Lompat ke isi

Keris Mpu Gandring

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok.

Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmana bernama Lohgawe adalah titisan wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "mpu" (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan ghaib supranatural yang dimilikinya. Bahkan kemampuan supranatural tadi "ditransfer" kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.

Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan haris diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singoshari yakni :

Terbunuhnya Tunggul Ametung

Tunggul Ametung, kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singashari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kediri yang saat itu diperintah oleh Kertajaya yang bergelar "Dandang Gendis" (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kediri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga.

Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa "barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia".

Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama "Kebo Ijo" yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.

===============

Hanya sekedar untuk Wacana, Banyak sekali peminat dan kolektor keris memburu keris mPu Gandring. Hal ini menyebabkan "Pasar" keris juga berupaya menyediakan keris 'mPu Gandring' untuk memenuhi tuntutan pasar. Akibatnya adalah banyak bermunculan penjual keris yang mengatakan bahwa kerisnya adalah keris buatan mPu Gandirng.

Dilihat dari makna filosofi, keris mPu Gandring sebenarnya bisa juga merupakan sebuah pertanda, pelajaran (peringatan). mPu jaman dahulu adalah orang yang 'di-tua'kan', dianggap memiliki kemampuan lebih, ulama dan pemuka masyarakat. Sedangkan keris, juga merupakan perlambang 'Persatuan'. Baik dari Lingga dan Yoni (Bilah dan Gonjo), Besi dan Pamor, Tempa dan Garap. Keris bisa juga diartikan sebagai 'Mengker Kerana Aris', menahan diri - muncur dengan bijaksana.

Oleh karena itu, Ken Arok memesan keris kepada mPu Gandring sebagai salah satu bekal agar bisa menjadi Raja di kerajaan Singosari, hal ini bisa jadi juga merupakan pelajaran filosofis saja. Pada saat itu, masyarakat Singosari sudah heterogen. Hindu, Budha, pedagang, petani, dsb yang tentu memiliki banyak kepentingan. Agar Ken Arok bisa menjadi Raja, maka dia harus bisa menyatukan berbagai perbedaan kepentingan tersebut. Maka Ken Arok meminta kepada mPu Gandring untuk menyatukan berbagai perbedaan tersebut dan disimbolkan melalui sebilah Keris.

Sayangnya Ken Arok tidak memahami makna 'keris' ; yaitu menahan diri, sabar dan bijaksana. Akhirnya, sebelum keris jadi (yang berarti sebelum perbedaan pandangan tersebut bisa disatukan), Ken Arok tidak sabar untuk segera menjadi Raja. Lantas Ken Arok membunuh mPu Gandring karena dianggap tidak mampu melaksanakan permintaan dan agar dikemudian hari tidak menjadi penghambat. Lalu muncullah Ken Arok sebagai Raja Singosari.

Tetapi tidak lama memerintah, kerajaan Singosari dilanda berbagai pemberontakan, kerusuhan dsb yang diakibatkan karena Ken Arok tidak bisa menahan diri dan masih banyaknya perbedaan pandangan serta kepentingan yang belum menyatu. Akhirnya berbagai kericuhan di Singosari ini pada akhirnya menyebabkan kematian Ken Arok.

Dengan demikian, kita semua perlu hati-hati (khususnya bagi para pecinta keris) agar tidak tertipu dengan berbagai keris yang dikatakan oleh penjualnya sebagai "Keris mPu Gandring".

Hidayat MH. http://keris.fotopic.net

Terbunuhnya Ken Arok

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singashari.

Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.

Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai "eksekutor" terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

Terbunuhnya Anusapati

Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dengan Ken Dedes akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas.

Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah. Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya ditempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengankat dirinya sebagai Raja menggantikan Anusapati.

Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidakpuasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah kedaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya.