Lompat ke isi

Panca Maha Bhuta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Revisi sejak 6 Agustus 2021 05.59 oleh HsfBot (bicara | kontrib) (v2.04b - Fixed using Wikipedia:ProyekWiki Cek Wikipedia (Tanda baca setelah kode "<nowiki></ref></nowiki>"))

Panca Maha Bhuta terdiri Panca berarti lima, Maha Bhuta berarti elemen besar atau elemen utama, kelima elemen ini merupakan penyusun utama makrokosmos atau semesta material atau bhuana agung dan mikrokosmos atau badan atau bhuana alit, Panca Mahabhuta sebagai penyusun alam semesta (Buana Agung) bersumber dari dua azas yang sangat sukma, gaib dan abadi yaitu Cetana dan Acetana yang juga disebut sebagai sebab mula terciptanya segala yang ada (causa prima). Cetana berkedudukan di atas, berwujud kesadaran tertinggi dan Acetana berkedudukan di bawah berwujud maya (lupa). Pertemuan Cetana dan Acetana menciptakan Purusa dan Pradana yang merupakan sumber roh dan materi. Pertemuan Purusa dan Pradana menghasilkan (menciptakan) citta-guna. Pertemuan setiap citta dan guna ini akan menghasilkan Panca Tan Matra dan Panca Maha BhutaKesalahan pengutipan: Tag <ref> harus ditutup oleh </ref>

Teja

Teja berupa sinar atau cahaya yang tiak berwujud sehingga tidak dapat disentuh jadi masih halus tapi sudah tampak atau dapat dilihat. Teja sebagai anasir dasar membentuk alam semesta berperan sebagai pembentuk sinar yang menyinari segala benda atau isi alam materi yang ada di alam ini dapat dilihat (tampak) dengan mata. Segala sesuatu yang dapat bersinar di alam ini dominan sebagai pembentuk alam ini, misalnya bintang yang bersinar terang merupakan benda alam semesta yang dapat mengeluarkan teja yang amat besar dari dalam dirinya demikian.[1] Pada mahluk hidup teja tidak dapat dilihat tetapi dirasakan bersama bayu memunculkan suhu panas dari tubuh.[2]

Apah

Apah wujudnya dapat berubah-ubah sesuai dengan tempatnya. Apah sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai pembentuk cairan yang menyusun alam semesta beseta isinya. Segala yang cair pada alam semesta seperti air, minyak, alkohol, cairan pada tubuh, dan lain-lain.[1][2]

Perthiwi

Perthhvi wujudnya terlihat dan sudah tetap (padat). Perthhvi sebagai anasir dasar paling kasar penyusun alam semesta keberadaannya berperan untuk menentukan wujud benda-benda atau isi alam dan wujudnya padat yang tetap.[1][2]

Sloka

Bhagavad Gita

 
karma-jaḿ buddhi-yuktā hi
phalaḿ tyaktvā manīṣiṇaḥ
janma-bandha-vinirmuktāḥ
padaḿ gacchanty anāmayām


Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembahku membebaskan asep
 diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan (hukum alam).

Bhagvad Gita (II, 51)[3]

Taittirya Upanisad

 
...
tasmadva etasmadatmana akasah sambhutah
akasadvayuh
vayoragnih
agnerapah
adbhyah prthivi
prthivya osadhayah
osadhibhyo'nnam
annatpurusah
sa va esa puruso'nnnarasamayah
tasyedameva sirah
ayam daksinah paksah
ayamuttarah paksah
ayamatma
idam puccham pratistha
tadapyesa sloko bhavati



Dari situlah Brahman, yang merupakan Diri, menghasilkan akasa. Dari akasa muncul bayu. Dari bayu lahirlah teja. Dari teja tercipta apah. Dari apah muncul perthiwi. Dari perthiwi lahir tumbuhan. Dari tumbuhan itu dihasilkan makanan. Dari makanan lahir manusia. Manusia itu adalah produk dari esensi makanan.

Taittirya Upanisad (II.1.1)[4]

Referensi

  1. ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Sumarya
  2. ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Kriana
  3. ^ Prabhupada, Bhaktivedanta Swami (1986). Bhagavad Gita As It Is (dalam bahasa Inggris). Bhakti Vedanta Book Trust. hlm. 169–171. 
  4. ^ Taittiriya Upanisad 2.1.1, Sri Adi Sankaracarya, Part 1 (dalam bahasa Inggris), diakses tanggal 1 Mei 2019