Lompat ke isi

Suku Dayak Banyadu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dayak Banyadu
Berkas:Dayak Banyadu.jpg
Seorang Imam Dayak sedang memimpin ritual agama Kaharingan
Wilayah Penyebaran

Kabupaten Landak= 56.000, Kabupaten Bengkayang= 12.000, Kabupaten Sanggau=  ? Dan Tempat Lain = ?

Dialek Banyadu
Agama Katolik 70 %, Protestan 20 % & Sisanya Agama Adat Kaharingan
Kelompok Dialek Terdekat Dialek Suku Dayak Bakati, Dialek Suku Dayak Kanayatn & Dialek Suku Dayak Bidayuh

Asal Istilah Banyadu

Ketika anda datang ke daerah Bengkayang saat itu anda akan dengan mudah mendengar kalimat-kalimat seperti ini " Ikin baru dutukng ka diah, haus rasa eg, nyochok duru ah.....asi gaatnmu? eee mantap sidi, cantek damahu eg....artinya adalah " Saya Baru datang di sini, haus rasanya, minum dulu ah......siapa namamu? eee mantap sungguh, cantik perempuannya...." seperti itulah bunyi-bunyi kata dalam bahasa Suku Dayak Banyadu.

Istilah Suku Dayak Banyadu diambil dari istilah dalam bahasa mereka sendiri yaitu asal kata " Nyadu" yang artinya " Tidak" kata ini digunakan sebagai istilah pembeda dialek dengan dialek Dayak lainnya. Dayak Banyadu sendiri merupakan salah satu anak suku dalam keluarga Dayak Kanayatn. diperhatikan dari bahasanya Dayak Banyadu bersama Dayak Bakati merupakan transisi antara keluarga Dayak kanayatn dengan keluarga Dayak Bidayuh dimana sebagian bahasanya mirip atau sama dengan bahasa kanayatn dan sebagian lagi mirip atau sama dengan bahasa bidayuh. umumnya bunyi vokal bahasa banyadu yang sama dengan bahasa keluarga Dayak Kanayatn lainnya cenderung berbunyi ke vokal " U " misal kata " ada " dalam bahasa kanayatn lainnya pada Kanayatn Banyadu menjadi "Adu" kata " sama" menjadi "Samu" kata "Datakng" menjadi "Dutukng", "pesan' menjadi "pesun', "asap' menjadi "asup", "dalam" menjadi "dalum/darupm", "malam' menjadi "malum/ marupm", dan lain-lain.

Daerah Penyebaran Dayak Banyadu

Dayak Banyadu banyak bermukim di daerah kecamatan Banyuke hulu, menyuke darit, meranti, serimbu dan beberapa desa di kecamatan Ngabang kabupaten Landak serta di kecamatan Teriak, Bengkayang kota, kecamatan samalantan dan di desa-desa transmigrasi di seluruh Kabupaten Bengkayang. Dimasa dahulu orang Banyadu sering disebut Orang Banyuke, kata Banyuke sendiri berasal dari nama salah satu desa orang Banyadu sendiri yang dimasa lampau menjadi pusat atau semacam ibukota pemerintahan desa ( Banua / Benua ) yang di kepalai oleh seorang Temenggung atau pemerintahan setingkat kecamatan dimasa sekarang yakni pusat atau ibukota dari Benua Satona di hulu sebuah sungai yang dahulu belum ada namanya. Karena desa paling hulu di hulu sungai itu bernama Kampung Banyuke maka sungai yang berhulu didaerah tersebut akhirnya disebut sungai banyuke. Cukup sering terjadi kekeliruan akan orang Dayak yang disebut Banyuke ini terutama generasi muda sekarang dimana dalam anggapan mereka yang disebut orang Banyuke adalah orang Dayak kanayatn yang berdialek Banane alias orang darit dan cenderung teguh meyakininya, padahal yang benar adalah sebutan orang Dayak Kanayatn yang berdialek Banyadu, hal ini tentu dilandasi bahwa semua desa atau semua penduduk yang tinggal di hilir dan di hulu dari sungai tersebut adalah orang Banyadu, dan terlebih di karenakan asal kata banyuke itu adalah dari nama sebuah kampung orang Banyadu di hulu sungai Banyuke. Sebelum orang banyadu mendiami pedalaman daerah Landak, bengkayang dan Sanggau kapuas. Mereka diyakini mendiami pantai barat Kalimantan barat terutama daerah kecamatan jungkat Pontianak utara hingga daerah sungai pinyuh sekarang. karena berbagai alasan akhirnya nenek moyang Dayak banyadu masuk ke pedalaman melalui sungai landak hingga akhirnya sampai didaerah ngabang sekarang ini. Disitu kelompok ini pecah menjadi dua bagian kelompok yang satunya (Orang Pandu dan orang Angan) masuk kearah timur dan mendiami daerah perbatasan kabupaten Landak dan Tayan hulu( kabupaten Sanggau ) sekarang, sementara kelompok yang lebih besar masuk ke ke arah barat melalui muara sungai banyuke hingga kehulu dan anak-anak sungai banyuke dan membangun pemukiman-pemukiman awal atau dikenal sebagai Tamakng (baca: Tambang). Penduduk desa awal atau desa asal alias Tamakng orang banyadu di sepanjang sungai Banyuke dan anak-anak sungai banyuke ini seperti orang Dayak lainnya juga melakukan kegiatan berladang semakin lama semakin jauh ladang yang dibuka akhirnya karena alasan sudah terlalu jauh dari kampung induknya maka para orang tua jaman dulu berinisiatif mendirikan kampung-kampung ladang atau dikenal dengan istilah Varokng ( baca: Varong). Seiring dengan perkembangan jaman dan peningkatan jumlah penduduk akhirnya varokng-varokng tersebut makin lama makin ramai. Desa-desa asal alias Tamakng orang Banyadu antara lain Tamakng Bale, Temia ojol, Padang pio, Loeng, untang, Banyuke dan lain-lain. Sementara kampung-kampung ladang atau Varokng seperti Tititareng, sabah, magon, Teriak, Temia seo, padang manyun, berinang manyun, sinto, kampet, semade, sentibak dan lain-lain.

Adat Budaya Dayak Banyadu

Adat budaya masyarakat Banyadu umumnya sama dengan adat Dayak rumpun Klemantan lainnya, yang membedakannya hanya pada istilah penyebutannya saja. Salah satu Adat budayanya yakni baliatn umumnya dijalankan dengan menggunakan bahasa Dayak Kanayatn yang berdialek Bananna meskipun dukun baliannya asli orang Banyadu. Inilah salah satu alasan disamping bahasanya yang menyebabkan Dayak Banyadu di kelompokan ke dalam keluarga Dayak Kanayatn. Sebagaimana masyarakat Dayak lainnya di masa lampau Orang banyadu juga tinggal di rumah-rumah panjang (rumah Betang atau rumah Bantang) namun sekarang ini tidak ada satupun desa mereka yang masih menyisakannya. Setelah orang Banyadu mendirikan rumah tinggal tunggal (Lamin atau Ramin) mereka membuat rumah mereka masih mirip rumah panjangnya hal ini dilihat dari bentuknya yang juga memanjang hanya saja panjangnya tidak sepanjang rumah panjang komunal. Sampai saat ini rumah-rumah panjang tunggal ini masih terdapat di beberapa desa saja seperti di desa berinang manyun ada dua buah jika masih ada alias belum dibongkar.

Religi Dayak Banyadu

Sistem religi orang Banyadu adalah agama adat atau dalam istilah masyarakat Dayak Kalimantan tengah disebut Kaharingan. Sistem kepercayaan ini sudah monoteis yang mana berpusat pada satu Tuhan yang disebut Jubata. Dalam mengontrol dunia Jubata di bantu oleh sangiakng-sangiakng atau semacam malaikat pada agama samawi. Ketika imam Banyadu melakukan ritual agama adat sering nama Jubata disebut-sebut sebagai jubata yang digunung ini, atau gunung itu di daerah ini atau daerah itu, hal ini tidaklah bearti bahwa Jubata tersebut banyak jumlahnya namun lebih bermakna bahwa sang kuasa ( Tuhan ) ada dimana-mana atau berkuasa atas segala sesuatu. Jubata pada masyarakat Dayak Banyadu seperti pada masyarakat Dayak kanayatn lainnya disebut-sebut berdiam atau tinggal di surga atas (saruga samo) atau di lapisan langit ketujuh atau secara khusus disebut dengan istilah Sabayatn. Dimasa sekarang orang Banyadu 70 % diantaranya adalah penganut Kristen Katholik, 20 % Kristen Protestan dan sisanya pengikut agama adat (Kaharingan).

Tokoh-Tokoh Dayak Banyadu

  • Tapanus Tapat, SH. MH. politisi
  • Fabianus Oel, Spd. Birokrat dan kepala Adat
  • Marcellus Uthan, Ssos. Tokoh LSM
  • Darrem, SH. politisi
  • Mion, politisi
  • Pastor Dr. Samuel Oton Sidin, OFM cap. rohaniawan, LSM dan tokoh sosial
  • Allay simpang tiga, Tetua masyarakat Banyadu
  • Ugat Sojo, Tetua Masyarakat Banyadu
  • Sanjok, Tetua Masyarakat

Referensi