Lompat ke isi

Teori kealamian media

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Teori kealamian media ini dicetuskan dan dikembangkan oleh Ned Kock. Teori ini kadang-kadang disebut sebagai model fisio-biologis,[1] atau teori kompensasi adaptasi.[2] Teori ini digunakan untuk memahami perilaku manusia terhadap teknologi dalam berbagai konteks, seperti: pendidikan atau online learning,[3] komunikasi dalam lingkungan virtual,[4] bisnis (e-collaboration dan e-commerce),[4] dan sebagainya. Teori kealamiahan media ini dapat dilihat sebagai sebuah teori yang dikembangkan dari teori Darwin, khususnya dalam hal perilaku manusia terhadap beberapa jenis media komunikasi.[5] Perkembangan teori ini juga konsisten dengan ide-ide dari bidang psikologi evolusioner.[1][6]

Teori ini dibangun berdasarkan ide-ide evolusi manusia dan telah diusulkan sebagai alternatif untuk teori kekayaan media (media richness theory). Teori kealamiahan media berpendapat bahwa cara berkomunikasi nenek moyang manusia adalah komunikasi tatap muka, tekanan evolusi telah menyebabkan perkembangan otak yang dirancang untuk melakukan komunikasi dengan cara tatap muka.[5] Akibatnya, ketika manusia menggunakan media komunikasi yang menekan unsur-unsur yang ditemukan dalam komunikasi tatap muka, seperti yang terjadi apabila manusia berkomunikasi lewat media elektronik, manusia akan mengalami rintangan-rintangan dalam memperoleh pesan dengan tepat. Hal ini dapat terjadi dalam konteks pekerjaan yang kompleks (misalnya, belajar online), karena tugas-tugas tersebut tampaknya membutuhkan lebih banyak komunikasi yang intens selama periode waktu yang lebih panjang dari tugas-tugas sederhana. Dalam hal tersebut manusia dengan sendirinya akan melakukan adatasi guna dapat melakukan pekerjaan tersebut dengan benar dan maksimal.[2][6]

Dasar biologis

[sunting | sunting sumber]

Beberapa penelitian menyoroti dasar biologis dari teori kealamian media. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa dalam proses evolusi manusia, 99 persen dalam proses tersebut manusia bergantung pada proses komunikasi yang dilakukan di tempat yang sama (co-located) dan komunikasi yang dimana proses timbal-balik pesan berlangsung dengan cepat (synchronous).[5] Selain itu dalam evolusi manusia juga terbiasa melakukan komunikasi yang tidak hanya didasarkan pada elemen verbal (speech) saja, tetapi juga elemen non-verbal, seperti: ekspresi dan bahasa tubuh.[5] Tentu perkembangan evolusi tersebut membentuk tingkah laku manusia, khususnya dalam konteks berkomunikasi, seperti yang dijelaskan lewat psikologi evolusioner.[6] Evolusi bukan hanya membentuk perilaku manusia dalam berkomunikasi, tetapi juga perlahan-lahan mempengaruhi bentuk fisik manusia sehingga bisa berfungsi dengan baik pada saat berkomunikasi. Contohnya, wajah manusia yang memerankan peran penting dalam komunikasi juga memiliki otot wajah yang kompleks, yang memungkinkan manusia untuk mengeluarkan sekitar 6000 ekspresi-ekspresi dalam upaya berkomunikasi.[5]

Kealamiahan Media

[sunting | sunting sumber]

Dalam teori kealamian media, kealamian dari sebuah media komunikasi dapat dilihat dari tingkat kemiripan antara sebuah komunikasi yang dimediasi (misalnya: dengan media elektronik) dengan komunikasi tatap muka. Dalam hal ini tentu komunikasi tatap muka dinilai sebuah sebuah komunikasi yang paling alamiah, yang memiliki lima karakteristik utama:[7] (1) berada ditempat yang sama atau berdekatan (kolokasi), yang akan memungkinkan individu-individu yang terlibat dalam komunikasi untuk melihat dan mendengar satu sama lain; (2) tingkat sinkronisitas yang tinggi, yang akan memungkinkan seseorang untuk dengan cepat merespons pesan dari lawan bicara; (3) kemampuan untuk menyampaikan dan mengamati ekspresi wajah; (4) kemampuan untuk menyampaikan dan mengamati bahasa tubuh; dan (5) kemampuan untuk menyampaikan dan mendengarkan pesan.

Teori kealamian media memprediksi bahwa media komunikasi elektronik yang memungkinkan pertukaran pesan secara kurang atau lebih komunikatif daripada komunikasi tatap muka akan menimbulkan hambatan kognitif dalam komunikasi.[1] Dengan kata lain, teori kealamian media menempatkan komunikasi tatap muka di pusat dalam sebuah skala kewajaran, di mana penyimpangan ke kiri atau kanan berhubungan dengan penurunan kealamian (lihat Gambar 1).

Gambar 1. Face-to-face menengah kealamian.

Media elektronik yang memungkinkan pertukaran stimulus komunikasi yang secara signifikan melebihi yang ada dalam komunikasi tatap muka diklasifikasikan sebagai komunikasi yang rendah tingkat kealamiannya jika dibandingkan dengan komunikasi tatap muka. Stimulus komunikasi yang lebih daripada yang alamiah akan memberikan informasi yang berlebihan, yang melebihi dari apa yang bisa diproses oleh seorang individu.[1]

Dalam aspek inilah ada perbedaan antara teori kealamian media dengan teori kekayaan media (media richness theory). Teori kekayaan media beranggapan bahwa komunikasi akan berlangsung baik apabila komunikasi dilakukan dalam sebuah kekayaan elemen komunikasi:[8] (1) kemampuan individu untuk mendapatkan respons (feedback); (2) banyaknya karakteristik komunikasi yang berkaitan dengan komunikasi tatap muka, misalnya nada suara dan bahasa tubuh; (3) banyaknya tipe bahasa yang data digunakan dalam mengekspresikan konsep, seperti kata-kata maupun angka; (4) sejauh mana perasaan dan emosi seseorang bisa dituangkan dalam proses komunikasi. Dalam terang teori tersebut, proses komunikasi yang menggunakan medium yang kaya dan mendekati proses komunikasi yang ideal (komunikasi tatap muka) akan menolong seseorang untuk mendapatkan informasi yang tepat. Namun teori kealamian media berpendapat bahwa media komunikasi yang elektronik, yang "kaya" (seperti media virtual reality), tetap menurunkan kealamian media dan dapat berdampak yang kurang baik dalam proses komunikasi.[5]

Prediksi utama

[sunting | sunting sumber]

Kealamian media berpengaruh pada usaha kognitif, ambiguitas komunikasi dan bangkitnya gairah fisiologis dari seseorang. Prediksi utama dari teori kealamian media adalah rendahnya kealamian media akan memberikan efek pada:[5] (a) peningkatan usaha kognitif, (b) peningkatan ambiguitas dalam komunikasi, dan (c) penurunan gairah fisiologis.

Dalam konteks media elektronik, komunikasi lewat media elektronik akan menekan aspek-aspek dalam komunikasi tatap muka, dengan tujuan untuk menciptakan keuntungan lainnya. Misalnya, komunikasi lewat pesan elektronik (e-mail) yang dapat dengan mudah dan cepat menyebarkan informasi kepada orang banyak dalam waktu yang singkat, namun di sisi lain pesan elektronik diterima dalam waktu yang tidak bersamaan (asynchronous). Tentu hal tersebut dapat menyebabkan frustrasi dari pengirim pesan yang mengharapkan umpan balik secara langsung.[2]

Usaha kognitif

[sunting | sunting sumber]

Usaha kognitif dalam konteks ini adalah jumlah dari aktivitas mental, atau, dalam perspektif biologis, jumlah dari aktivitas otak, yang terlibat dalam proses interaksi komunikasi.[7] Tentu hal ini didasari pada banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa dalam proses komunikasi perlu adanya sebuah usaha kognitif.[7] Dalam proses evolusi, otak manusia terbentuk sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah mengerti sebuah pesan jika dalam komunikasi ada ke-lima karakteristik utama kealamian media.[5] Misalnya, manusia memiliki otak yang dapat mengenali ekspresi wajah dan manusia dapat dengan mudah melakukan hal tersebut.[1] Kemampuan ini sulit untuk ditiru oleh sistem komputer, bahkan di komputer yang canggih sekalipun. Alhasil, jika proses komunikasi dimediasi media elektronik, maka kecenderungan yang muncul adalah akan adanya usaha kognitif yang ekstra dalam diri seseorang.

Untuk mengukur usaha kognitif ini, Kock berpendapat bahwa kelancaran (fluency) dalam komunikasi bisa menjadi salah satu alat ukur seberapa jauh media komunikasi mempengaruhi meningkatnya usaha kognitif seseorang dalam berkomunikasi.[7] Kelancaran yang dimaksudkan di sini adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyampaikan dan menerima pesan tertentu.[7] Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kock, terbukti bahwa kelancaran dalam komunikasi tatap muka lebih tinggi sekitar 18 kali dibandingkan komunikasi dengan menggunakan pesan elektronik (e-mail) dalam usaha mengomunikasikan pesan yang kompleks.[5] Salah satu penyebabnya adalah komunikasi lewat e-mail membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan komunikasi dengan jumlah pesan 600 kata dibandingkan dengan komunikasi tatap muka dengan jumlah pesan yang sama, yaitu 60 menit (1 jam) untuk komunikasi lewat e-mail dan 6 menit untuk komunikasi tatap muka.[5]

Ambiguitas komunikasi

[sunting | sunting sumber]

Individu dibesarkan dalam lingkungan budaya yang berbeda. Hal tersebut mengakibatkan manusia memiliki cara memproses komunikasi yang berbeda-beda, yang pada akhirnya membuat individu menginterpretasikan informasi dengan cara yang berbeda, terutama ketika manusia tidak mendapatkan informasi yang diharapkan dan diperlukan.[1] Oleh karena itu, dalam komunikasi setiap individu membutuhan informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dalam konteks ini, Kock menemukan bahwa otak manusia secara otomatis akan terus mencari informasi-informasi yang dibutuhkan sampai seorang individu dapat mengerti sebuah pesan dengan jelas.[7] Beberapa informasi yang dicari adalah informasi yang bisa didapatkan dalam konteks komunikasi tatap muka, beberapa di antaranya:[5] petunjuk-petunjuk informasi yang berkaitan dengan konteks dimana infomasi itu ada (hal ini terpenuhi dengan mudah jika komunikasi dilakukan di tempat yang sama atau co-located communication), proses timbal balik yang cepat atau immediate feedback (hal ini terpenuhi dalam komunikasi yang dilakukan secara bersamaan atau synchronous communication) dalam bentuk ekspresi-ekspresi wajah, bahasa tubuh dan intonasi suara.[5]

Ketika sebuah informasi tidak diterima sesuai dengan apa yang diharapkan dan diperlukan, manusia akan mencoba “mengisi” atau “fill in the gaps” informasi-informasi yang tidak tersedia, dan kemudian menafsirkan pesan yang ada dalam ambiguitas yang tinggi.[6][7] Tentu dalam tingkat ambigutas pesan yang tinggi, sangat mungkin seseorang salah menafsirkan sebuah pesan.[5] Misalnya, ada sebuah observasi empiris yang menunjukkan bahwa adanya dapat terjadi perbedaan interpretasi atas sebuah kritik yang konstruktif yang diberikan lewat media yang alami (komunikasi tatap muka) dan yang kurang alami (e-mail).[7] Seseorang akan menafsirkan kritik yang konstruktif sebagai sebuah kritik yang membangun karena penyampaiannya diperhalus dengan bahasa non-verbal (seperti nada suara yang tidak tinggi. Sebaliknya, jika kritik yang konstruktif disampaikan lewat media komunikasi e-mail maka dapat terjadi sebuah penafsiran yang berkesimpulan bahwa kritik itu adalah kritik yang kasar dan tidak membangun.

Gairah fisiologis

[sunting | sunting sumber]

Teori kelamian media membentuk mekanisme otak manusia, yang akhirnya mendorong manusia untuk melatih dan terbiasa dengan komunikasi tatap muka. Dalam konteks itu terbentuklah sebuah mekanisme dalam proses komunikasi, yaitu gairah fisiologis.[7] Yang dimaksudkan dengan gairah fisiologis di sini adalah sebuah respons yang dialami tubuh ketika berkomunikasi.[6] Lebih lanjut, gairah fisiologis sering dikaitkan dengan kesenangan dan kegairahan.[7] Dengan kata lain, komunikasi yang alami (tatap muka) lebih disenangi daripada komunikasi dengan media elektronik. Hal ini didukung oleh bukti bahwa elemen komunikasi tatap muka, seperti ekspresi wajah, ungakapan yang disampaikan secara lisan, dan ekspresi bahasa tubuh dapat meningkatkan gairah fisiologis.[5] Kekurangan kealamian dalam sebuah komunikasi akan mengakibatkan individu akan merasa bahwa komunikasi yang dilakukan kurang menyenangkan, membosankan, dan kurang memenuhi kebutuhan emosional.[7] Gairah fisiologis akan semakin berkurang apabila komunikasi yang dilakukan dengan media yang kurang alami digunakan untuk mengomunikasikan hal-hal yang berorientasi kepada tugas dan bukan kepada sebuah relasi.[5]

Adaptasi Kompensatoris

[sunting | sunting sumber]

Peningkatan dalam usaha kognitif dan ambiguitas komunikasi biasanya diikuti dengan fenomena tingkah laku yang unik, biasanya hal tersebut disebut sebagai adaptasi kompensatoris.[2] Fenomena tersebut adalah sebuah fenomena dimana ada usaha sukarela yang dilakukan oleh para individu yang berkomunikasi, yang berusaha untuk mengatasi atau mengimbangi hambatan-hambatan yang muncul dari media komunikasi yang tidak natural. Salah satu dampak dari adaptasi kompensatoris ini adalah kelancaran dalam komunikasi akan berkurang, yang dapat diukur dengan banyaknya kata-kata yang disampaikan per menit melalui sebuah media komunikasi. Dengan kata lain, menurunnya kelancaran komunikasi adalah konsekuensi logis yang dapat muncul karena ada usaha individu untuk beradaptasi dengan sebuah media komunikasi tertentu.

Sebagai contoh, sebuah studi empiris menunjukkan bahwa ketika seseorang menggunakan media elektronik dalam bentuk pesan instan dalam menerima pesan untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang kompleks menyebabkan beberapa efek.[2] Efek-efek yang terjadi konsisten dengan teori kealamian media dan gagasan adaptas kompensatoris. Beberapa di antaranya adalah media elektronik meningkatkan usaha kognitif kira-kira 40% dan tingkat ambiguitas pesan kira-kira 80%. Media elektronik media juga mengurangi kelancaran komunikasi kira-kira 80%. Tetapi dalam keadaan seperti itu, individu masih bisa melakukan tugas dengan kualitas hasil yang sama seperti jika komunikasi pekerjaan yang kompleks dilakukan dengan cara tatap muka.

Berkaitan dengan hal ini, Kock berpendapat bahwa karena manusia sepanjang evolusi mampu beradaptasi dengan lingkungan, maka pada zaman ini pun manusia bisa tetap beradaptasi menggunakan media komunikasi yang kurang alami.[9] Dengan kata lain manusia bisa belajar hal yang baru dan membiasakan diri. Walaupun awalnya manusia akan memiliki masalah dalam melakukan komunikasi lewat beberapa media yang kurang kealamiannya, manusia dapat beradaptasi dan dapat menghasilkan interpretasi atau hasil yang sama dengan ketika berkomunikasi tatap muka.[6] Tentu proses ini akan berlangsung panjang dan juga bergantung pada sejauh mana individu pernah mengalami media elektronik dalam berkomunikasi dan memiliki waktu untuk beradaptasi. Berkaitan dengan adaptasi manusia, ada bukti empiris yang mendukung teori Kock atas manusia yang dapat beradaptasi.[2] Penelitian dilakukan dengan membandingkan antara kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan medium teks dalam CD-ROM dan kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran secara tradisional atau pembelajaran dengan komunikasi tatap muka.[2][9] Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertengahan semester kelompok siswa yang menggunakan CD-ROM memiliki persepsi yang berbeda terhadap sebuah pembelajaran. Namun pada akhir semester, kelompok siswa yang belajar lewat CD-ROM dan yang belajar lewat media tatap muka memiliki persepsi dan performa yang sama.

Teori kealamian media yang diusung oleh Ned Kock di atas tentu berguna untuk menjadi pisau analitis terhadap teknologi komunikasi yang sekarang digunakan oleh masyarakat, termasuk di Indonesia. Hal tersebut guna mencapai efektivitas komunikasi, khususnya dalam konteks teknologi komunikasi yang ada hari ini. Misalnya saja dalam game online,[4] seperti Second Life maupun World of Warcraft yang sempat digemari juga di Indonesia dan beberapa game online lainnya. Berdasarkan teori kealamian media, dalam konteks dunia virtual dapat dikatakan bahwa relasi antar avatar, baik dalam bentuk manusia maupun bukan, merupakan sebuah relasi yang kurang kealamiannya. Tentu dalam hal itu, perlu dilakukan sebuah upaya pengembangan sehingga dalam ruang virtual tersebut tetap dapat terjadi komunikasi yang lebih dekat kepada komunikasi yang alami.[4] Tentu dalam hal ini perlu juga adanya dukungan lewat perkembangan teknologi, mulai dari infrastruktur sampai kepada desain platform dan aplikasi yang digunakan. Artinya, semua hal itu harus mendukung terjadinya sebuah proses komunikasi antar individu yang menggunakan media elektronik ataupun komunikasi dalam dunia virtual.[4] Tentu ini perlu diperhatikan di semua negara, termasuk di Indonesia yang masih melakukan usaha pemerataan pembangunan infrasturktur teknologi komunikasi.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b c d e f Kock, Ned (2004). "The psychobiological model: Towards a new theory of computer-mediated communication based on Darwinian evolution". Organization Science. 15 (3): 327–348.
  2. ^ a b c d e f g Kock, Ned. (2007). Media Naturalness and Compensatory Encoding: The Burden of Electronic Media Obstacles in on Senders. Decision Support Systems, 44, 175-187.
  3. ^ Kock, N., Verville, J., Vanessa, G. (2007). Media Naturalness and Online Learning: Finding Supporting Both the Significant-and No-Significant-Difference Perspectives. Decision Sciences Journal of Innovative Education, 5, 333-355.
  4. ^ a b c d e Kock, Ned. (2008). E-Collaboration and E-Commerce in Virtual Worlds: The Potential of Second Life and World of Warcraft. International Journal of e-Collaboration, 4, 1-13.
  5. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Kock, Ned. (2005). Media Richness or Media Naturalness? The Evolution of Our Biological Communication Apparatus and Its Influence on Our Behavior Toward E-Communication Tools. IEEE Transactions on Professional Communication, 48, 117-130.
  6. ^ a b c d e f Garza, Vanessa. (2001). Online Learning in Accounting Education: A Study of Compensatory Adaptation (Ph.D. Dissertation, Texas A&M International University).
  7. ^ a b c d e f g h i j k Kock, Ned. (2012). Media Naturalness Theory: Human Evolution and Behaviour Towards Electronic Communication Technologies. Dalam Roberts, S. Craig (ed.), Applied Evolutionary Psychology (hal. 381-398). Oxford: Oxford University Press.
  8. ^ Daft, R. L., Lengel, R. H. & Trevino, L. K. (1987). Message Equivocality, Media Selection, and Manager Performance: Implications for Information Systems. MIS Quarterly, 11, 355-366.
  9. ^ a b Kock, Ned. (2001). The Ape That Used Mail: Understanding E-Communication Behavior Through Evolutionary Theory. Communications of IAS, 5, 1-29.