Lompat ke isi

Dasarata

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Dasaratha)
Dasarata
दशरथ
Ilustrasi Kaikeyi menuntut Dasarata mengasingkan Rama dari Ayodhya
Ilustrasi Kaikeyi menuntut Dasarata mengasingkan Rama dari Ayodhya
Tokoh dalam mitologi Hindu
NamaDasarata
Ejaan Dewanagariदशरथ
Ejaan IASTDaśaratha
Kitab referensiRamayana
AsalAyodhya, Kerajaan Kosala
DinastiIkswaku
SenjataPanah
AnakRama, Bharata, Laksmana,
dan Satrugna

Dasarata (Sanskerta: दशरथ, IAST: Daśaratha) adalah tokoh dari wiracarita Ramayana, seorang raja putera Aja, keturunan Ikswaku dan berada dalam golongan Raghuwangsa atau Dinasti Surya. Ia adalah ayah Sri Rama dan memerintah di Kerajaan Kosala dengan pusat pemerintahannya di Ayodhya. Ramayana mendeskripsikannya sebagai seorang raja besar lagi pemurah. Angkatan perangnya ditakuti berbagai negara dan tak pernah kalah dalam pertempuran

Asal-Usul

[sunting | sunting sumber]

Dasarata dipercaya dikehidupan sebelumnya adalah Resi Kasyapa dan Kosalya dikehidupan sebelumnya adalah Dewi Aditi. Mereka berdua memohon pada Dewa Wisnu agar mereka diberikan seorang putra. Karena Resi Kasyapa dan Dewi Aditi sudah tua, Dewa Wisnu mengabulkan permohonan mereka setelah Resi Kasyapa dan Dewi Aditi hidup kembali menjadi Dasarata dan Kosalya. Dewa Wisnu pun turun ke bumi untuk menjawab doa Resi Kasyapa dan Aditi dengan menjadi Sri Rama

Masa muda

[sunting | sunting sumber]

Pada saat Dasarata masih muda dan belum menikah, ia suka berburu dan memiliki kemampuan untuk memanah sesuatu dengan tepat hanya dengan mendengarkan suaranya saja. Di suatu malam, Dasarata berburu ke tengah hutan. Di tepi sungai Sarayu, ia mendengar suara gajah yang sedang minum. Tanpa melihat sasaran ia segera melepaskan anak panahnya. Namun ia terkejut karena tiba-tiba makhluk tersebut mengaduh dengan suara manusia. Saat ia mendekati sasarannya, ia melihat seorang pertapa muda tergeletak tak berdaya. Pemuda tersebut bernama Srawana. Ia mencaci maki Dasarata yang telah tega membunuhnya, dan berkata bahwa kedua orang tuanya yang buta sedang menunggu dirinya membawakan air. Sebelum meninggal, Srawana menyuruh agar Dasarata membawakan air ke hadapan kedua orang tua si pemuda yang buta dan tua renta. Dasarata menjalankan permohonan terakhir tersebut dan menjelaskan kejadian yang terjadi kepada kedua orang tua si pemuda. Dasarata juga meminta maaf di hadapan mereka.

Setelah mendengar penjelasan Dasarata, kedua orang tua tersebut menyuruh Dasarata agar ia mengantar mereka ke tepi sungai untuk meraba jasad puteranya yang tercinta untuk terakhir kalinya. Kemudian, mereka mengadakan upacara pembakaran yang layak bagi puteranya. Karena rasa cintanya, mereka hendak meleburkan diri bersama-sama ke dalam api pembakaran. Sebelum melompat, ayah si pemuda menoleh kepada Dasarata dan berkata bahwa kelak pada suatu saat, Dasarata akan mati dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh putranya yang paling dicintai dan paling diharapkan.

Istri dan keturunan

[sunting | sunting sumber]

Dasarata memiliki tiga permaisuri, yaitu Kosalya, Sumitra, dan Kekayi. Lama setelah pernikahannya, Dasarata belum juga dikaruniai anak. Akhirnya ia mengadakan yadnya (ritual suci) yang dipimpin Resi Srengga. Dari upacara tersebut, Dasarata memperoleh payasam berisi air suci untuk diminum oleh para permaisurinya. Kosalya dan Kekayi minum seteguk, sedangkan Sumitra meminum dua kali sampai habis. Beberapa bulan kemudian, suara tangis bayi menyemarakkan istana. Yang pertama melahirkan putra adalah Kosalya, dan putranya diberi nama Rama. Yang kedua adalah Kekayi, melahirkan putra mungil yang diberi nama Bharata. Yang ketiga adalah Sumitra, melahirkan putra kembar dan diberi nama Laksmana dan Satrugna.

Kehidupan selanjutnya dan kematian

[sunting | sunting sumber]

Dasarata yang sudah tua hendak menobatkan Rama sebagai raja, sebab Rama adalah putera sulung sekaligus yang paling diharapkan Dasarata. Namun tindakannya tersebut ditentang oleh permaisurinya yang paling muda, yaitu Kekayi. Atas tuntutan Kekayi, Dasarata membuang Rama ke dalam hutan. Setelah membuang Rama ke tengah hutan, Dasarata membenci Kekayi dan ia tidak sudi lagi jika wanita tersebut mendekatinya. Tak beberapa lama kemudian, Dasarata jatuh sakit. Dalam masa-masa kritisnya, ia bersedih sambil mengenang kembali dosa-dosanya. Ia juga mengungkit kisah masa lalunya yang kelam di waktu muda kepada Kosalya, yaitu membunuh pertapa muda yang kedua orangtuanya buta. Dalam kesedihannya, Dasarata meninggal dunia karena sakit hati.

Dasarata dalam Kakawin Ramayana

[sunting | sunting sumber]
Kutipan Terjemahan
Hana sira Ratu dibya rēngőn, praçāsta ring rāt, musuhnira praṇata, jaya paṇdhita, ringaji kabèh, Sang Daçaratha, nāma tā moli Ada seorang Raja besar, dengarkanlah. Terkenal di dunia, musuh baginda semua tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat agama, Prabhu Dasarata gelar Sri Baginda, tiada bandingannya
Sira ta Triwikrama pita, pinaka bapa, Bhaṭāra Wiṣḥnu mangjanma inakaning bhuwana kabèh, yatra dōnira nimittaning janma. Dia ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi manusia.
Guṇa mānta Sang Daçaratha, wruh sira ring Wéda, bhakti ring Déwa, tar malupeng pitra pūja, māsih ta sirêng swagotra kabèh. Cukup berprestasi Sang Dasarata. Ia mahir mempelajari Veda dan berbakti kepada para Dewa, tak lupa kepada para leluhur. Ia sayang kepada seluruh sanak keluarga.
Kadi megha manghudanakēn, padhanira yār wehakēnikang dāna, dināṇdha kṛpaṇa ya winêh, nguni-nguni dhanghyang dhangārcārya. Bagai mendung mengeluarkan hujan, begitulah Sri Baginda ketika bersedekah, orang-orang hina, cacat, dan miskin, semua diberi cinta kasih. Terlebih lagi kepada para pendeta dan guru.
Mwang satya ta sira mojar, ringanakkēbi towi tar mṛṣā wāda, nguni-nguni yan ri parajana, priyahita sojarnirā tiçaya. Dan juga Sri Baginda tepat akan ucapan, meski terhadap wanita, dia tidak pernah berbohong, apalagi terhadap orang lain. Titah Sri Baginda benar-benar tepercaya.
Saphala sira rāksakeng rāt, tuwi sira mitra Hyang Indra bhakti têmên, Māhèçwara ta sira lana, Çiwa bhakti ginőng lanā ginawè Cukup berhasil Sri Baginda sebagai pimpinan, karena Sri Baginda sahabat Sang Hyang Indra yang amat berbakti, juga terhadap Sang Hyang Maheswara, kepada Sang Hyang Çiwa pula diperkuat
Ikanang dhanurdhara kabèh, kapwa ya bhakti ri sira praṇata matwang, kadi mawmata yaça lanā, rupanya nagőng ta kīrttinira Para prajurit ksatria yang bersenjata panah, semua berbakti terhadap Sri Baginda dan tunduk pasrah, seperti menambah jasa Sri Baginda selamanya, memang kenyataannya besar jasa Sri Baginda
Jnānanira çuddha mawulan, parārtha gumawe sukānikang bhuwana, sāksātindra sira katon, tuhun haneng bhumi bhedanira Pikiran Sri Baginda bersih laksana bulan, amat tekun Sri Baginda menciptakan kesenangan di dunia, dia bagaikan Bhatara Indra di mata rakyat, yang berbeda hanya karena dia berada di dunia fana
Ikang pratāpa dumilah, sukanikang rāt yateka ginawèya, kadi bahni ring pahoman, dumilah mangde sukanikang rāt Amal bakti dia menyala-nyala, ia cuma berbuat demi kemakmuran negara, bagai api pada perapian, berkobar-kobar menyebabkan dunia senang

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
Didahului oleh:
Aja
Raja Ayodhya Diteruskan oleh:
Rama