Lompat ke isi

Ratu Shima: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
ArfanSulaiman (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(34 revisi perantara oleh 27 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{about|ratu Kalingga|ratu sekaligus pendiri Funan|Soma (Funan)}}{{infobox royalty
{{Infobox Person
|name = Ratu Shima
| name = Ratu Shima
| title = Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara
|image =
| succession = Ratu Keling
|residence = [[Jepara]], Jawa Tengah
| reign = 674 - 695
|other_names =
| predecessor = [[Kartikeyasingha]]
|caption =
| successor = [[Ratu Parwati]]
|birth_name = Shima
[[Jay Shima|Narayana]]
|birth_date =
| birth_name = Shima
|birth_place = {{negara|Indonesia}} [[Keling, Jepara|Kalingga]] ([[Kerajaan Kalingga]])
|death_date =
| birth_date = 611 M
|death_place = {{negara|Indonesia}} [[Keling, Jepara|Kalingga]] ([[Kerajaan Kalingga]])
| birth_place = {{negara|Indonesia}} [[Musi Banyuasin]]
| death_date = 695 M
|death_cause =
|known = Ratu [[Kerajaan Kalingga]] (674-695) M
| death_place = {{negara|Indonesia}} [[Keling, Jepara|Kalingga]], [[Kerajaan Keling]]
|title = Ratu Shima
| spouse = [[Kartikeyasingha]]
|salary =
| issue = [[Ratu Parwati]]
[[Jay Shima|Narayana]]
|term =
| house = [[Sailendra]]
|predecessor =
| father = [[Dapunta Selendra]]
|successor =
|party =
| mother =
|boards =
|religion = [[Hindu]] [[Siwa]]
|spouse = Raja [[Kartikeyasinga]]
|partner =
|parents =
|children = Dewi Parwati <br /> Jay Shima (Narayana/Iswara)
|relations =
|website =
|footnotes =
|employer =
|height =
}}
}}
'''Shima''' adalah Permaisuri Raja [[Kartikeyasingha]] yang menjadi raja Keling saat berpusat di Keling, Jatim (648 - 674) M.


Namun Ketika Raja Kartikeyasingha wafat, Sang Permaisuri naik tahta Kerajaan [[Kalingga|Keling]] dengan gelar '''Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara'''. Kemudian, memindahkan kekuasaan ke Kalingga, Jawa Tengah.<ref>http://gusdayat.com/2015/07/04/ratu-sima-ratu-kerajaan-kalingga/</ref>
''Untuk penggunaan nama yang sama, lihat [[Provinsi Shima]]''

'''Shima''' adalah ratu penguasa Kerajaan [[Kalingga]] yang terletak di pantai utara [[Jawa Tengah]] sekitar tahun [[674]] M, lahir tahun [[611]] M di sekitar [[Musi Banyuasin]], [[Sumatra Selatan]] dan isteri Raja [[Kartikeyasinga]] yang menjadi raja Kalingga (648 - 674) M. Ketika suaminya, Raja Kartikeyasinga meninggal, Sang Ratu naik tahta Kerajaan [[Kalingga]] dengan gelar '''Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara'''.<ref>http://gusdayat.com/2015/07/04/ratu-sima-ratu-kerajaan-kalingga/</ref>


== Biografi ==
== Biografi ==
Maharani, Ratu Sima atau Shima putri Hyang Syailendra putra Santanu ([[Sriwijaya]]) <ref>http://en.rodovid.org/wk/Person:321868</ref> adalah istri Raja Kalingga Kartikeyasinga, Ayahanda Kartikeyasinga adalah Raja Kalingga (632-648) M. Sementara itu ibunda Kartikeyasinga berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribu kota di [[Palembang]]. Raja Melayu Sribuja yang dikalahkan Sriwijaya tahun 683 M adalah kakak dari ibunda Prabu Kartikeyasinga. Ratu Sima adalah putri seorang pendeta di wilayah [[Sriwijaya]]. Ia dilahirkan tahun [[611]] M di sekitar wilayah yang disebut [[Musi Banyuasin]]. Ia adalah istri pangeran Kartikeyasingha (sebelum jadi raja) yang merupakan keponakan dari Kerajaan Melayu Sribuja. Ia kemudian tinggal di daerah yang dikenal sebagai wilayah Adi Hyang (Leluhur Agung), atau yang sekarang bernama Dieng. Perkawinan Kartikeyasingha dengan Sima melahirkan dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana (Iswara). Ratu Sima adalah pemeluk Hindu Syiwa yang taat.
Ratu Shima atau Shima putri Hyang Syailendra putra Santanu<ref>http://en.rodovid.org/wk/Person:321868</ref> adalah Permaisuri Raja Kartikeyasingha, Ayahanda Kartikeyasingha adalah Raja Kirathasingha (632 - 648) M. Sedangkan Ibunda Kartikeyasingha berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribu kota di [[Palembang]]. Raja Melayu Sribuja yang dikalahkan Sriwijaya tahun 683 M adalah kakak dari ibunda Prabu Kartikeyasingha.


Ratu Sima adalah putri seorang pendeta di wilayah [[Sriwijaya]]. Ia dilahirkan tahun [[611]] M di sekitar wilayah yang disebut [[Musi Banyuasin]]. Ia menjadi istri pangeran Kartikeyasingha. Pernikahan Kartikeyasingha dengan Ratu Shima melahirkan dua orang anak, yaitu Dewi Parwati dan Narayana (Iswara). Ratu Shima adalah pemeluk Hindu Siwa yang taat.
Parwati, anak Ratu Shima, menikah dengan putera mahkota [[Kerajaan Galuh]] yang bernama Sang Jalantara atau Rahyang Mandiminyak dan menjadi raja [[Kerajaan Galuh]] ke-2 dengan gelar Prabu [[Suraghana]] (702-209) M dan berputri Dewi Sanaha. Dewi Sanaha dan Bratasenawa atau Prabu [[Sanna]] menikah memiliki anak yang bernama [[Sanjaya, Rakai Mataram]] ([[723]] - [[732]] M) yang kemudian [[703]]/[[704]] M, Sanjaya menikahi Dewi Sekar Kancana (Teja Kancana Ayupurnawangi) putri Rakyan Sundasembawa (mati muda) putra [[Sri Maharaja Tarusbawa]], cucu [[Sri Maharaja Tarusbawa]] dari [[Kerajaan Sunda]] sehingga Maharaja Harisdarma sempat menjadi raja [[Kerajaan Galuh]] (ia merebut kembali tahta Galuh tahun [[723]] M dari tangan Purbasora yang merebut tahta Galuh tahun [[716]] M dari Prabu [[Sanna]], ayahnya) dan raja [[Kerajaan Sunda]] (menerima tahta dari kakek mertuanya, [[Sri Maharaja Tarusbawa]]) tahun [[723]] M sehingga ia menjadi Maharaja [[Sunda]] dan [[Galuh]] ([[723]]-[[732]]) M.<ref>^^Menurut [[Carita Parahyangan]] Cicit Ratu Shima adalah [[Sanjaya, Rakai Mataram|Sanjaya]] yang menjadi Raja [[Kerajaan Galuh|Galuh]], dan menurut [[Prasasti Canggal]] adalah pendiri [[Kerajaan Medang]] di Mataram. Berdasarkan [[Naskah Wangsakerta]] disebutkan bahwa Ratu Shima berbesan dengan penguasa terakhir [[Tarumanegara]], yang diwarisi oleh Kerajaan [[Galuh]] dan [[Sunda]].</ref>


Dewi Parwati, anak Ratu Shima, menikah dengan putra mahkota [[Kerajaan Galuh]] yang bernama Sang Jalantara dan menjadi raja [[Kerajaan Galuh]] ke-2 dengan gelar Prabu [[Suraghana]] (702-709) M dan berputri Dewi Sannaha.
Maharaja [[Linggawarman]], penguasa terakhir [[Tarumanagara]] (666-669) M, mempunyai 2 orang putri, yaitu yang sulung bernama ''Dewi [[Manasih]]'' menjadi istri [[Sri Maharaja Tarusbawa]], menerima tahta Kerajaan [[Tarumanagara]] dari mertuanya, lalu mendirikan [[Kerajaan Sunda]] ([[669]] M dan puteri yang kedua bernama ''Dewi [[Sobakancana]]'' menjadi isteri [[Dapunta Hyang]] Sri Jayanasa, yang mendirikan [[Kerajaan Sriwijaya]] ([[671]] M.

Dewi Sannaha dan Prabu [[Sanna]] menikah memiliki anak yang bernama [[Sanjaya, Rakai Mataram]] ([[723]] - [[732]] M) yang kemudian [[703]]/[[704]] M, Sanjaya menikahi Dewi Sekar Kancana (Teja Kancana Ayupurnawangi) putri Rakyan Sundasembawa (mati muda) putra [[Sri Maharaja Tarusbawa]], cucu [[Sri Maharaja Tarusbawa]] dari [[Kerajaan Sunda]].

Sehingga Maharaja Harisdarma sempat menjadi raja [[Kerajaan Galuh]] (ia merebut kembali tahta Galuh tahun [[723]] M dari tangan Purbasora yang merebut tahta Galuh tahun [[716]] M dari Prabu [[Sanna]], ayahnya) dan raja [[Kerajaan Sunda]] (menerima tahta dari kakek mertuanya, [[Sri Maharaja Tarusbawa]]) tahun [[723]] M sehingga ia menjadi Maharaja [[Sunda]] dan [[Galuh]] ([[723]]-[[732]]) M.<ref>^^Menurut [[Carita Parahyangan]] Cicit Ratu Shima adalah [[Sanjaya, Rakai Mataram|Sanjaya]] yang menjadi Raja [[Kerajaan Galuh|Galuh]], dan menurut [[Prasasti Canggal]] adalah pendiri [[Kerajaan Medang]] di Mataram. Berdasarkan [[Naskah Wangsakerta]] disebutkan bahwa Ratu Shima berbesan dengan penguasa terakhir [[Tarumanegara]], yang diwarisi oleh Kerajaan [[Galuh]] dan [[Sunda]].</ref>

Maharaja [[Linggawarman]], penguasa terakhir [[Tarumanagara]] (666-669) M, mempunyai 2 orang putri, yaitu yang sulung bernama ''Dewi [[Manasih]]'' menjadi istri [[Sri Maharaja Tarusbawa]], menerima tahta Kerajaan [[Tarumanagara]] dari mertuanya, lalu mendirikan [[Kerajaan Sunda]] pada tahun [[669]] M dan putri yang kedua bernama ''Dewi [[Sobakancana]]'' menjadi isteri [[Sri Jayanasa]], yang mendirikan [[Kerajaan Sriwijaya]] [[671]] M.

== Hubungan Luar Negeri ==

Tahun [[500]] M Pulau [[Sumatra]] dikuasai dua kerajaan kuat, yaitu Kerajaan Pali (Utara) dan Kerajaan Melayu Sribuja (di timur) yang beribu kota [[Palembang]].

Sedangkan Kerajaan [[Sriwijaya]] baru merupakan kerajaan kecil di [[Jambi]]. Tahun [[676]] M Kerajaan Pali dan Mahasin (Singapura) ditaklukan [[Sriwijaya]]. Tahun [[683]] M, Kerajaan [[Sriwijaya]] berhasil menaklukan Kerajaan Melayu.

Ekspansi [[Sriwijaya]] terhadap Kerajaan Melayu yang masih memiliki kekerabatan dengan [[Kalingga|Keling]] tentu sangat mengganggu hubungan dengan Keling. Maka, Sriwijaya mencoba mencairkan hubungan dengan [[Kerajaan Sunda]] dan [[Kalingga|Keling]].

Langkah diplomatik dilakukan antara [[Kerajaan Sriwijaya]] dengan [[Kerajaan Sunda]] yang sama-sama, sebagai menantu Maharaja [[Linggawarman]] dalam sebuah prasasti yang ditulis dalam dua bahasa, Melayu dan Sunda, jalinan persaudaraan dan persahabatan kemudian dikenal dengan istilah '''Mitra Pasamayan''' (inti isi perjanjiannya, untuk tidak saling menyerang dan harus saling membantu).<ref>http://akibalangantrang.blogspot.co.id/2010/04/mitra-pasamayam.html</ref>

Kerajaan Keling pun ditawari persahabatan, namun menolak karena sakit hati atas penyerangan Sriwijaya terhadap Melayu, yang merupakan kerabat [[Kalingga|Keling]] mengingat Ratu Shima dan Ibunda Kartikeyasinga berasal dari wilayah Kerajaan Melayu Sribuja yang beribu kota di [[Palembang]].

Ketegangan antara Sriwijaya dan Keling menajam sehingga keduanya sudah mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar namun, masih dapat dilerai oleh [[Sri Maharaja Tarusbawa]] dari [[Kerajaan Sunda]].

Sebagai sahabat dan kerabat sehingga [[Sri Jayanasa]] mengurungkan niatnya menyerang [[Kalingga|Keling]], karena Keling adalah kerabat [[Kerajaan Sunda]]. Keadaan ini berlangsung hingga Sri Jayanasa wafat tahun [[692]] M dan digantikan oleh Dharmaputra (692 - 704).


== Pemerintahan Ratu Shima ==
== Pemerintahan Ratu Shima ==
Dalam pemerintahan Ratu Shima, Kerajaan [[Kalingga|Keling]] aman karena beraliansi dengan [[Kerajaan Sunda]] dan [[Galuh]]. Terutama karena sikap tegas dan dia sangat dicintai rakyatnya.


Sang Ratu menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur.
Tahun [[500]] M Pulau [[Sumatra]] dikuasai dua kerajaan kuat, yaitu Kerajaan Pali (Utara) dan Kerajaan Melayu Sribuja (di timur) yang beribu kota [[Palembang]]. Sedangkan Kerajaan [[Sriwijaya]] baru merupakan kerajaan kecil di [[Jambi]]. Tahun [[676]] M Kerajaan Pali dan Mahasin (Singapura) ditaklukan [[Sriwijaya]]. Tahun [[683]] M, Kerajaan [[Sriwijaya]] berhasil menaklukan Kerajaan Melayu. Ekspansi [[Sriwijaya]] terhadap Kerajaan Melayu yang masih memiliki kekerabatan dengan [[Kalingga]] tentu sangat mengganggu hubungan dengan Kalingga. Maka, Sriwijaya mencoba mencairkan hubungan dengan [[Kerajaan Sunda]] dan [[Kalingga]]. Langkah diplomatik dilakukan antara [[Kerajaan Sriwijaya]] dengan [[Kerajaan Sunda]] yang sama-sama, sebagai menantu Maharaja [[Linggawarman]] dalam sebuah prasasti yang ditulis dalam dua bahasa, Melayu dan Sunda, jalinan persaudaraan dan persahabatan kemudian dikenal dengan istilah '''Mitra Pasamayan''' (inti isi perjanjiannya, untuk tidak saling menyerang dan harus saling membantu).<ref>http://akibalangantrang.blogspot.co.id/2010/04/mitra-pasamayam.html</ref>


Tradisi mengisahkan seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota Kalingga. Raja asing ini melakukan hal itu karena ia mendengar kabar tentang kejujuran rakyat Kalingga dan berniat menguji kebenaran kabar itu.
Kerajaan Kalingga pun ditawari persahabatan, namun [[Kalingga]] menolak karena sakit hati atas penyerangan Sriwijaya terhadap Melayu, yang merupakan kerabat [[Kalingga]] mengingat Ratu Shima -menurut sebuah pendapat- Sang Ratu dan ibunda Kartikeyasinga berasal dari wilayah Kerajaan Melayu Sribuja yang beribu kota di [[Palembang]]. Ketegangan antara Sriwijaya dan Kalingga menajam sehingga keduanya sudah mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar namun, masih dapat dilerai oleh [[Sri Maharaja Tarusbawa]] dari [[Kerajaan Sunda]], sebagai sahabat dan kerabat sehingga [[Sri Jayanasa]] mengurungkan niatnya menyerang [[Kalingga]], karena Kalingga adalah kerabat [[Kerajaan Sunda]]. Keadaan ini berlangsung hingga Sri Jayanasa mangkat tahun [[692]] M dan digantikan oleh Darmaputra (692-704).


Tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu, hingga suatu hari tiga tahun kemudian, seorang putra Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya.
Sang Ratu Shima, dalam pemerintahannya, Kerajaan [[Kalingga]] aman karena beralinasi dengan [[Kerajaan Sunda]] dan [[Galuh]]. Terutama karena sikap tegas dan dia sangat dicintai rakyatnya. Sang Ratu menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Tradisi mengisahkan seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota Kalingga. Raja asing ini melakukan hal itu karena ia mendengar kabar tentang kejujuran rakyat Kalingga dan berniat menguji kebenaran kabar itu. Tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu, hingga suatu hari tiga tahun kemudian, seorang putra Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya. Mulanya Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran.<ref>{{cite book|author= Drs. R. Soekmono,|title= ''Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2'', 2nd ed.|publisher = Penerbit Kanisius|year= 1973 edisi cetak ulang ke-5 1988|location =Yogyakarta|page =37 }}</ref>


Mulanya Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran.<ref>{{cite book|author= Drs. R. Soekmono,|title= ''Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2'', 2nd ed.|publisher = Penerbit Kanisius|year= 1973 edisi cetak ulang ke-5 1988|location =Yogyakarta|page =37 }}</ref>
Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi Kalingga sehingga membuat Raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum sekaligus penasaran. Masa-masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Shima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan Hindu Budha). Dalam hal bercocok tanam Ratu Shima juga mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam. Kerajaan Kalingga beratus tahun yang lalu bersinar terang emas penuh kejayaan. Memiliki Maharani Sang Ratu Shima nan ayu, anggun, perwira, ketegasannya semerbak wangi di banyak negeri. Pamor Ratu Shima dalam memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai jelata, wong cilik sampai lingkaran elit kekuasaan. Bahkan konon tak ada satu warga anggota kerajaan pun yang berani berhadap muka dengannya, apalagi menantang. Situasi ini justru membuat Ratu Shima amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga para pejabat mahapatih, patih, mahamenteri, dan menteri, hulubalang, jagabaya, jagatirta, ulu-ulu, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya.<ref>http://www.kompasiana.com/gusblero/maharani-shima_54f5ed6da333115b7c8b45de</ref>


Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi Keling sehingga membuat Raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum sekaligus penasaran.
== Ngidam ==
Nyidam (mengidam) merupakan hal yang lumrah bagi wanita hamil<ref>http://jeparabaruku.blogspot.com/2013/05/puutri-shima-sang-rratu-kejujuran.html</ref>. Siapa saja tatkala hamil seringkali merasakan yang namanya Nyidam. Bahkan, seorang ratu pun bisa merasakan nyidam saat hamil. Nyidam selalu diidentikan dengan permintaan atau keinginan yang aneh-aneh. Sehingga, seringkali membutuhkan pengorbanan untuk memenuhi nyidam itu. Meski sulit dan butuh pengorbanan nyidam harus terpenuhi, jika nyidamnya tidak terpenuhi, mitos yang beredar luas di masyarakat, konon kelak ketika si jabang bayi lahir akan selalu mengeluarkan air liur. Sebagai wanita, Ratu Shima kala tengah mengandung tujuh bulan pun mengalami sensi nyidam. Meskipun seorang ratu, Ratu Shima kala itu nyidam buah kecapi. Buah yang rame rasanya, manis-asam-segar. Meskipun seorang ratu, Ratu Shima ingin mencari dan memetik sendiri buah yang diingini itu. Ratu Shima tak ingin mengutus punggawanya mencarikan buah tersebut. Pasalnya, Ratu Shima khawatir jika mengutus punggawanya, begitu kembali ke hadapannya buah yang diingini sudah tidak segar lagi. Lantas bergegaslah Ratu Shima diikuti para punggawanya melakukan perjalanan mencari buah kecapi. Berdasarkan cerita yang dituturkan Ahmad Jayeng (45 tahun) warga Kecapi Krajan, perjalanan Ratu Shima dimulai dari suatu wilayah yang kini bernama Keling. Dari Keling rombongan berjalan kaki menuju ke arah barat. Setengah hari berjalan Ratu Shima belum juga menemukan buah yang diidamkannya itu. Beberapa desa pun sudah dilewati, tapi hasil pencariannya itu masih nihil. Saat tiba di suatu wilayah yang banyak ditumbuhi pohon rembulung, Ratu Shima beserta pengikutnya beristirahat. Kini tempat yang dijadikan peristirahatan tersebut diberi nama Desa [[Bulungan, Pakis Aji, Jepara|Bulungan]]. Setelah rasa lelah hilang, rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Baru berjalan beberapa waktu, para punggawa Ratu Shima berteriak, "kecapi... kecapi....kecapi," berulang ulang. Ya, ternyata mereka telah menemukan sejumlah pohon kecapi yang tengah berbuah lebat. Tanpa ragu lagi, Ratu Shima segera turun dari tandunya. Bergegas memetik buah kecapi yang diidamkan tersebut. Dan tempat dimana ditemukan buah kecapi tersebut sekarang dibangun sebuah punden sebagai petilasan Ratu Shima, dan masih visa dikunjungi oleh masyarakat. Wilayah di sebelah selatan dimana ditemukan banyak tanaman rembulung disebut Desa Bulungan.


Masa-masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Shima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan Hindu Budha).
== Suksesi Pemerintahan ==
Sebelum mangkat, Kerajaan Kalingga dibagi dua. Di bagian utara disebut Bumi Mataram/ Kalingga Utara (dirajai oleh Parwati, 695 M-716 M) bersama suaminya Rahyang Mandiminyak atau Prabu [[Suraghana]] selanjutnya Sang Sena atau Prabu [[Sanna]]. Di bagian selatan disebut Bumi Sambara/ Kalingga Selatan dirajai oleh Narayana, adik Parwati, yang bergelar ''Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala''' (695 M-742) M. Sanjaya (cucu Parwati) putra Prabu [[Sanna]] dengan Dewi Sanaha, cicit Maharani [[Shima]] dan Dewi Sudiwara putri Dewasinga(cucu Narayana) menjadi suami isteri. Perkawinan mereka adalah perkawinan antara sesama cicit Ratu Sima. Anak hasil perkawinan mereka bernama Rakai [[Panangkaran]] yang lahir tahun 717 M. Dialah yang di kemudian hari menurunkan raja-raja di [[Jawa Tengah]].


Dalam hal bercocok tanam Ratu Shima juga mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam.
== Prasasti Sojomerto ==


Kerajaan Kalingga beratus tahun yang lalu bersinar terang emas penuh kejayaan. Memiliki Maharani Sang Ratu Shima nan ayu, anggun, perwira, ketegasannya semerbak wangi di banyak negeri. Pamor Ratu Shima dalam memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai jelata, wong cilik sampai lingkaran elit kekuasaan.
[[Berkas:Sojomerto_Inscription.JPG|jmpl|ka|Gambar prasasti.]]

Bahkan konon tak ada satu warga anggota kerajaan pun yang berani berhadap muka dengannya, apalagi menantang. Situasi ini justru membuat Ratu Shima amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga para pejabat mahapatih, patih, mahamenteri, dan menteri, hulubalang, jagabaya, jagatirta, ulu-ulu, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya.<ref>http://www.kompasiana.com/gusblero/maharani-shima_54f5ed6da333115b7c8b45de</ref>

== Pembagian Kerajaan ==
Sebelum wafat, Kerajaan Keling dibagi dua. Di bagian utara disebut Bumi Mataram/ Keling Utara (dirajai oleh Parwati, 695 M-716 M) bersama suaminya Rahyang Mandiminyak atau Prabu [[Suraghana]] selanjutnya Sang Sena atau Prabu [[Sanna]].

Di bagian selatan disebut Bumi Sambara/ Keling Selatan dirajai oleh Narayana, adik Parwati, yang bergelar ''Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala''' (695 M-742) M.

Sanjaya (cucu Parwati) putra Prabu [[Sanna]] dengan Dewi Sannaha, cicit Maharani [[Shima]] dan Dewi Sudiwara putri Dewasingha (cucu Narayana) menjadi suami isteri. Pernikahan mereka dikaruniai putra bernama [[Rakai Panangkaran]] yang lahir tahun 717 M. Dialah yang di kemudian hari menurunkan raja-raja di [[Jawa Tengah]].

== Prasasti Sojomerto ==
'''Prasasti Sojomerto''' merupakan peninggalan [[Wangsa Sailendra]] yang ditemukan di Desa [[Sojomerto, Reban, Batang|Sojomerto]], Kecamatan [[Reban, Batang|Reban]], [[Kabupaten Batang]], [[Jawa Tengah]]. Prasasti ini ber[[aksara Kawi]] dan ber[[bahasa Melayu Kuna]]. Prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun, berdasarkan taksiran analisis paleografi diperkirakan berasal dari kurun akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 masehi.
'''Prasasti Sojomerto''' merupakan peninggalan [[Wangsa Sailendra]] yang ditemukan di Desa [[Sojomerto, Reban, Batang|Sojomerto]], Kecamatan [[Reban, Batang|Reban]], [[Kabupaten Batang]], [[Jawa Tengah]]. Prasasti ini ber[[aksara Kawi]] dan ber[[bahasa Melayu Kuna]]. Prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun, berdasarkan taksiran analisis paleografi diperkirakan berasal dari kurun akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 masehi.


Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais.<ref name="Boechari"/> Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, [[Dapunta Selendra]], yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. [[Boechari]] berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan [[Wangsa Sailendra]] yang berkuasa di Kerajaan [[Medang|Mataram Hindu]].
Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais.<ref name="Boechari"/> Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, [[Dapunta Selendra]], yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. [[Boechari]] berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan [[Wangsa Sailendra]] yang berkuasa di Kerajaan [[Medang|Mataram Hindu]].


Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43&nbsp;cm, tebal 7&nbsp;cm, dan tinggi 78&nbsp;cm.<ref>[http://www.batangkab.go.id/pariwisata/Sejarah_Batang.htm Situs Kabupaten Batang, diakses 7 Juni 2007]</ref> Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.
Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43&nbsp;cm, tebal 7&nbsp;cm, dan tinggi 78&nbsp;cm.<ref>{{Cite web |url=http://www.batangkab.go.id/pariwisata/Sejarah_Batang.htm |title=Situs Kabupaten Batang, diakses 7 Juni 2007 |access-date=2016-04-07 |archive-date=2008-03-27 |archive-url=https://web.archive.org/web/20080327011308/http://www.batangkab.go.id/pariwisata/Sejarah_Batang.htm |dead-url=yes }}</ref> Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.


== Teks prasasti ==
== Teks prasasti ==
Baris 85: Baris 105:
== Penafsiran prasasti ==
== Penafsiran prasasti ==
Terjemahan inskripsi yang terbaca:
Terjemahan inskripsi yang terbaca:

:''Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa''
:''Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa''
:''... dari yang mulia Dapunta Selendra''
:''... dari yang mulia Dapunta Selendra''
:''Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra.'' <ref>https://yoedana.wordpress.com/2011/09/15/prasasti-sojomerto/</ref><ref>https://wiki-indonesia.club/wiki/Prasasti_Sojomerto</ref>
:''Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra.'' <ref>https://yoedana.wordpress.com/2011/09/15/prasasti-sojomerto/</ref><ref>https://wiki-indonesia.club/wiki/Prasasti_Sojomerto</ref>


== Sang Ratu Mangkat ==
== Wafat ==
Ratu Sima putri Hyang Syailendra putra Santanu ([[Sriwijaya]]) mangkat tahun [[695]] M, 3 tahun sesudah Sri Jayanasa, Raja Sriwijaya meninggal [[692]] M.
Ratu Sima putri Hyang Syailendra putra Santanu mangkat tahun [[695]] M, 3 tahun sesudah Sri Jayanasa, Raja Sriwijaya meninggal [[692]] M.


== Referensi ==
== Referensi ==
Baris 103: Baris 122:
[[Kategori:Tokoh Jawa]]
[[Kategori:Tokoh Jawa]]
[[Kategori:Tokoh wanita]]
[[Kategori:Tokoh wanita]]
[[Kategori:Wanita Indonesia abad ke-7]]

Revisi terkini sejak 5 Oktober 2024 20.09

Ratu Shima
Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara
Ratu Keling
Berkuasa674 - 695
PendahuluKartikeyasingha
PenerusRatu Parwati Narayana
KelahiranShima
611 M
Indonesia Musi Banyuasin
Kematian695 M
Indonesia Kalingga, Kerajaan Keling
PasanganKartikeyasingha
KeturunanRatu Parwati Narayana
WangsaSailendra
AyahDapunta Selendra

Shima adalah Permaisuri Raja Kartikeyasingha yang menjadi raja Keling saat berpusat di Keling, Jatim (648 - 674) M.

Namun Ketika Raja Kartikeyasingha wafat, Sang Permaisuri naik tahta Kerajaan Keling dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Kemudian, memindahkan kekuasaan ke Kalingga, Jawa Tengah.[1]

Ratu Shima atau Shima putri Hyang Syailendra putra Santanu[2] adalah Permaisuri Raja Kartikeyasingha, Ayahanda Kartikeyasingha adalah Raja Kirathasingha (632 - 648) M. Sedangkan Ibunda Kartikeyasingha berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribu kota di Palembang. Raja Melayu Sribuja yang dikalahkan Sriwijaya tahun 683 M adalah kakak dari ibunda Prabu Kartikeyasingha.

Ratu Sima adalah putri seorang pendeta di wilayah Sriwijaya. Ia dilahirkan tahun 611 M di sekitar wilayah yang disebut Musi Banyuasin. Ia menjadi istri pangeran Kartikeyasingha. Pernikahan Kartikeyasingha dengan Ratu Shima melahirkan dua orang anak, yaitu Dewi Parwati dan Narayana (Iswara). Ratu Shima adalah pemeluk Hindu Siwa yang taat.

Dewi Parwati, anak Ratu Shima, menikah dengan putra mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Sang Jalantara dan menjadi raja Kerajaan Galuh ke-2 dengan gelar Prabu Suraghana (702-709) M dan berputri Dewi Sannaha.

Dewi Sannaha dan Prabu Sanna menikah memiliki anak yang bernama Sanjaya, Rakai Mataram (723 - 732 M) yang kemudian 703/704 M, Sanjaya menikahi Dewi Sekar Kancana (Teja Kancana Ayupurnawangi) putri Rakyan Sundasembawa (mati muda) putra Sri Maharaja Tarusbawa, cucu Sri Maharaja Tarusbawa dari Kerajaan Sunda.

Sehingga Maharaja Harisdarma sempat menjadi raja Kerajaan Galuh (ia merebut kembali tahta Galuh tahun 723 M dari tangan Purbasora yang merebut tahta Galuh tahun 716 M dari Prabu Sanna, ayahnya) dan raja Kerajaan Sunda (menerima tahta dari kakek mertuanya, Sri Maharaja Tarusbawa) tahun 723 M sehingga ia menjadi Maharaja Sunda dan Galuh (723-732) M.[3]

Maharaja Linggawarman, penguasa terakhir Tarumanagara (666-669) M, mempunyai 2 orang putri, yaitu yang sulung bernama Dewi Manasih menjadi istri Sri Maharaja Tarusbawa, menerima tahta Kerajaan Tarumanagara dari mertuanya, lalu mendirikan Kerajaan Sunda pada tahun 669 M dan putri yang kedua bernama Dewi Sobakancana menjadi isteri Sri Jayanasa, yang mendirikan Kerajaan Sriwijaya 671 M.

Hubungan Luar Negeri

[sunting | sunting sumber]

Tahun 500 M Pulau Sumatra dikuasai dua kerajaan kuat, yaitu Kerajaan Pali (Utara) dan Kerajaan Melayu Sribuja (di timur) yang beribu kota Palembang.

Sedangkan Kerajaan Sriwijaya baru merupakan kerajaan kecil di Jambi. Tahun 676 M Kerajaan Pali dan Mahasin (Singapura) ditaklukan Sriwijaya. Tahun 683 M, Kerajaan Sriwijaya berhasil menaklukan Kerajaan Melayu.

Ekspansi Sriwijaya terhadap Kerajaan Melayu yang masih memiliki kekerabatan dengan Keling tentu sangat mengganggu hubungan dengan Keling. Maka, Sriwijaya mencoba mencairkan hubungan dengan Kerajaan Sunda dan Keling.

Langkah diplomatik dilakukan antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Sunda yang sama-sama, sebagai menantu Maharaja Linggawarman dalam sebuah prasasti yang ditulis dalam dua bahasa, Melayu dan Sunda, jalinan persaudaraan dan persahabatan kemudian dikenal dengan istilah Mitra Pasamayan (inti isi perjanjiannya, untuk tidak saling menyerang dan harus saling membantu).[4]

Kerajaan Keling pun ditawari persahabatan, namun menolak karena sakit hati atas penyerangan Sriwijaya terhadap Melayu, yang merupakan kerabat Keling mengingat Ratu Shima dan Ibunda Kartikeyasinga berasal dari wilayah Kerajaan Melayu Sribuja yang beribu kota di Palembang.

Ketegangan antara Sriwijaya dan Keling menajam sehingga keduanya sudah mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar namun, masih dapat dilerai oleh Sri Maharaja Tarusbawa dari Kerajaan Sunda.

Sebagai sahabat dan kerabat sehingga Sri Jayanasa mengurungkan niatnya menyerang Keling, karena Keling adalah kerabat Kerajaan Sunda. Keadaan ini berlangsung hingga Sri Jayanasa wafat tahun 692 M dan digantikan oleh Dharmaputra (692 - 704).

Pemerintahan Ratu Shima

[sunting | sunting sumber]

Dalam pemerintahan Ratu Shima, Kerajaan Keling aman karena beraliansi dengan Kerajaan Sunda dan Galuh. Terutama karena sikap tegas dan dia sangat dicintai rakyatnya.

Sang Ratu menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur.

Tradisi mengisahkan seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota Kalingga. Raja asing ini melakukan hal itu karena ia mendengar kabar tentang kejujuran rakyat Kalingga dan berniat menguji kebenaran kabar itu.

Tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu, hingga suatu hari tiga tahun kemudian, seorang putra Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya.

Mulanya Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran.[5]

Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi Keling sehingga membuat Raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum sekaligus penasaran.

Masa-masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Shima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan Hindu Budha).

Dalam hal bercocok tanam Ratu Shima juga mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam.

Kerajaan Kalingga beratus tahun yang lalu bersinar terang emas penuh kejayaan. Memiliki Maharani Sang Ratu Shima nan ayu, anggun, perwira, ketegasannya semerbak wangi di banyak negeri. Pamor Ratu Shima dalam memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai jelata, wong cilik sampai lingkaran elit kekuasaan.

Bahkan konon tak ada satu warga anggota kerajaan pun yang berani berhadap muka dengannya, apalagi menantang. Situasi ini justru membuat Ratu Shima amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga para pejabat mahapatih, patih, mahamenteri, dan menteri, hulubalang, jagabaya, jagatirta, ulu-ulu, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya.[6]

Pembagian Kerajaan

[sunting | sunting sumber]

Sebelum wafat, Kerajaan Keling dibagi dua. Di bagian utara disebut Bumi Mataram/ Keling Utara (dirajai oleh Parwati, 695 M-716 M) bersama suaminya Rahyang Mandiminyak atau Prabu Suraghana selanjutnya Sang Sena atau Prabu Sanna.

Di bagian selatan disebut Bumi Sambara/ Keling Selatan dirajai oleh Narayana, adik Parwati, yang bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala' (695 M-742) M.

Sanjaya (cucu Parwati) putra Prabu Sanna dengan Dewi Sannaha, cicit Maharani Shima dan Dewi Sudiwara putri Dewasingha (cucu Narayana) menjadi suami isteri. Pernikahan mereka dikaruniai putra bernama Rakai Panangkaran yang lahir tahun 717 M. Dialah yang di kemudian hari menurunkan raja-raja di Jawa Tengah.

Prasasti Sojomerto

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan Wangsa Sailendra yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna. Prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun, berdasarkan taksiran analisis paleografi diperkirakan berasal dari kurun akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 masehi.

Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais.[7] Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.

Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm.[8] Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.

Teks prasasti

[sunting | sunting sumber]

Alih aksara prasasti:[7]

  1. ... – ryayon çrî sata ...
  2. ... _ â kotî
  3. ... namah ççîvaya
  4. bhatâra parameçva
  5. ra sarvva daiva ku samvah hiya
  6. – mih inan –is-ânda dapû
  7. nta selendra namah santanû
  8. namânda bâpanda bhadravati
  9. namanda ayanda sampûla
  10. namanda vininda selendra namah
  11. mamâgappâsar lempewângih

Penafsiran prasasti

[sunting | sunting sumber]

Terjemahan inskripsi yang terbaca:

Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa
... dari yang mulia Dapunta Selendra
Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra. [9][10]

Ratu Sima putri Hyang Syailendra putra Santanu mangkat tahun 695 M, 3 tahun sesudah Sri Jayanasa, Raja Sriwijaya meninggal 692 M.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ http://gusdayat.com/2015/07/04/ratu-sima-ratu-kerajaan-kalingga/
  2. ^ http://en.rodovid.org/wk/Person:321868
  3. ^ ^^Menurut Carita Parahyangan Cicit Ratu Shima adalah Sanjaya yang menjadi Raja Galuh, dan menurut Prasasti Canggal adalah pendiri Kerajaan Medang di Mataram. Berdasarkan Naskah Wangsakerta disebutkan bahwa Ratu Shima berbesan dengan penguasa terakhir Tarumanegara, yang diwarisi oleh Kerajaan Galuh dan Sunda.
  4. ^ http://akibalangantrang.blogspot.co.id/2010/04/mitra-pasamayam.html
  5. ^ Drs. R. Soekmono, (1973 edisi cetak ulang ke-5 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 37. 
  6. ^ http://www.kompasiana.com/gusblero/maharani-shima_54f5ed6da333115b7c8b45de
  7. ^ a b Boechari (1966). "Preliminary report on the discovery of an Old Malay inscription at Sojomerto". MISI. III: 241–251. 
  8. ^ "Situs Kabupaten Batang, diakses 7 Juni 2007". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-03-27. Diakses tanggal 2016-04-07. 
  9. ^ https://yoedana.wordpress.com/2011/09/15/prasasti-sojomerto/
  10. ^ https://wiki-indonesia.club/wiki/Prasasti_Sojomerto