Lompat ke isi

Basuki Probowinoto: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
LaninBot (bicara | kontrib)
k Menghilangkan spasi sebelum tanda koma dan tanda titik dua
Glorious Engine (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
[[Berkas:Basuki Probowinoto.jpg|jmpl|Basoeki Probowinoto]]
Ds. '''Basoeki Probowinoto''' (lahir di Tempurung (Tlogomulyo), Grobogan, [[Purwodadi]], 19 Januari [[1917]], meninggal pada tahun [[1989]] dalam usia 72 tahun) adalah seorang Pendeta [[GKJ]], Pendiri [[Parkindo]], dan beberapa gerakan dalam dan antar-agama di [[Indonesia]]. Ia adalah anak dari pasangan Mateus Rahmat dan Rokayah. Sejak sekolah, Probowinoto dikenal sebagai anak cerdas, karena seringnya melakukan lompatan ke tingkat yang lebih tinggi. Setelah menempuh sekolah guru (HIK), Probowinoto justru ingin masuk ke sekolah theologia. Sambil menunggu ujian akhir kelulusan, karena ia mempunyai ijazah guru, diminta mengajar di sekolah di Purwodadi. Selain itu, ia kerap diundang untuk ceramah di berbagai gereja lokal. Setelah lulus, ia dipanggil oleh dua gereja: di Purwodadi di Kwitang, Jakarta. Atas anjuran gurunya, ia memutuskan untuk melayani di [[Jakarta]], yang katanya persoalannya sangat kompleks dan lebih mendesak.
Ds. '''Basoeki Probowinoto''' (lahir di Tempurung (Tlogomulyo), Grobogan, [[Purwodadi]], 19 Januari [[1917]], meninggal pada tahun [[1989]] dalam usia 72 tahun) adalah seorang Pendeta [[GKJ]], Pendiri [[Parkindo]], dan beberapa gerakan dalam dan antar-agama di [[Indonesia]]. Ia adalah anak dari pasangan Mateus Rahmat dan Rokayah. Sejak sekolah, Probowinoto dikenal sebagai anak cerdas, karena seringnya melakukan lompatan ke tingkat yang lebih tinggi. Setelah menempuh sekolah guru (HIK), Probowinoto justru ingin masuk ke sekolah theologia. Sambil menunggu ujian akhir kelulusan, karena ia mempunyai ijazah guru, diminta mengajar di sekolah di Purwodadi. Selain itu, ia kerap diundang untuk ceramah di berbagai gereja lokal. Setelah lulus, ia dipanggil oleh dua gereja: di Purwodadi di Kwitang, Jakarta. Atas anjuran gurunya, ia memutuskan untuk melayani di [[Jakarta]], yang katanya persoalannya sangat kompleks dan lebih mendesak.



Revisi per 8 Juli 2019 23.00

Basoeki Probowinoto

Ds. Basoeki Probowinoto (lahir di Tempurung (Tlogomulyo), Grobogan, Purwodadi, 19 Januari 1917, meninggal pada tahun 1989 dalam usia 72 tahun) adalah seorang Pendeta GKJ, Pendiri Parkindo, dan beberapa gerakan dalam dan antar-agama di Indonesia. Ia adalah anak dari pasangan Mateus Rahmat dan Rokayah. Sejak sekolah, Probowinoto dikenal sebagai anak cerdas, karena seringnya melakukan lompatan ke tingkat yang lebih tinggi. Setelah menempuh sekolah guru (HIK), Probowinoto justru ingin masuk ke sekolah theologia. Sambil menunggu ujian akhir kelulusan, karena ia mempunyai ijazah guru, diminta mengajar di sekolah di Purwodadi. Selain itu, ia kerap diundang untuk ceramah di berbagai gereja lokal. Setelah lulus, ia dipanggil oleh dua gereja: di Purwodadi di Kwitang, Jakarta. Atas anjuran gurunya, ia memutuskan untuk melayani di Jakarta, yang katanya persoalannya sangat kompleks dan lebih mendesak.

Berkaitan dengan kiprahnya di bidang politik. Ia cukup menonjol di antara beberapa pemikir Kristen, khususnya dari kalangan rohaniwan. Dengan statusnya sebagai pendeta, keberaniannya mengumpulkan beberapa tokoh Kristen untuk membentuk wadah bagi perjuangan kemerdekaan adalah salah satu karakternya yang menonjol. Pada masa pendudukan Jepang, kehidupan gereja juga mendapat pengawasan yang cukup ketat. Posisinya sebagai pendeta ditopang oleh kenalannya dengan sesama pendeta dari Jepang, membuat dia relatif bisa bergerak untuk mengorganisasi kegiatan sosial dan politik. Namun, dia sendiri mengakui bahwa zaman Jepang menimbulkan ketakutan di masyarakat. Bahkan, menurutnya, saat itu ketakutan itu begitu luar biasa, sehingga para pemimpin juga merasa bahwa akan ada perpecahan oleh pendudukan Jepang tersebut.

Di bawah ancaman dan tuduhan loyal kepada Belanda, Probowinoto membangun kontak dengan tentara Jepang –melalui seorang pendeta Jepang—untuk memberikan keterangan mengenai perlakuan tak bersahabat tentara Jepang dan untuk menjelaskan posisi Kristen secara lebih objektif. Dengan langkah yang cukup bijaksana, Probowinoto senantiasa mendorong Kristen untuk berpihak kepada Republik, demi kemerdekaan.

Referensi dan pranala luar