Lompat ke isi

Ritual pembunuhan Toa Payoh: Perbedaan antara revisi

Koordinat: 1°20′13″N 103°51′26″E / 1.33694°N 103.85722°E / 1.33694; 103.85722
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
M. Adiputra (bicara | kontrib)
HsfBot (bicara | kontrib)
k v2.04b - Fixed using Wikipedia:ProyekWiki Cek Wikipedia (Templat dengan kontrol karakter Unicode)
 
(40 revisi perantara oleh 19 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
[[Berkas:Adrian Lim.jpg|jmpl|lurus|ka|alt=Pas foto dari seorang pria: ia memiliki dagu yang gemuk serta kumis dan jenggot pendek. Rambutnya disisir ke belakang.|Adrian Lim menipu banyak wanita agar memberinya uang dan pelayanan seksual, serta membunuh anak-anak demi mengalihkan penyelidikan polisi terhadap dirinya.]]
{{periksaterjemahan|en|Toa Payoh ritual murders}}
'''Ritual pembunuhan Toa Payoh''' terjadi di [[Singapura]] pada tahun [[1981]]. Pada tanggal 25 Januari, mayat seorang anak perempuan berusia sembilan tahun ditemukan tergeletak di sebelah [[lift]] di suatu blok [[Rumah publik di Singapura|apartemen]] di distrik [[Toa Payoh]] dan—dua minggu kemudian—seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun ditemukan tewas tak jauh dari tempat tersebut. Anak-anak tersebut merupakan korban pembunuhan, yang diduga telah dijadikan tumbal bagi dewi Hindu [[Kali (dewi)|Kali]]. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh Adrian Lim, seorang [[cenayang]] gadungan, yang menipu sejumlah wanita dengan mengaku sebagai orang berkekuatan gaib. Korbannya dimintai uang dan pelayanan seksual dengan iming-iming obat, kecantikan, dan keberuntungan. Dua wanita korbannya menjadi asisten setianya; Tan Mui Choo menikah dengan Lim, dan Hoe Kah Hong menjadi salah satu "istri suci"-nya. Ketika pihak polisi menyelidiki suatu tuduhan [[pemerkosaan]] yang dilaporkan oleh salah satu korban Lim, ia menjadi gusar dan memutuskan untuk membunuh anak-anak demi mengalihkan perhatian polisi. Pada setiap kesempatan, Hoe memancing anak-anak untuk masuk ke apartemen Lim agar dapat diberi obat penghilang kesadaran, kemudian dibunuh oleh Lim dan asistennya. Lim juga melakukan serangan seksual pada anak perempuan sebelum membunuhnya. Ketiganya ditangkap setelah polisi menemukan jejak bercak darah yang mengarah ke apartemen mereka. Walaupun nama kasus ini memiliki sebutan pembunuhan ritualistis,{{sfn|Sit|1989 a|p=xiii}}{{sfn|Sit|1989 b|p=xiii}} para terdakwa mengaku bahwa mereka tidak melakukan persembahyangan, membakar [[hio]], membunyikan lonceng, atau ritus apapun ketika melakukan pembunuhan.{{sfn|John|1989|p= 187, 202}}
[[File:Adrian Lim.jpg|thumb|upright|right|alt=Pas foto dari seorang pria: ia memiliki dagu ganda serta kumis dan jenggot pendek. Rambutnya disisir ke belakang.|Adrian Lim menipu banyak wanita agar memberinya uang dan pelayanan seksual, serta membunuh anak-anak demi menghentikan penyelidikan polisi terhadap dirinya.]]


Persidangan yang memakan waktu selama 41 hari itu merupakan persidangan terlama kedua yang diselenggarakan di pengadilan Singapura pada waktu itu. Tiada terdakwa yang membantah kesalahan mereka. Agar terhindar dari hukuman mati, tim pembela mengajukan pertimbangan bahwa para terdakwa mengidap masalah mental dan tidak dapat bertanggung jawab sepenuhnya atas pembunuhan tersebut. Untuk mendukung pernyataan itu, para dokter dan ahli psikologi didatangkan untuk menganalisis terdakwa dan membuat kesimpulan bahwa terdakwa mengidap [[skizofrenia]], [[depresi kejiwaan]], dan [[hipomania]]. Namun, [[jaksa]] menyanggah keterangan tersebut dan berpendapat bahwa para terdakwa berada dalam kondisi sadar sepenuhnya ketika merencanakan dan menjalankan pembunuhan. Para hakim sepakat dengan gugatan jaksa sehingga mereka bertiga dijatuhi [[hukuman mati]]. Setelah menerima keputusan hukuman mati, istri Lim mengajukan banding kepada [[Komite Yudisial Dewan Penasihat|Dewan Penasihat]] di London dan memohon [[grasi|pengampunan]] dari Presiden Singapura, namun tidak berhasil. Sementara itu, Lim tidak mencari pengampunan apapun. Sebaliknya, dia menerima nasibnya dan tersenyum saat menanti hukuman mati. Ketiganya [[hukuman gantung|digantung]] pada tanggal 25 November 1988.
'''Ritual pembunuhan Toa Payoh''' terjadi di [[Singapura]] pada tahun 1981. Pada tanggal 25&nbsp;Januari, mayat seorang anak perempuan berusia sembilan tahun ditemukan tergeletak di sebelah [[lift]] di suatu blok [[Rumah publik di Singapura|apartemen]] di distrik [[Toa Payoh]] dan—dua minggu kemudian—seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun ditemukan tewas tak jauh dari tempat tersebut. Anak-anak tersebut merupakan korban pembunuhan, yang diduga telah dijadikan tumbal bagi dewi Hindu [[Kali (dewi)|Kali]]. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh Adrian Lim, seorang [[cenayang]] gadungan, yang menipu sejumlah wanita dengan mengaku sebagi orang berkekuatan gaib. Korbannya dimintai uang dan pelayanan seksual dengan iming-iming obat, kecantikan, dan keberkatan. Dua wanita korbannya menjadi asisten setianya; Tan Mui Choo menikah dengan Lim, dan Hoe Kah Hong menjadi salah satu "istri suci"-nya. Ketika pihak polisi menyelidiki suatu tuduhan [[pemerkosaan]] yang dilaporkan oleh salah satu korban Lim, ia menjadi gusar dan memutuskan untuk membunuh anak-anak demi menggagalkan penyelidikan. Pada setiap kesempatan, Hoe memancing anak-anak untuk masuk ke apartemen Lim agar dapat diberi obat penghilang kesadaran, kemudian dibunuh oleh Lim dan asistennya. Lim juga melakukan serangan seksual pada anak perempuan sebelum membunuhnya. Ketiganya telah ditangkap setelah polisi menemukan jejak bercak darah yang mengarah ke apartemen mereka. Walaupun nama kasus ini memiliki sebutan pembunuhan ritualistis,<ref>Sit (1989), ''I Confess'', xiii.</ref><ref>Sit (1989), ''Was Adrian Lim Mad?'', xiii.</ref> para terdakwa mengaku bahwa mereka tidak melakukan persembahyangan, membakar [[hio]], membunyikan loceng, atau ritual apapun ketika melakukan pembunuhan.<ref>John (1989), 187, 202.</ref>


Ritual pembunuhan Toa Payoh mengegerkan publik di [[Singapura]], karena tindakan mengejutkan semacam itu telah terjadi di lingkungan mereka. Berita aksi ketiganya dan proses pengadilan tersebut terus terbayang-bayang dalam ingatan warga Singapura selama beberapa tahun. Sebanyak dua kali, rumah produksi film mencoba untuk memanfaatkan sensasi berita itu dengan membuat film berdasarkan pembunuhan tersebut; namun, para kritikus menyatakan bahwa kedua film yang diproduksi terlalu mengumbar adegan hubungan seks dan kekerasan, dan tidak berhasil meraup untung di pasaran. Tindakan dan perilaku tiga pembunuh tersebut telah dikaji oleh para mahasiswa dalam bidang [[psikologi kriminal]], dan hukum yang ditetapkan oleh mahkamah menjadi studi kasus lokal dalam hal ''diminished responsibility''.
Persidangan yang memakan waktu selama 41 hari ini merupakan persidangan paling lama kedua yang diselenggarakan di pengadilan Singapura pada waktu itu. Tiada terdakwa yang membantah kesalahan mereka. Agar para terdakwa terhindar dari hukuman mati, pengacara mereka mengajukan pertimbangan bahwa mereka mengidap masalah mental dan tidak dapat bertanggung jawab sepenuhnya atas pembunuhan tersebut. Untuk mendukung pernyataan tersebut, dokter dan ahli psikologi didatangkan untuk menganalisis terdakwa dan membuat kesimpulan bahwa terdakwa menghidap [[skizofrenia]], serta depresi [[depresi kejiwaan|kejiwaan]] dan [[Hipomania|maniak]]. Namun, [[jaksa]] menyanggah keterangan tersebut dan berpendapat bahwa mereka berada dalam kondisi sadar sepenuhnya ketika merencanakan dan menjalankan pembunuhan tersebut. Para hakim sepakat dengan gugatan jaksa sehingga mereka bertiga dijatuhi [[hukuman mati]]. Setelah menerima keputusan hukuman mati, istri Lim mengajukan banding kepada [[Komite Yudisial Dewan Privi|Dewan Privi]] di London dan memohon [[grasi|pengampuan]] dari Presiden Singapura, namun tidak berhasil. Lim tidak mencari pengampunan apapun. Sebaliknya, dia menerima nasibnya dan tersenyum saat menanti hukuman mati. Ketiganya [[hukuman gantung|digantung]] pada tanggal 25&nbsp;November 1988.

Ritual pembunuhan Toa Payoh telah mengegerkan publik di Singapura, karena tindakan mengejutkan semacam itu telah terjadi di lingkungan mereka. Berita aksi ketiganya dan proses pengadilan tersebut terus terbayang-bayang dalam ingatan warga Singapura selama beberapa tahun. Sebanyak dua kali, rumah produksi film mencoba untuk memanfaatkan sensasi berita itu dengan membuat film berdasarkan pembunuhan tersebut; namun, para kritikus menyatakan bahwa kedua film tersebut mengumbar adegan hubungan intim dan kekerasan, dan tidak berhasil meraup untung di pasaran. Tindakan dan perilaku tiga pembunuh tersebut telah dikaji oleh para mahasiswa dalam bidang psikologi kriminal, dan hukum yang ditetapkan oleh mahkamah menjadi studi kasus lokal dalam hal ''diminished responsibility''.


== Masyarakat Singapura pada tahun 1980-an ==
== Masyarakat Singapura pada tahun 1980-an ==
Baris 12: Baris 10:
|width=30%
|width=30%
|align=right
|align=right
|quote=Siapapun yang mengatakan bahwa Singapura membosankan dan terlalu bersih akan mengabaikan para pelaku kejahatan yang tiada duanya seperti&nbsp;... perwujudan kejahatan itu sendiri &mdash; Adrian Lim&nbsp;...
|quote=Siapa pun yang berkata bahwa Singapura membosankan dan terlalu bersih akan mengabaikan kejahatan menggegerkan yang dilakukan oleh penjahat yang tiada duanya seperti&nbsp;... perwujudan kejahatan itu sendiri Adrian Lim&nbsp;...
|source=Sonny Yap, ''The Straits Times'', 15&nbsp;Juli 1995<ref name="yap" />
|source=Sonny Yap, ''The Straits Times'', 15&nbsp;Juli 1995.{{sfn|Yap|15 Juli 1995}}
}}
}}


Awal abad ke-19, imigran membanjiri [[Semenanjung Malaysia]], menguasai [[Negeri-Negeri Selat]] termasuk kota pulau Singapura. Warga migran dan pribumi memiliki kepercayaan yang berbeda, namun seiring berjalannya waktu, perbedaan antar-kepercayaan tersebut kian memudar. Sebagian penduduk percaya akan roh-roh yang menghuni hutan-hutan, dewa dan setan yang berkeliaran di sekitarnya, yang dapat berbuat baik atau jahat. Orang-orang tertentu mengklaim bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan para makhluk gaib tersebut. Melalui beberapa ritual yang melibatkan tarian dan pemanggilan, orang-orang yang memiliki [[cenayang|kekuatan cenayang]]&mdash;''tang-kee'' dan ''[[bomoh]]''&mdash;mengundang makhluk tersebut agar merasuki tubuh mereka untuk memberikan wejangan, berkat, dan kutukan bagi orang yang percaya kepada mereka. Seiring waktu berjalan dan kota-kota makin berkembang, banyak lahan hutan dibabat untuk pendirian bangunan beton sehingga praktik cenayang menjadi makin terdesak jauh di pelosok masyarakat.<ref>DeBernadi (2006), 1&ndash;14.</ref>
Awal abad ke-19, imigran membanjiri [[Semenanjung Malaysia]], menduduki [[Negeri-Negeri Selat]] termasuk kota-pulau [[Singapura]]. Warga pendatang dan pribumi memiliki kepercayaan yang berbeda, namun seiring berjalannya waktu, perbedaan antar-kepercayaan tersebut kian memudar. Sebagian penduduk percaya akan roh-roh yang menghuni hutan-hutan, serta yakin bahwa dewa dan setan berkeliaran di sekitar mereka, yang dianggap dapat berbuat baik atau jahat terhadap manusia. Orang-orang tertentu mengklaim bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan para makhluk gaib tersebut. Melalui beberapa ritus yang melibatkan tarian dan pemanggilan, orang-orang yang memiliki [[cenayang|kekuatan cenayang]]''tang-kee'' dan ''[[bomoh]]''—mengundang makhluk gaib tersebut agar merasuki tubuh mereka untuk memberikan wejangan, berkat, dan bahkan kutukan, yang dilakukan demi orang-orang yang percaya kepada mereka. Seiring waktu berjalan dan kota-kota makin berkembang, banyak lahan hutan dibabat untuk pendirian bangunan beton sehingga praktik cenayang menjadi makin terdesak jauh ke tengah masyarakat.{{sfn|DeBernadi|2006|p=1–14}}


Pada tahun 1980, 75% tempat tinggal di Singapura berada di [[rumah publik di Singapura|rumah publik]].<ref>Thung (1977), 229.</ref> Apartemen bertingkat tinggi yang dibangun pemerintah tersebar di pusat kota, dan distrik [[Toa Payoh]] adalah salah satunya. Meskipun setiap blok padat penduduk, banyak para penghuninya yang menutup diri, menjaga privasi mereka dan cenderung tidak memedulikan apa yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka.<ref>Trocki (2006), 146.</ref><ref>Thung (1977), 231&ndash;232.</ref> Pada saat itu, masyarakat Singapura relatif damai&mdash;kontras dengan prevalensi perkumpulan rahasia, [[triad]] dan pertikaian antar geng pada saat pra-kemerdekaan. Tingkat kejahatan yang rendah, dikarenakan oleh hukum yang ketat dan penegakan yang tangguh,<ref>Rowen (1998), 116&ndash;117.</ref> memberikan rasa aman bagi para warga.<ref>Quah (1987), 49.</ref> Meskipun demikian, pemerintah memperingatkan masyarakat agar tidak cepat puas dan memberi penyuluhan dalam kampanye lokalnya, bahwa "kejahatan rendah bukan berarti tidak ada kejahatan".<ref>Naren (2000), 24.</ref> Pada tahun 1981, tiga orang Singapura melakukan sebuah kejahatan yang telah menggegerkan negara tersebut.
Pada tahun 1980, 75% warga Singapura tinggal di [[rumah publik di Singapura|rumah susun]].{{sfn|Thung|1977|p=229}} Apartemen bertingkat tinggi yang dibangun pemerintah tersebar di pusat kota, dan distrik [[Toa Payoh]] adalah salah satunya. Meskipun setiap blok padat penduduk, banyak para penghuninya yang menutup diri, menjaga privasi mereka, dan cenderung tidak memedulikan apa yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka.{{sfn|Trocki|2006|p=146}}{{sfn|Thung|1977|p=231–232}} Pada saat itu, masyarakat Singapura relatif damai, kontras dengan prevalensi perkumpulan rahasia, [[triad]], dan pertikaian antar-geng pada saat pra-kemerdekaan. Tingkat kejahatan yang rendah, dikarenakan oleh hukum yang ketat dan penegakan yang tangguh,{{sfn|Rowen|1998|p=116–117}} memberikan rasa aman bagi para warga.{{sfn|Quah|1987|p=49}} Meskipun demikian, pemerintah memperingatkan masyarakat agar tidak cepat puas dan memberi penyuluhan dalam kampanye lokalnya, bahwa "tingkat kejahatan yang rendah bukan berarti tidak ada kejahatan".{{sfn|Naren|2000|p=24}} Pada tahun 1981, tiga warga Singapura melakukan sebuah kejahatan yang menggegerkan negara tersebut.


== Dua pembunuhan, tiga penangkapan ==
== Dua pembunuhan, tiga penangkapan ==
[[File:Toa Payoh Ritual Murders' Flat.jpg|thumb|upright|left|alt=Bangunan bertingkat tinggi berdiri berjajar satu sama lain dipinggir jalan. Sebuah unit blok apartemen di sebelah kanan disorot dengan warna mereka.|Apartemen Lim (diberi warna merah) berada di Blok 12 (kanan), Toa Payoh Lorong 7. Pada tahun 2008, bangunan yang ada didekatnya yakni Blok 10 dan 11 (tengah dan kiri) telah diubah dengan struktur yang lebih tinggi.]]
[[Berkas:Toa Payoh Ritual Murders' Flat.jpg|jmpl|lurus|kiri|alt=Bangunan bertingkat tinggi berdiri berjajar satu sama lain dipinggir jalan. Sebuah unit blok apartemen di sebelah kanan disorot dengan warna mereka.|Apartemen Lim (ditandai dengan warna merah) berada di Blok 12 (kanan), Toa Payoh Lorong 7. Pada tahun 2008, bangunan yang ada di dekatnya yakni Blok 10 dan 11 (tengah dan kiri) telah diganti dengan bangunan yang lebih tinggi.]]


Selama beberapa tahun, seorang cenayang di Blok 12, Toa Payoh Lorong 7, telah melakukan ritual yang tidak diketahui dan bising di tengah malam. Penduduk mengeluhkan hal tersebut beberapa kali kepada pihak berwajib, tetapi ritual tersebut akan selalu melanjutkan setelah waktu yang singkat.<ref>John (1989), 9.</ref> Di sore hari pada tanggal 24 Januari 1981, anak berusia 9 tahun bernama Agnes Ng Siew Hock ({{zh|s=黄秀叶|t=黃秀葉|p=Huáng Xìuyè}}) menghilang setelah menghadiri kelas agama di gereja-nya di Toa Payoh. Beberapa jam kemudian, mayatnya ditemukan dimasukkan di dalam tas di luar [[lift]] di Blok 11, kurang dari satu kilometer (lima-delapan mil) dari gereja. Gadis tersebut telah disiksa hingga mati; penyelidikan menemukan luka pada alat kelamin-nya dan menemui air mani di dubur-nya. Walaupun polisi melakukan penyelidikan intensif, menanyakan lebih dari 250 orang di sekitar tempat kejadian, mereka gagal untuk memperoleh petunjuk apapun. Pada tanggal 7 Februari, seorang anak berusia sepuluh tahun bernama Ghazali bin Marzuki ditemukan meninggal di bawah pohon antara Blok 10 dan 11. Ia telah menghilang sejak hari sebelumnya, setelah terlihat menaiki taksi dengan seorang wanita yang tidak diketahui. [[Patologi forensik]] di tempat kejadian menganggap penyebab kematiannya adalah tenggelam. Tidak ada tanda-tanda serangan seksual, tetapi terdapat luka bakar di belakang dan tusukan di lengannya. Unsur [[obat tidur]] kemudian ditemukan di dalam darahnya.<ref>John (1989), 2&ndash;3.</ref>
Selama beberapa tahun, seorang cenayang di Blok 12, Toa Payoh Lorong 7, kerap melakukan ritus yang bising pada tengah malam. Penduduk sekitar mengeluhkan hal tersebut sehingga melapor kepada pihak berwajib beberapa kali, tetapi praktik ritual tersebut dilanjutkan kembali dalam waktu singkat.{{sfn|John|1989|p= 9}} Pada sore hari, tanggal 24 Januari 1981, seorang anak berusia 9 tahun bernama Agnes Ng Siew Hock ({{zh|s=黄秀叶|t=黃秀葉|p=Huáng Xìuyè}}) menghilang setelah mengikuti pelajaran agama di suatu gereja di Toa Payoh. Beberapa jam kemudian, mayatnya ditemukan terbungkus tas di luar [[lift]] di Blok 11, kurang dari satu kilometer ( mil) dari gereja. Gadis tersebut didapati tewas karena kehabisan napas. Hasil penyelidikan mengungkapkan adanya luka pada alat kelaminnya, dan air mani pada duburnya. Walaupun polisi telah melakukan penyelidikan intensif—menanyai lebih dari 250 orang di sekitar tempat kejadian—mereka gagal untuk memperoleh petunjuk apapun. Pada tanggal 7 Februari, seorang anak berusia sepuluh tahun bernama Ghazali bin Marzuki ditemukan meninggal di bawah pohon antara Blok 10 dan 11. Ia telah menghilang sehari sebelumnya, setelah terlihat menaiki taksi dengan seorang wanita yang tak dikenal. [[Patologi forensik|Tim forensik]] di tempat kejadian memperkirakan penyebab kematiannya adalah tenggelam. Tidak ada tanda-tanda serangan seksual, tetapi terdapat luka bakar di punggung dan bekas tusukan di lengannya. Unsur [[obat tidur]] ditemukan di dalam darahnya.{{sfn|John|1989|p= 2–3}}


Polis menemui bercak darah berceceran yang menuju ke lantai tujuh Blok 12. Melangkah ke koridor umum dari tangga, Inspektur Pereira menemui simbol agama (salib, cermin, dan sebilah pisau) di pintu masuk apartemen pertama (unit nomor 467F). Pemilik apartemen, Adrian Lim, mendekati dan memperkenalkan dirinya, menginformasikan Pereira bahwa ia tinggal dengan istrinya, Tan Mui Choo, dan teman wanitanya, Hoe Kah Hong. Lim mengijinkan inspektur Pereira untuk memeriksa kediamannya, polisi menemui bercak darah. Lim pada mulanya mencoba menjelaskan bercak tersebut berasal dari lilin, tetapi ketika ditanya dia menjelaskan bahwa bercak tersebut adalah darah ayam.<ref>Narayanan (1989), 166&ndash;167.</ref> Setelah polisi menemukan potongan kertas yang ditulis dengan informasi pribadi anak-anak yang telah mati, Lim mencoba untuk menghilangkan kecurigaan dengan mengklaim bahwa Ghazali telah datang untuk mendapatkan perawatan di kediaman ia untuk meredakan hidung berdarah.<ref>John (1989), 7&ndash;8.</ref> Sewaktu pemeriksaan pegawai menemukan rambut di bawah karpet dan Lim mencoba untuk membuangnya ke toilet, tetapi polisi menghalanginya. Forensik kemudian melakukan pengujian dan menyimpulkan bahwa rambut tersebut adalah milik Agnes Ng.<ref>Narayanan (1989), 9.</ref> kemudian polisi memeriksa latar belakang Lim dan mendapati Lim pernah terlibat dalam penyelidikan pemerkosaan. Lim terdengar pernyataan mereka dan menjadi gelisah, kemudian meneriakan suaranya di depan aparat penegak tersebut. Kemarahannya ditirukan oleh Hoe saat ia memberi isyarat keras dan berteriak pada petugas. Tindakan mereka terus menimbulkan kecurigaan penyelidik bahwa ketiganya telah terlibat dalam pembunuhan. Pihak polisi mengumpulkan bukti, memeriksa kediaman Lim sebagai tempat kejadian terdakwa, dan menahan Lim dan dua wanita tersebut untuk diinterogasi.<ref>John (1989), 8.</ref>
Polisi menemukan bercak darah berceceran yang menuju ke lantai tujuh Blok 12. Saat menelusuri koridor setelah menaiki tangga, Inspektur Pereira mendapati simbol-simbol religius yang eklektik (salib, cermin, dan sebilah pisau) pada pintu masuk flat pertama (unit nomor 467F). Pemilik apartemen, Adrian Lim, menyambut sang inspektur dan memperkenalkan dirinya. Ia memberi tahu Pereira bahwa ia tinggal dengan istrinya, Tan Mui Choo, dan teman wanitanya, Hoe Kah Hong. Setelah Lim mengizinkan Inspektur Pereira untuk memeriksa kediamannya, akhirnya polisi menemukan bercak darah. Pada mulanya, Lim menjelaskan bahwa bercak tersebut berasal dari lelehan lilin, tetapi setelah didesak, ia menjelaskan bahwa bercak tersebut adalah darah ayam.{{sfn|Kutty|1989|p= 166–167}} Setelah polisi menemukan potongan kertas yang mengandung informasi pribadi anak-anak yang telah tewas, Lim berusaha menghilangkan kecurigaan dengan berdalih bahwa Ghazali pernah datang ke apartemen tersebut untuk meredakan mimisan.{{sfn|John|1989|p= 7–8}} Secara diam-diam, Lim menyingkirkan sejumput rambut di bawah karpet dan mencoba untuk membuangnya ke toilet, tetapi polisi menghalanginya. Tim forensik melakukan pengujian dan menyimpulkan bahwa rambut tersebut adalah rambut Agnes Ng.{{sfn|Kutty|1989|p= 9}} Saat mengorek informasi pribadi Lim, Inspektur Pereira mendapat info dari polisi setempat bahwa Lim adalah orang yang sedang didakwa atas kasus pemerkosaan pada saat itu. Lim mendengar percakapan para polisi dan menjadi gelisah, kemudian ia berteriak di hadapan para aparat. Aksinya ditiru oleh Hoe dengan cara mengamuk dan berteriak kepada para aparat. Tindakan tersebut menguatkan kecurigaan bahwa mereka telah terlibat dalam suatu pembunuhan. Akhirnya pihak polisi mengumpulkan bukti, menutup kediaman Lim sebagai tempat kejadian perkara, dan menahan Lim serta dua wanita tersebut untuk diinterogasi.{{sfn|John|1989|p= 8}}


== Pelaku ==
== Pelaku ==


=== Adrian Lim ===
=== Adrian Lim ===
Lahir pada tanggal 6&nbsp;Januari 1942, Adrian Lim ({{zh|s=林宝龙|t=林寶龍|p=Lín Bǎolóng}}) adalah putra sulung dari keluarga kelas menengah.<ref name="john10">John (1989), 10.</ref> Ia digambarkan oleh saudara perempuannya sebagai anak yang pemarah,<ref>John (1989), 162.</ref> ia putus sekolah sewaktu sekolah menengah dan bekerja sebagai pemberi informasi untuk [[Departemen Keamanan Internal]], bergabung dengan organisasi radio kabel [[Rediffusion|Rediffusion Singapura]] pada tahun 1962. Selama tiga tahun, dia telah memasang dan set pelayanan Rediffusion sebagai ahli elektronik sebelum dinaikkan pangkat menjadi pemungut cukai.<ref name="john10" /> Pada bulan April 1967, Lim menikahi kekasih masa kecilnya dan memiliki dua anak. Ia pindah ke Katolik untuk pernikahannya.<ref name="nara80">Narayanan (1989), 80.</ref> Lim dan keluarganya tinggal di bilik yang disewa sehingga pembelian tahun 1970 apartemen tiga ruang&mdash; unit lantai tujuh (unit nomor 467F) Blok 12, Toa Payoh.<ref name="nara80" />
Lahir pada tanggal 6&nbsp;Januari 1942, Adrian Lim ({{zh|s=林宝龙|t=林寶龍|p=Lín Bǎolóng}}) adalah putra sulung dari keluarga kelas menengah.{{sfn|John|1989|p=10}} Ia dideskripsikan oleh saudara perempuannya sebagai anak yang pemarah.{{sfn|John|1989|p= 162}} Ia berhenti dari sekolah menengah dan bekerja singkat sebagai pemberi informasi untuk [[Departemen Keamanan Internal]], bergabung dengan organisasi radio kabel [[Rediffusion Singapore|Rediffusion Singapura]] pada tahun 1962. Selama tiga tahun, dia mengabdi di Rediffusion sebagai teknisi, sebelum dinaikkan pangkat menjadi pemungut cukai.{{sfn|John|1989|p=10}} Pada bulan April 1967, Lim menikahi teman masa kecilnya dan memiliki dua anak. Ia menjadi umat Katolik karena pernikahannya.{{sfn|Kutty|1989|p=80}} Awalnya, Lim dan keluarganya tinggal di bilik sewaan, hingga akhirnya mampu membeli apartemen tiga ruang—unit lantai tujuh (unit nomor 467F) Blok 12, Toa Payoh—pada tahun 1970.{{sfn|Kutty|1989|p=80}}


Lim mulai berlatih pada beberapa waktu sebagai cenayang gaib pada tahun 1973. Ia menyewa sebuah ruangan dimana ia bertemu dengan kaum wanita&mdash;sebagian besar adalah perempuan bar, penari penghibur, dan tuna susila&mdash;yang diperkenalkan kepada oleh tuan rumahnya.<ref>John (1989), 17&ndash;19.</ref> Pelanggan Lim juga berasal dari kalangan pria yang mempercayai takhayul dan perempuan tua, yang ia tipu hanya demi uang tunai.<ref>John (1989), 18, 34.</ref> Ia mempelajari pekerjaan tersebut dari seorang bomoh yang dipanggil "Paman Willie" dan berdoa kepada para dewa dari berbagai agama meskipun ia telah dibaptis secara Katolik. Dewi India [[Kali (dewi)|Kali]] dan "Phragann",{{#tag:ref|Lim menggunakan patung Phragann berukuran kecil dalam ritualnya, dan memakainya dipinggangnya pada saat berhubungan intim. Dua kutipan utama berbeda dalam nama mereka dari obyek ini. John menyebutnya Pragngan, sementara Narayanan yang mengutip laporan polisi, menyebutnya Phragann.|group=fn}} yang Lim anggap sebagai dewa seksualitas Siam,<ref>John, p.12&ndash;13.</ref> diantara entitas spiritual yang ia panggil dalam ritualnya.<ref>Narayanan (1989), 86, 89.</ref> Lim menipu kliennya dengan beberapa [[trik konfidensi]]; tipuan paling efektifnya, yang dikenal sebagai trik "jarum dan telur", mampu menipu banyak orang yang mempercayainya sebagai orang yang memiliki kekuatan supernatural. Setelah menghitamkan jarum menggunakan jelaga dari pembakaran lilin, Lim dengan hati-hati memasukkannya ke dalam telur mentah dan menutup lubangnya dengan bubuk. Dalam ritualnya, ia memberikan telur tersebut beberapa saat setelah kliennya dibacakan puji-pujian dan menyuruhnya untuk memecahkan telur tersebut. Tidak sadar bahwa telur telah dimodifikasi, klien akan yakin dengan melihat jarum hitam tersebut sebagai roh-roh jahat yang mengganggunya.<ref>Narayanan (1989), 30&ndash;31.</ref>
Lim bekerja paruh waktu sebagai cenayang sejak tahun 1973. Ia menyewa sebuah ruangan tempat bertemu dengan para wanita pelanggannya—sebagian besar adalah perempuan bar, penari-penghibur, dan wanita tuna susila—yang diperkenalkan oleh induk semangnya.{{sfn|John|1989|p= 17–19}} Pelanggan Lim juga berasal dari kalangan pria dan ibu-ibu yang memercayai takhayul, yang ia tipu demi mendapatkan uang.{{sfn|John|1989|p= 18, 34}} Ia mempelajari pekerjaan tersebut dari seorang ''bomoh'' yang dipanggil "Paman Willie", serta memuja para dewa dari berbagai agama meskipun telah dibaptis secara Katolik. Dewi India [[Kali (dewi)|Kali]], serta "Phragann"{{efn|Lim menggunakan patung Phragann berukuran kecil dalam ritualnya, dan menggantungnya di pinggang pada saat berhubungan intim. Dua sumber utama menyebut objek ini dengan nama yang berbeda. John menyebutnya Pragngan, sementara Narayanan, yang mengutip laporan polisi, menyebutnya Phragann.}}—yang Lim anggap sebagai dewa seksualitas Siam{{sfn|John|1989|p=12–13}}—adalah beberapa nama entitas spiritual yang ia panggil dalam ritualnya.{{sfn|Kutty|1989|p= 86, 89}} Lim menipu kliennya dengan beberapa [[trik konfidensi]]. Tipuannya yang paling efektif, yang dikenal sebagai trik "jarum dan telur", mampu menipu banyak orang agar memercayainya sebagai orang yang memiliki kekuatan supernatural. Setelah menghitamkan jarum menggunakan jelaga dari pembakaran lilin, secara hati-hati Lim memasukkannya ke dalam telur mentah dan menutup lubangnya dengan tepung. Dalam ritualnya, ia memberikan telur tersebut kepada kliennya setelah merapalkan jampi-jampi dan menyuruh kliennya untuk memecahkan telur tersebut. Tanpa mengetahui bahwa telur telah dimodifikasi, klien akan yakin bahwa jarum hitam di tengah telur tersebut merupakan bukti keberadaan roh-roh jahat yang mengganggu.{{sfn|Kutty|1989|p= 30–31}}


Lim mengutamakan pemangsaan pada perempuan-perempuan lugu yang memiliki masalah pribadi yang mendalam. Ia berjanji kepada mereka bahwa ia dapat menghentikan kesengsaraan mereka dan meningkatkan kecantikan mereka melalui ritual pijat. Setelah Lim dan kliennya menanggalkan pakaian, ia akan memijat tubuhnya&mdash;termasuk bagian vital-nya&mdash;dengan pengidolaan Phragann dan berhubungan intim dengannya.<ref>John (1989), 19&ndash;20.</ref> Pengobatan Lim juga termasuk [[terapi elektro-syok]] yang didasarkan pada penggunaannya terhadap penderita gangguan mental. Setelah meletakkan kaki kliennya di dalam bak air dan memasangkan kabel ke pelipisnya, Lim kemudian mengalirkan listrik kepadanya.<ref>Narayanan (1989), 46&ndash;47.</ref> Ketika syok, ia meyakinkannya bahwa ia akan menyembuhkan sakit kepalanya dan mengusir roh jahat.<ref>Kok (1990), 70.</ref>
Lim cenderung menjerat korban dari kalangan perempuan lugu yang memiliki masalah pribadi yang mendalam. Ia berjanji bahwa ia dapat membuang kesialan dan meningkatkan kecantikan mereka melalui ritus pemijatan. Setelah Lim dan kliennya menanggalkan pakaian, ia akan melakukan pemijatan di seluruh bagian tubuh—termasuk bagian kemaluan—dengan memakai boneka Phragann, lalu berhubungan intim dengan kliennya.{{sfn|John|1989|p= 19–20}} Lim juga mengadakan [[terapi elektro-syok]] yang berdasarkan pada alat untuk penderita gangguan mental. Setelah kaki kliennya direndam dalam ember dan pelipisnya ditempeli kabel, kemudian Lim mengalirkan listrik tegangan rendah.{{sfn|Kutty|1989|p= 46–47}} Ia meyakinkan kliennya bahwa setrum yang diterima akan menyembuhkan sakit kepala dan mengusir roh jahat.{{sfn|Kok|1990|p= 70}}


=== Tan Mui Choo ===
=== Tan Mui Choo ===
[[File:Tan Mui Choo.jpg|thumb|upright|right|alt=Pas foto dari seorang perempuan: ia langsing, berwajah oval, dan rambutnya kusut.|Tan Mui Choo membantu Lim dalam praktik cenayangnya demi mendapatkan keuntungan.]]
[[Berkas:Tan Mui Choo.jpg|jmpl|lurus|ka|alt=Pas foto dari seorang perempuan: ia langsing, berwajah oval, dan rambutnya kusut.|Tan Mui Choo membantu Lim dalam praktik cenayangnya demi mendapatkan keuntungan.]]
Catherine Tan Mui Choo ({{zh|s=陈梅珠|t=陳梅珠|p=Chén Méizhū}}) bertemu dengan Lim oleh sesama perempuan bar, yang mengklaim dapat menyembuhkan penyakit dan depresi.<ref>John (1989), 28.</ref> Pada waktu itu, Tan bersedih diatas kematian neneknya. Ditambah pula kerenggangannya dengan orangtua yang mengganggu pikirannya; telah dimasukkan ke sebuah pusat kejuruan pada usia 13 tahun (sebuah rumah yang kebanyakan untuk anak-anak yang melakukan [[kenakalan remaja]]), ia merasa tidak diinginkan oleh mereka.<ref>John (1989), 26&ndash;27.</ref> Kunjungan Tan dengan Lim menjadi kebiasaan, dan hubungan mereka semakin akrab.<ref>John (1989), 29&ndash;31.</ref> Pada tahun 1975, ia berpindah ke apartemennya melalui desakannya. Untuk menghilangkan kecurigaan istrinya bahwa ia berselingkuh dengan Tan, Lim menyangkalnya dengan bersumpah menggunakan gambar Yesus Kristus. Namun, ia kemudian menemukan kebenaran dan pindah tempat tinggal dengan anak-anak mereka beberapa hari kemudian, menceraikan Lim pada tahun 1976.<ref>Narayanan (1989), 113&ndash;114.</ref> Lim keluar dari pekerjaan Rediffusion-nya dan menjadi seorang cenayang sepanjang waktu. Ia menikmati bisnis cepat,<ref>John (1989), 33&ndash;35.</ref> pada satu titik menerima [[dolar Singapura|S$]]6,000&ndash;7,000 ([[dolar AS|AS$]]2,838&ndash;3,311){{#tag:ref|Nilai tukar 2.11, berdasarkan pada rata-rata 12&nbsp;bulan dari nilai tukar pada tahun 1981.<ref name="xchg">Economagic.com</ref>|group=fn}} setiap bulan dari seorang klien tunggal.<ref>John (1989), 37.</ref> Pada bulan Juni 1977, Lim dan Tan mendaftarkan pernikahan mereka.<ref name="john36">John (1989), 36.</ref>
Catherine Tan Mui Choo ({{zh|s=陈梅珠|t=陳梅珠|p=Chén Méizhū}}) bertemu dengan Lim setelah diperkenalkan oleh temannya yang bekerja di bar, yang mengklaim bahwa Lim dapat menyembuhkan penyakit dan depresi.{{sfn|John|1989|p= 28}} Pada waktu itu, Tan bersedih atas kematian neneknya. Hubungan dengan orang tua yang renggang semakin mengganggu pikirannya. Ia pernah dimasukkan ke sebuah lembaga kejuruan pada usia 13 tahun (sebuah tempat yang banyak menampung anak-anak yang melakukan [[kenakalan remaja]]), sehingga merasa bahwa keberadaannya tidak diharapkan oleh orang tuanya sendiri.{{sfn|John|1989|p= 26–27}} Setelah Tan berkunjung ke tempat Lim sesering mungkin, hubungan mereka semakin akrab.{{sfn|John|1989|p= 29–31}} Pada tahun 1975, ia pindah ke apartemen Lim setelah Lim mendesaknya, meski saat itu Lim sudah beristri. Untuk menghilangkan kecurigaan atas dugaan perselingkuhan, Lim menyangkal dan bersumpah kepada istrinya di hadapan gambar Yesus Kristus. Namun, kebohongan Lim akhirnya terbongkar sehingga sang istri memutuskan untuk pindah tempat tinggal bersama anak-anaknya, lalu mereka bercerai pada tahun 1976.{{sfn|Kutty|1989|p= 113–114}} Kemudian, Lim berhenti bekerja dari Rediffusion untuk fokus sebagai seorang cenayang sepanjang hari. Ia menikmati bisnis cepat,{{sfn|John|1989|p= 33–35}} dan pada suatu kesempatan meraup pendapatan [[dolar Singapura|S$]]6,000–7,000 ([[dolar AS|AS$]]2,838–3,311){{efn|Nilai tukar 2.11, berdasarkan pada rata-rata 12&nbsp;bulan dari nilai tukar pada tahun 1981.<ref name="xchg">Economagic.com</ref>}} dalam satu bulan dari seorang klien.{{sfn|John|1989|p= 37}} Pada bulan Juni 1977, Lim dan Tan mendaftarkan pernikahan mereka.{{sfn|John|1989|p=36}}


Lim memerintah Tan dengan pemukulan, ancaman, dan kebohongan.<ref>John (1989), 34.</ref> Dia membujuknya untuk menjual dirinya untuk menambah penghasilan mereka.<ref>John (1989), 32.</ref> Ia juga meyakinkannya bahwa ia perlu berzina dengan wanita muda untuk tetap sehat, demikianlah Tan membantunya dalam bisnisnya, menyiapkan klien mereka untuk kesenangannya.<ref>John (1989), 170&ndash;171.</ref> Pengaruh Lim terhadap Tan sangat kuat; didorong dan dijanjikan bahwa berhubungan intim dengan pria yang lebih muda akan mempertahankan masa mudanya itu, Tan ditawarkan dengan seorang remaja Melayu dan bahkan dengan adik laki-lakinya.<ref name="john36" /> Anak laki-laki tersebut bukanlah satu-satunya saudara kandung yang dipengaruhi oleh Lim; cenayang tersebut sebelumnya merayu adik perempuan Tan dan menyuruhnya untuk menjual tubuhnya dan berhubungan intim dengan dua pemuda.<ref>John (1989), 171.</ref> Meskipun melanggar, Tan tinggal bersama Lim, pembelian pakaian, produk kecantikan dan kursus pelangsingan didapatkan dengan pendapatan mereka.<ref>John (1989), 186.</ref>
Lim menindas Tan dengan pemukulan, ancaman, dan kebohongan.{{sfn|John|1989|p= 34}} Lim juga membujuknya untuk menjual diri demi menambah penghasilan mereka.{{sfn|John|1989|p= 32}} Lim meyakinkan istrinya bahwa dirinya perlu berzina dengan wanita muda agar tetap sehat, sehingga Tan mau membantu bisnis suaminya, dan bersedia untuk menyiapkan klien demi kesenangan Lim.{{sfn|John|1989|p= 170–171}} Sugesti Lim terhadap Tan sangat kuat. Setelah Lim menganjurkan bahwa hubungan badan dengan pria yang lebih muda dapat mempertahankan kemudaan, maka Tan berhubungan badan dengan seorang remaja Melayu, dan bahkan dengan adik laki-lakinya sendiri.{{sfn|John|1989|p=36}} Pemuda tersebut bukanlah satu-satunya kerabat yang dipengaruhi oleh Lim. Sebelumnya, cenayang tersebut merayu adik perempuan Tan dan menyuruhnya untuk menjual diri.{{sfn|John|1989|p= 171}} Meskipun teraniaya, Tan betah tinggal bersama Lim. Ia berbelanja pakaian dan produk kecantikan, serta mengikuti kursus pelangsingan dengan anggaran dari pendapatan mereka.{{sfn|John|1989|p= 186}}


=== Hoe Kah Hong ===
=== Hoe Kah Hong ===
[[File:Hoe Kah Hong.jpg|upright|thumb|right|alt=Pas foto dari seorang perempuan: wajahnya besar dan kotak serta berambut panjang.|Hoe Kah Hong sangat mempercayai Lim, sungguh-sungguh dalam melaksanakan perintahnya.]]
[[Berkas:Hoe Kah Hong.jpg|lurus|jmpl|ka|alt=Pas foto dari seorang perempuan: wajahnya besar dan kotak serta berambut panjang.|Hoe Kah Hong sangat memercayai "kesaktian" Lim, dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintahnya.]]
Lahir pada tanggal 10&nbsp;September 1955, Hoe Kah Hong ({{zh|s=何家凤|t=何家鳳|p=Hé Jiāfèng}}) dimana pada umur delapan tahun ayahnya meninggal; ia kemudian tinggal dengan neneknya sampai berumur lima belas tahun. Ketika ia dikembalikan ke ibunya dan terus menerus selalu disisihkan dari saudara perempuan tertuanya yang bernama Lai Ho. Dibawah persepsi bahwa ibunya lebih memanjakan saudaranya, Hoe menjadi tidak puas, menunjukan amarah dengan mudahnya.<ref>John (1989), 40&ndash;41.</ref> Pada tahun 1979 ibunya membawa Lai ke Lim untuk pengobatan, dan menjadi yakin akan kekuatan Lim melalui trik "jarum dan telur"nya. Mempercayai bahwa sifat amarah Hoe dapat disembuhkan oleh Lim, seorang wanita tua membawa putrinya kepada cenayang.<ref>John (1989), 37&ndash;38.</ref> Setelah menyaksikan trik yang sama, Hoe menjadi pengikut setia Lim.<ref>John (1989), 40&ndash;42.</ref>{{#tag:ref|Ia sangat yakin terhadap trik tersebut dan kemampuan Lim kepada Tan diungkapkan kepadanya cara kerja trik tersebut saat mereka ditanyai di kantor polisi.<ref>John (1989), 196.</ref>|group=fn}} Lim menginginkan Hoe menjadi salah satu "istri suci"nya, meskipun ia sudah menikah dengan Benson Loh Ngak Hua. Untuk mencapai tujuannya, Lim berusaha untuk mengisolasi Hoe dari keluarganya dengan memberikannya sebuah kebohongan. Ia mengklaim bahwa keluarganya adalah orang-orang tidak bermoral yang melakukan perselingkuhan, dan bahwa Loh adalah seorang pria yang tak dapat dipercaya yang akan memaksanya menjadi pelacur. Hoe percaya terhadap perkataan Lim, dan setelah setelah melalui ritual dengannya ia dinyatakan dengan cenayang tersebut sebagai "istri suci"nya. Ia tidak lagi mempercayai suami dan keluarganya, dan menjadi keras terhadap ibunya. Tiga bulan setelah ia pertama kali bertemu dengan Lim, Hoe pindah dari rumahnya dan kemudian tinggal bersamanya.<ref>John (1989), 43&ndash;45.</ref>
Lahir pada tanggal 10&nbsp;September 1955, Hoe Kah Hong ({{zh|s=何家凤|t=何家鳳|p=Hé Jiāfèng}}) masih berumur delapan tahun ketika ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian tinggal bersama neneknya sampai berumur lima belas tahun. Ketika tinggal kembali bersama ibu dan saudaranya, ia merasa kerap diminta mengalah dari kakak perempuannya yang bernama Lai Ho. Karena menganggap ibunya lebih memanjakan kakaknya, maka Hoe menjadi tidak puas dan sering menunjukan kekesalannya.{{sfn|John|1989|p= 40–41}} Pada tahun 1979, ibunya mengantar Lai ke tempat Lim untuk mendapatkan pengobatan, dan terkesima akan kekuatan Lim setelah menyaksikan trik "jarum dan telur". Karena percaya bahwa sifat pemarah Hoe pasti dapat disembuhkan oleh Lim, maka Hoe pun diantar ke tempat Lim.{{sfn|John|1989|p= 37–38}} Setelah menyaksikan trik yang sama, Hoe pun menjadi pengikut setia Lim.{{sfn|John|1989|p= 40–42}}{{efn|Hoe sangat yakin terhadap keabsahan trik dan kemampuan Lim, sampai akhirnya Tan mengungkapkan cara kerja trik tersebut saat mereka diinterogasi di kantor polisi.{{sfn|John|1989|p= 196}}}} Lim ingin Hoe menjadi salah satu "istri suci"-nya, meskipun saat itu Hoe sudah menikah dengan Benson Loh Ngak Hua. Untuk mencapai tujuannya, Lim berusaha menjauhkan Hoe dari keluarganya dengan menceritakan sebuah kebohongan. Ia menyatakan bahwa keluarga Hoe adalah orang-orang tidak bermoral yang melakukan perselingkuhan, dan bahwa Loh adalah seorang pria yang tak dapat dipercaya yang akan memaksa Hoe menjadi pelacur. Hoe percaya akan perkataan Lim, dan setelah melalukan ritus, ia dinyatakan sebagai "istri suci" sang cenayang. Ia tidak lagi memercayai suami dan keluarganya, dan bersikap ketus terhadap ibunya. Tiga bulan setelah pertama kali bertemu dengan Lim, Hoe pindah dari rumahnya untuk menetap bersama Lim.{{sfn|John|1989|p= 43–45}}


Loh mencari istrinya di apartemen Lim dan mengawasi perawatannya untuk terakhir kalinya. Ia dibujuk olehnya berpartisipasi dalam terapi elektro-syok. Pada jam-jam awal 7&nbsp;Januari 1980, Loh duduk dengan Hoe, lengan mereka sama-sama diikat dan kaki mereka berada di bak air yang terpisah. Lim memberikan tegangan besar kepada Loh, yang berasal dari aliran listrik, sementara Hoe tertegun tak sadarkan diri. Ketika ia terbangun, Lim memintanya untuk berbohong kepada polisi mengenai kematian Loh. Hoe kemudian memberikan pernyataan dari cerita yang dibuat-buat Lim yang diberikan kepadanya, mengatakan bahwa suaminya kesetrum di kamar tidur mereka dimana ia mencoba untuk menyalakan kipas angin listrik dalam kegelapan.<ref>John (1989), 46&ndash;48.</ref> Koroner mencatat [[keputusan terbuka]] tersebut,<ref>Narayanan (1989), 111.</ref> dan polisi tidak melakukan investigasi lebih lanjut.<ref name="john48">John (1989), 48.</ref>
Loh mencari istrinya di apartemen Lim dan mendapati bahwa istrinya sedang mendapatkan perawatan. Akhirnya ia dibujuk untuk mengikuti terapi elektro-syok. Pada pagi hari tanggal 7&nbsp;Januari 1980, Loh duduk bersama Hoe, dengan lengan yang sama-sama terikat dan kaki terendam dalam ember yang berbeda. Lim mengalirkan listrik tegangan tinggi kepada Loh, yang berujung pada kematian, sementara Hoe tak sadarkan diri. Ketika terbangun, Lim menyuruh Hoe untuk berbohong kepada polisi mengenai kematian Loh. Hoe pun memberikan keterangan palsu dari cerita yang direka Lim, dengan menyatakan bahwa suaminya tersetrum di kamar tidur saat mencoba untuk menyalakan kipas angin listrik dalam kondisi gelap gulita.{{sfn|John|1989|p= 46–48}} Koroner pun mencatat keputusan terbuka,{{sfn|Kutty|1989|p= 111}} dan polisi tidak melakukan investigasi lebih lanjut.{{sfn|John|1989|p=48}}


Meskipun ia antipati terhadap Loh, Hoe bersedih atas kematiannya. Kewarasannya pecah; ia mulai mendengar suara-suara dan berhalusinasi, melihat suaminya meninggal. Pada akhir Mei, ia dirawat di [[Institut Kesehatan Mental (Singapura)|Rumah Sakit Woodbridge]]. Disana, psikologis mendiagnosa kondisinya sebagai [[skizofrenia]] dan memulai pengobatan yang sesuai. Hoe kemudian pulih dengan sangat cepat; pada minggu pertama di bulan Juli, ia keluar dari rumah sakit. Ia melanjutkan perawatannya dengan rumah sakit tersebut; tindak lanjut pemeriksaan menunjukkan bahwa dia dalam keadaan pemulihan. Sikap Hoe terhadap ibunya dan anggota keluarga lainnya mulai membaik setelah perawatannya di rumah sakit tersebut, meskipun ia melanjutkan untuk tinggal dengan Lim dan Tan.<ref>Kok (1990), 44.</ref>
Meskipun bersikap antipati terhadap Loh, Hoe bersedih atas kematian suaminya. Kewarasannya pun mulai hilang. Ia mulai mendengar suara-suara dan ber[[halusinasi]] tentang sosok suaminya yang sudah meninggal. Pada akhir Mei, ia dirawat di [[Institut Kesehatan Mental (Singapura)|Rumah Sakit Woodbridge]]. Di sana, psikolog menyatakan bahwa Hoe menderita [[skizofrenia]] sehingga ia pun diberikan penanganan yang sesuai. Hoe kemudian pulih dengan sangat cepat. Pada minggu pertama di bulan Juli, ia keluar dari rumah sakit. Ia melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit tersebut, dan pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa dia berada dalam keadaan pemulihan. Sikap Hoe terhadap ibu dan anggota keluarganya yang lain mulai membaik setelah mendapat perawatan di rumah sakit, meskipun ia memutuskan untuk tetap tinggal bersama Lim dan Tan.{{sfn|Kok|1990|p= 44}}


== Pemerkosaan dan balas dendam ==
== Pemerkosaan dan balas dendam ==
Dengan Hoe dan Tan sebagai asistennya, Lim melanjutkan kejahatannya, menipu banyak wanita agar memberikan uang dan berhubungan intim dengannya.<ref name="john48" /> Pada waktu penangkapannya, ia memiliki 40 "istri suci".<ref>Narayanan (1989), 6.</ref> Pada akhir 1980 ia ditangkap dan didakwa melakukan pemerkosaan. Penuduhnya adalah Lucy Lau, seorang perempuan penjual kosmetik dari pintu ke pintu, yang telah menemui Lim ketika ia menawarkan produk kecantikan kepada Tan. Pada tanggal 19&nbsp;Oktober, Lim mengatakan kepada Lau bahwa sesosok hantu telah menggentayanginya, namun ia bisa mengusirnya dengan ritual seksual-nya. Ia tidak yakin, namun cenayang tersebut tetap bersikukuh. Ia diam-diam mencampur dua kapsul [[Flurazepam|Dalmadorm]], sebuah obat penenang, dalam segelas susu dan menawarkan kepadanya, mengklaim bahwa itu adalah properti suci. Lau menjadi mabuk setelah meminumnya, yang memungkinkan Lim untuk mengambil keuntungan darinya.<ref name="john48" /> Selama beberapa minggu berikutnya, ia terus menyiksanya dengan memakai obat-obatan atau ancaman. Pada bulan November, setelah Lim memberikan orangtuanya pinjaman kecil dari jumlah yang mereka minta, Lau membuat laporan ke polisi terkait kejadian tersebut. Lim ditangkap atas tuduhan pemerkosaan, dan Tan karena bersekongkol dengannya. Atas sebuah jaminan, Lim membujuk Hoe untuk berbohong dengan hadir pada penuduhan pemerkosaan tersebut tapi tidak melihat kejahatan tersebut. Hal ini gagal untuk menghentikan penyelidikan polisi; Lim dan Tan harus memperpanjang jaminan pereka, secara pribadi, di kantor polisi setiap dua minggu.<ref>John (1989), 49.</ref>
Lim melanjutkan bisnis haramnya, dengan Hoe dan Tan sebagai asisten. Ia menipu banyak wanita agar mendapatkan uang dan pelayanan seksual.{{sfn|John|1989|p=48}} Pada saat ditangkap atas kasus pembunuhan, Lim memiliki 40 "istri suci".{{sfn|Kutty|1989|p= 6}} Sebelumnya, pada akhir 1980, Lim pernah ditangkap dan didakwa atas kasus pemerkosaan. Pelapornya adalah Lucy Lau, seorang pedagang kosmetik keliling, yang bertemu dengan Lim ketika menawarkan produk kecantikan kepada Tan. Pada tanggal 19&nbsp;Oktober, Lim berkata kepada Lau bahwa sesosok hantu sedang menggentayangi perempuan tersebut, namun bisa diusir asalkan Lau mau melakukan ritus seksual. Lim meyakinkan Lau dengan menggebu-gebu, meskipun perempuan tersebut bersikap skeptis. Secara diam-diam, Lim mencampur dua kapsul [[Flurazepam|Dalmadorm]] (sebuah obat penenang) dalam segelas susu dan menawarkannya kepada Lau, dengan klaim bahwa itu adalah obat suci. Setelah meminumnya, Lau menjadi mabuk, sehingga memberi kesempatan bagi Lim untuk melakukan kejahatan.{{sfn|John|1989|p=48}} Selama beberapa minggu berikutnya, Lim terus merogol Lau dengan memakai obat-obatan atau ancaman. Pada bulan November, setelah Lim memberikan pinjaman kepada orang tua Lau dalam jumlah yang lebih kecil daripada yang diminta, Lau membuat laporan ke polisi terkait perlakuan buruk yang diberikan oleh Lim. Lim ditangkap atas tuduhan pemerkosaan, sedangkan Tan ditangkap karena bersekongkol dengannya. Atas sebuah jaminan, Lim membujuk Hoe agar membuat kesaksian palsu bahwa Hoe hadir pada hari saat dugaan pemerkosaan terjadi, tapi tidak melihat adanya aksi kejahatan apapun. Usaha ini gagal menghentikan penyelidikan polisi. Lim dan Tan harus memperpanjang jaminan pereka, secara pribadi, di kantor polisi setiap dua minggu.{{sfn|John|1989|p= 49}}
[[File:Lim's Altar.jpg|thumb|left|upright|alt=Berbagai gambar dan patung tersusun di atas meja kecil dan dinding dengan arah menghadap ke depan. Sebuah cermin bulat kecil menggantung di atas koleksi barang-barang religius tersebut.|Lim berdoa [di altar ini] kepada Buddha, Phragann, Kali, dan berbagai dewa-dewa.]]
[[Berkas:Lim's Altar.jpg|jmpl|kiri|lurus|alt=Berbagai gambar dan patung tersusun di atas meja kecil dan dinding menghadap ke depan. Sebuah cermin bulat kecil menggantung di atas koleksi barang-barang religius tersebut.|Lim berdoa (di altar ini) kepada Buddha, Phragann, Kali, dan berbagai dewa-dewa.]]
Frustrasi, Lim berencana untuk mengalihkan perhatian polisi dengan serangkaian pembunuhan anak-anak.<ref>John (1989), 61.</ref> Selain itu, ia percaya bahwa pengorbanan anak-anak kepada Kali akan membujuk supranaturalnya untuk menarik perhatian polisi darinya. Lim berpura-pura dimiliki oleh Kali, dan meyakinkan Tan dan Hoe bahwa dewi tersebut ingin mereka membunuh anak-anak untuk membalas dendam pada Lau.<ref>John (1989), 84.</ref >Dia juga mengatakan kepada mereka Phragann menuntut ia untuk berhubungan intim dengan korban perempuan mereka.<ref>Narayanan (1989), 45.</ref>
Karena frustrasi, Lim berencana untuk mengalihkan perhatian polisi dengan serangkaian kasus pembunuhan anak-anak.{{sfn|John|1989|p=61}} Di samping itu, ia percaya bahwa dengan mengorbankan anak-anak kepada Dewi Kali, maka dirinya akan diberi kekuatan untuk menjauhkan perhatian polisi. Lim berpura-pura dirasuki oleh Dewi Kali, dan meyakinkan Tan dan Hoe bahwa dewi tersebut ingin mereka membunuh anak-anak untuk membalas dendam kepada Lau.{{sfn|John|1989|p= 84}} Dia juga berkata bahwa Phragann mewajibkannya untuk berhubungan intim dengan korban berjenis kelamin perempuan.{{sfn|Kutty|1989|p= 45}}


Pada tanggal 24&nbsp;Januari 1981, Hoe melihat Agnes di dekat sebuah gereja dan membujuknya ke apartemen tersebut. Ketiganya memberikannya makanan dan minuman yang dicampur dengan Dalmadorm. Setelah Agnes menjadi mabuk and tertidur, Lim menyiksanya secara seksual. Pada saat hampir tengah malam, ketiganya mencekik Agnes dengan sebuah bantal dan mengambil darahnya, meminumnya dan mengolesinya pada lukisan Kali. Setelah itu, mereka menenggelamkan gadis tersebut dengan memasukkan kepalanya dalam seember air.<ref name="john9294">John (1989), 92&ndash;94.</ref> Terakhir, Lim menggunakan terapi elektro-syok miliknya untuk "memastikan sekali lagi bahwa ia telah meninggal".<ref>John (1989), 94.</ref> Mereka memasukkan tubuhnya ke dalam sebuah tas dan membuangnya di dekat sebuah lift Blok 11.<ref name="john9294" />
Pada tanggal 24&nbsp;Januari 1981, Hoe melihat gadis kecil bernama Agnes di dekat sebuah gereja dan membujuknya untuk masuk ke apartemen Lim. Ketiganya memberikan makanan dan minuman yang dicampur dengan Dalmadorm. Setelah Agnes mabuk lalu tertidur, Lim memerkosa anak tersebut. Pada saat hampir tengah malam, ketiganya mencekik Agnes dengan sebuah bantal, lalu mengambil darahnya, meminumnya, dan mengoleskannya pada lukisan Kali. Setelah itu, mereka membenamkan kepala gadis tersebut ke dalam seember air.{{sfn|John|1989|p=92–94}} Terakhir, Lim menggunakan alat terapi elektro-syok miliknya untuk "memastikan bahwa korbannya telah meninggal".{{sfn|John|1989|p= 94}} Mereka memasukkan tubuh Agnes ke dalam sebuah tas dan membuangnya di dekat sebuah lift Blok 11.{{sfn|John|1989|p=92–94}}


Ghazali mengalami nasib yang serupa ketika ia dibawa oleh Hoe ke apartemen tersebut pada tanggal 6&nbsp;Februari. Namun, ketika diberikan obat penenang, ia membutuhkan waktu lama untuk tertidur. Lim memutuskan untuk mengikat anak laki-laki tersebut untuk berjaga-jaga; namun, anak laki-laki tersebut terbangun dan memberontak. Karena panik, ketiganya mengeluarkan [[serangan tangan pisau|tebasan karate]] ke leher Ghazali dan membuat dirinya pingsan. Setelah mengambil darahnya, mereka melanjutkannya dengan menenggelamkan korban mereka. Ghazali pun memberontak, muntah dan kehilangan kontrol tubuhnya saat ia meninggal. Darahnya terus mengucur dari hidungnya setelah kematiannya. Sementara Tan pergi ke belakang untuk membersihkan apartemen tersebut, Lim dan Hoe membuang tubuhnya. Ketika Lim melihat bercak darah bertebaran sampai apartemen mereka, ia dan pembantunya berusaha untuk membersihkan noda tersebut sebanyak mungkin sebelum matahari terbit.<ref>John (1989), 95&ndash;97.</ref> Namun, noda yang mereka tidak hilangkan menyebabkan polisi datang ke apartemen mereka dan mengakibatkan mereka ditangkap.
Ghazali mengalami nasib yang sama ketika dibawa oleh Hoe ke apartemen Lim pada tanggal 6&nbsp;Februari. Namun, ketika diberikan obat penenang, anak tersebut membutuhkan waktu lama untuk tertidur. Lim mengikat anak tersebut untuk berjaga-jaga, namun anak tersebut malah terbangun dan memberontak. Karena panik, ketiganya melakukan [[serangan tangan pisau|tebasan karate]] ke leher Ghazali sampai anak tersebut pingsan. Mereka membenamkan korban ke dalam air setelah mengambil darahnya. Ghazali sempat memberontak, muntah, dan kehilangan kesadaran lalu meninggal. Darah terus mengucur dari hidungnya, bahkan setelah kematiannya. Kemudian, Tan membereskan apartemen, sementara Lim dan Hoe pergi membuang jenazah korbannya. Ketika Lim melihat bercak darah bertebaran dari arah apartemen, ia dan rekannya berusaha untuk membersihkan noda tersebut sedapat mungkin sebelum matahari terbit.{{sfn|John|1989|p= 95–97}} Namun, noda yang tidak berhasil dihilangkan menyebabkan polisi berhasil melacak jejak mereka sehingga mereka pun ditangkap.


== Pengadilan ==
== Pengadilan ==
Dua hari setelah mereka tertangkap, Lim, Tan dan Hoe didakwa di [[Sistem yudisial Singapura|Dewan Subordinat]] untuk pembunuhan dua anak-anak. Ketiganya menjadi sasaran interogasi lebih lanjut oleh polisi, dan pemeriksaan medis oleh para dokter lapas. Pada 16&ndash;17&nbsp;September, kasus mereka dibawa ke pengadilan untuk [[prosedur berkomitmen]]. Untuk membuktikan adanya kasus terhadap terdakwa, Jaksa Penuntut Umum [[Glenn Knight]] memanggil 58&nbsp;saksi dan menyusun 184&nbsp;lembar bukti sebelum diserahkan kepada hakim. Sementara Tan dan Hoe membantah tuduhan pembunuhan tersebut, Lim mengaku bersalah dan mengklaim tanggung jawab untuk tindakan tersebut. Hakim memutuskan bahwa kasus yang menyerang terdakwa tersebut cukup kuat untuk didengar di Pengadilan Tertinggi. Lim, Tan, dan Hoe tetap dalam tahanan selama pemeriksaan lebih lanjut.<ref>John (1989), 51&ndash;52.</ref>
Dua hari setelah tertangkap, Lim, Tan, dan Hoe didakwa di [[Sistem yudisial Singapura|pengadilan daerah]] atas kasus pembunuhan dua anak-anak. Ketiganya diinterogasi lebih lanjut oleh polisi, dan menjalani pemeriksaan medis oleh para dokter lapas. Pada 16–17&nbsp;September, kasus mereka dibawa ke pengadilan untuk [[prosedur berkomitmen]]. Untuk membuktikan keterlibatan para terdakwa atas kasus tersebut, maka Jaksa Penuntut Umum [[Glenn Knight]] memanggil 58&nbsp;saksi dan menyusun 184&nbsp;lembar bukti sebelum diserahkan kepada hakim. Tan dan Hoe membantah tuduhan pembunuhan tersebut, sedangkan Lim mengaku bersalah dan bersedia bertanggung jawab sendirian atas perbuatannya. Hakim memutuskan bahwa kasus yang melibatkan terdakwa cukup kuat untuk dibawa ke Pengadilan Tinggi. Lim, Tan, dan Hoe mendekam dalam tahanan selama pemeriksaan lebih lanjut.{{sfn|John|1989|p= 51–52}}


=== Peradilan, penuntutan, dan pembelaan ===
=== Perkara, tuntutan, dan pembelaan ===
[[File:Old Supreme Court Building 5, Jan 06.JPG|thumb|right|alt=Sebuah kubah terdapat diatas gedung tersebut, yang berada di pinggir jalan. Bangunan besar ini memiliki pintu masuk ditengahnya dan disangga dengan pilar.|Kasus pembunuhan tersebut terdengar di Ruang Dewan No. 4 dari Gedung Mahkamah Agung lama.]]
[[Berkas:Old Supreme Court Building 5, Jan 06.JPG|jmpl|ka|alt=Sebuah kubah terdapat diatas gedung tersebut, yang berada di pinggir jalan. Bangunan besar ini memiliki pintu masuk ditengahnya dan disangga dengan pilar.|Kasus pembunuhan tersebut diacarakan di Ruang Dewan No. 4 Gedung Mahkamah Agung lama.]]
Pengadilan Tinggi diselenggarakan di Gedung Mahkamah Agung pada tanggal 25&nbsp;Maret 1983.<ref>John (1989), 52.</ref> Kasus ini dipimpin oleh dua hakim: Hakim [[Thirugnana Sampanthar Sinnathuray]], yang juga melangsungkan pengadilan terhadap serial pembunuhan [[John Martin Scripps]] 13&nbsp;tahun kemudian,<ref>Tan (October 1997).</ref> dan Hakim [[Frederick Arthur Chua]], yang pada waktu itu menjadi hakim yang menjabat paling lama di Singapura.<ref>John (1989), x.</ref> Knight melanjutkan pembangunan kasus tersebut pasa pengumpulan bukti oleh kerja detektif. Foto-foto TKP, bersama dengan keterangan saksi, akan membantu pengadilan untuk menggambarkan peristiwa yang menyebabkan kejahatan tersebut. Bukti-bukti lain&mdash;sampel darah, obyek keagamaan, obat-obatan, dan sebuah catatan dengan nama Ng dan Ghazali&mdash;memperkuat pembuktian keterlibatan terdakwa. Knight tidak mempunyai saksi mata pembunuhan tersebut; buktinya langsung, tapi ia mengatakan kepada pengadilan dalam pernyataan pembukaannya, "Yang penting adalah [terdakwa] tidak mencekik dan menenggelamkan kedua anak yang tidak bersalah tersebut, menyebabkan kematian mereka dalam keadaan yang berjumlah pembunuhan. Dan ini kita akan membuktikan luar semua keraguan."<ref>John (1989), 55.</ref>
Pengadilan Tinggi diselenggarakan di Gedung Mahkamah Agung pada tanggal 25&nbsp;Maret 1983.{{sfn|John|1989|p= 52}} Kasus ini dipimpin oleh dua hakim: Hakim [[Thirugnana Sampanthar Sinnathuray]] (hakim yang melangsungkan pengadilan terhadap pembunuh berantai [[John Martin Scripps]] 13&nbsp;tahun kemudian{{sfn|Tan|7 Oktober 1997}}) dan Hakim [[Frederick Arthur Chua]] (pada waktu itu menjadi hakim yang menjabat paling lama di Singapura).{{sfn|John|1989|p= x}} Knight terus mengusut kasus tersebut dengan mengumpulkan bukti melalui jasa detektif. Foto-foto TKP serta keterangan para saksi dapat membantu pengadilan untuk memberi gambaran peristiwa yang mengarah pada kejahatan tersebut. Bukti-bukti lain—sampel darah, objek keagamaan, obat-obatan, dan sebuah catatan dengan nama Ng dan Ghazali—memperkuat bukti keterlibatan terdakwa. Knight tidak berhasil mendapatkan saksi mata pembunuhan tersebut. Bukti yang diperolehnya bersifat tidak langsung, tapi ia berkata di hadapan pengadilan, "Masalahnya adalah [terdakwa] sengaja membekap dan menenggelamkan kedua anak tak bersalah sampai menyebabkan kematian, sehingga aksi tersebut layak disebut pembunuhan. Dan inilah yang akan kita buktikan untuk mengatasi semua keraguan."{{sfn|John|1989|p= 55}}


Tan, dengan Lim dan ijin polisi, menggunakan $10,000 dari $159,340<ref>John (1989), 56.</ref> (AS$4,730 dari AS$75,370) yang disita dari apartemen milik ketiga orang tersebut untuk menggandeng [[Joshua Benjamin Jeyaretnam|J. B. Jeyaretnam]] untuk pembelaannya.<ref>Narayanan (1989), 28.</ref><ref>John (1989), 67.</ref> Hoe harus menerima tawaran nasihat pengadilan, meneriman Nathan Isaac sebagai pembelanya. Sejak penangkapannya, Lim menolak perwakilan hukum. Ia [[pembelaan diri sendiri|membela dirinya sendiri]] di sidang Dewan Subordinat,<ref>John (1989), 51.</ref> namun tidak dapat terus dilakukan ketika kasus itu dipindahkan ke Dewan Tertinggi; hukum Singapura mensyaratkan bahwa untuk dakwaan kejahatan terdakwa harus dibela oleh seorang ahli profesional. Sehingga Howard Cashin diangkat sebagai pengacara Lim,<ref name="john117">John (1989), 117.</ref> meskipun pekerjaannya ditolak oleh kliennya untuk bekerjasama.<ref name="john127">John (1989), 127.</ref> Tiga pengacara memutuskan untuk tidak membantah bahwa klien mereka telah membunuh anak-anak. Bertindak pada pembelaan [[kurang bertanggung jawab]], mereka berusaha untuk menunjukan bahwa pikiran klien mereka tidak terkendali dan tidak bisa bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.<ref>Narayanan (1989), 155.</ref> Jika pembelaan ini berhasil, para terdakwa akan lolos dari hukuman mati untuk menghadapi hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman 10 tahun penjara.<ref>Tan (April 1997).</ref>
Tan—atas izin Lim dan polisi—menggunakan $10,000 dari $159,340{{sfn|John|1989|p= 56}} (AS$4,730 dari AS$75,370) yang diambil dari apartemen mereka untuk membayar [[Joshua Benjamin Jeyaretnam|J. B. Jeyaretnam]] sebagai pengacara.{{sfn|Kutty|1989|p= 28}}{{sfn|John|1989|p= 67}} Hoe harus menerima tawaran pengadilan dengan menerima Nathan Isaac sebagai pembelanya. Sejak penangkapannya, Lim menolak untuk didampingi kuasa hukum. Ia [[pembelaan diri sendiri|membela dirinya sendiri]] di sidang pengadilan daerah,{{sfn|John|1989|p= 51}} namun tidak dapat terus demikian ketika kasus itu dibawa ke Pengadilan Tinggi. Hukum Singapura mensyaratkan bahwa dalam setiap perkara kejahatan, terdakwa harus dibela oleh seorang ahli profesional. Maka dari itu, Howard Cashin diangkat sebagai pengacara Lim,{{sfn|John|1989|p=117}} meskipun Lim menolak untuk bekerja sama dengannya.{{sfn|John|1989|p=127}} Tiga pengacara memutuskan untuk tidak membantah bahwa klien mereka telah membunuh anak-anak. Dengan mengacu pada kaidah tindakan yang tak dapat dipertanggungjawabkan, mereka meyakinkan pengadilan bahwa pikiran para terdakwa sedang tidak terkendali saat pembunuhan berlangsung sehingga tidak dapat bertanggung jawab sepenuhnya atas aksi tersebut.{{sfn|Kutty|1989|p= 155}} Jika pembelaan ini berhasil, para terdakwa akan lolos dari hukuman mati dan menghadapi hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman 10 tahun penjara.{{sfn|Tan|April 1997}}


=== Jalan pengadilan ===
=== Jalan pengadilan ===
Setelah Knight memperlihatkan bukti penuntutan pengadilan dengan mendengar testimoni pada kepribadian dan kelemahan karakter terdakwa, dari keluarga dan kenalan mereka. Rincian dari hidup mereka diungkapkan oleh salah satu "istri suci" Lim. Praktisi medis swasta Dr. Yeo Peng Ngee dan Dr. Ang Yiau Hua mengaku bahwa mereka yang membuat obat untuk Lim, dan memberikan ketiganya obat tidur and obat penenang tanpa pertanyaan pada saat berkonsultasi.<ref>John (1989), 107&ndash;116.</ref>{{#tag:ref|Kedua dokter tersebut didisiplinkan atas tindakan mereka oleh Dewan Medis Singapura pada tahun 1990; Yeo telah menutup [[Dewan Medis Utama#Di tempat lain|Pendaftaran Medis]], dan Ang diskors selama tiga bulan.<ref>Fernandez (1990).</ref> Namun, Yeo berhasil melamar kembali untuk restorasinya pada tahun berikutnya.<ref>Lim (1991).</ref>|group=fn}} Polisi dan tim forensik memberikan hasil dari investigasi mereka; Inspektur Suppiah, petugas yang bertanggung jawab dalam penyelidikan, membacakan sebuah pernyataan terhadap para terdakwa semasa mereka ditahan. Dalam pernyataan Lim menyatakan bahwa ia telah pembunuhan untuk balas dendam, dan bahwa ia telah menyodomi Ng. Terdakwa juga mengkonfirmasikan dalam pernyataan mereka bahwa masing-masing dari mereka aktif terlibat dalam pembunuhan tersebut.<ref>John (1989), 61&ndash;70.</ref> Ada banyak kontradiksi antara pernyataan-pernyataan ini dan pengakuan yang dibuat di pengadilan oleh terdakwa, namun Hakim Sinnathuray menyatakan bahwa meskipun bukti yang bertentangan, "fakta-fakta penting dari kasus ini tidak dalam sengketa".<ref>John (1989), 198.</ref> Keterlibatan Lim dalam kejahatan itu lebih lanjut dibuktikan oleh saksi yang dijamin bahwa hanya setelah tengah malam pada tanggal 7&nbsp;Februari 1981, di lantai bawah Blok 12, ia melihat Lim dan seorang wanita berjalan melewatinya membawa seorang anak laki-laki berkulit gelap.<ref>John (1989), 56&ndash;60.</ref>
Setelah Jaksa Knight memperlihatkan bukti tuntutan, pengadilan mendengarkan kesaksian tentang kepribadian dan keburukan watak terdakwa, dari keluarga dan kenalan terdakwa. Rincian hidup para terdakwa diungkapkan oleh salah satu "istri suci" Lim. Praktisi medis Dr. Yeo Peng Ngee dan Dr. Ang Yiau Hua mengaku bahwa merekalah yang menyediakan obat yang dipakai Lim, dan memberikan obat tidur serta obat penenang tanpa pertanyaan pada saat berkonsultasi.{{sfn|John|1989|p= 107–116}}{{efn|Usaha praktik kedua dokter tersebut ditertibkan oleh Dewan Medis Singapura pada tahun 1990 karena tindakan mereka; Yeo keluar dari Perkumpulan Medis, dan Ang diskors selama tiga bulan.{{sfn|Fernandez|25 Juni 1990}} Namun, Yeo berhasil memulihkan usahanya pada tahun berikutnya.{{sfn|Lim|10 Oktober 1991}}}} Polisi dan tim forensik membeberkan hasil investigasi mereka; Inspektur Suppiah, petugas yang bertanggung jawab dalam penyelidikan, membacakan pernyataan para terdakwa semasa mereka ditahan. Dalam pernyataan tersebut, Lim mengaku bahwa ia membunuh untuk balas dendam, dan ia telah menyodomi Ng. Terdakwa juga mengonfirmasi bahwa masing-masing dari mereka terlibat aktif dalam pembunuhan tersebut.{{sfn|John|1989|p= 61–70}} Ada banyak kontradiksi antara pernyataan tersebut dengan pengakuan yang diungkapkan di pengadilan, namun Hakim Sinnathuray menyatakan bahwa meskipun bukti-bukti bertentangan, "fakta-fakta utama dari kasus ini tidak dapat diragukan lagi".{{sfn|John|1989|p= 198}} Keterlibatan Lim dalam kejahatan itu dibuktikan oleh seorang saksi yang bersumpah bahwa pada tengah malam tanggal 7&nbsp;Februari 1981, di lantai dasar Blok 12, ia melihat Lim dan seorang wanita berjalan dengan seorang anak laki-laki berkulit gelap.{{sfn|John|1989|p= 56–60}}


{{Quote box
{{Quote box
|width=30%
|width=30%
|align=left
|align=left
|quote=&#x20;
|quote=
;Lim:Tidak ada komentar.
;Terdakwa Lim:Tidak ada komentar.
;Hakim Sinnathuray:Tidak, tidak, tidak, Adrian Lim, Anda tidak bisa selalu mengatakan itu padaku. ''(Kepada Cashin)'' Ia adalah saksi Anda.
;Hakim Sinnathuray:Tidak, tidak. Tidak, Adrian Lim. Anda tidak boleh terus berkata seperti itu pada saya. ''(Kepada Cashin)'' Orang ini saksi Anda.
;Cashin:Anda dapat mengerti sekarang, Tuhanku, betapa sulitnya penyaksian ini.
;Pengacara Cashin:Yang Mulia, sekarang Anda tahu bahwa betapa sulitnya berurusan dengan saksi yang satu ini.
|source=Transkrip pengadilan menggambarkan kefrustrasian pengadilan dengan perilaku Lim<ref name="john127" />
|source=Catatan pengadilan menggambarkan kefrustrasian pengadilan terhadap perilaku Lim{{sfn|John|1989|p=127}}
}}
}}
Pada 13&nbsp;April Lim memberikan pernyataan. Dia menyatakan bahwa dia adalah satu-satunya pelaku kejahatan.<ref name="john121">John (1989), 121.</ref> Ia membantah bahwa ia memperkosa Lucy Lau atau Ng, mengklaim bahwa ia membuat pernyataan sebelumnya hanya untuk memuaskan interogator.<ref>John (1989), 132&ndash;133.</ref><ref>John (1989), 154&ndash;156.</ref> Lim selektif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh pengadilan kepadanya; ia tidak bertele-tele dalam menjawab orang-orang yang setuju dengan pendiriannya, dan menolak untuk mengomentari orang lain.<ref name="john121" /> Ketika ditantang pada pengakuannya yang sebenarnya yang terbaru, ia mengklaim bahwa ia terikat oleh kewajiban agama dan moral untuk mengatakan yang sebenarnya.<ref>John (1989), 155.</ref> Namun, Knight menyatakan bahwa Lim adalah seorang pria pembohong ​​yang tidak menghormati sumpah. Lim telah berbohong kepada istrinya, kliennya, polisi, dan psikiatris. Knight mengklaim bahwa sikap Lim di pengadilan merupakan pengakuan terbuka bahwa ia rela berbohong di pernyataannya sebelumnya.<ref>John (1989), 157&ndash;158.</ref> Tan dan Hoe lebih kooperatif, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pengadilan. Mereka membantah cerita Lim, dan menjamin kebenaran laporan pernyataan mereka yang diberikan kepada polisi.<ref>John (1989), 168, 198.</ref>Mereka menceritakan bagaimana mereka hidup dalam ketakutan dan kekaguman dari Lim. Percaya ia memiliki kekuatan gaib, mereka mengikutinya dalam setiap order dan kepemilikannya.<ref>John (1998), 164&ndash;165, 203.</ref> Walaupun demikian, dibawah pertanyaan Knight, Tan mengakui bahwa Lim telah menipu pelanggannya , dan bahwa ia telah dengan sengaja membantu dia untuk melakukannya.<ref>John (1989), 180&ndash;181.</ref> Knight kemudian mendapati Hoe setuju bahwa ia sadar dengan aksinya pada waktu pembunuhan tersebut.<ref>John (1989), 202&ndash;203.</ref>
Pada 13&nbsp;April, Lim akhirnya memberikan pernyataan. Dia menyatakan bahwa dirinyalah pelaku kejahatan tunggal.{{sfn|John|1989|p=121}} Ia membantah telah memerkosa Lucy Lau atau Ng, dan mengklaim bahwa pernyataan sebelumnya hanya dibuat untuk memuaskan para penyelidik.{{sfn|John|1989|p= 132–133}}{{sfn|John|1989|p= 154–156}} Lim bersikap selektif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh pengadilan; ia tidak bertele-tele dalam menjawab orang-orang yang mendukung pendiriannya, dan menolak untuk mengomentari hal yang lain.{{sfn|John|1989|p=121}} Ketika pengadilan meragukan kebenaran dari pengakuannya yang terbaru, Lim mengklaim telah terikat oleh kewajiban agama dan moral untuk berkata sejujurnya.{{sfn|John|1989|p= 155}} Namun, Knight menyatakan bahwa Lim adalah seorang pria pembohong yang mengacuhkan sumpah. Lim telah berbohong kepada istrinya, pelanggannya, para polisi, dan psikiater. Knight mengklaim bahwa sikap Lim di pengadilan merupakan pengakuan langsung bahwa ia sengaja berbohong dalam pernyataannya sebelumnya.{{sfn|John|1989|p= 157–158}} Tan dan Hoe bersikap lebih kooperatif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pengadilan. Mereka membantah cerita Lim, dan menjamin kebenaran laporan pernyataan mereka yang telah diberikan kepada polisi.{{sfn|John|1989|p= 168, 198}} Mereka menceritakan bagaimana mereka hidup dalam ketakutan dan kekaguman atas Lim. Mereka percaya bahwa Lim memiliki kekuatan gaib, dan mereka mengikuti setiap perintahnya tanpa memiliki kehendak bebas.{{sfn|John|1998|p=164–165, 203}} Setelah Knight bertanya, akhirnya Tan mengakui bahwa Lim telah menipu pelanggannya, dan ia dengan sengaja membantu Lim melakukan aksi kejahatan.{{sfn|John|1989|p= 180–181}} Knight mendapati pengakuan yang kondusif dari kesaksian Hoe, bahwa mereka sadar akan tindakannya pada waktu pembunuhan terjadi.{{sfn|John|1989|p= 202–203}}


=== Pertempuran psikiatris ===
=== Pertikaian para psikiater ===
Tidak ada yang menyangkal bahwa Lim, Tan, dan Hoe telah membunuh anak-anak. Pembela mereka mendasarkan pada meyakinkan pernyataan mereka kepada hakim bahwa secara medis, terdakwa tidak dalam kontrol total dari diri mereka sendiri selama kejahatan. Oleh karena itu, sebagian besar sidang itu terjadi pertempuran antara saksi-saksi ahli disebut oleh kedua belah pihak. Dr Wong Yip Chong, seorang psikiatris senior dalam praktik pribadi, percaya bahwa Lim terganggu mentalnya pada saat kejahatan tersebut. Mengklaim bahwa "dilihat dari gambaran besar, dan tidak rewel atas kontradiksi",<ref>John (1989), 208.</ref> ia mengatakan bahwa nafsu seksual yang tinggi dan kepercayaan delusi pada Kali yang ada dalam diri Lim adalah karakteristik dari [[Hipomania|depresi manik ringan]]. Seorang dokter juga mengatakan bahwa hanya pikiran tidak sehat yang berpikir akan membuang mayat di dekat rumahnya jika rencananya adalah untuk mengalihkan perhatian polisi.<ref>Kok (1990), 71.</ref> Dalam bantahannya, seorang saksi ahli yang mengajukan diri pada jaksa penuntut, Dr Chee Kuan Tsee, seorang psikiatris di Rumah Sakit Woodbridge,<ref>John (1989), 204.</ref> mengatakan bahwa Lim "tujuan dalam kegiatan itu, pasien dalam perencanaan dan persuasif dalam penampilannya untuk kekuasaan pribadi dan kesenangan".<ref name="kok72">Kok (1990), 72.</ref> Menurut opini Dr Chee, Lim telah terlibat dalam seksualitas karena lewat perannya sebagai media ia memperoleh pasokan perempuan yang bersedia untuk pergi ke tempat tidur dengan dia. Selain itu, keyakinannya pada Kali adalah agama pada alam, bukan delusional. Penggunaan agama oleh Lim digunakan untuk kepentingan pribadi dalam hal pengendalian diri secara penuh. Terakhir, Lim telah berkonsultasi pada dokter dan bebas mengambil obat penenang untuk mengobati insomnia-nya, suatu kondisi yang menurut Dr Chee adalah keadaan dari depresi manik yang gagal untuk dikenali.<ref>John (1989), 209.</ref>
Tidak ada yang menyangkal bahwa Lim, Tan, dan Hoe telah membunuh anak-anak. Para pengacara mereka meyakinkan para hakim bahwa secara medis, para terdakwa tidak sadar sepenuhnya saat melakukan kejahatan. Oleh karena itu, jalannya persidangan menjadi ajang pertikaian antara saksi-saksi ahli yang dipanggil oleh kedua belah pihak. Dr. Wong Yip Chong—seorang psikiater senior yang membuka praktik swasta—percaya bahwa Lim menderita gangguan mental pada saat melakukan kejahatan. Dengan klaim bahwa "dilihat dari garis besarnya, tanpa ambil pusing tentang hal-hal yang bertentangan",{{sfn|John|1989|p= 208}} ia berkata bahwa nafsu seksual Lim yang tinggi dan kepercayaan delusif pada Dewi Kali adalah karakteristik dari seorang [[hipomania]]k. Dokter tersebut juga berkata bahwa hanya orang tidak waras yang mau membuang mayat di dekat rumahnya jika ia berencana untuk mengalihkan perhatian polisi.{{sfn|Kok|1990|p= 71}} Klaim tersebut dibantah oleh seorang saksi ahli yang dipanggil oleh jaksa penuntut, Dr. Chee Kuan Tsee, seorang psikiater di Rumah Sakit Woodbridge.{{sfn|John|1989|p= 204}} Ia berkata bahwa Lim "benar-benar merencanakan aksinya, berhati-hati dalam tindak-tanduknya, dan bersikap persuasif dalam penampilannya demi pencitraan dan kesenangan pribadi".{{sfn|Kok|1990|p=72}} Menurut opini Dr. Chee, Lim kecanduan seks karena perannya sebagai cenayang telah memberinya pasokan wanita yang bersedia untuk diajak berhubungan badan. Selain itu, keyakinannya pada Kali adalah sikap religius yang alami, bukan sikap delusif. Pemanfaatan agama untuk kepentingan pribadi merupakan indikasi bahwa Lim benar-benar sadar akan tindakan yang dilakukannya. Terakhir, Lim pernah berkonsultasi pada dokter dan mengambil obat penenang untuk mengobati insomnianya, suatu kondisi yang menurut Dr.Chee tidak mungkin dilakukan oleh seorang penderita hipomania.{{sfn|John|1989|p= 209}}


Dr R. Nagulendran, seorang konsultan psikiatris, bersaksi bahwa Tan secara mental terganggu oleh [[depresi kejiwaan|depresi kejiwaan relatif]]. Menurutnya ia depresi sebelum ia bertemu Lim, karena latar belakang keluarganya. Kekerasan fisik dan ancaman dari Lim memperdalam depresinya; penyalahgunaan obat-obatan membuatnya berhalusinasi dan mempercayai kebohongan cenayang.<ref name="kok72" /> Dr Chee tidak menyetujuinya; ia mengatakan bahwa Tan mengaku menjadi cukup senang dengan gaya hidup material Lim yang diberikan kepadanya, menikmati pakaian bagus dan perawatan salon kecantikan. Seorang penderita depresi psikotik reaktif tidak akan dibayar seperti perhatian terhadap penampilannya. Juga, Tan sebelumnya mengaku mengetahui Lim adalah seorang penipu, namun berubah sikap di pengadilan untuk mengklaim ia bertindak sepenuhnya dibawah pengaruhnya. Meskipun Dr Chee mengabaikan kekerasan fisik Lim terhadap Tan dalam pengadilannya, ia dengan tegas berpendapat bahwa Tan adalah suara mental pada saat kejahatan tersebut.<ref name="kok73">Kok (1990), 73.</ref> Dr Nagulendran dan Dr Chee bersepakat bahwa Hoe menderita skizofrenia berkepanjangan sebelum ia bertemu Lim, dan bahwa ia berada di Rumah Sakit Woodbridge telah membantu pemulihan dirinya. Namun, sementara Dr Nagulendran yakin bahwa Hoe mengalami kambuh pada waktu pembunuhan anak-anak, Dr Chee menunjukan bahwa tidak ada dokter Woodbridge melihat tanda-tanda kambuh selama enam bulan saat ia melakukan cek tindak lanjut (16&nbsp;Juli 1980 &ndash; 31&nbsp;Januari 1981).<ref name="kok45">Kok (1990), 45.</ref><ref>John (1989), 202.</ref> Jika Hoe telah sangat terganggu oleh karena kondisinya menurut penjelasan Dr Nagulendran, dia akan menjadi tidak valid. Sebaliknya, dia bermetode untuk menculik dan membantu membunuh anak pada dua kesempatan.<ref name="kok45" /> Diakhir pernyataannya, Dr Chee menyatakan bahwa hal ini luar biasa karena tiga orang dengan penyakit mental yang berbeda dapat berbagi delusi umum dalam menerima permintaan untuk membunuh dari seorang dewa.<ref name="john217">John (1989), 217.</ref>
Dr.R. Nagulendran, seorang psikiater konsultan, bersaksi bahwa Tan mengalami gangguan mental [[depresi kejiwaan|depresi kejiwaan relatif]]. Menurutnya, Tan mengalami depresi sebelum bertemu Lim yang disebabkan oleh latar belakang keluarganya. Kekerasan fisik dan ancaman dari Lim telah memperdalam depresinya; penyalahgunaan obat-obatan membuatnya berhalusinasi dan memercayai kebohongan Lim.{{sfn|Kok|1990|p=72}} Dr.Chee tidak sependapat; ia berkata bahwa Tan mengaku cukup senang dengan gaya hidup mewah yang diberikan Lim kepadanya, serta menikmati pakaian bagus dan mendapatkan perawatan di salon kecantikan. Seorang penderita depresi psikotik reaktif tidak akan memerhatikan penampilannya sebagaimana yang dilakukan Tan. Selain itu, Tan pernah mengaku bahwa ia sudah tahu Lim adalah seorang penipu, namun mengubah pendiriannya di pengadilan dengan mengklaim bahwa ia bertindak di bawah pengaruh Lim. Meskipun dalam pertimbangannya Dr.Chee mengabaikan kekerasan yang diterima Tan, ia secara tegas berpendapat bahwa Tan bermental sehat pada saat kejahatan terjadi.{{sfn|Kok|1990|p=73}} Dr. Nagulendran dan Dr.Chee bersepakat bahwa Hoe menderita skizofrenia berkepanjangan sebelum bertemu Lim, dan perawatan di Rumah Sakit Woodbridge telah membantu pemulihan dirinya. Dr.Nagulendran yakin bahwa Hoe mengalami kambuh pada saat terjadinya pembunuhan anak-anak, namun Dr.Chee menunjukkan bahwa tiada satu pun dokter Woodbridge yang melihat tanda-tanda kambuh selama enam bulan masa pemeriksaan lanjut (16&nbsp;Juli 1980 31&nbsp;Januari 1981).{{sfn|Kok|1990|p=45}}{{sfn|John|1989|p= 202}} Jika Hoe benar-benar mengalami gangguan karena kondisi kesehatannya — sebagaimana penjelasan Dr.Nagulendran — maka dia adalah seorang penderita cacat mental. Sebaliknya, secara cerdik ia menculik anak-anak dan sudah membantu Lim membunuh anak-anak pada dua kesempatan.{{sfn|Kok|1990|p=45}} Pada akhir pernyataannya, Dr.Chee menyatakan bahwa perkara ini luar biasa karena tiga orang dengan penyakit mental yang berbeda dapat mengalami delusi yang sama tentang titah dewa untuk membunuh orang.{{sfn|John|1989|p=217}}


=== Pernyataan penutup ===
=== Pernyataan akhir ===
Dalamk pidato penutup mereka, pembela mencoba untuk memperkuat penggambaran klien mereka sebagai individu yang terganggu mentalnya. Cashin mengatakan bahwa Lim adalah seorang pria normal sampai inisiasinya ke dalam okultisme, dan bahwa ia sangat menjauh dari kenyataan ketika ia memasuki "dunia mengerikan yang tidak masuk akal", bertindak atas delusinya untuk membunuh anak-anak dalam nama Kali.<ref name="john218">John (1989), 218.</ref> Jeyaretnam mengatakan bahwa akibat depresinya dan pelecehan yang dilakukan oleh Lim, Tan menjadi "sebuah robot", melaksanakan perintah tanpa berpikir.<ref name="john218" /> Isaac hanya menyimpulkan, "pikiran skizofrenia [Hoe] berpikir bahwa jika anak-anak dibunuh, mereka akan masuk surga dan tidak bertumbuh kejahatan seperti ibunya dan lainnya."<ref name="john219">John (1989), 219.</ref> Pembela mengkritik Dr Chee karena gagal untuk mengenali gejala klien mereka.<ref name="kok72" /><ref name="john219" />
Dalam penuturan akhir mereka, para pengacara mencoba untuk memperkuat gambaran bahwa klien mereka merupakan individu yang mengalami gangguan mental. Pengacara Cashin mengatakan bahwa Lim adalah seorang pria normal, sampai perkenalannya pada dunia [[okultisme]], dan menambahkan bahwa Lim telah menjauhkan diri dari kenyataan ketika memasuki "dunia mengerikan yang tidak masuk akal", bertindak menurut delusinya sendiri untuk membunuh anak-anak atas nama Kali.{{sfn|John|1989|p=218}} Pengacara Jeyaretnam mengatakan bahwa akibat depresi dan pelecehan yang dilakukan oleh Lim, maka Tan menjadi "sebuah robot", melaksanakan perintah tanpa berpikir.{{sfn|John|1990|p=218}} Pengacara Isaac hanya menyimpulkan, "pikiran skizofrenia [Hoe] menganggap bahwa jika anak-anak dibunuh, maka mereka akan masuk surga dan tidak tumbuh menjadi orang jahat seperti ibunya dan orang lain."{{sfn|John|1989|p=219}} Pengacara pun mengkritik Dr. Chee karena gagal mengenali gejala klien mereka.{{sfn|Kok|1990|p=72}}{{sfn|John|1989|p=219}}


Jaksa memulai pidato penutupnya dengan menarik perhatian pada cara "dingin dan penuh perhitungan" saat anak-anak tersebut dibunuh.<ref name="john220">John (1989), 220.</ref> Knight juga berpendapat bahwa terdakwa tidak bisa memberikan khayalan yang sama, dan hanya membawanya pada saat pengadilan tersebut.<ref name="john219" /> Tampilan "licik dan tidak bebas" dalam aksi tersebut tidak bisa diperlihatkan oleh orang yang berkhayal.<ref name="john220" /> Tan membantu Lim karena "dia cinta [padanya]", dan Hoe hanya menyesatkan dalam membantu kejahatan tersebut.<ref name="john221">John (1989), 221.</ref> Hakim kemudian didesak untuk mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan mereka, Knight menyatakan: "Tuhanku, untuk mengatakan bahwa Lim tidak lebih dari seorang pengecut yang mengincar anak kecil karena mereka tak dapat membalas serangan; membunuh mereka dengan harapan bahwa ia memperoleh kekuasaan atau kekkayaan dan tidak melakukan pembunuhan, adalah tidak masuk akal dari hukum pembunuhan. Ini akan memberikan kepercayaan kepada selubung misteri dan sihir ia telah disulap praktek dan dimana ia berhasil menakut-nakuti, mengintimidasi dan membujuk takhayul, lemah dan mudah tertipu menjadi berpartisipasi dalam tindakan yang paling cabul dan tidak senonoh."<ref name="john221" />
Jaksa memulai pidato penutupnya dengan menggarisbawahi cara "kejam dan penuh perhitungan" yang digunakan untuk membunuh anak-anak tersebut.{{sfn|John|1989|p=220}} Jaksa Knight juga berpendapat bahwa para terdakwa tidak mengalami delusi yang sama, hanya mengarang cerita tersebut pada saat pengadilan berlangsung.{{sfn|John|1989|p=219}} Tindakan "licik dan penuh perhitungan" dalam aksi kejahatan mereka tidak mungkin dilakukan oleh orang yang mengalami delusi.{{sfn|John|1989|p=220}} Tan membantu Lim karena "dia cinta [padanya]", dan Hoe hanya mengalami kesesatan sehingga mau membantu kejahatan tersebut.{{sfn|John|1989|p=221}} Agar hakim mempertimbangkan konsekuensi keputusan mereka, Knight menyatakan: "Yang Mulia, dapat dikatakan bahwa Lim tidak lebih dari seorang pengecut yang mengincar anak kecil karena mereka tidak dapat melawan; membunuh mereka dengan harapan dapat memperoleh kekuatan atau kekayaan dan tidak menganggapnya sebagai pembunuhan, adalah tindakan tak masuk akal dari segi hukum pembunuhan. Ini akan mendukung tumbuhnya kepercayaan terhadap hal mistis dan sihir yang telah ditimbulkannya melalui praktik untuk menakut-nakuti, mengintimidasi, dan membujuk orang-orang yang percaya takhayul, lemah, dan mudah tertipu agar berpartisipasi dalam tindakan yang sangat cabul dan tidak senonoh."{{sfn|John|1990|p=221}}


=== Keputusan ===
=== Keputusan hakim ===
Pada tanggal 25&nbsp;Mei 1983, banyak orang di luar gedung untuk menunggu hasil persidangan. Karena keterbatasan tempat duduk, hanya beberapa orang yang diijinkan untuk mendengar Hakim Sinnathuray mengeluarkan keputusan selama 15&nbsp;menit. Dua hakim tidak yakin bahwa terdakwa tidak sehat secara mental selama melakukan kejahatan. Mereka menemukan Lim menjadi "kejam dan bejat" dalam melaksanakan rencananya.<ref>John (1989), 224&ndash;225.</ref> Memandang wawancaranya dengan saksi ahli sebagai [[Self-incrimination|pengakuan bersalah]],<ref>Kok (1994), 53.</ref> Sinnathuray dan Chua menemukan Tan menjadi "orang berseni dan jahat", dan "bersedia [berpesta] untuk tindakan jahat dan menjijikan [Lim]".<ref name="john225">John (1989), 225.</ref> Hakim menemukan Hoe menjadi "sederhana" dan "mudah dipengaruhi".<ref name="john225" /> Meskipun ia menderita skizofrenia, mereka mencatat bahwa dia berada di keadaan remisi selama pembunuhan tersebut; maka ia harus memikul tanggung jawab penuh atas tindakannya.<ref>Kok (1994), 94.</ref> Ketiganya dinyatakan bersalah atas pembunuhan tersebut dan dihukum gantung. Dua wanita tidak bereaksi terhadap keadaan mereka. Di sisi lain, Lim berseri dan menangis, "Terima kasih, Tuhanku!", ketika ia memimpin keluar.<ref>John (1989), 226.</ref>
Pada tanggal 25&nbsp;Mei 1983, banyak orang berkerumun di luar gedung untuk menunggu hasil persidangan. Karena keterbatasan tempat duduk, hanya beberapa orang yang diizinkan untuk mendengarkan keputusan yang dibacakan Hakim Sinnathuray selama 15&nbsp;menit. Dua hakim tidak yakin bahwa terdakwa sedang tidak waras saat melakukan kejahatan. Mereka membuktikan Lim sebagai orang "kejam dan bejat" dalam menjalankan aksinya.{{sfn|John|1989|p= 224–225}} Dengan mempertimbangkan wawancara dengan saksi ahli sebagai [[pengakuan bersalah]],{{sfn|Kok|1994|p=53}} Sinnathuray dan Chua membuktikan Tan sebagai "orang terampil dan jahat", dan "bersedia [turut serta] membantu tindakan keji dan memuakkan [Lim]".{{sfn|John|1989|p=225}} Hakim membuktikan Hoe sebagai orang berpikiran "sederhana" dan "mudah dipengaruhi".{{sfn|John|1989|p=225}} Meskipun Hoe menderita skizofrenia, mereka menggarisbawahi bahwa dia berada dalam keadaan remisi selama pembunuhan tersebut, maka dia juga harus bertanggung jawab penuh atas tindakannya.{{sfn|Kok|1994|p=94}} Ketiganya dinyatakan bersalah atas pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman gantung. Dua wanita terdakwa hanya membisu setelah mendengar keputusan hakim. Sementara itu, Lim berseri-seri dan berseru, "Terima kasih, Yang Mulia!", seraya dibawa keluar.{{sfn|John|1989|p= 226}}


Lim menerima nasibnya; para perempuan tidak, dan mengajukan kalimat keberatan mereka. Tan disewakan [[Francis Seow]] yang ditarik untuknya, dan pengadilan lagi ditugaskan Isaac untuk Hoe.<ref>John (1989), 227.</ref> Para pengacara meminta pengadilan banding untuk mempertimbangkan kembali keadaan mental klien mereka pada saat pembunuhan tersebut, menyakatan bahwa hakim pengadilan dalam pembahasan mereka telah gagal untuk mempertimbangkan hal ini.<ref name="kok73" /> Pengadilan Tinggi Kejahatan mencapai keputusan mereka pada bulan Agustus 1986.<ref name="john228">John (1989), 228.</ref> Para hakim banding menguatkan putusan pengadilan rekan-rekan mereka, mencatat bahwa sebagai pencari fakta, hakim memiliki hak untuk mengabaikan hasil medis dalam bukti dari sumber lain.<ref>Kok (1990), 73&ndash;74.</ref>{{#tag:ref|Dewan Privi juga memberikan keputusan yang sama dalam peninjauan ulang terhadap ''Walton v. the Queen'', sebuah pengadilan terhadap pembunuhan di Britania pada tahun 1989.<ref>Kok (1990), 74.</ref>|group=fn}} Uji banding Tan dan Hoe lebih lanjut ke [[Komite Yudisial Dewan Privi|Dewan Privi]] London dan Presiden Singapura [[Wee Kim Wee]] juga mendapatkan kegagalan yang serupa.<ref name="john228" />
Lim menerima nasibnya, sedangkan dua terdakwa lainnya tidak, sehingga mereka mengajukan banding atas keputusan hakim. Tan menyewa [[Francis Seow]] untuk mengajukan banding, sementara pengadilan sekali lagi menugaskan Isaac untuk membantu Hoe.{{sfn|John|1989|p= 227}} Para pengacara meminta pengadilan untuk mempertimbangkan keadaan mental klien mereka pada saat pembunuhan tersebut, dan menyatakan bahwa hakim pengadilan mengabaikan pertimbangan akan hal ini saat membahas perkara.{{sfn|Kok|1990|p=73}} Pengadilan Tinggi Kejahatan mengumumkan keputusan mereka pada bulan Agustus 1986.{{sfn|John|1989|p=228}} Para hakim banding menguatkan keputusan pengadilan, menggarisbawahi bahwa sebagai pencari fakta, hakim berhak untuk mengabaikan hasil medis bila ada bukti dari sumber lain.{{sfn|Kok|1990|p= 73–74}}{{efn|Dewan Penasihat juga memberikan keputusan yang sama dalam peninjauan ulang terhadap ''Walton v. the Queen'', sebuah pengadilan terhadap pembunuhan di Britania pada tahun 1989.{{sfn|Kok|1990|p= 74}}}} Ajuan banding Tan dan Hoe kepada [[Komite Yudisial Dewan Penasihat|Dewan Penasihat]] London dan Presiden Singapura [[Wee Kim Wee]] juga mengalami kegagalan yang serupa.{{sfn|John|1990|p=228}}


Setelah semua jalan mereka untuk meminta pengampunan telah habis, Tan and Hoe bersikap tenang menghadapi nasib mereka. Sesambil menunggu [[hukuman mati]], ketiganya diberikan nasehat oleh pendeta dan suster Katolik. Terlepas dari reputasi yang dimiliki Lim, Pastor Brian Doro menyebut pembunuh tersebut sebagai "orang yang agak bersahabat".<ref>Davie (1989).</ref> Menjelang hari eksekusi, Lim meminta Pastor Doro untuk pengampunan dan [[perjamuan kudus]]. Demikian juga Tan dan Hoe dengan Suster Gerard Fernandez sebagai penasehat spiritual mereka. Suster tersebut mengkonversi dua narapidana perempuan tersebut ke agama Katolik, dan mereka menerima pengampunan dan perjamuan kudus selama hari-hari terakhir mereka.<ref>Naryanan (1989), 14&ndash;15.</ref> Pada tanggal 25&nbsp;November 1988 ketiganya diberikan makanan untuk terakhir kalinya dan menuju [[simpul gantung|tali gantung]]. Lim tersenyum disaat jalan terakhirnya. Setelah eksekusi selesai, ketiga pembunuh tersebut mendapatkan pemakaman massal Katolik dalam jangka pendek oleh Pastor Doro,<ref>Naryanan (1989), 14.</ref> dan dikremasi pada hari yang sama.<ref>John (1989), 229.</ref>
Setelah semua jalan untuk meminta pengampunan telah habis, Tan and Hoe bersikap tenang dalam menghadapi nasib mereka. Sambil menunggu [[hukuman mati]], ketiganya diberikan nasihat oleh pendeta dan suster Katolik. Terlepas dari reputasi yang dimiliki Lim, Pastor Brian Doro menyebut pembunuh tersebut sebagai "orang yang agak bersahabat".{{sfn|Davie|24 November 1989}} Menjelang hari eksekusi, Lim meminta Pastor Doro untuk memberi pengampunan dan [[perjamuan kudus]]. Demikian juga Tan dan Hoe dengan Suster Gerard Fernandez sebagai penasihat spiritual mereka. Sang suster mengonversi dua narapidana tersebut ke agama Katolik, dan mereka pun menerima pengampunan dan perjamuan kudus selama hari-hari terakhir mereka.{{sfn|Kutty|1989|p= 14–15}} Pada tanggal 25&nbsp;November 1988, ketiganya diberi makanan untuk terakhir kalinya sebelum menuju [[simpul gantung|tali gantung]]. Lim tersenyum saat berjalan untuk yang terakhir kalinya. Setelah eksekusi selesai, ketiga pembunuh tersebut mendapatkan [[requiem|misa pemakaman]] secara singkat yang dipimpin oleh Pastor Doro,{{sfn|Kutty|1989|p= 14}} kemudian dikremasi pada hari yang sama.{{sfn|John|1989|p= 229}}


== Dampak dari kasus yang terjadi ==
== Warisan ==
[[File:Sub Court crowd.jpg|thumb|right|alt=Kerumunan orang memadati area di seberang jalan. Perhatian mereka ada pada mobil van polisi. Beberapa penonton berdesakan di bagian belakang pada orang-orang di bagian depan mereka atau membungkuk di atas dinding. Polisi mengamankan jalan.|Warga Singapura memadati sekitaran Dewan Subordinat (gambar) dan pengadilan lainnya untuk melihat sekilas para pembunuh tersebut.]]
[[Berkas:Sub Court crowd.jpg|jmpl|ka|alt=Kerumunan orang memadati area di seberang jalan. Perhatian mereka ada pada mobil van polisi. Beberapa penonton berdesakan di bagian belakang. Polisi mengamankan jalan.|Warga Singapura memadati halaman Dewan Subordinat (gambar) dan gedung pengadilan lainnya untuk melihat sekilas para pembunuh tersebut.]]
Sidang terhadap ritual pembunuhan Toa Payoh ini diikuti oleh rakyat Singapura. Kerumunan orang terus menerus memadati sekitaran pengadilan, berharap untuk melihat sekilas Adrian Lim dan mendengar penerangan pertamanya. Laporan dari surat kabar setempat dalam penjelasannya, penceritaan berdarah dan seskual eksplisit dari tindakan Lim tersebut telah menyinggung perasaan beberapa pihak; Kanon Frank Lomax, Vikaris [[Katedral Santo Andreas, Singapura|Gereja Anglikan Santo Andreas]], mengeluh kepada ''[[The Straits Times]]'' bahwa laporan tersebut memiliki efek merusak bagi kaum muda. Tulisan-tulisannya mendapat dukungan dari beberapa pembaca. Namun yang lainnya menyambut baik laporan terbuka tersebut, mengingat hal tersebut membantu dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlunya kewaspadaan bahkan di kota dengan tingkat kejahatan yang rendah.<ref>John (1989), 116&ndash;118</ref> Buku-buku yang berisi tentang pembunuhan dan pengadilan tersebut, dengan cepat dibeli oleh masyarakat pada perilisannya.<ref>Khor (September 1989).</ref><ref>Khor (October 1989).</ref>
Sidang terhadap kasus pembunuhan di Toa Payoh ini diikuti oleh warga Singapura. Kerumunan orang terus memadati halaman sekitar gedung pengadilan, berharap dapat melihat sekilas wajah Adrian Lim. Surat kabar setempat yang melaporkan detail aksi berdarah dan seksual yang dilakukan Lim telah menyinggung kepekaan beberapa pihak; Kanon Frank Lomax, Vikaris [[Katedral Santo Andreas, Singapura|Gereja Anglikan Santo Andreas]], mengeluhkan bahwa pemberitaan oleh ''[[The Straits Times]]'' memiliki efek merusak bagi kaum muda. Keluhannya mendapat dukungan dari beberapa pembaca. Namun, yang lainnya menyambut baik keterbukaan berita tersebut, mengingat bahwa hal itu dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlunya kewaspadaan, bahkan di kota dengan tingkat kejahatan yang rendah.{{sfn|John|1989|p= 116–118}} Buku-buku yang membahas pembunuhan dan pengadilan tersebut laris di pasaran pada saat perilisannya.{{sfn|Khor|13 September 1989}}{{sfn|Khor|16 Oktober 1989}}


Keputusan dari pengadilan tersebut membuat Lim dicap sebagai orang jahat di benak orang-orang Singapura.<ref name="yap">Yap (1995).</ref> Beberapa warga tidak percaya bahwa ada orang yang rela membela orang seperti itu. Mereka mengeluarkan suara kemarahan mereka kepada Cashin; bahkan beberapa diantaranya mengeluarkan ancaman pembunuhan terhadap dirinya.<ref name="john117" /> Di sisi lain, nama Knight menjadi terkenal di kalangan warga Singapura sebagai orang yang membawa Adrian Lim ke pengadilan, sehingga membuat kariernya meningkat. Ia menangani banyak kasus tingkat tinggi, dan menjadi direktur [[Departemen Urusan Komersial]] pada tahun 1984. Ia terus mempertahankan reputasi bagusnya sampai keputusannya untuk korupsi tujuh tahun kemudian.<ref>Tan (1998).</ref>
Keputusan dari pengadilan tersebut membuat Lim dicap sebagai orang jahat di benak masyarakat Singapura.{{sfn|Yap|15 Juli 1995}} Beberapa warga tidak percaya bahwa ada yang rela membela orang seperti itu. Mereka menunjukkan kemarahan kepada Cashin, mantan pengacara Lim; bahkan beberapa di antaranya mengeluarkan ancaman pembunuhan.{{sfn|John|1990|p=117}} Di sisi lain, nama Knight menjadi terkenal di kalangan warga Singapura sebagai orang yang mengusut Adrian Lim ke pengadilan, sehingga kariernya meningkat. Ia menangani banyak kasus tingkat tinggi, dan menjadi direktur [[Departemen Urusan Komersial]] pada tahun 1984. Ia terus mempertahankan reputasi baiknya, sampai tindak pidana korupsi yang dilakukannya tujuh tahun kemudian.{{sfn|Tan|7 Oktober 1997}}


Bahkan di penjara, Lim dibenci; rekannya sesama tahanan disalahgunakan dan memperlakukannya sebagai orang buangan.<ref>Yaw (1991).</ref> Pada tahun-tahun setelah kejahatan tersebut, kenangan tetap segar di antara mereka yang mengikuti kasus ini. Wartawan dianggap itu sidang paling sensasional pada tahun 80an, menjadi "buah bibir dari kota menakutkan sebagai kasus mengerikan dari penyimpangan seksual, meminum darah manusia, kepemilikan gaib, eksorsisme dan kekejaman serampangan yang dibuka selama sidang 41 hari".<ref>Davidson (1990).</ref> Lime belas tahun setelah sidang selesai, sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh ''[[The New Paper]]'' mengabarkan bahwa 30 persen dari respondennya telah memilih ritual pembunuhan Toa Payoh sebagai kejahatan yang paling mengerikan, meskipun permintaan kertas untuk memilih hanya untuk kejahatan yang dilakukan pada tahun 1998.<ref>Low (1998).</ref> Lim telah menjadi patokan untuk kejahatan lokal; pada tahun 2002 [[Subhas Anandan]] menggambarkan kliennya, istri pembunuh Anthony Ler, sebagai "orang tampan, versi tertampan dari cenayang pembunuh Toa Payoh [yang] terkenal".<ref>Vijayan (2002).</ref>
Lim bahkan dibenci di penjara. Tahanan lain menindas dan memperlakukannya sebagai orang buangan.{{sfn|Yaw|10 September 1991}} Pada tahun-tahun setelah kejahatan tersebut diusut, kenangan tetap segar dalam ingatan orang-orang yang mengikuti kasus ini. Wartawan menulis bahwa sidang itu adalah sidang paling sensasional pada tahun 80-an, sebagai "buah bibir dari kota mencekam tempat kasus penyimpangan seksual, aksi minum darah manusia, kerasukan roh jahat, eksorsisme, dan kekejaman tak pandang bulu yang dibeberkan selama sidang 41 hari".{{sfn|Davidson|2 Januari 1990}} Lima belas tahun setelah sidang berakhir, sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh ''[[The New Paper]]'' melaporkan bahwa 30 persen dari respondennya memilih ritual pembunuhan Toa Payoh sebagai kejahatan yang paling mengerikan, meskipun di angket tertulis agar respoden menunjuk kejahatan yang terjadi pada tahun 1998.{{sfn|Low|19 Desember 1998}} Lim telah menjadi tolok ukur kejahatan di negerinya; pada tahun 2002, [[Subhas Anandan]] menggambarkan kliennya, Anthony Ler, seorang pembunuh istri sebagai "orang yang lebih tampan, atau versi ganteng dari pelaku pembunuhan di Toa Payoh yang terkenal".{{sfn|Vijayan|14 Desember 2002}}


Pada tahun 1990an, industri film lokal membuat dua film berdasarkan kasus pembunuhan tersebut, yang pertama adalah ''[[The Medium (film 1992)|Medium Rare]]''. Film yang diproduksi pada tahun 1991 ini memiliki keterlibatan asing substantial; sebagian besar pemain dan kru adalah orang Amerika atau Britania. Skrip ini secara lokal ditulis dan dimaksudkan untuk mengeksplorasi "psikis ketiga karakter utama".<ref name="uhde1">Uhde (2000), 109&ndash;110.</ref> Namun, sutradaranya terfokus pada hubungan intim dan kekerasan, dan film yang dihasilkan tersebut dicemooh oleh penonton pada saat pemutaran tengah malam-nya .<ref name="uhde1" /> Film ini berhasil meraup keuntungan sebesar $130,000 (AS$75,145) pada saat 16 hari pemutaran pertamanya,<ref>Uhde (2000), 110.</ref>{{#tag:ref|Sebagai perbandingan, box-office komedi pada tahun 1996 berjudul ''[[Army Daze]]'' meraup keuntungan sebesar $500,000 (AS$289,017) untuk empat hari pertama-nya.<ref>Uhde (2000), 114.</ref> Kurs 1.73 rata-rata berasal dari 12 bulan pada tahun 1991.<ref name="xchg" />|group=fn}} dan seorang wartawan menyebutnya "lebih aneh daripada cerita hubungan intim yang tidak wajar dan praktek okultisme terkait dengan cerita Adrian Lim".<ref>Guneratne (2003), 172.</ref> Film kedua, ''God or Dog'' yang diluncurkan pada tahun 1997, juga memiliki kinerja box-office yang suram<ref>Millet (2006), 96.</ref> meskipun penerimaan kritis terlihat lebih positif.<ref>Uhde (2000), 115.</ref> Dua acara mengalami kesulitan dalam mencari aktor lokal untuk pemeran utama; [[Zhu Houren]] menolak atas dasar bahwa kepribadian Adrian Lim terlalu unik bagi seorang aktor untuk memerankannya secara akurat,<ref>Lee (June 1996).</ref> dan [[Xie Shaoguang]] menolak peran untuk kurangnya "faktor penebusan" pada pembunuh tersebut.<ref>Lee (May 1996).</ref> Di televisi, kasus pembunuhan tersebut telah menjadi episode terbuka untuk ''[[True Files]]'', sebuah program tahun 2002 yang memperlihatkan informasi mengenai kasus kejahatan. Namun, publik mengeluhkan bahwa trailer-nya terlalu mengerikan ketimbang reka ulang dari ritual dan pembunuhan tersebut, memaksa perusahaan media [[MediaCorp]] untuk merombak jadwalnya. Episode ritual pembunuhan Toa Payoh digantikan oleh sebuah episode yang kurang sensasional sebagai pembuka dan didorong kembali ke dalam slot waktu kemudian untuk pemirsa yang lebih dewasa, menandai sifat mengerikan dari kejahatan yang dilakukan oleh Lim, Tan, dan Hoe.<ref>Tan (2002).</ref>
Pada tahun 1990-an, industri film di Singapura memproduksi dua film berdasarkan kasus tersebut. Yang pertama adalah ''[[The Medium (film 1992)|Medium Rare]]''. Film yang diproduksi pada tahun 1991 ini memiliki keterlibatan dengan pihak asing; sebagian besar pemain dan kru adalah orang [[Amerika Serikat|Amerika]] atau [[Inggris]]. Skenarionya ditulis secara lokal dan dimaksudkan untuk mengeksplorasi "sisi kejiwaan tiga karakter utama".{{sfn|Uhde|2000|p=109–110}} Namun, sutradaranya lebih fokus pada adegan hubungan seks dan kekerasan, sehingga film tersebut dicemooh oleh penonton saat pemutarannya pada tengah malam.{{sfn|Uhde|2000|p=109–110}} Film ini berhasil meraup keuntungan sebesar $130,000 (AS$75,145) selama 16 hari pemutaran,{{sfn|Uhde|2000|110}}{{efn|Sebagai perbandingan, film komedi laris pada tahun 1996 berjudul ''[[Army Daze]]'' meraup keuntungan sebesar $500,000 (AS$289,017) selama empat hari pertama.{{sfn|Uhde|2000|p=114}} Kurs 1.73 rata-rata berasal dari 12 bulan pada tahun 1991.<ref name="xchg" />}} dan seorang wartawan menyebutnya "lebih aneh daripada cerita seksual tak lazim dan praktik okultisme yang terkait dengan kisah Adrian Lim".{{sfn|Guneratne|2003|p=172}} Film kedua, ''God or Dog'' yang diluncurkan pada tahun 1997, juga memperoleh pendapatan yang suram,{{sfn|Millet|2006|p=96}} meskipun tanggapan masyarakat lebih positif.{{sfn|Uhde|2000|p=115}} Dua film tersebut mengalami kesulitan dalam mencari aktor lokal untuk pemeran utamanya; [[Zhu Houren]] menolak atas dasar bahwa kepribadian Adrian Lim terlalu rumit untuk diperankan oleh seorang aktor secara akurat,{{sfn|Lee|4 Juni 1996}} sementara [[Xie Shaoguang]] menolak tawaran karena kurangnya "faktor penebusan" yang dilakukan pembunuh tersebut.{{sfn|Lee|9 Mei 1996}} Di televisi, kasus pembunuhan tersebut menjadi episode pembuka untuk ''[[True Files]]'', sebuah program tahun 2002 khusus kasus kejahatan. Namun, masyarakat mengeluh bahwa ''trailer''-nya terlalu mengerikan dengan tayangan reka ulang aksi ritual dan pembunuhan tersebut, sehingga perusahaan media [[MediaCorp]] terpaksa merombak jadwal penayangannya. Episode ritual pembunuhan Toa Payoh digantikan oleh sebuah episode yang kurang sensasional sebagai pembuka, dan ditayangkan ulang dengan jatah waktu untuk pemirsa yang lebih dewasa, menyiratkan betapa mengerikannya kejahatan yang dilakukan oleh Lim, Tan, dan Hoe.{{sfn|Tan|24 April 2002}}


== Catatan kaki ==
== Catatan kaki ==
{{notelist}}
<div class="references-small" style="-moz-column-count:2; -column-count:2">
----
<references group=fn />
{{reflist|4}}
</div>

== Referensi ==
{{reflist|3}}


== Daftar pustaka ==
== Daftar pustaka ==
; Buku
; Buku
{{refbegin|2}}
{{refbegin|2}}
* {{cite book|last=DeBernadi|first=Jean|title=The Way that Lives in the Heart: Chinese Popular Religion and Spirit Mediums in Penang, Malaysia|year=2006|url=http://books.google.com/?id=I2GcvFwaoJkC&pg=PR11|accessdate=23&nbsp;June 2008|publisher=[[Stanford University Press]]|location=California, United States|isbn=0-8047-5292-3|chapter=Introduction}}
* {{citation|last=DeBernadi|first=Jean|title=The Way that Lives in the Heart: Chinese Popular Religion and Spirit Mediums in Penang, Malaysia|year=2006|url=http://books.google.com/?id=I2GcvFwaoJkC&pg=PR11|accessdate=23&nbsp;Juni 2008|publisher=[[Stanford University Press]]|location=California, United States|isbn=0-8047-5292-3|chapter=Introduction}}
* {{cite book|last=Guneratne|first=Anthony|editor=Goh, Robbie; Yeoh, Brenda|title=Theorizing the Southeast Asian City as Text: Urban Landscapes, Cultural Documents and Interpretative Experiences|year=2003|url=http://books.google.com/?id=CVbxKuuXBJQC&pg=PA173|accessdate=23&nbsp;June 2008|publisher=World Scientific|location=Singapore|isbn=981-238-283-6|chapter=The Urban and the Urbane: Modernization, Modernism, and the Rebirth of the Singaporean Cinema}}
* {{citation|last=Guneratne|first=Anthony|editor=Goh, Robbie; Yeoh, Brenda|title=Theorizing the Southeast Asian City as Text: Urban Landscapes, Cultural Documents and Interpretative Experiences|year=2003|url=http://books.google.com/?id=CVbxKuuXBJQC&pg=PA173|accessdate=23&nbsp;Juni 2008|publisher=World Scientific|location=Singapura|isbn=981-238-283-6|chapter=The Urban and the Urbane: Modernization, Modernism, and the Rebirth of the Singaporean Cinema}}
* {{cite book|last=Humphreys|first=Neil|title=Final Notes from a Great Island: A Farewell Tour of Singapore|year=2006|url=http://books.google.com/?id=xF1DHiOHK2YC&pg=PT33|accessdate=23&nbsp;June 2008|publisher=[[Marshall Cavendish]]|location=Singapore|isbn=981-261-318-8}}
* {{citation|last=Humphreys|first=Neil|title=Final Notes from a Great Island: A Farewell Tour of Singapore|year=2006|url=http://books.google.com/?id=xF1DHiOHK2YC&pg=PT33|accessdate=23&nbsp;June 2008|publisher=[[Marshall Cavendish]]|location=Singapura|isbn=981-261-318-8}}
* {{cite book|last=John|first=Alan|title=Unholy Trinity: The Adrian Lim 'Ritual' Child Killings|year=1989|publisher=Times Book International|location=Singapore|isbn=9971-65-205-6}}
* {{citation|last=John|first=Alan|title=Unholy Trinity: The Adrian Lim 'Ritual' Child Killings|year=1989|publisher=Times Book International|location=Singapura|isbn=9971-65-205-6}}
* {{cite book|author=Kok Lee Peng|coauthors=Cheng, Molly; Chee Kuan Tsee|title=Diminished Responsibility: With Special Reference to Singapore|year=1990|url=http://books.google.com/?id=_VSIVfRHAu4C&printsec=frontcover|accessdate=25&nbsp;June 2008|publisher=[[National University of Singapore|National University of Singapore Press]]|location=Singapore|isbn=9971-69-138-8}}
* {{citation|last=Kok |first=Lee Peng|coauthors=Cheng, Molly; Chee Kuan Tsee|title=Diminished Responsibility: With Special Reference to Singapore|year=1990|url=http://books.google.com/?id=_VSIVfRHAu4C&printsec=frontcover|accessdate=25&nbsp;June 2008|publisher=[[National University of Singapore|National University of Singapore Press]]|location=Singapura|isbn=9971-69-138-8}}
* {{cite book|author=Kok Lee Peng|coauthors=Cheng, Molly; Chee Kuan Tsee|title=Mental Disorders and the Law|year=1994|url=http://books.google.com/?id=NoEFBYFtCk0C&printsec=frontcover|accessdate=25&nbsp;November 2008|publisher=National University of Singapore Press|location=Singapore|isbn=9971-69-188-4}}
* {{citation|last=Kok |first=Lee Peng|coauthors=Cheng, Molly; Chee Kuan Tsee|title=Mental Disorders and the Law|year=1994|url=http://books.google.com/?id=NoEFBYFtCk0C&printsec=frontcover|accessdate=25&nbsp;November 2008|publisher=National University of Singapore Press|location=Singapura|isbn=9971-69-188-4}}
* {{cite book|last=Millet|first=Raphael|title=Singapore Cinema|year=2006|publisher=Editions Didier Millet|location=Singapore|isbn=981-4155-42-X|chapter=From Survival to Revival}}
* {{citation|first=Narayanan Govindan |last=Kutty|title=Adrian Lim's Beastly Killings|year=1989|publisher=Aequitas Management Consultants|location=Singapura|isbn=981-00-0931-3}}
* {{cite book|author=Narayanan Govindan Kutty|title=Adrian Lim's Beastly Killings|year=1989|publisher=Aequitas Management Consultants|location=Singapore|isbn=981-00-0931-3}}
* {{citation|last=Millet|first=Raphael|title=Singapore Cinema|year=2006|publisher=Editions Didier Millet|location=Singapura|isbn=981-4155-42-X|chapter=From Survival to Revival}}
* {{cite book|author=Naren Chitty|editor=Abbas Malek|title=The Global Dynamics of News: Studies in International News Coverage and News Agenda|year=2000|url=http://books.google.com/?id=8Ucl0kvNaVAC&pg=PA24|accessdate=16&nbsp;October 2008|publisher=[[Greenwood Publishing Group]]|location=Connecticut, United States|isbn=1-56750-462-0|chapter=A Matrix Model for Framing News Media Reality}}
* {{citation|author=Naren Chitty|editor=Abbas Malek|title=The Global Dynamics of News: Studies in International News Coverage and News Agenda|year=2000|url=http://books.google.com/?id=8Ucl0kvNaVAC&pg=PA24|accessdate=16&nbsp;Oktober 2008|publisher=[[Greenwood Publishing Group]]|location=Connecticut, United States|isbn=1-56750-462-0|chapter=A Matrix Model for Framing News Media Reality}}
* {{cite book|first=Stella|last=Quah|title=Friends in Blue: The Police and the Public in Singapore|year=1987|publisher=[[Oxford University Press]]|location=Selangor, Malaysia|isbn=0-19-588854-5|chapter=Sense of Security}}
* {{citation|first=Stella|last=Quah|title=Friends in Blue: The Police and the Public in Singapore|year=1987|publisher=[[Oxford University Press]]|location=Selangor, Malaysia|isbn=0-19-588854-5|chapter=Sense of Security}}
* {{cite book|first=Henry|last=Rowen|title=Behind East Asian Growth: The Political and Social Foundations of Prosperity|year=1998|url=http://books.google.com/?id=exB6PdLnb7MC&pg=PA117|accessdate=16&nbsp;November 2008|publisher=[[Taylor and Francis]]|location=London, United Kingdom|isbn=0-415-16520-2|chapter=Singapore's Model of Development: Is It Transferable?}}
* {{citation|first=Henry|last=Rowen|title=Behind East Asian Growth: The Political and Social Foundations of Prosperity|year=1998|url=http://books.google.com/?id=exB6PdLnb7MC&pg=PA117|accessdate=16&nbsp;November 2008|publisher=[[Taylor and Francis]]|location=London, United Kingdom|isbn=0-415-16520-2|chapter=Singapore's Model of Development: Is It Transferable?}}
* {{cite book|author=Thung Syn Neo|editor=Hodge, Peter|title=Community Problems and Social Work in Southeast Asia: The Hong Kong and Singapore Experience|year=1977|url=http://books.google.com/?id=-Qg5eR5xFYcC&pg=PA231|accessdate=13&nbsp;October 2008|publisher=Hong Kong University Press|location=Hong Kong|isbn=962-209-022-2|chapter=Needs and Community Services in Housing Estates}}
* {{citation|last=Thung |first=Syn Neo|editor=Hodge, Peter|title=Community Problems and Social Work in Southeast Asia: The Hong Kong and Singapore Experience|year=1977|url=http://books.google.com/?id=-Qg5eR5xFYcC&pg=PA231|accessdate=13&nbsp;Oktober 2008|publisher=Hong Kong University Press|location=Hong Kong|isbn=962-209-022-2|chapter=Needs and Community Services in Housing Estates}}
* {{cite book|last=Trocki|first=Carl|title=Singapore: Wealth, Power and the Culture of Control|year=2006|url=http://books.google.com/?id=SL1LI3hIRXYC&pg=PA146|accessdate=13&nbsp;October 2008|publisher=[[Routledge]]|location=Oxfordshire, United Kingdom|isbn=0-415-26385-9|chapter=The Managed, Middle-class, Multiracial Society}}
* {{citation|last=Trocki|first=Carl|title=Singapore: Wealth, Power and the Culture of Control|year=2006|url=http://books.google.com/?id=SL1LI3hIRXYC&pg=PA146|accessdate=13&nbsp;Oktober 2008|publisher=[[Routledge]]|location=Oxfordshire, Britania Raya|isbn=0-415-26385-9|chapter=The Managed, Middle-class, Multiracial Society}}
* {{cite book|author=Sit Yin Fong|title=I Confess|year=1989|publisher=Heinemann Asia|location=Singapore|isbn=9971-64-191-7}} (court transcripts)
* {{citation|last=Sit |first=Yin Fong|title=I Confess|year=1989 a|publisher=Heinemann Asia|location=Singapura|isbn=9971-64-191-7}} (catatan pengadilan)
* {{cite book|author=Sit Yin Fong|title=Was Adrian Lim Mad?|year=1989|publisher=Heinemann Asia|location=Singapore|isbn=9971-64-192-5}} (court transcripts)
* {{citation|last=Sit |first=Yin Fong|title=Was Adrian Lim Mad?|year=1989 b|publisher=Heinemann Asia|location=Singapura|isbn=9971-64-192-5}} (catatan pengadilan)
* {{cite book|first=Jan|last=Uhde|coauthors=Uhde, Yvonne|title=Latent Images: Film in Singapore|year=2000|publisher=Oxford University Press|location=Selangor, Malaysia|isbn=0-19-588714-X|chapter=The Revival}}
* {{citation|first=Jan|last=Uhde|coauthors=Uhde, Yvonne|title=Latent Images: Film in Singapore|year=2000|publisher=Oxford University Press|location=Selangor, Malaysia|isbn=0-19-588714-X|chapter=The Revival}}
{{refend}}
{{refend}}


; Artikel berita
; Artikel surat kabar
{{refbegin|2}}
{{refbegin|2}}
* {{cite news |first=Ben |last=Davidson |title=Trials that rocked Singapore in the '80s |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=01&year=1990&date=02&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1990_489556 |format=fee required |work=[[The Straits Times]] |publisher=[[Singapore Press Holdings]] |location=Singapore |page=17 |date=2&nbsp;January 1990 |accessdate=28&nbsp;October 2008 }}
* {{citation |first=Ben |last=Davidson |title=Trials that rocked Singapore in the '80s |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=01&year=1990&date=02&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1990_489556 |format=berbiaya akses |work=[[The Straits Times]] |publisher=[[Singapore Press Holdings]] |location=Singapura |page=17 |year=2 Januari 1990 |accessdate=28&nbsp;October 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |first=Sandra |last=Davie |title=Father Brian Doro |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=11&year=1989&date=24&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1989_481061 |format=fee required |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=32 |date=24&nbsp;November 1989 |accessdate=28&nbsp;October 2008 }}
* {{citation |first=Sandra |last=Davie |title=Father Brian Doro |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=11&year=1989&date=24&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1989_481061 |format=berbiaya akses |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=32 |year=24 November 1989 |accessdate=28&nbsp;Oktober 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |last=Fernandez |first=Ivan |title=Action against docs in Adrian Lim case: Diagnose the delay |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=06&year=1990&date=25&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1990_600987 |format=fee required |work=[[The New Paper]] |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=12 |date=25&nbsp;June 1990 |accessdate=14&nbsp;November 2008 }}
* {{citation |last=Fernandez |first=Ivan |title=Action against docs in Adrian Lim case: Diagnose the delay |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=06&year=1990&date=25&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1990_600987 |format=berbiaya akses |work=[[The New Paper]] |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=12 |year=25 Juni 1990 |accessdate=14&nbsp;November 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |first=Christine |last=Khor |title=Big sweep by Singaporean works |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=09&year=1989&date=13&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1989_469506 |format=fee required |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=S2.2 |date=13&nbsp;September 1989 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}
* {{citation |first=Christine |last=Khor |title=Big sweep by Singaporean works |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=09&year=1989&date=13&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1989_469506 |format=berbiaya akses |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=S2.2 |year=13 September 1989 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |first=Christine |last=Khor |title=Book bang |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=10&year=1989&date=16&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1989_475898 |format=fee required |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=S2.1 |date=16&nbsp;October 1989 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}
* {{citation |first=Christine |last=Khor |title=Book bang |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=10&year=1989&date=16&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1989_475898 |format=berbiaya akses |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=S2.1 |year=16 Oktober 1989 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |author=Lee Yin Luen |title=Too evil to explore |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=05&year=1996&date=09&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1996_1443221 |format=fee required |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=26 |date=9&nbsp;May 1996 |accessdate=12&nbsp;November 2008 }}
* {{citation |last=Lee |first=Yin Luen |title=Too evil to explore |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=05&year=1996&date=09&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1996_1443221 |format=berbiaya akses |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=26 |year=9 Mei 1996 |accessdate=12&nbsp;November 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |author=Lee Yin Luen |title=Actor gives up Adrian Lim role |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=06&year=1996&date=04&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1996_1444268 |format=fee required |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=8 |date=4&nbsp;June 1996 |accessdate=12&nbsp;November 2008 }}
* {{citation |last=Lee |first=Yin Luen |title=Actor gives up Adrian Lim role |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=06&year=1996&date=04&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1996_1444268 |format=berbiaya akses |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=8 |year=4 Juni 1996 |accessdate=12&nbsp;November 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |first=Trudy |last=Lim |title=Adrian Lim doc back at work |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=10&year=1991&date=10&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1991_729489 |format=fee required |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=15 |date=10&nbsp;October 1991 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}
* {{citation |first=Trudy |last=Lim |title=Adrian Lim doc back at work |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=10&year=1991&date=10&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1991_729489 |format=berbiaya akses |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=15 |year=10 Oktober 1991 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |first=Calvin |last=Low |title=You, Q & eh? |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=12&year=1998&date=19&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1998_1768332 |format=fee required |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=S3 |date=19&nbsp;December 1998 |accessdate=28&nbsp;October 2008 }}
* {{citation |first=Calvin |last=Low |title=You, Q & eh? |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=12&year=1998&date=19&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1998_1768332 |format=berbiaya akses |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=S3 |year=19 Desember 1998 |accessdate=28&nbsp;Oktober 2008 |archive-date=2013-01-01 |archive-url=https://archive.today/20130101215318/http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=/WEB-INF/jsp/user/search_type_result.jsp&month=12&year=1998&date=19&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1998_1768332 |dead-url=yes }}
* {{cite news |first=Jeanmarie |last=Tan |title=Adrian Lim trailer too 'horrific'... |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=04&year=2002&date=24&docLanguage=en&documentId=nica_NP_2002_2408302 |format=fee required |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=16 |date=24&nbsp;April 2002 |accessdate=28&nbsp;October 2008 }}
* {{citation |first=Jeanmarie |last=Tan |title=Adrian Lim trailer too 'horrific'... |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=04&year=2002&date=24&docLanguage=en&documentId=nica_NP_2002_2408302 |format=berbiaya akses |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=16 |year=24 April 2002 |accessdate=28&nbsp;Oktober 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |author=Tan Ooi Boon |title=Defence that's too tough to prove |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=04&year=1997&date=20&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1997_1516009 |format=fee required |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=25 |date=20&nbsp;April 1997 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}
* {{citation |last=Tan |first=Ooi Boon |title=Defence that's too tough to prove |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=04&year=1997&date=20&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1997_1516009 |format=berbiaya akses |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=25 |year=20 April 1997 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |author=Tan Ooi Boon |title=Justice Sinnathuray retires |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=10&year=1997&date=07&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1997_1551158 |format=fee required |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=2 |date=7&nbsp;October 1997 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}
* {{citation |last=Tan |first=Ooi Boon |title=Justice Sinnathuray retires |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=10&year=1997&date=07&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1997_1551158 |format=berbiaya akses |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=2 |year=7 Oktober 1997 |accessdate=11&nbsp;November 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |author=Tan Ooi Boon |coauthors=Lim Seng Jin |title=Law enforcer got a taste of own medicine |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=09&year=1998&date=20&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1998_1695068 |format=fee required |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=16 |date=20&nbsp;September 1998 |accessdate=14&nbsp;November 2008 }}
* {{citation |last=Tan |first=Ooi Boon |coauthors=Lim Seng Jin |title=Law enforcer got a taste of own medicine |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=09&year=1998&date=20&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1998_1695068 |format=berbiaya akses |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=16 |year=20 September 1998 |accessdate=14&nbsp;November 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |first=K. C. |last=Vijayan |title=Man who lured wife to her murder hanged |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=12&year=2002&date=14&docLanguage=en&documentId=nica_ST_2002_2353166 |format=fee required |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=1 |date=14&nbsp;December 2002 |accessdate=28&nbsp;October 2008 }}
* {{citation |first=K. C. |last=Vijayan |title=Man who lured wife to her murder hanged |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=12&year=2002&date=14&docLanguage=en&documentId=nica_ST_2002_2353166 |format=berbiaya akses |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=1 |year=14 Desember 2002 |accessdate=28&nbsp;Oktober 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |first=Sonny |last=Yap |title=Of human interest |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=07&year=1995&date=15&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1995_1238735 |format=fee required |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=B3 |date=15&nbsp;July 1995 |accessdate=28&nbsp;October 2008 }}
* {{citation |first=Sonny |last=Yap |title=Of human interest |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=07&year=1995&date=15&docLanguage=en&documentId=nica_ST_1995_1238735 |format=berbiaya akses |work=The Straits Times |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=B3 |year=15 Juli 1995 |accessdate=28&nbsp;Oktober 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
* {{cite news |author=Yaw Yan Chong | coauthors=Ang, Dave |title=Jack: No prisoner liked Adrian Lim |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=09&year=1991&date=10&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1991_728312 |format=fee required |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapore |page=6 |date=10&nbsp;September 1991 |accessdate=28&nbsp;October 2008 }}
* {{citation |last=Yaw |first=Yan Chong |coauthors=Ang, Dave |title=Jack: No prisoner liked Adrian Lim |url=http://newslink.asiaone.com/user/OrderArticleRequest.action?order=&_sourcePage=%2FWEB-INF%2Fjsp%2Fuser%2Fsearch_type_result.jsp&month=09&year=1991&date=10&docLanguage=en&documentId=nica_NP_1991_728312 |format=berbiaya akses |work=The New Paper |publisher=Singapore Press Holdings |location=Singapura |page=6 |year=10 September 1991 |accessdate=28&nbsp;Oktober 2008 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}
{{refend}}
{{refend}}


; Internet
; Kutipan online
{{refbegin}}
{{refbegin}}
* {{Cite web |url=http://www.thedti.gov.za/econdb/raportt/Intexsius+2.html |title=Singapore / U.S. Foreign Exchange Rate: Singapore Dollars to One U.S. Dollar (Jan-1981 &ndash; May-2008 ) |accessdate=2009-01-02 |author=Economagic.com |work= |publisher=Department: Trade and Industry |location=Republic of South Africa }} {{Dead link|date=March 2012|bot=H3llBot}}
* {{Cite web |url=http://www.thedti.gov.za/econdb/raportt/Intexsius+2.html |title=Singapore / U.S. Foreign Exchange Rate: Singapore Dollars to One U.S. Dollar (Jan-1981 Mei-2008 ) |accessdate=2 Januari 2009 |author=Economagic.com |work= |publisher=Department: Trade and Industry |location=Republic of South Africa |archive-date=2009-02-14 |archive-url=https://web.archive.org/web/20090214171847/http://www.thedti.gov.za/econdb/raportt/Intexsius%2B2.html |dead-url=yes }}
{{refend}}
{{refend}}


==Pranala luar==
== Pranala luar ==
*[http://infopedia.nlb.gov.sg/articles/SIP_71_2005-02-02.html Singapore Infopedia: Adrian Lim Murders]
* [http://infopedia.nlb.gov.sg/articles/SIP_71_2005-02-02.html Singapore Infopedia: Adrian Lim Murders] {{Webarchive|url=https://web.archive.org/web/20080315062735/http://infopedia.nlb.gov.sg/articles/SIP_71_2005-02-02.html |date=2008-03-15 }}


{{coord|1|20|13|N|103|51|26|E|source:kolossus-frwiki|display=title}}
{{coord|1|20|13|N|103|51|26|E|source:kolossus-frwiki|display=title}}
{{featured article}}
{{featured article}}
[[Category:Pembunuhan pada tahun 1981]]
[[Category:Kejahatan yang menyerang anak-anak]]
[[Category:Pembunuhan di Singapura]]
[[Category:Kejahatan seksual]]
[[Category:Singapura dalam tahun 1981]]
[[Category:Toa Payoh]]
[[Category:Tokoh Singapura]]


[[Kategori:Pembunuhan tahun 1981]]
{{Link FA|en}}
[[Kategori:Kejahatan yang menyerang anak-anak]]
{{Link FA|eo}}
[[Kategori:Pembunuhan di Singapura]]
{{Link FA|fr}}
[[Kategori:Kejahatan seksual]]
[[Kategori:Singapura dalam tahun 1981]]
[[Kategori:Toa Payoh]]
[[Kategori:Tokoh Singapura]]

Revisi terkini sejak 5 Agustus 2021 23.25

Pas foto dari seorang pria: ia memiliki dagu yang gemuk serta kumis dan jenggot pendek. Rambutnya disisir ke belakang.
Adrian Lim menipu banyak wanita agar memberinya uang dan pelayanan seksual, serta membunuh anak-anak demi mengalihkan penyelidikan polisi terhadap dirinya.

Ritual pembunuhan Toa Payoh terjadi di Singapura pada tahun 1981. Pada tanggal 25 Januari, mayat seorang anak perempuan berusia sembilan tahun ditemukan tergeletak di sebelah lift di suatu blok apartemen di distrik Toa Payoh dan—dua minggu kemudian—seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun ditemukan tewas tak jauh dari tempat tersebut. Anak-anak tersebut merupakan korban pembunuhan, yang diduga telah dijadikan tumbal bagi dewi Hindu Kali. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh Adrian Lim, seorang cenayang gadungan, yang menipu sejumlah wanita dengan mengaku sebagai orang berkekuatan gaib. Korbannya dimintai uang dan pelayanan seksual dengan iming-iming obat, kecantikan, dan keberuntungan. Dua wanita korbannya menjadi asisten setianya; Tan Mui Choo menikah dengan Lim, dan Hoe Kah Hong menjadi salah satu "istri suci"-nya. Ketika pihak polisi menyelidiki suatu tuduhan pemerkosaan yang dilaporkan oleh salah satu korban Lim, ia menjadi gusar dan memutuskan untuk membunuh anak-anak demi mengalihkan perhatian polisi. Pada setiap kesempatan, Hoe memancing anak-anak untuk masuk ke apartemen Lim agar dapat diberi obat penghilang kesadaran, kemudian dibunuh oleh Lim dan asistennya. Lim juga melakukan serangan seksual pada anak perempuan sebelum membunuhnya. Ketiganya ditangkap setelah polisi menemukan jejak bercak darah yang mengarah ke apartemen mereka. Walaupun nama kasus ini memiliki sebutan pembunuhan ritualistis,[1][2] para terdakwa mengaku bahwa mereka tidak melakukan persembahyangan, membakar hio, membunyikan lonceng, atau ritus apapun ketika melakukan pembunuhan.[3]

Persidangan yang memakan waktu selama 41 hari itu merupakan persidangan terlama kedua yang diselenggarakan di pengadilan Singapura pada waktu itu. Tiada terdakwa yang membantah kesalahan mereka. Agar terhindar dari hukuman mati, tim pembela mengajukan pertimbangan bahwa para terdakwa mengidap masalah mental dan tidak dapat bertanggung jawab sepenuhnya atas pembunuhan tersebut. Untuk mendukung pernyataan itu, para dokter dan ahli psikologi didatangkan untuk menganalisis terdakwa dan membuat kesimpulan bahwa terdakwa mengidap skizofrenia, depresi kejiwaan, dan hipomania. Namun, jaksa menyanggah keterangan tersebut dan berpendapat bahwa para terdakwa berada dalam kondisi sadar sepenuhnya ketika merencanakan dan menjalankan pembunuhan. Para hakim sepakat dengan gugatan jaksa sehingga mereka bertiga dijatuhi hukuman mati. Setelah menerima keputusan hukuman mati, istri Lim mengajukan banding kepada Dewan Penasihat di London dan memohon pengampunan dari Presiden Singapura, namun tidak berhasil. Sementara itu, Lim tidak mencari pengampunan apapun. Sebaliknya, dia menerima nasibnya dan tersenyum saat menanti hukuman mati. Ketiganya digantung pada tanggal 25 November 1988.

Ritual pembunuhan Toa Payoh mengegerkan publik di Singapura, karena tindakan mengejutkan semacam itu telah terjadi di lingkungan mereka. Berita aksi ketiganya dan proses pengadilan tersebut terus terbayang-bayang dalam ingatan warga Singapura selama beberapa tahun. Sebanyak dua kali, rumah produksi film mencoba untuk memanfaatkan sensasi berita itu dengan membuat film berdasarkan pembunuhan tersebut; namun, para kritikus menyatakan bahwa kedua film yang diproduksi terlalu mengumbar adegan hubungan seks dan kekerasan, dan tidak berhasil meraup untung di pasaran. Tindakan dan perilaku tiga pembunuh tersebut telah dikaji oleh para mahasiswa dalam bidang psikologi kriminal, dan hukum yang ditetapkan oleh mahkamah menjadi studi kasus lokal dalam hal diminished responsibility.

Masyarakat Singapura pada tahun 1980-an

Siapa pun yang berkata bahwa Singapura membosankan dan terlalu bersih akan mengabaikan kejahatan menggegerkan yang dilakukan oleh penjahat yang tiada duanya seperti ... perwujudan kejahatan itu sendiri — Adrian Lim ...

Sonny Yap, The Straits Times, 15 Juli 1995.[4]

Awal abad ke-19, imigran membanjiri Semenanjung Malaysia, menduduki Negeri-Negeri Selat termasuk kota-pulau Singapura. Warga pendatang dan pribumi memiliki kepercayaan yang berbeda, namun seiring berjalannya waktu, perbedaan antar-kepercayaan tersebut kian memudar. Sebagian penduduk percaya akan roh-roh yang menghuni hutan-hutan, serta yakin bahwa dewa dan setan berkeliaran di sekitar mereka, yang dianggap dapat berbuat baik atau jahat terhadap manusia. Orang-orang tertentu mengklaim bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan para makhluk gaib tersebut. Melalui beberapa ritus yang melibatkan tarian dan pemanggilan, orang-orang yang memiliki kekuatan cenayangtang-kee dan bomoh—mengundang makhluk gaib tersebut agar merasuki tubuh mereka untuk memberikan wejangan, berkat, dan bahkan kutukan, yang dilakukan demi orang-orang yang percaya kepada mereka. Seiring waktu berjalan dan kota-kota makin berkembang, banyak lahan hutan dibabat untuk pendirian bangunan beton sehingga praktik cenayang menjadi makin terdesak jauh ke tengah masyarakat.[5]

Pada tahun 1980, 75% warga Singapura tinggal di rumah susun.[6] Apartemen bertingkat tinggi yang dibangun pemerintah tersebar di pusat kota, dan distrik Toa Payoh adalah salah satunya. Meskipun setiap blok padat penduduk, banyak para penghuninya yang menutup diri, menjaga privasi mereka, dan cenderung tidak memedulikan apa yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka.[7][8] Pada saat itu, masyarakat Singapura relatif damai, kontras dengan prevalensi perkumpulan rahasia, triad, dan pertikaian antar-geng pada saat pra-kemerdekaan. Tingkat kejahatan yang rendah, dikarenakan oleh hukum yang ketat dan penegakan yang tangguh,[9] memberikan rasa aman bagi para warga.[10] Meskipun demikian, pemerintah memperingatkan masyarakat agar tidak cepat puas dan memberi penyuluhan dalam kampanye lokalnya, bahwa "tingkat kejahatan yang rendah bukan berarti tidak ada kejahatan".[11] Pada tahun 1981, tiga warga Singapura melakukan sebuah kejahatan yang menggegerkan negara tersebut.

Dua pembunuhan, tiga penangkapan

Bangunan bertingkat tinggi berdiri berjajar satu sama lain dipinggir jalan. Sebuah unit blok apartemen di sebelah kanan disorot dengan warna mereka.
Apartemen Lim (ditandai dengan warna merah) berada di Blok 12 (kanan), Toa Payoh Lorong 7. Pada tahun 2008, bangunan yang ada di dekatnya yakni Blok 10 dan 11 (tengah dan kiri) telah diganti dengan bangunan yang lebih tinggi.

Selama beberapa tahun, seorang cenayang di Blok 12, Toa Payoh Lorong 7, kerap melakukan ritus yang bising pada tengah malam. Penduduk sekitar mengeluhkan hal tersebut sehingga melapor kepada pihak berwajib beberapa kali, tetapi praktik ritual tersebut dilanjutkan kembali dalam waktu singkat.[12] Pada sore hari, tanggal 24 Januari 1981, seorang anak berusia 9 tahun bernama Agnes Ng Siew Hock (Hanzi sederhana: 黄秀叶; Hanzi tradisional: 黃秀葉; Pinyin: Huáng Xìuyè) menghilang setelah mengikuti pelajaran agama di suatu gereja di Toa Payoh. Beberapa jam kemudian, mayatnya ditemukan terbungkus tas di luar lift di Blok 11, kurang dari satu kilometer (⅝ mil) dari gereja. Gadis tersebut didapati tewas karena kehabisan napas. Hasil penyelidikan mengungkapkan adanya luka pada alat kelaminnya, dan air mani pada duburnya. Walaupun polisi telah melakukan penyelidikan intensif—menanyai lebih dari 250 orang di sekitar tempat kejadian—mereka gagal untuk memperoleh petunjuk apapun. Pada tanggal 7 Februari, seorang anak berusia sepuluh tahun bernama Ghazali bin Marzuki ditemukan meninggal di bawah pohon antara Blok 10 dan 11. Ia telah menghilang sehari sebelumnya, setelah terlihat menaiki taksi dengan seorang wanita yang tak dikenal. Tim forensik di tempat kejadian memperkirakan penyebab kematiannya adalah tenggelam. Tidak ada tanda-tanda serangan seksual, tetapi terdapat luka bakar di punggung dan bekas tusukan di lengannya. Unsur obat tidur ditemukan di dalam darahnya.[13]

Polisi menemukan bercak darah berceceran yang menuju ke lantai tujuh Blok 12. Saat menelusuri koridor setelah menaiki tangga, Inspektur Pereira mendapati simbol-simbol religius yang eklektik (salib, cermin, dan sebilah pisau) pada pintu masuk flat pertama (unit nomor 467F). Pemilik apartemen, Adrian Lim, menyambut sang inspektur dan memperkenalkan dirinya. Ia memberi tahu Pereira bahwa ia tinggal dengan istrinya, Tan Mui Choo, dan teman wanitanya, Hoe Kah Hong. Setelah Lim mengizinkan Inspektur Pereira untuk memeriksa kediamannya, akhirnya polisi menemukan bercak darah. Pada mulanya, Lim menjelaskan bahwa bercak tersebut berasal dari lelehan lilin, tetapi setelah didesak, ia menjelaskan bahwa bercak tersebut adalah darah ayam.[14] Setelah polisi menemukan potongan kertas yang mengandung informasi pribadi anak-anak yang telah tewas, Lim berusaha menghilangkan kecurigaan dengan berdalih bahwa Ghazali pernah datang ke apartemen tersebut untuk meredakan mimisan.[15] Secara diam-diam, Lim menyingkirkan sejumput rambut di bawah karpet dan mencoba untuk membuangnya ke toilet, tetapi polisi menghalanginya. Tim forensik melakukan pengujian dan menyimpulkan bahwa rambut tersebut adalah rambut Agnes Ng.[16] Saat mengorek informasi pribadi Lim, Inspektur Pereira mendapat info dari polisi setempat bahwa Lim adalah orang yang sedang didakwa atas kasus pemerkosaan pada saat itu. Lim mendengar percakapan para polisi dan menjadi gelisah, kemudian ia berteriak di hadapan para aparat. Aksinya ditiru oleh Hoe dengan cara mengamuk dan berteriak kepada para aparat. Tindakan tersebut menguatkan kecurigaan bahwa mereka telah terlibat dalam suatu pembunuhan. Akhirnya pihak polisi mengumpulkan bukti, menutup kediaman Lim sebagai tempat kejadian perkara, dan menahan Lim serta dua wanita tersebut untuk diinterogasi.[17]

Pelaku

Adrian Lim

Lahir pada tanggal 6 Januari 1942, Adrian Lim (Hanzi sederhana: 林宝龙; Hanzi tradisional: 林寶龍; Pinyin: Lín Bǎolóng) adalah putra sulung dari keluarga kelas menengah.[18] Ia dideskripsikan oleh saudara perempuannya sebagai anak yang pemarah.[19] Ia berhenti dari sekolah menengah dan bekerja singkat sebagai pemberi informasi untuk Departemen Keamanan Internal, bergabung dengan organisasi radio kabel Rediffusion Singapura pada tahun 1962. Selama tiga tahun, dia mengabdi di Rediffusion sebagai teknisi, sebelum dinaikkan pangkat menjadi pemungut cukai.[18] Pada bulan April 1967, Lim menikahi teman masa kecilnya dan memiliki dua anak. Ia menjadi umat Katolik karena pernikahannya.[20] Awalnya, Lim dan keluarganya tinggal di bilik sewaan, hingga akhirnya mampu membeli apartemen tiga ruang—unit lantai tujuh (unit nomor 467F) Blok 12, Toa Payoh—pada tahun 1970.[20]

Lim bekerja paruh waktu sebagai cenayang sejak tahun 1973. Ia menyewa sebuah ruangan tempat bertemu dengan para wanita pelanggannya—sebagian besar adalah perempuan bar, penari-penghibur, dan wanita tuna susila—yang diperkenalkan oleh induk semangnya.[21] Pelanggan Lim juga berasal dari kalangan pria dan ibu-ibu yang memercayai takhayul, yang ia tipu demi mendapatkan uang.[22] Ia mempelajari pekerjaan tersebut dari seorang bomoh yang dipanggil "Paman Willie", serta memuja para dewa dari berbagai agama meskipun telah dibaptis secara Katolik. Dewi India Kali, serta "Phragann"[a]—yang Lim anggap sebagai dewa seksualitas Siam[23]—adalah beberapa nama entitas spiritual yang ia panggil dalam ritualnya.[24] Lim menipu kliennya dengan beberapa trik konfidensi. Tipuannya yang paling efektif, yang dikenal sebagai trik "jarum dan telur", mampu menipu banyak orang agar memercayainya sebagai orang yang memiliki kekuatan supernatural. Setelah menghitamkan jarum menggunakan jelaga dari pembakaran lilin, secara hati-hati Lim memasukkannya ke dalam telur mentah dan menutup lubangnya dengan tepung. Dalam ritualnya, ia memberikan telur tersebut kepada kliennya setelah merapalkan jampi-jampi dan menyuruh kliennya untuk memecahkan telur tersebut. Tanpa mengetahui bahwa telur telah dimodifikasi, klien akan yakin bahwa jarum hitam di tengah telur tersebut merupakan bukti keberadaan roh-roh jahat yang mengganggu.[25]

Lim cenderung menjerat korban dari kalangan perempuan lugu yang memiliki masalah pribadi yang mendalam. Ia berjanji bahwa ia dapat membuang kesialan dan meningkatkan kecantikan mereka melalui ritus pemijatan. Setelah Lim dan kliennya menanggalkan pakaian, ia akan melakukan pemijatan di seluruh bagian tubuh—termasuk bagian kemaluan—dengan memakai boneka Phragann, lalu berhubungan intim dengan kliennya.[26] Lim juga mengadakan terapi elektro-syok yang berdasarkan pada alat untuk penderita gangguan mental. Setelah kaki kliennya direndam dalam ember dan pelipisnya ditempeli kabel, kemudian Lim mengalirkan listrik tegangan rendah.[27] Ia meyakinkan kliennya bahwa setrum yang diterima akan menyembuhkan sakit kepala dan mengusir roh jahat.[28]

Tan Mui Choo

Pas foto dari seorang perempuan: ia langsing, berwajah oval, dan rambutnya kusut.
Tan Mui Choo membantu Lim dalam praktik cenayangnya demi mendapatkan keuntungan.

Catherine Tan Mui Choo (Hanzi sederhana: 陈梅珠; Hanzi tradisional: 陳梅珠; Pinyin: Chén Méizhū) bertemu dengan Lim setelah diperkenalkan oleh temannya yang bekerja di bar, yang mengklaim bahwa Lim dapat menyembuhkan penyakit dan depresi.[29] Pada waktu itu, Tan bersedih atas kematian neneknya. Hubungan dengan orang tua yang renggang semakin mengganggu pikirannya. Ia pernah dimasukkan ke sebuah lembaga kejuruan pada usia 13 tahun (sebuah tempat yang banyak menampung anak-anak yang melakukan kenakalan remaja), sehingga merasa bahwa keberadaannya tidak diharapkan oleh orang tuanya sendiri.[30] Setelah Tan berkunjung ke tempat Lim sesering mungkin, hubungan mereka semakin akrab.[31] Pada tahun 1975, ia pindah ke apartemen Lim setelah Lim mendesaknya, meski saat itu Lim sudah beristri. Untuk menghilangkan kecurigaan atas dugaan perselingkuhan, Lim menyangkal dan bersumpah kepada istrinya di hadapan gambar Yesus Kristus. Namun, kebohongan Lim akhirnya terbongkar sehingga sang istri memutuskan untuk pindah tempat tinggal bersama anak-anaknya, lalu mereka bercerai pada tahun 1976.[32] Kemudian, Lim berhenti bekerja dari Rediffusion untuk fokus sebagai seorang cenayang sepanjang hari. Ia menikmati bisnis cepat,[33] dan pada suatu kesempatan meraup pendapatan S$6,000–7,000 (AS$2,838–3,311)[b] dalam satu bulan dari seorang klien.[35] Pada bulan Juni 1977, Lim dan Tan mendaftarkan pernikahan mereka.[36]

Lim menindas Tan dengan pemukulan, ancaman, dan kebohongan.[37] Lim juga membujuknya untuk menjual diri demi menambah penghasilan mereka.[38] Lim meyakinkan istrinya bahwa dirinya perlu berzina dengan wanita muda agar tetap sehat, sehingga Tan mau membantu bisnis suaminya, dan bersedia untuk menyiapkan klien demi kesenangan Lim.[39] Sugesti Lim terhadap Tan sangat kuat. Setelah Lim menganjurkan bahwa hubungan badan dengan pria yang lebih muda dapat mempertahankan kemudaan, maka Tan berhubungan badan dengan seorang remaja Melayu, dan bahkan dengan adik laki-lakinya sendiri.[36] Pemuda tersebut bukanlah satu-satunya kerabat yang dipengaruhi oleh Lim. Sebelumnya, cenayang tersebut merayu adik perempuan Tan dan menyuruhnya untuk menjual diri.[40] Meskipun teraniaya, Tan betah tinggal bersama Lim. Ia berbelanja pakaian dan produk kecantikan, serta mengikuti kursus pelangsingan dengan anggaran dari pendapatan mereka.[41]

Hoe Kah Hong

Pas foto dari seorang perempuan: wajahnya besar dan kotak serta berambut panjang.
Hoe Kah Hong sangat memercayai "kesaktian" Lim, dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintahnya.

Lahir pada tanggal 10 September 1955, Hoe Kah Hong (Hanzi sederhana: 何家凤; Hanzi tradisional: 何家鳳; Pinyin: Hé Jiāfèng) masih berumur delapan tahun ketika ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian tinggal bersama neneknya sampai berumur lima belas tahun. Ketika tinggal kembali bersama ibu dan saudaranya, ia merasa kerap diminta mengalah dari kakak perempuannya yang bernama Lai Ho. Karena menganggap ibunya lebih memanjakan kakaknya, maka Hoe menjadi tidak puas dan sering menunjukan kekesalannya.[42] Pada tahun 1979, ibunya mengantar Lai ke tempat Lim untuk mendapatkan pengobatan, dan terkesima akan kekuatan Lim setelah menyaksikan trik "jarum dan telur". Karena percaya bahwa sifat pemarah Hoe pasti dapat disembuhkan oleh Lim, maka Hoe pun diantar ke tempat Lim.[43] Setelah menyaksikan trik yang sama, Hoe pun menjadi pengikut setia Lim.[44][c] Lim ingin Hoe menjadi salah satu "istri suci"-nya, meskipun saat itu Hoe sudah menikah dengan Benson Loh Ngak Hua. Untuk mencapai tujuannya, Lim berusaha menjauhkan Hoe dari keluarganya dengan menceritakan sebuah kebohongan. Ia menyatakan bahwa keluarga Hoe adalah orang-orang tidak bermoral yang melakukan perselingkuhan, dan bahwa Loh adalah seorang pria yang tak dapat dipercaya yang akan memaksa Hoe menjadi pelacur. Hoe percaya akan perkataan Lim, dan setelah melalukan ritus, ia dinyatakan sebagai "istri suci" sang cenayang. Ia tidak lagi memercayai suami dan keluarganya, dan bersikap ketus terhadap ibunya. Tiga bulan setelah pertama kali bertemu dengan Lim, Hoe pindah dari rumahnya untuk menetap bersama Lim.[46]

Loh mencari istrinya di apartemen Lim dan mendapati bahwa istrinya sedang mendapatkan perawatan. Akhirnya ia dibujuk untuk mengikuti terapi elektro-syok. Pada pagi hari tanggal 7 Januari 1980, Loh duduk bersama Hoe, dengan lengan yang sama-sama terikat dan kaki terendam dalam ember yang berbeda. Lim mengalirkan listrik tegangan tinggi kepada Loh, yang berujung pada kematian, sementara Hoe tak sadarkan diri. Ketika terbangun, Lim menyuruh Hoe untuk berbohong kepada polisi mengenai kematian Loh. Hoe pun memberikan keterangan palsu dari cerita yang direka Lim, dengan menyatakan bahwa suaminya tersetrum di kamar tidur saat mencoba untuk menyalakan kipas angin listrik dalam kondisi gelap gulita.[47] Koroner pun mencatat keputusan terbuka,[48] dan polisi tidak melakukan investigasi lebih lanjut.[49]

Meskipun bersikap antipati terhadap Loh, Hoe bersedih atas kematian suaminya. Kewarasannya pun mulai hilang. Ia mulai mendengar suara-suara dan berhalusinasi tentang sosok suaminya yang sudah meninggal. Pada akhir Mei, ia dirawat di Rumah Sakit Woodbridge. Di sana, psikolog menyatakan bahwa Hoe menderita skizofrenia sehingga ia pun diberikan penanganan yang sesuai. Hoe kemudian pulih dengan sangat cepat. Pada minggu pertama di bulan Juli, ia keluar dari rumah sakit. Ia melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit tersebut, dan pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa dia berada dalam keadaan pemulihan. Sikap Hoe terhadap ibu dan anggota keluarganya yang lain mulai membaik setelah mendapat perawatan di rumah sakit, meskipun ia memutuskan untuk tetap tinggal bersama Lim dan Tan.[50]

Pemerkosaan dan balas dendam

Lim melanjutkan bisnis haramnya, dengan Hoe dan Tan sebagai asisten. Ia menipu banyak wanita agar mendapatkan uang dan pelayanan seksual.[49] Pada saat ditangkap atas kasus pembunuhan, Lim memiliki 40 "istri suci".[51] Sebelumnya, pada akhir 1980, Lim pernah ditangkap dan didakwa atas kasus pemerkosaan. Pelapornya adalah Lucy Lau, seorang pedagang kosmetik keliling, yang bertemu dengan Lim ketika menawarkan produk kecantikan kepada Tan. Pada tanggal 19 Oktober, Lim berkata kepada Lau bahwa sesosok hantu sedang menggentayangi perempuan tersebut, namun bisa diusir asalkan Lau mau melakukan ritus seksual. Lim meyakinkan Lau dengan menggebu-gebu, meskipun perempuan tersebut bersikap skeptis. Secara diam-diam, Lim mencampur dua kapsul Dalmadorm (sebuah obat penenang) dalam segelas susu dan menawarkannya kepada Lau, dengan klaim bahwa itu adalah obat suci. Setelah meminumnya, Lau menjadi mabuk, sehingga memberi kesempatan bagi Lim untuk melakukan kejahatan.[49] Selama beberapa minggu berikutnya, Lim terus merogol Lau dengan memakai obat-obatan atau ancaman. Pada bulan November, setelah Lim memberikan pinjaman kepada orang tua Lau dalam jumlah yang lebih kecil daripada yang diminta, Lau membuat laporan ke polisi terkait perlakuan buruk yang diberikan oleh Lim. Lim ditangkap atas tuduhan pemerkosaan, sedangkan Tan ditangkap karena bersekongkol dengannya. Atas sebuah jaminan, Lim membujuk Hoe agar membuat kesaksian palsu bahwa Hoe hadir pada hari saat dugaan pemerkosaan terjadi, tapi tidak melihat adanya aksi kejahatan apapun. Usaha ini gagal menghentikan penyelidikan polisi. Lim dan Tan harus memperpanjang jaminan pereka, secara pribadi, di kantor polisi setiap dua minggu.[52]

Berbagai gambar dan patung tersusun di atas meja kecil dan dinding menghadap ke depan. Sebuah cermin bulat kecil menggantung di atas koleksi barang-barang religius tersebut.
Lim berdoa (di altar ini) kepada Buddha, Phragann, Kali, dan berbagai dewa-dewa.

Karena frustrasi, Lim berencana untuk mengalihkan perhatian polisi dengan serangkaian kasus pembunuhan anak-anak.[53] Di samping itu, ia percaya bahwa dengan mengorbankan anak-anak kepada Dewi Kali, maka dirinya akan diberi kekuatan untuk menjauhkan perhatian polisi. Lim berpura-pura dirasuki oleh Dewi Kali, dan meyakinkan Tan dan Hoe bahwa dewi tersebut ingin mereka membunuh anak-anak untuk membalas dendam kepada Lau.[54] Dia juga berkata bahwa Phragann mewajibkannya untuk berhubungan intim dengan korban berjenis kelamin perempuan.[55]

Pada tanggal 24 Januari 1981, Hoe melihat gadis kecil bernama Agnes di dekat sebuah gereja dan membujuknya untuk masuk ke apartemen Lim. Ketiganya memberikan makanan dan minuman yang dicampur dengan Dalmadorm. Setelah Agnes mabuk lalu tertidur, Lim memerkosa anak tersebut. Pada saat hampir tengah malam, ketiganya mencekik Agnes dengan sebuah bantal, lalu mengambil darahnya, meminumnya, dan mengoleskannya pada lukisan Kali. Setelah itu, mereka membenamkan kepala gadis tersebut ke dalam seember air.[56] Terakhir, Lim menggunakan alat terapi elektro-syok miliknya untuk "memastikan bahwa korbannya telah meninggal".[57] Mereka memasukkan tubuh Agnes ke dalam sebuah tas dan membuangnya di dekat sebuah lift Blok 11.[56]

Ghazali mengalami nasib yang sama ketika dibawa oleh Hoe ke apartemen Lim pada tanggal 6 Februari. Namun, ketika diberikan obat penenang, anak tersebut membutuhkan waktu lama untuk tertidur. Lim mengikat anak tersebut untuk berjaga-jaga, namun anak tersebut malah terbangun dan memberontak. Karena panik, ketiganya melakukan tebasan karate ke leher Ghazali sampai anak tersebut pingsan. Mereka membenamkan korban ke dalam air setelah mengambil darahnya. Ghazali sempat memberontak, muntah, dan kehilangan kesadaran lalu meninggal. Darah terus mengucur dari hidungnya, bahkan setelah kematiannya. Kemudian, Tan membereskan apartemen, sementara Lim dan Hoe pergi membuang jenazah korbannya. Ketika Lim melihat bercak darah bertebaran dari arah apartemen, ia dan rekannya berusaha untuk membersihkan noda tersebut sedapat mungkin sebelum matahari terbit.[58] Namun, noda yang tidak berhasil dihilangkan menyebabkan polisi berhasil melacak jejak mereka sehingga mereka pun ditangkap.

Pengadilan

Dua hari setelah tertangkap, Lim, Tan, dan Hoe didakwa di pengadilan daerah atas kasus pembunuhan dua anak-anak. Ketiganya diinterogasi lebih lanjut oleh polisi, dan menjalani pemeriksaan medis oleh para dokter lapas. Pada 16–17 September, kasus mereka dibawa ke pengadilan untuk prosedur berkomitmen. Untuk membuktikan keterlibatan para terdakwa atas kasus tersebut, maka Jaksa Penuntut Umum Glenn Knight memanggil 58 saksi dan menyusun 184 lembar bukti sebelum diserahkan kepada hakim. Tan dan Hoe membantah tuduhan pembunuhan tersebut, sedangkan Lim mengaku bersalah dan bersedia bertanggung jawab sendirian atas perbuatannya. Hakim memutuskan bahwa kasus yang melibatkan terdakwa cukup kuat untuk dibawa ke Pengadilan Tinggi. Lim, Tan, dan Hoe mendekam dalam tahanan selama pemeriksaan lebih lanjut.[59]

Perkara, tuntutan, dan pembelaan

Sebuah kubah terdapat diatas gedung tersebut, yang berada di pinggir jalan. Bangunan besar ini memiliki pintu masuk ditengahnya dan disangga dengan pilar.
Kasus pembunuhan tersebut diacarakan di Ruang Dewan No. 4 Gedung Mahkamah Agung lama.

Pengadilan Tinggi diselenggarakan di Gedung Mahkamah Agung pada tanggal 25 Maret 1983.[60] Kasus ini dipimpin oleh dua hakim: Hakim Thirugnana Sampanthar Sinnathuray (hakim yang melangsungkan pengadilan terhadap pembunuh berantai John Martin Scripps 13 tahun kemudian[61]) dan Hakim Frederick Arthur Chua (pada waktu itu menjadi hakim yang menjabat paling lama di Singapura).[62] Knight terus mengusut kasus tersebut dengan mengumpulkan bukti melalui jasa detektif. Foto-foto TKP serta keterangan para saksi dapat membantu pengadilan untuk memberi gambaran peristiwa yang mengarah pada kejahatan tersebut. Bukti-bukti lain—sampel darah, objek keagamaan, obat-obatan, dan sebuah catatan dengan nama Ng dan Ghazali—memperkuat bukti keterlibatan terdakwa. Knight tidak berhasil mendapatkan saksi mata pembunuhan tersebut. Bukti yang diperolehnya bersifat tidak langsung, tapi ia berkata di hadapan pengadilan, "Masalahnya adalah [terdakwa] sengaja membekap dan menenggelamkan kedua anak tak bersalah sampai menyebabkan kematian, sehingga aksi tersebut layak disebut pembunuhan. Dan inilah yang akan kita buktikan untuk mengatasi semua keraguan."[63]

Tan—atas izin Lim dan polisi—menggunakan $10,000 dari $159,340[64] (AS$4,730 dari AS$75,370) yang diambil dari apartemen mereka untuk membayar J. B. Jeyaretnam sebagai pengacara.[65][66] Hoe harus menerima tawaran pengadilan dengan menerima Nathan Isaac sebagai pembelanya. Sejak penangkapannya, Lim menolak untuk didampingi kuasa hukum. Ia membela dirinya sendiri di sidang pengadilan daerah,[67] namun tidak dapat terus demikian ketika kasus itu dibawa ke Pengadilan Tinggi. Hukum Singapura mensyaratkan bahwa dalam setiap perkara kejahatan, terdakwa harus dibela oleh seorang ahli profesional. Maka dari itu, Howard Cashin diangkat sebagai pengacara Lim,[68] meskipun Lim menolak untuk bekerja sama dengannya.[69] Tiga pengacara memutuskan untuk tidak membantah bahwa klien mereka telah membunuh anak-anak. Dengan mengacu pada kaidah tindakan yang tak dapat dipertanggungjawabkan, mereka meyakinkan pengadilan bahwa pikiran para terdakwa sedang tidak terkendali saat pembunuhan berlangsung sehingga tidak dapat bertanggung jawab sepenuhnya atas aksi tersebut.[70] Jika pembelaan ini berhasil, para terdakwa akan lolos dari hukuman mati dan menghadapi hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman 10 tahun penjara.[71]

Jalan pengadilan

Setelah Jaksa Knight memperlihatkan bukti tuntutan, pengadilan mendengarkan kesaksian tentang kepribadian dan keburukan watak terdakwa, dari keluarga dan kenalan terdakwa. Rincian hidup para terdakwa diungkapkan oleh salah satu "istri suci" Lim. Praktisi medis Dr. Yeo Peng Ngee dan Dr. Ang Yiau Hua mengaku bahwa merekalah yang menyediakan obat yang dipakai Lim, dan memberikan obat tidur serta obat penenang tanpa pertanyaan pada saat berkonsultasi.[72][d] Polisi dan tim forensik membeberkan hasil investigasi mereka; Inspektur Suppiah, petugas yang bertanggung jawab dalam penyelidikan, membacakan pernyataan para terdakwa semasa mereka ditahan. Dalam pernyataan tersebut, Lim mengaku bahwa ia membunuh untuk balas dendam, dan ia telah menyodomi Ng. Terdakwa juga mengonfirmasi bahwa masing-masing dari mereka terlibat aktif dalam pembunuhan tersebut.[75] Ada banyak kontradiksi antara pernyataan tersebut dengan pengakuan yang diungkapkan di pengadilan, namun Hakim Sinnathuray menyatakan bahwa meskipun bukti-bukti bertentangan, "fakta-fakta utama dari kasus ini tidak dapat diragukan lagi".[76] Keterlibatan Lim dalam kejahatan itu dibuktikan oleh seorang saksi yang bersumpah bahwa pada tengah malam tanggal 7 Februari 1981, di lantai dasar Blok 12, ia melihat Lim dan seorang wanita berjalan dengan seorang anak laki-laki berkulit gelap.[77]

Terdakwa Lim
Tidak ada komentar.
Hakim Sinnathuray
Tidak, tidak. Tidak, Adrian Lim. Anda tidak boleh terus berkata seperti itu pada saya. (Kepada Cashin) Orang ini saksi Anda.
Pengacara Cashin
Yang Mulia, sekarang Anda tahu bahwa betapa sulitnya berurusan dengan saksi yang satu ini.

Catatan pengadilan menggambarkan kefrustrasian pengadilan terhadap perilaku Lim[69]

Pada 13 April, Lim akhirnya memberikan pernyataan. Dia menyatakan bahwa dirinyalah pelaku kejahatan tunggal.[78] Ia membantah telah memerkosa Lucy Lau atau Ng, dan mengklaim bahwa pernyataan sebelumnya hanya dibuat untuk memuaskan para penyelidik.[79][80] Lim bersikap selektif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh pengadilan; ia tidak bertele-tele dalam menjawab orang-orang yang mendukung pendiriannya, dan menolak untuk mengomentari hal yang lain.[78] Ketika pengadilan meragukan kebenaran dari pengakuannya yang terbaru, Lim mengklaim telah terikat oleh kewajiban agama dan moral untuk berkata sejujurnya.[81] Namun, Knight menyatakan bahwa Lim adalah seorang pria pembohong yang mengacuhkan sumpah. Lim telah berbohong kepada istrinya, pelanggannya, para polisi, dan psikiater. Knight mengklaim bahwa sikap Lim di pengadilan merupakan pengakuan langsung bahwa ia sengaja berbohong dalam pernyataannya sebelumnya.[82] Tan dan Hoe bersikap lebih kooperatif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pengadilan. Mereka membantah cerita Lim, dan menjamin kebenaran laporan pernyataan mereka yang telah diberikan kepada polisi.[83] Mereka menceritakan bagaimana mereka hidup dalam ketakutan dan kekaguman atas Lim. Mereka percaya bahwa Lim memiliki kekuatan gaib, dan mereka mengikuti setiap perintahnya tanpa memiliki kehendak bebas.[84] Setelah Knight bertanya, akhirnya Tan mengakui bahwa Lim telah menipu pelanggannya, dan ia dengan sengaja membantu Lim melakukan aksi kejahatan.[85] Knight mendapati pengakuan yang kondusif dari kesaksian Hoe, bahwa mereka sadar akan tindakannya pada waktu pembunuhan terjadi.[86]

Pertikaian para psikiater

Tidak ada yang menyangkal bahwa Lim, Tan, dan Hoe telah membunuh anak-anak. Para pengacara mereka meyakinkan para hakim bahwa secara medis, para terdakwa tidak sadar sepenuhnya saat melakukan kejahatan. Oleh karena itu, jalannya persidangan menjadi ajang pertikaian antara saksi-saksi ahli yang dipanggil oleh kedua belah pihak. Dr. Wong Yip Chong—seorang psikiater senior yang membuka praktik swasta—percaya bahwa Lim menderita gangguan mental pada saat melakukan kejahatan. Dengan klaim bahwa "dilihat dari garis besarnya, tanpa ambil pusing tentang hal-hal yang bertentangan",[87] ia berkata bahwa nafsu seksual Lim yang tinggi dan kepercayaan delusif pada Dewi Kali adalah karakteristik dari seorang hipomaniak. Dokter tersebut juga berkata bahwa hanya orang tidak waras yang mau membuang mayat di dekat rumahnya jika ia berencana untuk mengalihkan perhatian polisi.[88] Klaim tersebut dibantah oleh seorang saksi ahli yang dipanggil oleh jaksa penuntut, Dr. Chee Kuan Tsee, seorang psikiater di Rumah Sakit Woodbridge.[89] Ia berkata bahwa Lim "benar-benar merencanakan aksinya, berhati-hati dalam tindak-tanduknya, dan bersikap persuasif dalam penampilannya demi pencitraan dan kesenangan pribadi".[90] Menurut opini Dr. Chee, Lim kecanduan seks karena perannya sebagai cenayang telah memberinya pasokan wanita yang bersedia untuk diajak berhubungan badan. Selain itu, keyakinannya pada Kali adalah sikap religius yang alami, bukan sikap delusif. Pemanfaatan agama untuk kepentingan pribadi merupakan indikasi bahwa Lim benar-benar sadar akan tindakan yang dilakukannya. Terakhir, Lim pernah berkonsultasi pada dokter dan mengambil obat penenang untuk mengobati insomnianya, suatu kondisi yang menurut Dr.Chee tidak mungkin dilakukan oleh seorang penderita hipomania.[91]

Dr.R. Nagulendran, seorang psikiater konsultan, bersaksi bahwa Tan mengalami gangguan mental depresi kejiwaan relatif. Menurutnya, Tan mengalami depresi sebelum bertemu Lim yang disebabkan oleh latar belakang keluarganya. Kekerasan fisik dan ancaman dari Lim telah memperdalam depresinya; penyalahgunaan obat-obatan membuatnya berhalusinasi dan memercayai kebohongan Lim.[90] Dr.Chee tidak sependapat; ia berkata bahwa Tan mengaku cukup senang dengan gaya hidup mewah yang diberikan Lim kepadanya, serta menikmati pakaian bagus dan mendapatkan perawatan di salon kecantikan. Seorang penderita depresi psikotik reaktif tidak akan memerhatikan penampilannya sebagaimana yang dilakukan Tan. Selain itu, Tan pernah mengaku bahwa ia sudah tahu Lim adalah seorang penipu, namun mengubah pendiriannya di pengadilan dengan mengklaim bahwa ia bertindak di bawah pengaruh Lim. Meskipun dalam pertimbangannya Dr.Chee mengabaikan kekerasan yang diterima Tan, ia secara tegas berpendapat bahwa Tan bermental sehat pada saat kejahatan terjadi.[92] Dr. Nagulendran dan Dr.Chee bersepakat bahwa Hoe menderita skizofrenia berkepanjangan sebelum bertemu Lim, dan perawatan di Rumah Sakit Woodbridge telah membantu pemulihan dirinya. Dr.Nagulendran yakin bahwa Hoe mengalami kambuh pada saat terjadinya pembunuhan anak-anak, namun Dr.Chee menunjukkan bahwa tiada satu pun dokter Woodbridge yang melihat tanda-tanda kambuh selama enam bulan masa pemeriksaan lanjut (16 Juli 1980 – 31 Januari 1981).[93][94] Jika Hoe benar-benar mengalami gangguan karena kondisi kesehatannya — sebagaimana penjelasan Dr.Nagulendran — maka dia adalah seorang penderita cacat mental. Sebaliknya, secara cerdik ia menculik anak-anak dan sudah membantu Lim membunuh anak-anak pada dua kesempatan.[93] Pada akhir pernyataannya, Dr.Chee menyatakan bahwa perkara ini luar biasa karena tiga orang dengan penyakit mental yang berbeda dapat mengalami delusi yang sama tentang titah dewa untuk membunuh orang.[95]

Pernyataan akhir

Dalam penuturan akhir mereka, para pengacara mencoba untuk memperkuat gambaran bahwa klien mereka merupakan individu yang mengalami gangguan mental. Pengacara Cashin mengatakan bahwa Lim adalah seorang pria normal, sampai perkenalannya pada dunia okultisme, dan menambahkan bahwa Lim telah menjauhkan diri dari kenyataan ketika memasuki "dunia mengerikan yang tidak masuk akal", bertindak menurut delusinya sendiri untuk membunuh anak-anak atas nama Kali.[96] Pengacara Jeyaretnam mengatakan bahwa akibat depresi dan pelecehan yang dilakukan oleh Lim, maka Tan menjadi "sebuah robot", melaksanakan perintah tanpa berpikir.[97] Pengacara Isaac hanya menyimpulkan, "pikiran skizofrenia [Hoe] menganggap bahwa jika anak-anak dibunuh, maka mereka akan masuk surga dan tidak tumbuh menjadi orang jahat seperti ibunya dan orang lain."[98] Pengacara pun mengkritik Dr. Chee karena gagal mengenali gejala klien mereka.[90][98]

Jaksa memulai pidato penutupnya dengan menggarisbawahi cara "kejam dan penuh perhitungan" yang digunakan untuk membunuh anak-anak tersebut.[99] Jaksa Knight juga berpendapat bahwa para terdakwa tidak mengalami delusi yang sama, hanya mengarang cerita tersebut pada saat pengadilan berlangsung.[98] Tindakan "licik dan penuh perhitungan" dalam aksi kejahatan mereka tidak mungkin dilakukan oleh orang yang mengalami delusi.[99] Tan membantu Lim karena "dia cinta [padanya]", dan Hoe hanya mengalami kesesatan sehingga mau membantu kejahatan tersebut.[100] Agar hakim mempertimbangkan konsekuensi keputusan mereka, Knight menyatakan: "Yang Mulia, dapat dikatakan bahwa Lim tidak lebih dari seorang pengecut yang mengincar anak kecil karena mereka tidak dapat melawan; membunuh mereka dengan harapan dapat memperoleh kekuatan atau kekayaan dan tidak menganggapnya sebagai pembunuhan, adalah tindakan tak masuk akal dari segi hukum pembunuhan. Ini akan mendukung tumbuhnya kepercayaan terhadap hal mistis dan sihir yang telah ditimbulkannya melalui praktik untuk menakut-nakuti, mengintimidasi, dan membujuk orang-orang yang percaya takhayul, lemah, dan mudah tertipu agar berpartisipasi dalam tindakan yang sangat cabul dan tidak senonoh."[101]

Keputusan hakim

Pada tanggal 25 Mei 1983, banyak orang berkerumun di luar gedung untuk menunggu hasil persidangan. Karena keterbatasan tempat duduk, hanya beberapa orang yang diizinkan untuk mendengarkan keputusan yang dibacakan Hakim Sinnathuray selama 15 menit. Dua hakim tidak yakin bahwa terdakwa sedang tidak waras saat melakukan kejahatan. Mereka membuktikan Lim sebagai orang "kejam dan bejat" dalam menjalankan aksinya.[102] Dengan mempertimbangkan wawancara dengan saksi ahli sebagai pengakuan bersalah,[103] Sinnathuray dan Chua membuktikan Tan sebagai "orang terampil dan jahat", dan "bersedia [turut serta] membantu tindakan keji dan memuakkan [Lim]".[104] Hakim membuktikan Hoe sebagai orang berpikiran "sederhana" dan "mudah dipengaruhi".[104] Meskipun Hoe menderita skizofrenia, mereka menggarisbawahi bahwa dia berada dalam keadaan remisi selama pembunuhan tersebut, maka dia juga harus bertanggung jawab penuh atas tindakannya.[105] Ketiganya dinyatakan bersalah atas pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman gantung. Dua wanita terdakwa hanya membisu setelah mendengar keputusan hakim. Sementara itu, Lim berseri-seri dan berseru, "Terima kasih, Yang Mulia!", seraya dibawa keluar.[106]

Lim menerima nasibnya, sedangkan dua terdakwa lainnya tidak, sehingga mereka mengajukan banding atas keputusan hakim. Tan menyewa Francis Seow untuk mengajukan banding, sementara pengadilan sekali lagi menugaskan Isaac untuk membantu Hoe.[107] Para pengacara meminta pengadilan untuk mempertimbangkan keadaan mental klien mereka pada saat pembunuhan tersebut, dan menyatakan bahwa hakim pengadilan mengabaikan pertimbangan akan hal ini saat membahas perkara.[92] Pengadilan Tinggi Kejahatan mengumumkan keputusan mereka pada bulan Agustus 1986.[108] Para hakim banding menguatkan keputusan pengadilan, menggarisbawahi bahwa sebagai pencari fakta, hakim berhak untuk mengabaikan hasil medis bila ada bukti dari sumber lain.[109][e] Ajuan banding Tan dan Hoe kepada Dewan Penasihat London dan Presiden Singapura Wee Kim Wee juga mengalami kegagalan yang serupa.[111]

Setelah semua jalan untuk meminta pengampunan telah habis, Tan and Hoe bersikap tenang dalam menghadapi nasib mereka. Sambil menunggu hukuman mati, ketiganya diberikan nasihat oleh pendeta dan suster Katolik. Terlepas dari reputasi yang dimiliki Lim, Pastor Brian Doro menyebut pembunuh tersebut sebagai "orang yang agak bersahabat".[112] Menjelang hari eksekusi, Lim meminta Pastor Doro untuk memberi pengampunan dan perjamuan kudus. Demikian juga Tan dan Hoe dengan Suster Gerard Fernandez sebagai penasihat spiritual mereka. Sang suster mengonversi dua narapidana tersebut ke agama Katolik, dan mereka pun menerima pengampunan dan perjamuan kudus selama hari-hari terakhir mereka.[113] Pada tanggal 25 November 1988, ketiganya diberi makanan untuk terakhir kalinya sebelum menuju tali gantung. Lim tersenyum saat berjalan untuk yang terakhir kalinya. Setelah eksekusi selesai, ketiga pembunuh tersebut mendapatkan misa pemakaman secara singkat yang dipimpin oleh Pastor Doro,[114] kemudian dikremasi pada hari yang sama.[115]

Dampak dari kasus yang terjadi

Kerumunan orang memadati area di seberang jalan. Perhatian mereka ada pada mobil van polisi. Beberapa penonton berdesakan di bagian belakang. Polisi mengamankan jalan.
Warga Singapura memadati halaman Dewan Subordinat (gambar) dan gedung pengadilan lainnya untuk melihat sekilas para pembunuh tersebut.

Sidang terhadap kasus pembunuhan di Toa Payoh ini diikuti oleh warga Singapura. Kerumunan orang terus memadati halaman sekitar gedung pengadilan, berharap dapat melihat sekilas wajah Adrian Lim. Surat kabar setempat yang melaporkan detail aksi berdarah dan seksual yang dilakukan Lim telah menyinggung kepekaan beberapa pihak; Kanon Frank Lomax, Vikaris Gereja Anglikan Santo Andreas, mengeluhkan bahwa pemberitaan oleh The Straits Times memiliki efek merusak bagi kaum muda. Keluhannya mendapat dukungan dari beberapa pembaca. Namun, yang lainnya menyambut baik keterbukaan berita tersebut, mengingat bahwa hal itu dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlunya kewaspadaan, bahkan di kota dengan tingkat kejahatan yang rendah.[116] Buku-buku yang membahas pembunuhan dan pengadilan tersebut laris di pasaran pada saat perilisannya.[117][118]

Keputusan dari pengadilan tersebut membuat Lim dicap sebagai orang jahat di benak masyarakat Singapura.[4] Beberapa warga tidak percaya bahwa ada yang rela membela orang seperti itu. Mereka menunjukkan kemarahan kepada Cashin, mantan pengacara Lim; bahkan beberapa di antaranya mengeluarkan ancaman pembunuhan.[119] Di sisi lain, nama Knight menjadi terkenal di kalangan warga Singapura sebagai orang yang mengusut Adrian Lim ke pengadilan, sehingga kariernya meningkat. Ia menangani banyak kasus tingkat tinggi, dan menjadi direktur Departemen Urusan Komersial pada tahun 1984. Ia terus mempertahankan reputasi baiknya, sampai tindak pidana korupsi yang dilakukannya tujuh tahun kemudian.[61]

Lim bahkan dibenci di penjara. Tahanan lain menindas dan memperlakukannya sebagai orang buangan.[120] Pada tahun-tahun setelah kejahatan tersebut diusut, kenangan tetap segar dalam ingatan orang-orang yang mengikuti kasus ini. Wartawan menulis bahwa sidang itu adalah sidang paling sensasional pada tahun 80-an, sebagai "buah bibir dari kota mencekam tempat kasus penyimpangan seksual, aksi minum darah manusia, kerasukan roh jahat, eksorsisme, dan kekejaman tak pandang bulu yang dibeberkan selama sidang 41 hari".[121] Lima belas tahun setelah sidang berakhir, sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh The New Paper melaporkan bahwa 30 persen dari respondennya memilih ritual pembunuhan Toa Payoh sebagai kejahatan yang paling mengerikan, meskipun di angket tertulis agar respoden menunjuk kejahatan yang terjadi pada tahun 1998.[122] Lim telah menjadi tolok ukur kejahatan di negerinya; pada tahun 2002, Subhas Anandan menggambarkan kliennya, Anthony Ler, seorang pembunuh istri sebagai "orang yang lebih tampan, atau versi ganteng dari pelaku pembunuhan di Toa Payoh yang terkenal".[123]

Pada tahun 1990-an, industri film di Singapura memproduksi dua film berdasarkan kasus tersebut. Yang pertama adalah Medium Rare. Film yang diproduksi pada tahun 1991 ini memiliki keterlibatan dengan pihak asing; sebagian besar pemain dan kru adalah orang Amerika atau Inggris. Skenarionya ditulis secara lokal dan dimaksudkan untuk mengeksplorasi "sisi kejiwaan tiga karakter utama".[124] Namun, sutradaranya lebih fokus pada adegan hubungan seks dan kekerasan, sehingga film tersebut dicemooh oleh penonton saat pemutarannya pada tengah malam.[124] Film ini berhasil meraup keuntungan sebesar $130,000 (AS$75,145) selama 16 hari pemutaran,[125][f] dan seorang wartawan menyebutnya "lebih aneh daripada cerita seksual tak lazim dan praktik okultisme yang terkait dengan kisah Adrian Lim".[127] Film kedua, God or Dog yang diluncurkan pada tahun 1997, juga memperoleh pendapatan yang suram,[128] meskipun tanggapan masyarakat lebih positif.[129] Dua film tersebut mengalami kesulitan dalam mencari aktor lokal untuk pemeran utamanya; Zhu Houren menolak atas dasar bahwa kepribadian Adrian Lim terlalu rumit untuk diperankan oleh seorang aktor secara akurat,[130] sementara Xie Shaoguang menolak tawaran karena kurangnya "faktor penebusan" yang dilakukan pembunuh tersebut.[131] Di televisi, kasus pembunuhan tersebut menjadi episode pembuka untuk True Files, sebuah program tahun 2002 khusus kasus kejahatan. Namun, masyarakat mengeluh bahwa trailer-nya terlalu mengerikan dengan tayangan reka ulang aksi ritual dan pembunuhan tersebut, sehingga perusahaan media MediaCorp terpaksa merombak jadwal penayangannya. Episode ritual pembunuhan Toa Payoh digantikan oleh sebuah episode yang kurang sensasional sebagai pembuka, dan ditayangkan ulang dengan jatah waktu untuk pemirsa yang lebih dewasa, menyiratkan betapa mengerikannya kejahatan yang dilakukan oleh Lim, Tan, dan Hoe.[132]

Catatan kaki

  1. ^ Lim menggunakan patung Phragann berukuran kecil dalam ritualnya, dan menggantungnya di pinggang pada saat berhubungan intim. Dua sumber utama menyebut objek ini dengan nama yang berbeda. John menyebutnya Pragngan, sementara Narayanan, yang mengutip laporan polisi, menyebutnya Phragann.
  2. ^ Nilai tukar 2.11, berdasarkan pada rata-rata 12 bulan dari nilai tukar pada tahun 1981.[34]
  3. ^ Hoe sangat yakin terhadap keabsahan trik dan kemampuan Lim, sampai akhirnya Tan mengungkapkan cara kerja trik tersebut saat mereka diinterogasi di kantor polisi.[45]
  4. ^ Usaha praktik kedua dokter tersebut ditertibkan oleh Dewan Medis Singapura pada tahun 1990 karena tindakan mereka; Yeo keluar dari Perkumpulan Medis, dan Ang diskors selama tiga bulan.[73] Namun, Yeo berhasil memulihkan usahanya pada tahun berikutnya.[74]
  5. ^ Dewan Penasihat juga memberikan keputusan yang sama dalam peninjauan ulang terhadap Walton v. the Queen, sebuah pengadilan terhadap pembunuhan di Britania pada tahun 1989.[110]
  6. ^ Sebagai perbandingan, film komedi laris pada tahun 1996 berjudul Army Daze meraup keuntungan sebesar $500,000 (AS$289,017) selama empat hari pertama.[126] Kurs 1.73 rata-rata berasal dari 12 bulan pada tahun 1991.[34]

  1. ^ Sit 1989 a, hlm. xiii.
  2. ^ Sit 1989 b, hlm. xiii.
  3. ^ John 1989, hlm. 187, 202.
  4. ^ a b Yap 15 Juli 1995.
  5. ^ DeBernadi 2006, hlm. 1–14.
  6. ^ Thung 1977, hlm. 229.
  7. ^ Trocki 2006, hlm. 146.
  8. ^ Thung 1977, hlm. 231–232.
  9. ^ Rowen 1998, hlm. 116–117.
  10. ^ Quah 1987, hlm. 49.
  11. ^ Naren 2000, hlm. 24.
  12. ^ John 1989, hlm. 9.
  13. ^ John 1989, hlm. 2–3.
  14. ^ Kutty 1989, hlm. 166–167.
  15. ^ John 1989, hlm. 7–8.
  16. ^ Kutty 1989, hlm. 9.
  17. ^ John 1989, hlm. 8.
  18. ^ a b John 1989, hlm. 10.
  19. ^ John 1989, hlm. 162.
  20. ^ a b Kutty 1989, hlm. 80.
  21. ^ John 1989, hlm. 17–19.
  22. ^ John 1989, hlm. 18, 34.
  23. ^ John 1989, hlm. 12–13.
  24. ^ Kutty 1989, hlm. 86, 89.
  25. ^ Kutty 1989, hlm. 30–31.
  26. ^ John 1989, hlm. 19–20.
  27. ^ Kutty 1989, hlm. 46–47.
  28. ^ Kok 1990, hlm. 70.
  29. ^ John 1989, hlm. 28.
  30. ^ John 1989, hlm. 26–27.
  31. ^ John 1989, hlm. 29–31.
  32. ^ Kutty 1989, hlm. 113–114.
  33. ^ John 1989, hlm. 33–35.
  34. ^ a b Economagic.com
  35. ^ John 1989, hlm. 37.
  36. ^ a b John 1989, hlm. 36.
  37. ^ John 1989, hlm. 34.
  38. ^ John 1989, hlm. 32.
  39. ^ John 1989, hlm. 170–171.
  40. ^ John 1989, hlm. 171.
  41. ^ John 1989, hlm. 186.
  42. ^ John 1989, hlm. 40–41.
  43. ^ John 1989, hlm. 37–38.
  44. ^ John 1989, hlm. 40–42.
  45. ^ John 1989, hlm. 196.
  46. ^ John 1989, hlm. 43–45.
  47. ^ John 1989, hlm. 46–48.
  48. ^ Kutty 1989, hlm. 111.
  49. ^ a b c John 1989, hlm. 48.
  50. ^ Kok 1990, hlm. 44.
  51. ^ Kutty 1989, hlm. 6.
  52. ^ John 1989, hlm. 49.
  53. ^ John 1989, hlm. 61.
  54. ^ John 1989, hlm. 84.
  55. ^ Kutty 1989, hlm. 45.
  56. ^ a b John 1989, hlm. 92–94.
  57. ^ John 1989, hlm. 94.
  58. ^ John 1989, hlm. 95–97.
  59. ^ John 1989, hlm. 51–52.
  60. ^ John 1989, hlm. 52.
  61. ^ a b Tan 7 Oktober 1997.
  62. ^ John 1989, hlm. x.
  63. ^ John 1989, hlm. 55.
  64. ^ John 1989, hlm. 56.
  65. ^ Kutty 1989, hlm. 28.
  66. ^ John 1989, hlm. 67.
  67. ^ John 1989, hlm. 51.
  68. ^ John 1989, hlm. 117.
  69. ^ a b John 1989, hlm. 127.
  70. ^ Kutty 1989, hlm. 155.
  71. ^ Tan April 1997.
  72. ^ John 1989, hlm. 107–116.
  73. ^ Fernandez 25 Juni 1990.
  74. ^ Lim 10 Oktober 1991.
  75. ^ John 1989, hlm. 61–70.
  76. ^ John 1989, hlm. 198.
  77. ^ John 1989, hlm. 56–60.
  78. ^ a b John 1989, hlm. 121.
  79. ^ John 1989, hlm. 132–133.
  80. ^ John 1989, hlm. 154–156.
  81. ^ John 1989, hlm. 155.
  82. ^ John 1989, hlm. 157–158.
  83. ^ John 1989, hlm. 168, 198.
  84. ^ John 1998, hlm. 164–165, 203.
  85. ^ John 1989, hlm. 180–181.
  86. ^ John 1989, hlm. 202–203.
  87. ^ John 1989, hlm. 208.
  88. ^ Kok 1990, hlm. 71.
  89. ^ John 1989, hlm. 204.
  90. ^ a b c Kok 1990, hlm. 72.
  91. ^ John 1989, hlm. 209.
  92. ^ a b Kok 1990, hlm. 73.
  93. ^ a b Kok 1990, hlm. 45.
  94. ^ John 1989, hlm. 202.
  95. ^ John 1989, hlm. 217.
  96. ^ John 1989, hlm. 218.
  97. ^ John 1990, hlm. 218.
  98. ^ a b c John 1989, hlm. 219.
  99. ^ a b John 1989, hlm. 220.
  100. ^ John 1989, hlm. 221.
  101. ^ John 1990, hlm. 221.
  102. ^ John 1989, hlm. 224–225.
  103. ^ Kok 1994, hlm. 53.
  104. ^ a b John 1989, hlm. 225.
  105. ^ Kok 1994, hlm. 94.
  106. ^ John 1989, hlm. 226.
  107. ^ John 1989, hlm. 227.
  108. ^ John 1989, hlm. 228.
  109. ^ Kok 1990, hlm. 73–74.
  110. ^ Kok 1990, hlm. 74.
  111. ^ John 1990, hlm. 228.
  112. ^ Davie 24 November 1989.
  113. ^ Kutty 1989, hlm. 14–15.
  114. ^ Kutty 1989, hlm. 14.
  115. ^ John 1989, hlm. 229.
  116. ^ John 1989, hlm. 116–118.
  117. ^ Khor 13 September 1989.
  118. ^ Khor 16 Oktober 1989.
  119. ^ John 1990, hlm. 117.
  120. ^ Yaw 10 September 1991.
  121. ^ Davidson 2 Januari 1990.
  122. ^ Low 19 Desember 1998.
  123. ^ Vijayan 14 Desember 2002.
  124. ^ a b Uhde 2000, hlm. 109–110.
  125. ^ Uhde & 2000 110.
  126. ^ Uhde 2000, hlm. 114.
  127. ^ Guneratne 2003, hlm. 172.
  128. ^ Millet 2006, hlm. 96.
  129. ^ Uhde 2000, hlm. 115.
  130. ^ Lee 4 Juni 1996.
  131. ^ Lee 9 Mei 1996.
  132. ^ Tan 24 April 2002.

Daftar pustaka

Buku
Artikel surat kabar
Internet

Pranala luar

1°20′13″N 103°51′26″E / 1.33694°N 103.85722°E / 1.33694; 103.85722