Lompat ke isi

Semende: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
Tidak ada ringkasan suntingan
Deni Yuniardi (bicara | kontrib)
Baris 46: Baris 46:
6. Tebat atau kolam artinya menampung segale yang diberikan baik suka maupun duka dengan tenang, dan memberikan manfaat.
6. Tebat atau kolam artinya menampung segale yang diberikan baik suka maupun duka dengan tenang, dan memberikan manfaat.


== '''Kecamatan Semende Darat''' ==
'''Semende saat ini juga menjadi nama''' daerah yang berada di [[kabupaten Muara Enim]], [[Provinsi]] [[Sumatra Selatan]], [[Indonesia]]
'''Semende saat ini juga menjadi nama''' daerah yang berada di [[kabupaten Muara Enim]], [[Provinsi]] [[Sumatra Selatan]], [[Indonesia]]
.
.

Revisi per 4 Desember 2022 11.22

Semende adalah nama Suku yang berasal dari daerah Sumatera Selatan. Populasi Suku Semende tersebar di wilayah Sumatera bagian selatan (Sumatera selatan, Bengkulu, dan lampung). Suku ini adalah penutur bahasa Melayu dialek e pepet yang disebut bahasa Semende. Adat istiadat Semende diambil dari Alqur'an dan hadits serta tradisi yang berkembang di masyarakat. Suku Semende berkerabat dengan suku-suku lainnya di daerah uluan, seperti Besemah, Gumay, Penjalang, Semidang, dan lainnya.

Tokoh-tokoh pendiri adat semende salah satunya adalah Syekh Nurqodim Al Baharuddin di Perdipe, Pagaralam sekitar Abadd Ke-16-Abad ke-17 M.

Sejarah Suku Semende

Semende adalah nama Kute/Wilayah pusat pemukiman yang memiliki struktur pemerintahan sekitar antara abad ke-13. Keberadaan Kute Semende diketahui berdasarkan Sumber Sejarah berupa catatan pada Kaghas berhuruf Surat Ulu (aksara Ulu) yang ditemukan di Muara Danau.

Perkembangan berikutnya, di Abad ke-16 hingga abad ke-17 M, Syekh Nurqodim bersama para pemimpin Sumbay di wilayah Uluan mendirikan Pemerintahan Demokrasi Pertama di Nusantara dengan nama Lampik Empat Merdike Due di Djagat Besemah Libagh Semende Panjang.

Pemerintahan Lampik Empat Merdike Due terdiri atas satu orang pemimpin (Mubungan Djagat), Empat Pemimpin Sumbay sebagai dewan permusyawaratan, dan Dua pemimpin Sumbay Sebagai dewan Penasihat.

Struktur Lampik Empat Merdike Due

Nama Teritory Wilayah  : Djagat Besemah Libagh Semende Panjang

Prinsip-Prinsip Kehidupan: Semende

Struktur Lampik Empat Merdike Due:

Mubungan Djagat : Tuan Sayyid Syekh Nurqodim Al Baharuddin/ Puyang Awak

Lampik Empat:

  1. Sumbay Besak
  2. Sumbay Ulu Lurah
  3. Sumbay Tanjung Ghaye
  4. Sumbay Mangku Anom

Merdike Due:

  1. Sumbay Semidang
  2. Sumbay Penjalang

Pada perkembangannya, prinsip hidup yang bernama "Semende" di atas, dipegang dan dipertahankan oleh anak cucu keturunan Syekh Nurqodim Al Baharuddin, sehingga di kemudian hari orang menyebutnya sebagai "jeme semende" (Orang semende). Seiring waktu, orang-orang yang memiliki identitas yang sama yang dijuluki "jeme semende" tersebut populasinya semakin banyak dan mendiami wilayah yang semakin luas, lalu berkembang menjadi suku sendiri yang disebut sebagai Suku Semende.

Lambang Adat Semende (Lambang Tunggu Tubang)

1. Tubang artinya penyimpanan segala rasa (baik ataupun buruk)

2. Guci artinya penyimpanan segala rahasia , berfungsi sebagai pendingin dalam rumah

3. Kujur atau tombak artinya kejujuran, nak luhus ati, amanah

4. Kapak atau kampak artinya keadilan, berlaku adil, memisahkan yang haq dan yang bathil

5. Jale atau jala artinyapenghimpunan, dimanapun anggota keluarga tunggu tubang berada dapat dikumpulkan kembali dalam rumah tunggu tubang

6. Tebat atau kolam artinya menampung segale yang diberikan baik suka maupun duka dengan tenang, dan memberikan manfaat.

Kecamatan Semende Darat

Semende saat ini juga menjadi nama daerah yang berada di kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia . Semende terbagi menjadi 3 kecamatan yaitu:

Semende merupakan daerah dataran tinggi dan dilalui perbukitan Bukit Barisan.


Disunting oleh: Deni Yuniardi,S.Pd.

Referensi