Lompat ke isi

Orang Kensiu: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tag: menambahkan teks berbahasa Inggris VisualEditor
k →‎Referensi: clean up
 
(5 revisi perantara oleh 4 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 4: Baris 4:
|caption =
|caption =
|population = 300<ref name="TheMani"/>
|population = 300<ref name="TheMani"/>
|popplace = [[Thailand Selatan]]
|popplace = [[Thailand Selatan]], [[Malaysia Barat]]
|rels = [[Animisme]]
|rels = [[Animisme]]
|langs = [[Bahasa Kensiu|Kensiu]], [[Bahasa Ten'edn|Ten'edn]],<br>[[Bahasa Thai|Thai]] (bahasa kedua)
|langs = [[Bahasa Kensiu|Kensiu]], [[Bahasa Ten'edn|Ten'edn]],<br>[[Bahasa Thai|Thai]] (bahasa kedua)
Baris 10: Baris 10:
}}
}}
[[Berkas:Scottish geographical magazine (1885) (14597445898).jpg|ka|nirbing|285x285px]]
[[Berkas:Scottish geographical magazine (1885) (14597445898).jpg|ka|nirbing|285x285px]]
'''Orang Mani''' atau '''Maniq''' adalah satu-satunya suku bangsa [[Negrito]] di [[Thailand]]. Mereka lebih dikenal di sana sebagai Sakai ({{lang-th|ซาไก}}), sebuah istilah kontroversial yang berarti 'budak' atau 'barbar'.<ref name="BP-20171223"/> Mereka menuturkan [[bahasa Kensiu]] dan [[bahasa Ten'edn|Ten'edn]] yang termasuk [[rumpun bahasa Asli]] milik [[Rumpun bahasa Austroasia|keluarga bahasa Mon-Khmer]]. Mereka memiliki bahasa dan budaya tersendiri, tetapi tidak mengenal aksara.<ref name="NM-20191021">{{cite news |last1=Ernst |first1=Gabriel |title="We try to not be Thai": the everyday resistance of ethnic minorities |journal=New Mandala |date=21 Oktober 2019 |url=https://www.newmandala.org/we-try-to-not-be-thai-the-everyday-resistance-of-ethnic-minorities/ |accessdate=3 November 2021}}</ref>
'''Orang Mani''', disebut juga '''Maniq''' atau '''Kensiu''' di Malaysia adalah satu-satunya suku bangsa [[Negrito]] di [[Thailand]]. Di Thailand, mereka juga kerap disebut sebagai ''Sakai'' ({{lang-th|ซาไก}}), sebuah istilah kontroversial yang juga berarti 'budak' atau 'barbar'.<ref name="BP-20171223"/> Mereka menuturkan [[bahasa Kensiu]] dan [[bahasa Ten'edn|Ten'edn]] yang termasuk [[rumpun bahasa Asli]] milik [[Rumpun bahasa Austroasia|keluarga bahasa Mon-Khmer]]. Mereka memiliki bahasa dan budaya tersendiri, tetapi tidak mengenal aksara.<ref name="NM-20191021">{{cite news |last1=Ernst |first1=Gabriel |title="We try to not be Thai": the everyday resistance of ethnic minorities |journal=New Mandala |date=21 Oktober 2019 |url=https://www.newmandala.org/we-try-to-not-be-thai-the-everyday-resistance-of-ethnic-minorities/ |accessdate=3 November 2021}}</ref>


Suku Mani tinggal di selatan Thailand, di Provinsi [[Yala]], [[Narathiwat]], [[Provinsi Phatthalung|Phatthalung]], [[provinsi Trang|Trang]], dan [[Provinsi Satun|Satun]].<ref name="BP-20171223">{{cite news|last1=Laohong|first1=King-Oua|title=Sea gypsies want a chance to settle down|url=https://www.bangkokpost.com/news/general/1384430/sea-gypsies-want-a-chance-to-settle-down|accessdate=3 November 2021|work=Bangkok Post|date=23 Desember 2017}}</ref>
Suku Mani tinggal di selatan Thailand, di Provinsi [[Yala]], [[Narathiwat]], [[Provinsi Phatthalung|Phatthalung]], [[provinsi Trang|Trang]], dan [[Provinsi Satun|Satun]].<ref name="BP-20171223">{{cite news|last1=Laohong|first1=King-Oua|title=Sea gypsies want a chance to settle down|url=https://www.bangkokpost.com/news/general/1384430/sea-gypsies-want-a-chance-to-settle-down|accessdate=3 November 2021|work=Bangkok Post|date=23 Desember 2017}}</ref>
Baris 20: Baris 20:
Populasi Mani berjumlah sekitar 300 orang.<ref name="TheMani">{{cite web|last1=Thonghom|last2=Weber|first2=George|title=36. The Negrito of Thailand; The Mani|url=http://www.andaman.org/BOOK/chapter36/text36.htm|website=Andaman.org|accessdate=3 November 2021|url-status=bot: unknown|archive-url=https://web.archive.org/web/20130520173144/http://www.andaman.org/BOOK/chapter36/text36.htm|archive-date=20 Mei 2013}}</ref>
Populasi Mani berjumlah sekitar 300 orang.<ref name="TheMani">{{cite web|last1=Thonghom|last2=Weber|first2=George|title=36. The Negrito of Thailand; The Mani|url=http://www.andaman.org/BOOK/chapter36/text36.htm|website=Andaman.org|accessdate=3 November 2021|url-status=bot: unknown|archive-url=https://web.archive.org/web/20130520173144/http://www.andaman.org/BOOK/chapter36/text36.htm|archive-date=20 Mei 2013}}</ref>


Para bangsawan di [[Malaysia]] dan Thailand kerap memperbudak ras Negrito, dengan menempatkan mereka di pekarangan sebagai [[Kebun manusia|koleksi]] yang mampu mengangkat harga diri tuannya.<ref name="AHOM">{{cite book|author=Barbara Watson Andaya & Leonard Y Andaya|title=A History of Malaysia|year=2016|publisher=Macmillan International Higher Education|isbn=978-11-376-0515-3|pages=168–169}}</ref> Pada dasawarsa pertama abad kedua puluh, [[Raja Thailand]] [[Chulalongkorn]] (Rama V) mengunjungi bagian selatan negaranya dan bertemu dengan orang [[Semang]]. Penghargaan terhadap orang-orang Semang oleh pihak istana menjadi meningkat setelah seorang anak Semang yatim piatu diadopsi oleh raja dan diberi nama Khanung, di mana ia dianggap sebagai anak angkat.<ref>{{cite journal |last=Woodhouse |first= Leslie |date=Spring 2012 |title= Concubines with Cameras: Royal Siamese Consorts Picturing Femininity and Ethnic Difference in Early 20th Century Siam |url=http://quod.lib.umich.edu/t/tap/7977573.0002.202/--concubines-with-cameras-royal-siamese-consorts-picturing?rgn=main;view=fulltext |journal=Women's Camera Work: Asia |volume= 2|issue= 2 |access-date=3 November 2021}}</ref>
Para bangsawan di Malaysia dan Thailand kerap memperbudak ras Negrito, dengan menempatkan mereka di pekarangan sebagai [[Kebun manusia|koleksi]] yang mampu mengangkat harga diri tuannya.<ref name="AHOM">{{cite book|author=Barbara Watson Andaya & Leonard Y Andaya|title=A History of Malaysia|year=2016|publisher=Macmillan International Higher Education|isbn=978-11-376-0515-3|pages=168–169}}</ref> Pada dasawarsa pertama abad kedua puluh, [[Raja Thailand]] [[Chulalongkorn]] (Rama V) mengunjungi bagian selatan negaranya dan bertemu dengan orang Maniq. Penghargaan terhadap orang-orang Maniq oleh pihak istana menjadi meningkat setelah seorang anak Maniq yatim piatu diadopsi oleh raja dan diberi nama Khanung, di mana ia dianggap sebagai anak angkat.<ref>{{cite journal |last=Woodhouse |first= Leslie |date=Spring 2012 |title= Concubines with Cameras: Royal Siamese Consorts Picturing Femininity and Ethnic Difference in Early 20th Century Siam |url=http://quod.lib.umich.edu/t/tap/7977573.0002.202/--concubines-with-cameras-royal-siamese-consorts-picturing?rgn=main;view=fulltext |journal=Women's Camera Work: Asia |volume= 2|issue= 2 |access-date=3 November 2021}}</ref>


== Migrasi ==
== Migrasi ==
Baris 38: Baris 38:
{{DEFAULTSORT:Mani, Orang}}
{{DEFAULTSORT:Mani, Orang}}
[[Kategori:Negrito]]
[[Kategori:Negrito]]
[[Kategori:Suku bangsa di Thailand]]
[[Kategori:Pemburu-pengumpul di Asia]]
[[Kategori:Kelompok etnik di Thailand]]


{{senjata-stub}}

Revisi terkini sejak 21 Juli 2024 17.32

Orang Mani
Jumlah populasi
300[1]
Daerah dengan populasi signifikan
Thailand Selatan, Malaysia Barat
Bahasa
Kensiu, Ten'edn,
Thai (bahasa kedua)
Agama
Animisme
Kelompok etnik terkait
Semang

Orang Mani, disebut juga Maniq atau Kensiu di Malaysia adalah satu-satunya suku bangsa Negrito di Thailand. Di Thailand, mereka juga kerap disebut sebagai Sakai (bahasa Thai: ซาไก), sebuah istilah kontroversial yang juga berarti 'budak' atau 'barbar'.[2] Mereka menuturkan bahasa Kensiu dan Ten'edn yang termasuk rumpun bahasa Asli milik keluarga bahasa Mon-Khmer. Mereka memiliki bahasa dan budaya tersendiri, tetapi tidak mengenal aksara.[3]

Suku Mani tinggal di selatan Thailand, di Provinsi Yala, Narathiwat, Phatthalung, Trang, dan Satun.[2]

Suku Mani hidup dengan berburu dan meramu. Mereka tinggal di gubuk bambu beratapkan daun pisang. Suku Mani hidup dengan memakan berbagai jenis hewan, sayur-mayur, dan buah-buahan. Mereka mengenakan pakaian sederhana yang terbuat dari bahan alami seperti daun bambu. Mereka juga mengenal berbagai macam tumbuhan obat.[4][5]

Direktorat Jenderal Departemen Perlindungan Hak dan Kebebasan Kementerian Kehakiman Thailand menggolongkan suku Mani menjadi dua kelompok berdasarkan tempat tinggal mereka. Kelompok pertama tinggal di Pegunungan Titiwangsa di Yala dan Narathiwat sedangkan kelompok kedua tinggal di Pegunungan Banthat di Phatthalung, Trang, dan Satun.[2]

Populasi Mani berjumlah sekitar 300 orang.[1]

Para bangsawan di Malaysia dan Thailand kerap memperbudak ras Negrito, dengan menempatkan mereka di pekarangan sebagai koleksi yang mampu mengangkat harga diri tuannya.[6] Pada dasawarsa pertama abad kedua puluh, Raja Thailand Chulalongkorn (Rama V) mengunjungi bagian selatan negaranya dan bertemu dengan orang Maniq. Penghargaan terhadap orang-orang Maniq oleh pihak istana menjadi meningkat setelah seorang anak Maniq yatim piatu diadopsi oleh raja dan diberi nama Khanung, di mana ia dianggap sebagai anak angkat.[7]

Suku Mani tinggal dalam berbagai klan. Jika suatu klan suku Mani hendak pindah ke daerah baru, salah satu dari mereka akan pergi terlebih dahulu untuk membuka jalan dan mencari tempat yang tepat untuk mendirikan kemah. Ketika tempat yang sesuai ditemukan, ia akan kembali ke keluarganya untuk membawa mereka ke rumah yang baru.[8]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b Thonghom; Weber, George. "36. The Negrito of Thailand; The Mani". Andaman.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 Mei 2013. Diakses tanggal 3 November 2021. 
  2. ^ a b c Laohong, King-Oua (23 Desember 2017). "Sea gypsies want a chance to settle down". Bangkok Post. Diakses tanggal 3 November 2021. 
  3. ^ Ernst, Gabriel (21 Oktober 2019). ""We try to not be Thai": the everyday resistance of ethnic minorities". New Mandala. Diakses tanggal 3 November 2021. 
  4. ^ "Maniq Tribe, Thailand - Tripreport". 28 Juli 2019. Diakses tanggal 3 November 2021. 
  5. ^ "Mani Ethnic Group". Diakses tanggal 3 November 2021. 
  6. ^ Barbara Watson Andaya & Leonard Y Andaya (2016). A History of Malaysia. Macmillan International Higher Education. hlm. 168–169. ISBN 978-11-376-0515-3. 
  7. ^ Woodhouse, Leslie (Spring 2012). "Concubines with Cameras: Royal Siamese Consorts Picturing Femininity and Ethnic Difference in Early 20th Century Siam". Women's Camera Work: Asia. 2 (2). Diakses tanggal 3 November 2021. 
  8. ^ Primal Survivor: Season 5, episode 1