Lompat ke isi

Dayu Putu Mirawati

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Revisi sejak 27 Maret 2017 14.18 oleh Ray March Syahadat (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{Infobox artis indonesia | name = {{PAGENAME}} | image = | imagesize = | caption = | birthdate = {{birth date and age|1994|1|9}} | birthplace = {{negara|Indonesia}...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Templat:Infobox artis indonesia

Dayu Putu Mirawati adalah kontestan Puteri Indonesia 2017 mewakili Provinsi Sulawesi Tenggara. Ia adalah seorang pegawai PTT di Kabupaten Buton. Latar belakang pendidikannya adalah DIII Kebidanan Akper Kabupaten Buton [1]. Mira begitu panggilan akrabnya memiliki tinggi badan 165 cm. Ia merupakan wakil keempat dari Kota Baubau yang mewakili Provinsi Sulawesi Tenggara di ajang Pemilihan Puteri Indonesia. Sebelumnya ada Ayu Puspa Ningtyas pada tahun 2014, Shinta Barnas pada tahun 2005 [2], dan Diza Ayu Fildzah pada tahun 2009 [3].

Kontes Nasional

Selama karantina Ayu sekamar dengan kontestan asal Papua, Mitra Munua. Selama mengikuti kontes, Mira memperkenalkan seni dan budaya Sulawesi Tenggara seperti yang diperlihatkan pada berbagai kesempatan. Mira mengenakan pakaian tradisional modifikasi pada Malam Bakat Puteri Indonesia 2017 dengan menggunakan kostum dengan tenun khas Buton dengan corak samasili. Ia juga mengenakan aksesoris khas Buton yang pengrajinnya sampai saat ini masih dan hanya dapat ditemui di lingkungan Benteng Keraton Buton. Aksesoris tersebut disebut jao-jaonga. Sebelumnya pada acara fashion show berbasis budaya yang diselenggarakan pada 25 Maret 2017 di atrium Lotte Shopping Avenue, Mira juga mengenakan busana dengan menggunakan tenun khas Tolaki. Tak hanya itu, pada berbagai kesempatan photoshoot selama menjabat sebagai Puteri Indonesia Sulawesi Tenggara, Mira juga mengenakan batik, pakaian adat Bali, Buton Wolio, Buton Cia-Cia, dan juga Moronene Kabaena. Pada saat wawancara dengan salah satu media partner Puteri Indonesia 2017, Mira juga memperkenalkan kuliner daerahnya. "Di daerah saya memiliki banyak kuliner tradisional, salah satunya adalah parende, parende adalah sejenis ikan kuah, tetapi rasa asamnya yang sangat khas yg diperoleh dari belimbing buluh. Bahan dan bumbunya sangat terjangkau, jika di warung makan kita hanya memerlukan biaya Rp. 30.000 saja. Selain parende ada juga songgi, makanan tradisional terbuat dari sagu, cocok dihidangkan dengan ikan kuah, harganya juga sangat terjangkau. Kapusunosu, makanan terbuat dari jagung ,teksturnya seperti bubur, nampak sederhana namun kalau dicoba, makanan sederhana ini akan terasa mahal" tuturnya saat ditanya dengan uang seratus ribu kuliner apa yang direkomendasikan olehnya untuk sang pewawancara.

Kehidupan Pribadi

Mira lahir di Ngkari-Karing atau yang lebih dikenal dengan sebutan Little Bali di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Ia wanita berdarah Bali dan merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Ketika terpilih sebagai perwakilan Sulawesi Tenggara banyak panggemar pageant di Indonesia yang menanyakan mengapa harus wanita berdarah Bali. Namun sesungguhnya Ngkari-Karing adalah sebuah kampung Bali di Kota Baubau yang diakui sebagai bagian dari Kota Pusaka Baubau. Bukan hanya menyimpan pusaka wujud dan tak wujud, Ngkari-Karing juga merupakan simbol kehidupan harmonis masyarakat Kepulauan Buton yang sejak dulu hidup aman, tentram, dan damai tanpa memandang SARA [4].

Sehari-hari Mira bekerja di Kabupaten Buton yang jaraknya 60 km dari rumahnya. Meski jauh, ia selalu merasa senang karena setiap berangkat kerja ia selalu berangkat bersama sahabat-sahabatnya. Ia memiliki hobi memasak dan menari. Di Kepulauan Buton, ia cukup eksis sebagai penari daerah yang selalu tampil pada kegiatan-kegiatan akbar. Lima prestasi terbaiknya antara lain Purna Paski 2009, Puteri Pariwisata Favorit Kota Baubau tahun 2015, Duta Lingkungan Hidup favorit 2016, Pemain Porda bola volly kota Baubau tahun 2011, dan ikon Raja Wa Kaka yaitu Raja pertama kesultanan Buton pada saat pembukaan MTQ Sulawesi Tenggara tahun 2016 [5].

Cita-citanya ingin menjadi polisi dari kecil, beberapa persiapan ditekuninya saat itu agar dapat memenuhi syarat menjadi polisi. Meninggalkan hari dimana kelulusan SMA diumumkan karena mengikuti tes polisi adalah hal yang tidak bisa ia lupakan,membagi kebahagian kelulusan sendirian dan mendapat kabar bahwa dirinya tidak lulus dalam tes polisi menjadi pengalaman yang sangat mendalam bahwa kegagalan pasti ada di setiap orang. Namun, kini Mira ingin membuktikan dalam keikutsertaannya di Pemilihan Puteri Indonesia 2017 bahwa impian dapat diwujudkannya, impian membawa nama daerahnya Sulawesi Tenggara di Pemilihan Puteri Indonesia 2017 [6].

Terpilih menjadi Puteri Indonesia Sulawesi Tenggara 2017 adalah pengalaman pertama dan tidak bisa dilupakannya, membuat keluarga senang merupakan kebanggan tersendiri untuk Mira. Mempersiapkan fisik dan mental, serta public speaking dan catwalk adalah persiapan yang dilakukannya saat ini. Bertemu pemerintah daerah pun dilakukannya sebagai jembatan dalam meminta dukungan dan doanya mewakili Sulawesi Tenggara. Ia pun siap menjadi duta dan wakil Indonesia dimana dapat memperkenalkan negeri ini baik dari segi pariwisata, adat, dan budaya. Mira menceritakan bahwa ia memiliki kebiasaan yang menurut teman-temannya aneh, memiliki kebiasanaan memakan beras menurutnya kebiasaan biasa. Bahkan hal ‘tergila’ yang ingin dilakukannya dalam hidup yakni memakan beras sebebasnya tanpa larangan [7].


Pranala luar

Referensi