shang
Di, Yuan Shi Tian Zun, Yu Huang Shang Di, dan lain-lain.
Di, Yuan Shi Tian Zun, Yu Huang Shang Di, dan lain-lain.


Setelah munculnya pengaruh Konfusianisme, mulailah upacara
== Konfusianisme ==
sembahyang kepada Shang Di tertata lebih jelas. Dalam ajaran Konfusius, dikenalkan adanya tiga unsur dalam alam semesta, yaitu unsur Tian Huang (Penguasa Langit), Di Huang (Penguasa Bumi) dan Ren Huang (Penguasa Manusia). Penguasa tertinggi
Setelah munculnya pengaruh [[Agama Khonghucu|Konfusianisme]], mulailah upacara sembahyang kepada Shang Di tertata lebih jelas. Dalam ajaran Konfusius, dikenalkan adanya tiga unsur dalam alam semesta, yaitu unsur Tian Huang (Penguasa Langit), Di Huang (Penguasa Bumi) dan Ren Huang (Penguasa Manusia). Penguasa tertinggi
terletak pada Tian Huang atau Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut sebagai
terletak pada Tian Huang atau Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut sebagai Huang Tian Shang Di. Pemujaan kepada Huang Tian Shang Di, banyak dilakukan oleh kaisar-kaisar dari zaman dinasti Ming dan Qing. Hal ini
Huang Tian Shang Di. Pemujaan kepada Huang Tian Shang Di, banyak
disimpulkan karena pada Altar ‘Tian Tan’ terdapat sebilah papan suci yang bertuliskan Huang Tian Shang Di. Selanjutnya...

dilakukan oleh kaisar-kaisar dari jaman dinasti Ming dan Qing. Hal ini
== Sembahyang King Thi Kong ==
disimpulkan karena pada Altar ‘Tian Tan’ terdapat sebilah papan suci
Setelah zaman dinasti Song (tahun 960 – 1280), pengertian Thian dan Siang Te menjadi kabur, apalagi Kaisar sudah tidak begitu keras memberikan larangan pemujaan kepada Siang Te. Kemudian pada zaman dinasti Qing, bangsa Manchuria menjajah bangsa Han, akibatnya banyak para tokoh bangsa Han yang harus melarikan diri dari kejaran pasukan Manchuria. Mereka banyak yang bersembunyi di kebun tebu, sehingga pasukan Manchuria tidak bisa melihatnya. Setelah aman, mereka kembali ke rumah masing-masing dan mensyukuri keselamatan mereka itu dengan mengadakan sembahyang King Thi Kong (Jing Tian Gong). Sembahyang King Thi Kong ini biasanya dilakukan pada tanggal 8 malam tanggal 9 bulan 1 Imlek, tepat jam 12 tengah malam. Tradisi ini turun temurun hingga sekarang.
yang bertuliskan Huang Tian Shang Di.


== Lihat juga ==
Dengan masuknya pengaruh Buddhisme, kemudian muncul
* [[Shangdi]]
suatu aliran yang disebut Thian Tao (Tian Dao), yang merangkum
ketiga ajaran yaitu Taoisme, Konfusianisme dan
Buddhisme. Aliran ini mempertegas nama dan kedudukan Siang Te. Menurut mereka, alam
semesta ini terdiri dari tiga tingkat, yaitu Li Tian (Nirwana), Qi Tian
(Kahyangan) dan Xiang Tian (Bumi). Tuhan Yang Maha Esa disebut
sebagai Bing Bing Siang Te (Ming Ming Shang Di) dan berkedudukan di Li Tian / Nirwana. Bing Bing Siang Te mengeluarkan firmannya
yang disebut Tao, yang merupakan sumber kebenaran dan sumber
kehidupan semua makhluk. Sebagai pelaksana pemerintahan alam
semesta dijabat oleh Yu Huang Shang Di dengan dibantu para dewa-dewi dan malaikat sebagai menteri-menterinya,
yang berkedudukan di Qi Tian / Kahyangan. Kedudukan Yu Huang Shang Di dijabat secara berganti-ganti dan mempunyai batasan waktu. Sedangkan sebagai pelaksana pemerintahan di bumi,
dijabat oleh para Huang Di (kaisar atau raja).


== Referensi ==
Setelah jaman dinasti Song (tahun 960 – 1280),
{{reflist}}
pengertian
Thian dan Siang Te menjadi kabur, apalagi Kaisar sudah
tidak begitu
keras memberikan larangan pemujaan kepada Siang Te.
Kemudian
pada jaman dinasti Qing, bangsa Manchuria menjajah
bangsa Han,
akibatnya banyak para tokoh bangsa Han yang harus
melarikan diri
dari kejaran pasukan Manchuria. Mereka banyak yang
bersembunyi di
kebun tebu, sehingga pasukan Manchuria tidak bisa
melihatnya.
Setelah aman, mereka kembali ke rumah masing-masing
dan
mensyukuri keselamatan mereka itu dengan mengadakan
sembahyang
King Thi Kong (Jing Tian Gong). Sembahyang King Thi
Kong ini
biasanya dilakukan pada tanggal 8 malam tanggal 9
bulan 1 Imlek,
tepat jam 12 tengah malam. Tradisi ini turun temurun
hingga sekarang.
Hal-hal yang dapat mengingatkan orang Tionghoa
kepada pengalaman
leluhurnya waktu itu, biasanya diikut sertakan dalam
tata-cara
sembahyang King Thi Kong, misalnya :
- Meja sembahyang King Thi Kong biasanya diletakkan di
atas dua
atau empat bangku kecil. Hal ini disebabkan sewaktu
pertama kali mengadakan sembahyang King Thi Kong sebagai rasa
syukur,
leluhur mereka tidak memiliki meja khusus. Padahal
leluhur
mereka mempercayai bahwa pemujaan kepada Thi Kong
(Tuhan)
harus di atas pemujaan biasa (melakukan penghormatan
di atas
kepala), maka meja yang biasa (pendek) diberi ganjal
bangku
supaya menjadi lebih tinggi.
- Di kanan kiri sisi meja, biasanya diikatkan sebatang
tebu yang
masih utuh (ada akar sampai ujung daunnya). Hal ini
untuk
mengingatkan saat leluhur mereka dikejar-kejar pasukan
Manchuria dan bersembunyi di kebun tebu. Selain itu,
tebu yang
masih utuh juga melambangkan hidup manusia, bahwa
kesuksesan
seseorang harus dibangun dengan akar yang kuat (akar
tebu),
melalui berbagai rintangan dan pengalaman hidup (ruas
tebu)
sampai tercapainya kesuksesan (daun tebu yang
menjulang tinggi).
Kadang-kadang juga diletakkan berbagai macam sajian
yang
sebenarnya mengandung makna-makna tertentu,
misalnya sesaji
wajik – kue mangkok – kue khu, melambangkan hok lok
siu (fu lu
shou). Wajik biasanya disajikan dalam bentuk gunungan
seperti
tumpeng, yang bermakna agar keberuntungannya
menggunung. Kue
mangkok yang bentuknya selalu merekah pada bagian
atasnya,
bermakna agar hidupnya berkembang. Kue khu yang
cetakannya
berbentuk kura-kura, bermakna agar hidupnya panjang
usia seperti
kura-kura. Sajian lain biasanya disediakan lima macam
buah dan enam
macam masakan sayuran yang biasa disebut Ngo Ko Liok
Jay (Wu
Guo Liu Chai), bahkan ada juga yang menambahkan
masakan dari tiga
macam hewan (Sam Sing / San Xing) atau lima macam
hewan (Ngo
Sing / Wu Xing), dimana sajian Sam Sing atau Ngo Sing
itu
sebenarnya ditujukan untuk para malaikat pengawal
Thian Kong.


== Pranala luar ==
Disini jelaslah bahwa orang Tionghoa mempercayai
* [http://poanthian.webs.com/download/00_pengertian_thian_kong.pdf Pengertian Thian] {{Webarchive|url=https://web.archive.org/web/20101227002126/http://poanthian.webs.com/download/00_pengertian_thian_kong.pdf |date=2010-12-27 }}
adanya
Tuhan sebagai penguasa tertinggi di jagat raya ini.
Hanya saja konsepsi
ke-Tuhan-an ini berbeda dengan agama-agama lain,
sebab bagi orang
Tionghoa, Tuhan atau Thian Kong adalah Pencipta yang
Esa,
sedangkan pembantu-pembantunya (para dewa dan
malaikat) yang
bertugas mengawasi, menghukum dan memberikan
ganjaran kepada
manusia, sesuai dengan perbuatannya.


[[Kategori:Kepercayaan]]
Pemujaan kepada Thian Kong semata-mata untuk
[[Kategori:Budaya Tionghoa]]
mensyukuri segala berkah yang telah diberikanNya kepada kita, sedangkan segala permohonan dilakukan kepada masing-masing dewa pembantu Thian Kong yang sesuai dengan tugasnya. Thian Kong menurut pengertian Tao adalah Esa, tidak bersifat ‘Im-Yang’ atau dualisme (baik-buruk, fana-baka, menghukum-mengganjar, dll). Sedangkan para pembantuNya, mulai dari tingkatan Giok Hong Tay Te (Yu Huang Da Di) yang tertinggi sampai malaikat terendah, masih
memiliki sifat atau

Revisi terkini sejak 28 Desember 2023 19.07

Tuhan dalam agama dan Kepercayaan Tionghoa adalah konsep ketuhanan dalam agama masyarakat Tionghoa. Dalam agama Khonghucu (Rujiao) sebutan Tuhan adalah 天 TIAN (baca, Ti'en) yang berarti Satu Yang Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Esa. Dalam kitab suci agama Khonghucu 五經 Wujing (Kitab Yang Lima) ada beberapa istilah/sehutan Tuhan seperti Huang Tian, Min Tian, Shang Di dsb. Nabi Kongzi menyebutnya dengan TIAN. Konsep ketuhanan dalam agama Khonghucu seperti tersurat dalam Kitab Zhong Yong Bab XV sifat Tuhan itu Maha Roh, dilihat tiada tampak, didengar tiada terdengar, namun setiap wujud tiada yang tanpa Dia. Adapun kenyataan Tuhan itu tidak dapat diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Demikianlah kesempurnanNya hingga terasakan di atas dan di kanan kiri kita.

Pengertian umum[sunting | sunting sumber]

Secara umum, orang Tionghoa biasa menyebut Tuhan Yang Maha Esa sebagai Thian Kong (Tian Gong) atau Thi Kong, ada pula yang menyebutnya sebagai Siang Te atau Shang Di (上帝). Sebenarnya pengertian ini rancu, sebab pengertian Thian Kong dan Shang Di maknanya agak berbeda. Istilah Thian (Tian) sebenarnya secara harafiah berarti ‘langit’, yang menunjukkan tempat kediaman dari Shang Di (Siang Te), sedangkan Shang Di sendiri berarti ‘yang termulia yang berada paling atas’.

Zaman Tiongkok purba[sunting | sunting sumber]

Dalam buku-buku Tiongkok kuno (sebelum era Laozi), orang Tiongkok sudah mempercayai adanya ‘sesuatu’ sebagai penguasa segala sesuatu di jagat raya ini. ‘Sesuatu’ ini umumnya disebut Shang Di atau Thian, sebab menurut mereka, ‘sesuatu’ penguasa kedudukannya pastilah di atas. Sejalan dengan pemujaan kepada Shang Di atau Thian, mereka juga mempercayai bahwa di tempat-tempat tertentu memiliki penguasa-penguasa sendiri (semacam penguasa lokal), sehingga timbul juga pemujaan kepada ‘penguasa-penguasa lokal’ tersebut (misalnya penguasa sungai, penguasa gunung, penguasa bumi, dan sebagainya).

Dalam Taoisme[sunting | sunting sumber]

Setelah era Laozi, pemujaan kepada Shang Di dan pemujaan kepada ‘penguasa-penguasa lokal’, sedikit demi sedikit mulai tertata bentuknya sehingga hierarki pemerintahan langit menjadi semakin jelas. Menurut buku ‘Myths and Legends of China’ karanganvWerner, orang Tionghoa percaya bahwa pemerintahan surga / langit / kayangan, termasuk para dewa dan malaikat, dipimpin oleh suatu sistem pemerintahan yang mirip dengan sistem pemerintahan yang ada di bumi. Dalam sastra Tionghoa disebutkan sebagai Tian Di Yi Li atau ‘Langit dan bumi punya tatanan yang sama’.

Pemimpin tertinggi dan berkuasa penuh atas jagat raya, dipegang oleh Siang Te (Shang Di), dan menteri-menterinya dijabat oleh para dewa, baik sipil maupun militer. Kaisar yang memerintah di daratan Tiongkok dipercayai sebagai utusan dari langit (utusan Siang Te) yang diberi mandat untuk memerintah di bumi (oleh sebab itu, Kaisar Tiongkok selalu disimbolkan sebagai naga – hewan perkasa dari langit. Jubah kebesaran Kaisar disebut jubah Naga. Selain Kaisar, tidak seorangpun boleh menggunakan attribut ataupun hiasan Naga. Bagi yang melanggar akan terkena hukuman pancung, sebab berarti dia men-sejajar-kan kedudukannya sama dengan kaisar). Upacara sembahyang kepada Siang Te hanya dilakukan oleh Kaisar dan keluarga kerajaan, rakyat tidak boleh mengikuti ataupun menghadirinya. Bagi rakyat, memuja Kaisar sebagai utusan Siang Te yang ada di dunia, sudah merupakan wujud pemujaan kepada Siang Te sendiri. Bila ada rakyat yang berani memuja kepada Siang Te secara langsung, berarti men-sejajar-kan dirinya dengan kaisar dan dapat dikenai hukuman mati.

Karena rakyat tidak mempunyai hak untuk memuja Shang Di secara langsung, maka ketika mereka mempunyai seorang Kaisar yang lalim dan penindas kaum lemah, rakyat mulai mencari objek pengaduan agar penderitaan mereka berubah menjadi baik. Rakyat kemudian mempersonifikasikan dan melakukan pemujaan kepada Thian (Tian), yang sebenarnya hanyalah tempat kediaman Siang Te. (Mungkin mirip dengan zaman sekarang, dimana apabila ada kepala pemerintahan yang korupsi, maka rakyat lalu berbondong-bondong datang dan berunjuk-rasa di gedung kepala pemerintahan tersebut). Pemujaan kepada Thian tidak dilarang oleh Kaisar, bahkan Kaisar juga kadang-kadang ikut memujanya (di Beijing ada ‘Tian Tan’ – altar pemujaan kerajaan), sedangkan rakyat biasanya melakukan pemujaan di depan pintu rumah masing-masing.

Dengan adanya pengaruh Taoisme, maka kemudian bermunculan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai Shang Di. Dalam buku-buku kuno, tokoh Shang Di memiliki beberapa sebutan, antara lain: Ming Ming Shang Di, Tang Tang Shang Di, Wei Huang Shang Di, Yuan Shi Tian Zun, Yu Huang Shang Di, dan lain-lain.

Konfusianisme[sunting | sunting sumber]

Setelah munculnya pengaruh Konfusianisme, mulailah upacara sembahyang kepada Shang Di tertata lebih jelas. Dalam ajaran Konfusius, dikenalkan adanya tiga unsur dalam alam semesta, yaitu unsur Tian Huang (Penguasa Langit), Di Huang (Penguasa Bumi) dan Ren Huang (Penguasa Manusia). Penguasa tertinggi terletak pada Tian Huang atau Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut sebagai Huang Tian Shang Di. Pemujaan kepada Huang Tian Shang Di, banyak dilakukan oleh kaisar-kaisar dari zaman dinasti Ming dan Qing. Hal ini disimpulkan karena pada Altar ‘Tian Tan’ terdapat sebilah papan suci yang bertuliskan Huang Tian Shang Di. Selanjutnya...

Sembahyang King Thi Kong[sunting | sunting sumber]

Setelah zaman dinasti Song (tahun 960 – 1280), pengertian Thian dan Siang Te menjadi kabur, apalagi Kaisar sudah tidak begitu keras memberikan larangan pemujaan kepada Siang Te. Kemudian pada zaman dinasti Qing, bangsa Manchuria menjajah bangsa Han, akibatnya banyak para tokoh bangsa Han yang harus melarikan diri dari kejaran pasukan Manchuria. Mereka banyak yang bersembunyi di kebun tebu, sehingga pasukan Manchuria tidak bisa melihatnya. Setelah aman, mereka kembali ke rumah masing-masing dan mensyukuri keselamatan mereka itu dengan mengadakan sembahyang King Thi Kong (Jing Tian Gong). Sembahyang King Thi Kong ini biasanya dilakukan pada tanggal 8 malam tanggal 9 bulan 1 Imlek, tepat jam 12 tengah malam. Tradisi ini turun temurun hingga sekarang.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]