Lompat ke isi

Makam Syekh Burhanuddin: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
Malidun (bicara | kontrib)
←Membuat halaman berisi ''''Makam Syeh Burhanudin''' dibangun didekat Surau Gadang Syeh Burhanudin di Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman. Atas jasa dan perjuangan menyebarkan Islam di Sumatera...'
Tag: tanpa kategori [ * ]
 
OrophinBot (bicara | kontrib)
 
(25 revisi perantara oleh 13 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
[[Berkas:Makam Syekh Burhanuddin.jpg|jmpl|Jamaah Tarekat Shatariyah berziarah ke Makam Syeh Burhanudin]]
'''Makam Syeh Burhanudin''' dibangun didekat Surau Gadang Syeh Burhanudin di Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman. Atas jasa dan perjuangan menyebarkan Islam di Sumatera Barat, hingga saat ini makam Syeikh Burhanuddin mendapat perhatian besar dari para peziarah, terutama oleh para jama'ah Tarekat Shatariyah. Menurut tradisi setempat, ziarah tersebut disebut "Basapa" atau "bersafar" yang dilakukan pada tanggal 10 Shafar.<ref>http://lektur.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=59&Itemid=93</ref>
'''Makam Syekh Burhanudin''' terletak di [[Ulakan Tapakis, Padang Pariaman|Ulakan]], [[Kabupaten Padang Pariaman]]. Atas jasa dan perjuangan menyebarkan Islam di [[Sumatera Barat]], hingga saat ini makam [[Burhanuddin Ulakan|Syeikh Burhanuddin]] mendapat perhatian besar dari para [[peziarah]], terutama oleh para jama'ah [[Tarekat Syattariyah]]. Menurut tradisi setempat, ziarah tersebut disebut "[[Basapa]]" atau "[[bersafar]]" yang dilakukan pada tanggal 10 Safar.<ref>[http://lektur.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=59&Itemid=93 http://lektur.kemenag.go.id/index.php]{{Pranala mati|date=Februari 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=YcgxAAAAMAAJ&q=makam+syeh+burhanudin+ulakan&dq=makam+syeh+burhanudin+ulakan&hl=id&sa=X&ved=0CB8Q6AEwAWoVChMI_My_94P3xwIVh0OSCh13UgRM https://books.google.co.id/books/makam+syeh+burhanudin+ulakan]</ref>
<ref>https://books.google.co.id/books?id=YcgxAAAAMAAJ&q=makam+syeh+burhanudin+ulakan&dq=makam+syeh+burhanudin+ulakan&hl=id&sa=X&ved=0CB8Q6AEwAWoVChMI_My_94P3xwIVh0OSCh13UgRM</ref>


== Tradisi Basapa, Wisata Islami ==
== Tradisi Basapa, Wisata Sejarah Islami ==


Kegiatan basapa tidak asing lagi bagi masyarakat Pariaman, Ulakan khususnya. Setiap tahun, setelah tanggal 10 Syafar masyarakat Pariaman selalu memperingati meninggalnya Syheh Burhanuddin yang dikenal dengan sebutan basapa. Di namakan dengan basapa karena kegitan ini hanya dilaksanakan pada bulan safar tahun hijriyah.
Kegiatan basapa yang merupakan [[wisata sejarah]] islam ini tidak asing lagi bagi masyarakat Pariaman, Ulakan khususnya. Setiap tahun, setelah tanggal 10 Syafar masyarakat Pariaman selalu memperingati meninggalnya Syeh Burhanuddin yang dikenal dengan sebutan basapa. Di namakan dengan basapa karena kegitan ini hanya dilaksanakan pada bulan safar [[Tahun Hijriah]].Penentuan acara basapa setelah tanggal 10 Safar sendiri berkaitan dengan hari yang diyakini sebagai tanggal wafatnya Syeikh Burhanuddin Ulakan, yaitu 10 Safar 1111 H/[[1691]] M.


Kegiatan basapa dilakukan ialah sebagai ungkapan penghormatan pada makam syeikh atau syeikh guru masyarakat atas keberhasilannya mengembangkan ajaran [[Islam]] di [[Minangkabau]], khususnya ajaran Shatariyah. Dan juga sebagai suatu bentuk pelayanan yang baik seorang murid.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=uOvXAAAAMAAJ&q=makam+syeh+burhanudin+ulakan&dq=makam+syeh+burhanudin+ulakan&hl=id&sa=X&ved=0CCYQ6AEwA2oVChMI_My_94P3xwIVh0OSCh13UgRM Syeh Burhanudin & Islamisasi di Minangkabau /Duski Samad/ halaman 143,159,167]</ref>
Kegiatan basapa ke Ulakan ialah subuah kegiatan mengunjungi makan seorang guru yang bertempat di Nagari Ulakan Kecamatan Ulakan-Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman. Prosesinya di awali dengan berdo’a di makam Syeh dengan tujuan orang yang berdo’a mendapatkan redho dari Allah subahanahu wataala. Kemudian dilanjutkan dengan sholat berjamaah dan ditutup dengan zikir bersama.


Kegiatan basapa dilakukan ialah sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih terhadap syeh Burhanuddin, atas keberhasilannya mengembangkan ajaran Islam di Minangkabau. Ajaran Sataryah yang dia bawa mendapat tempat di hati masyarakat pada masa itu, sehingga berkembanglah agama Islam di Ranah Minang. Pada saat itu, Syeh Burhanuddinlah satu-satunya orang yang pertama kali membuka tempat pendidikan agama islam secara formal, pesantren istilah sekarang.<ref>https://books.google.co.id/books?id=uOvXAAAAMAAJ&q=makam+syeh+burhanudin+ulakan&dq=makam+syeh+burhanudin+ulakan&hl=id&sa=X&ved=0CCYQ6AEwA2oVChMI_My_94P3xwIVh0OSCh13UgRM</ref>
Ajaran Satariyah yang dia bawa mendapat tempat di hati masyarakat pada masa itu, sehingga berkembanglah agama Islam di Ranah Minang. Pada saat itu, Syeikh Burhanuddinlah satu-satunya orang yang pertama kali membuka tempat pendidikan agama islam secara formal, pesantren istilah sekarang. Prosesi Basapa diawali dengan berdoa di makam Syeikh dengan tujuan orang yang berdo’a mendapatkan ridho dari Allah. Kemudian dilanjutkan dengan sholat berjamaah dan ditutup dengan zikir bersama.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=MjYyAAAAIAAJ&q=makam+syeh+burhanudin+ulakan&dq=makam+syeh+burhanudin+ulakan&hl=id&sa=X&ved=0CD8Q6AEwCWoVChMI_My_94P3xwIVh0OSCh13UgRM Perang Antar-Ilmu-Gaib Mpu Wesi Geni (1988) halaman 93-Selecta Group].</ref>

Sapa di kenal oleh masyarakat dengan 2 sebutan:<ref>[https://books.google.co.id/books?id=YcgxAAAAMAAJ&q=makam+syeh+burhanudin+ulakan&dq=makam+syeh+burhanudin+ulakan&hl=id&sa=X&ved=0CB8Q6AEwAWoVChMI_My_94P3xwIVh0OSCh13UgRM Ratik Saman sebagai Musik Zikir Islami Minangkabau oleh Lazuardi/Kalika Press/h.3,h.48]</ref>
* [[Sapa gadang]] (safar besar)
Pada kesempatan Sapa gadang, diperuntunkan untuk masyarakat dari daerah [[Darek]]. Jumlah penziarah pada saat ini berkisar hingga ribuan orang, sehingga menutup badan-badan jalan di Nagari Ulakan. Dengan kondisi yang penuh sesak ini seakan menambah semangat dan keyakinan penziarah untuk melaksanakan ritual keagamaan basapa. Selama 3 hari inilah daerah ulakan yang berdekatan dengan pantai selalu ramai oleh penziarah dan pengunjung.
* [[Sapa ketek]] (safar keci)
Sapa ketek dilaksanakan pada minggu ke 2 setelah sapa gadang. Pada saat ini pengunjung lebih ramai daripada Sapa gadang, karena umumnya pengunjung berasal dari daerah pariaman dan juga pengunjung pada Sapa Gadang juga melakukan ziarahnya untuk ke dua kalinya. Oleh karena itu, dinamailah sapa ini dengan sapa ketek, sebab hanya diperuntukkan untuk masyarakat Pariaman, tapi tidak tertutup kemunggkinan bagi masyarakat dari Darek, sehingga penziarah lebih ramai daripada Sapa Gadang.

== Referensi ==
{{reflist}}

[[Kategori:Kabupaten Padang Pariaman]]

Revisi terkini sejak 28 September 2023 21.47

Jamaah Tarekat Shatariyah berziarah ke Makam Syeh Burhanudin

Makam Syekh Burhanudin terletak di Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman. Atas jasa dan perjuangan menyebarkan Islam di Sumatera Barat, hingga saat ini makam Syeikh Burhanuddin mendapat perhatian besar dari para peziarah, terutama oleh para jama'ah Tarekat Syattariyah. Menurut tradisi setempat, ziarah tersebut disebut "Basapa" atau "bersafar" yang dilakukan pada tanggal 10 Safar.[1][2]

Tradisi Basapa, Wisata Sejarah Islami

[sunting | sunting sumber]

Kegiatan basapa yang merupakan wisata sejarah islam ini tidak asing lagi bagi masyarakat Pariaman, Ulakan khususnya. Setiap tahun, setelah tanggal 10 Syafar masyarakat Pariaman selalu memperingati meninggalnya Syeh Burhanuddin yang dikenal dengan sebutan basapa. Di namakan dengan basapa karena kegitan ini hanya dilaksanakan pada bulan safar Tahun Hijriah.Penentuan acara basapa setelah tanggal 10 Safar sendiri berkaitan dengan hari yang diyakini sebagai tanggal wafatnya Syeikh Burhanuddin Ulakan, yaitu 10 Safar 1111 H/1691 M.

Kegiatan basapa dilakukan ialah sebagai ungkapan penghormatan pada makam syeikh atau syeikh guru masyarakat atas keberhasilannya mengembangkan ajaran Islam di Minangkabau, khususnya ajaran Shatariyah. Dan juga sebagai suatu bentuk pelayanan yang baik seorang murid.[3]

Ajaran Satariyah yang dia bawa mendapat tempat di hati masyarakat pada masa itu, sehingga berkembanglah agama Islam di Ranah Minang. Pada saat itu, Syeikh Burhanuddinlah satu-satunya orang yang pertama kali membuka tempat pendidikan agama islam secara formal, pesantren istilah sekarang. Prosesi Basapa diawali dengan berdoa di makam Syeikh dengan tujuan orang yang berdo’a mendapatkan ridho dari Allah. Kemudian dilanjutkan dengan sholat berjamaah dan ditutup dengan zikir bersama.[4]

Sapa di kenal oleh masyarakat dengan 2 sebutan:[5]

Pada kesempatan Sapa gadang, diperuntunkan untuk masyarakat dari daerah Darek. Jumlah penziarah pada saat ini berkisar hingga ribuan orang, sehingga menutup badan-badan jalan di Nagari Ulakan. Dengan kondisi yang penuh sesak ini seakan menambah semangat dan keyakinan penziarah untuk melaksanakan ritual keagamaan basapa. Selama 3 hari inilah daerah ulakan yang berdekatan dengan pantai selalu ramai oleh penziarah dan pengunjung.

Sapa ketek dilaksanakan pada minggu ke 2 setelah sapa gadang. Pada saat ini pengunjung lebih ramai daripada Sapa gadang, karena umumnya pengunjung berasal dari daerah pariaman dan juga pengunjung pada Sapa Gadang juga melakukan ziarahnya untuk ke dua kalinya. Oleh karena itu, dinamailah sapa ini dengan sapa ketek, sebab hanya diperuntukkan untuk masyarakat Pariaman, tapi tidak tertutup kemunggkinan bagi masyarakat dari Darek, sehingga penziarah lebih ramai daripada Sapa Gadang.

Referensi

[sunting | sunting sumber]