Lompat ke isi

Terjemahan: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
Gendisa.luisa (bicara | kontrib)
kTidak ada ringkasan suntingan
Tag: Dikembalikan VisualEditor
Sastrarajendra (bicara | kontrib)
k Menambahkan narasi penerjemahan karya fiksi beserta sumber referensinya.
Tag: Dikembalikan VisualEditor
Baris 34: Baris 34:
# Pada tataran kohesif (''cohesive level''), analisis struktur penggunaan kata penghubung antarkalimat dan moof teks terjadi pada proses penerjemahan di level ini.
# Pada tataran kohesif (''cohesive level''), analisis struktur penggunaan kata penghubung antarkalimat dan moof teks terjadi pada proses penerjemahan di level ini.
# Pada tataran kewajaran (''level of naturalness),'' TSu dilihat apakah sudah memenuihi kaidah bahasa sasaran dan mudah dibahami oleh pembaca.
# Pada tataran kewajaran (''level of naturalness),'' TSu dilihat apakah sudah memenuihi kaidah bahasa sasaran dan mudah dibahami oleh pembaca.
Dalam menerjemahkan karya fiksi, terutama yang ditujukan untuk anak-anak, beberapa aspek perlu diperhatikan.<ref>{{Cite book|last=Budiman|first=Rahmat|last2=Sunarya|first2=Susilastuti|date=2014|url=http://repository.ut.ac.id/4279/1/BING4330-M1.pdf|title=Penerjemahan Karya Fiksi|location=Tangerang Selatan|publisher=Universitas Terbuka|isbn=978-979-011-618-4|volume=1|pages=1–48|language=id|url-status=live}}</ref>

# Memahami cara berpikir anak-anak secara mendalam untuk dapat memilih kata-kata dan tingkat kompleksitas kalimat yang sesuai.
# Fleksibilitas untuk melakukan perubahan, termasuk struktur kalimat, agar sesuai dengan latar belakang pembaca sasaran.
# Penerjemahan karya fiksi memiliki kecenderungan untuk lebih "bebas". Fokus utama adalah mempertahankan makna dari karya asli, meskipun hal ini dapat mengubah nilai estetis. Penerjemah memiliki kebebasan yang lebih besar, terutama jika tujuannya adalah mengekspresikan nilai estetis dalam teks sasaran.
# Penyusunan judul sebaiknya dilakukan setelah seluruh cerita diterjemahkan. Judul bisa berubah atau tidak sama dengan judul aslinya, tetapi harus menarik minat pembaca dan mencerminkan esensi cerita secara keseluruhan. Keindahan judul sangat penting dalam menciptakan daya tarik terhadap terjemahan.


== Referensi ==
== Referensi ==

Revisi per 12 Desember 2023 06.46

Bagian dari seri:
Penerjemahan
Jenis terjemah
Teknik terjemah
Konsep lainnya

Penerjemahan adalah interpretasi makna linguistik teks dari bahasa sumber untuk menghasilkan teks padanan dalam bahasa sasaran yang mengkomunikasikan pesan serupa. Kegiatan penerjemahan melibatkan proses komunikasi tertulis antara penulis TSu dan penerjemah, yang berfungsi sebagai pengirim pesan dari penulis TSu kepada pembaca TSu yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda.[1] Menurut Oxford, penerjemahan adalah komunikasi pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran dengan menggunakan teks yang ekuivalen.[2] Di mana interpretasi tidak diragukan lebih dulu muncul daripada tulisan, penerjemahan baru muncul setelah kemunculan tulisan (literatur). Salah satu terjemahan paling awal yang ditemukan adalah terjemahan yang dibuat pada tahun 2000SM atas kisah legenda Gilgamesh dari bahasa Sumeria ke dalam bahasa-bahasa Asia Barat.[3]

Orang yang menerjemahkan disebut penerjemah. Penerjemah saat menerjemahkan harus mempertimbangkan beberapa batasan, termasuk konteks, aturan tata bahasa, konvensi penulisan, dan idiom, serta hal lain antara kedua bahasa. Penerjemah selalu menghadapi risiko untuk tanpa sengaja menyusupkan gaya bahasa maupun idiom dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Di sisi lain, penyusupan gaya bahasa dan idiom dapat memperkaya bahasa sasaran dengan munculnya kata serapan. Dengan begitu, penerjemah ikut terlibat secara signifikan dalam proses pembentukan dan pengembangan bahasa.[4] Menurut Hoed (2006) dalam Budiman (2014) penerjemah harus memahami tujuan dan target pembaca sasaran yang disebut sebagai audience design dan need analysis. [5]

Akibat tingginya permintaan atas dokumentasi kegiatan bisnis yang merupakan dampak dari revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, penerjemahan berkembang menjadi kegiatan yang formal dan terspesialisasi sehingga bermunculan sekolah spesialis dan perkumpulan profesi.[6] Secara tradisional penerjemahan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara manual oleh manusia. Oleh karena cukup beratnya kegiatan menerjemahkan, sejak tahun 1940-an para insinyur mulai mengembangkan teknologi otomaisasi penerjemahan ([terjemahan mesin]) atau teknologi yang membantu manusia menerjemahkan ([penerjemahan berbantuan komputer])[7]

Kesalahpengertian utama mengenai penerjemahan bisa jadi adalah adanya konsep tentang suatu hubungan "kata-per-kata" yang sederhana antara dua bahasa yang kemudian berujung pada penerjemahan sering dianggap dapat langsung dilakukan dan merupakan suatu proses mekanis. Pada kenyataannya, perbedaan historis antar bahasa sering memberikan perbedaan ekspresi dalam keduanya yang mengakibatkan pemindahan pesan antara bahasa secara sempurna tidak mungkin dilakukan.

Ilmu penerjemahan adalah ilmu yang mempelajari teori dan praktik penerjemahan secara sistematis.[8]

Jenis Penerjemahan

Ragam penerjemahan berbeda-beda, tergantung dari aspek yang dilihat.[9] Berdasarkan aspek kebahasaan, Jacobson membagi penerjemahan menjadi tiga, yakni:

  1. Penerjemahan intrabahasa (intralingual translation): penerjemahan dari satu bahasa verbal dengan bahasa verbal yang lain dalam bahasa yang sama.
  2. Penerjemahan antarbahasa (interlingual translation): proses alih bahasa verbal dari satu bahasa ke bahasa lain.
  3. Penerjemahan intersemiotik (intersemiotic translation): proses alih bahasa dari bahasa verbal ke bahasa nonverbal.[10]

Sedangkan jika dilihat dari aspek tujuan, Brislin membagi penerjemahan menjadi empat, yaitu:

  1. Penerjemahan pragmatis (pragmatic translation): proses alih bahasa yang menekankan pada ketepatan pesan atau informasi.
  2. Penerjemahan estetis-puitis (aesthetic-poetic translation): proses alih bahasa yang mengutamakan konsep estetika bahasa sumber, yaitu emosi, hasrat, dan perasaan.
  3. Penerjemahan etnografis (ethnographic translation): proses alih bahasa yang mengutamakan konteks budaya.
  4. Penerjemahan linguistik (linguistic translation): proses alih bahasa yang mengutamakan padanan makna dan gramatika dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.[11]

Peran Makna dalam Penerjemahan

Makna bahasa juga menjadi pokok perhatian dalam kegiatan penerjemahan. Seperti yang dikenal, proses penerjemahan melibatkan transfer makna dari bahasa asal (bahasa yang sedang diterjemahkan) ke dalam bahasa target (bahasa hasil terjemahan). Agar dapat berhasil mentransfer makna tersebut, seorang penerjemah harus memeriksa dan menganalisis bahasa asal serta mengambil makna dari bahan kebahasaan dalam bahasa tersebut. Selanjutnya, penerjemah perlu mentransfer makna tersebut ke dalam bahasa target dan menyampaikannya sesuai dengan sistem bahasa target. Proses ini tidak selalu sederhana, terutama bagi pemula dalam pembelajaran, yang masih menghadapi kesulitan dalam menemukan cara untuk menyampaikan makna dengan sesuai, dapat diterima, dan menyenangkan dalam bahasa target.[12]

Tahapan Kegiatan Penerjemahan

Proses penerjemahan adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan penerjemah untuk menerjemahkan teks dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa). Newmark (1988) dalam Karnedi (2014) menjelaskan empat tahapan proses penerjemahan sebagai berikut. [13]

  1. Pada tataran teks sumber (textual level), penerjemah mencari padanan klausa dan frasa TSu dalam TSa secara gramatikal.
  2. Pada tataran refersial (referential level), proses penerjemahan dilakukan mengacu pada dunia nyata TSu berupa objek dan peristiwa baik secara nyata maupun imajiner.
  3. Pada tataran kohesif (cohesive level), analisis struktur penggunaan kata penghubung antarkalimat dan moof teks terjadi pada proses penerjemahan di level ini.
  4. Pada tataran kewajaran (level of naturalness), TSu dilihat apakah sudah memenuihi kaidah bahasa sasaran dan mudah dibahami oleh pembaca.

Dalam menerjemahkan karya fiksi, terutama yang ditujukan untuk anak-anak, beberapa aspek perlu diperhatikan.[14]

  1. Memahami cara berpikir anak-anak secara mendalam untuk dapat memilih kata-kata dan tingkat kompleksitas kalimat yang sesuai.
  2. Fleksibilitas untuk melakukan perubahan, termasuk struktur kalimat, agar sesuai dengan latar belakang pembaca sasaran.
  3. Penerjemahan karya fiksi memiliki kecenderungan untuk lebih "bebas". Fokus utama adalah mempertahankan makna dari karya asli, meskipun hal ini dapat mengubah nilai estetis. Penerjemah memiliki kebebasan yang lebih besar, terutama jika tujuannya adalah mengekspresikan nilai estetis dalam teks sasaran.
  4. Penyusunan judul sebaiknya dilakukan setelah seluruh cerita diterjemahkan. Judul bisa berubah atau tidak sama dengan judul aslinya, tetapi harus menarik minat pembaca dan mencerminkan esensi cerita secara keseluruhan. Keindahan judul sangat penting dalam menciptakan daya tarik terhadap terjemahan.

Referensi

  1. ^ Karnedi (2014). Analisis Teks dalam Penerjemahan (PDF). 1. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka. hlm. 1–40. ISBN 978-979-011-678-8. 
  2. ^ The Oxford Companion to the English Language, Namit Bhatia, ed., 1992, pp. 1,051–54.
  3. ^ J.M. Cohen, "Translation", Encyclopedia Americana, 1986, vol. 27, p. 12.
  4. ^ Christopher Kasparek, "The Translator's Endless Toil", The Polish Review, vol. XXVIII, no. 2, 1983, pp. 84-87.
  5. ^ Budiman, Rahmat (2014). "Grammar Translation Exercises: Menerjemahkan Frasa, Klausa dan Kata Keterangan" (PDF). Repository Universitas Terbuka. Diakses tanggal 2023. 
  6. ^ Andrew Wilson, Translators on Translating: Inside the Invisible Art, Vancouver, CCSP Press, 2009.
  7. ^ W.J. Hutchins, Early Years in Machine Translation: Memoirs and Biographies of Pioneers, Amsterdam, John Benjamins, 2000.
  8. ^ Susan Bassnett, Translation studies, pp. 13-37.
  9. ^ "Xerpihan | Your Personal Writing Assistant". xerpihan.id. Diakses tanggal 2021-06-16. 
  10. ^ Jacobson, Roman (1959). "On Linguistic Aspects of Translation". On Translation. 
  11. ^ Brislin, Richard W. (1976). Translation: Applications and Research. New York: Gardner Press. hlm. 3–4. 
  12. ^ Samiati, Sri (2014). Semantics (PDF). 1. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka. hlm. 1–42. ISBN 978-979-011-664-1. 
  13. ^ Karnedi, Karnedi (2014). "Analisis Teks dalam Penerjemahan: Proses Penerjemahan" (PDF). Repository Universitas Terbuka. Diakses tanggal 11 Desember 2023. 
  14. ^ Budiman, Rahmat; Sunarya, Susilastuti (2014). Penerjemahan Karya Fiksi (PDF). 1. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka. hlm. 1–48. ISBN 978-979-011-618-4. 

Lihat pula