Lompat ke isi

Islam di Bengkulu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Revisi sejak 21 Oktober 2021 16.18 oleh 182.1.34.158 (bicara) (Sidang saleh)

Islam di Bengkulu memiliki sejarah yang panjang. Dakwah Islam di provinsi Bengkulu mulai masuk pada sekitar tahun 1200-an dan saat itu Bengkulu masih berupa pemerintahan dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil, pada hari senin 10 Maret 1529 adalah resminya nama Mukomuko dan resminya batas Mukomuko dengan Kerinci,ialah darei renah sianit sampai bukit setinjau laut.[1][2] Dakwah Islam di Bengkulu berkembang pada tahun 1288 hingga sekarang. Dakwah Islam di Bengkulu sepertinya masuk melalui melalui Sumatra Barat. Interaksi dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Bengkulu dan Sidang Saleh adalah Paksi Pak, diperkirakan pula hingga Banten di tanah Jawa. Islam tercatat sebagai agama resmi pertama yang masuk ke Bengkulu melalui "Kerajaan Muko-muko" pada sekitar tahun 1287 Masehi abad ke-13 Masehi oleh para putra-putra dari pada Mujahid. Masuk dan berkembangnya dakwah Islam di nusantara Indonesia tidak terlepas dari adanya interaksi antara pedagang muslim kala itu, Umumnya buku-buku sejarah nasional menjelaskan, masuknya Islam ke nusantara dibawa oleh para musafir yang berdagang dari Gujarat dan pedagang keturunan arab yang memiliki misi khusus penyebar agama Islam. Menurut Marwati dan Poespo Nugroho, Islam masuk ke nusantara melalui para musafir dan pedagang muslim, sedangkan menurut kajian arkeologi membuktikan islam di bengkulu berawal dari pasai pesisir pantai utara sumatra. Daerah-daerah pantai yang disinggahi para penyebar Islam sejak awal sudah memungkinkan mereka mendirikan perkampungan. Sedangkan menurut sejarawan T. W. Arnold dalam karyanya The Preaching of Islam menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal sebelum abad ke-12 Masehi.[3]

Interaksi para mubaligh Islam yang berprofesi sebagai pedagang tersebut (lebih dikenal dengan para saudagar muslim) yang datang ke nusantara untuk melakukan perdagangan dengan penduduk pribumi Indonesia, telah membawa penyebaran dakwah Islam ke nusantara. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Marwati dan Poespo Nugroho, saluran dan cara-cara Islamisasi Indonesia pada taraf permulaan adalah melalui jalur syiar kemungkinan pula dengan berdagang yang dilakukan oleh pedagang-pedagang muslim Arab, Persia, dan India pada abad ke-8. Saluran Islamisasi yang kedua adalah melalui perkawinan para pedagang dan mujahid muslim tersebut dengan wanita pribumi. Islamisasi di suatu daerah adalah melalui pengembangan ajaran tasawuf, pendidikan, adat istiadat, budaya dan pondok pesantren. Saluran dan cara Islamisasi di suatu daerah dapat pula melalui cabang-cabang kesenian, seperti seni bangunan, seni pahat atau ukir, seni tari, musik, dan seni sastra, wawakhahan dan lain sebagainya.

Masuknya Islam di Bengkulu

Masuk dan berkembangnya dakwah Islam di Bengkulu menurut hemat penulis sedikit terlambat dibandingkan dengan masuknya dakwah Islam di daerah-daerah lain di nusantara yang telah tersentuh ajaran Islam pada abad ke-7 Masehi. Hal ini ada kemungkinan disebabkan oleh letak geografis Bengkulu yang berada di tepi Samudera Hindia dan pengislaman di tempat lain. Dengan kondisi tersebut membuat pelayaran mengalami tertunda untuk berlayar menuju Bengkulu. Persentuhan Bengkulu dengan Islam saat Bengkulu masih terbentuk dalam sistem pemerintahan berupa kerajaan yang berada di kawasan dataran tinggi ataupun berada di wilayah pesisir provinsi Bengkulu di dalam sejarah sepertinya masuknya Islam di Indonesia oleh Mujahid keturunan dari anak cucu Sultan Iskandar Zulkarnain yang menjadi salah satu pemimpin pemerintahan monarki kala itu. Dengan pusat pemerintahan di perkirakan daerah Kerajaan Siguntur dengan ibu kota Negeri Kerajaan Jambu Lipo pesisir pantai barat Sumatra.

Berdasar pada beberapa data yang ada, salah satunya menurut Azra, penyebaran Islam yang berasal dari Timur Tengah dan sekitarnya menuju kepulauan indonesia. Islam tersebar di pulau Asia kemungkinan melaui Al-Mujahid, Mujahid Sriwijaya, lalu menyebar ke daerah-daerah lainnya. Islam juga dibawa ke Aceh dan menyebar ke daerah sekitarnya. Sedangkan Islam di Sumatra Barat kemungkinan menerima Islam melalui Palembang, Aceh atau Pasai. Bila melihat jalur penyebaran agama Islam di indonesia tersebut, ada kemungkinan Islam masuk ke Bengkulu melalui Sumatra Barat (1200) dan pada masa-masa tersebut Bengkulu telah berbentuk dalam tata pemerintahan berupa monarky.

Salah satu kerajaan tertua di Bengkulu adalah Kerajaan Sungai limau kenungkinan dengan raja pertamanya pendahulu dari Ratu Agung abad ke-12 hingga ke-15 Masehi yang berasal dari Gunung Bungkuk. Dari sumber lokal yang terhimpun dalam Gelumpai diperoleh keterangan bahwa pada tahun 1417 M seorang dai dari Aceh bernama Malim Mukidim datang ke Gunung Bungkuk Sungai Serut Awi, kawasan Lematang Ulu. Malim Mukidim berhasil mengislamkan Raja dan Ratu Agung penguasa Gunung Bungkuk saat itu.

Persentuhan Palembang dengan Islam, kemungkinkan Palembang menjadi salah satu pintu masuknya Islam ke Bengkulu. Hal ini sebagaimana yang di kemukakan oleh Badrul Munir Hamidy: "Masuknya Islam ke Bengkulu melalui lima pintu yaitu ; pintu pertama melalui kerajaan Sungai limau yang dibawa oleh ulama Aceh Tengku Malim Mukidim, pintu kedua melalui perkawinan Sultan Muzafar Syah dengan putri Serindang Bulan, inilah awal masuknya Islam ke tanah Rejang pada pertengahan abad XVII. Pintu ketiga melalui Kerajaan Siguntur ibu Negeri Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar ke kerajaan Sungai Lemau pada abad XIII, pintu keempat melalui dakwah yang dilakukan oleh dai-dai dari Pasai. Pintu kelima masuknya Islam ke Bengkulu melalui daerah Mukomuko setelah menjadi kerajaan. Kerajaan Siguntur ibu Negeri Pagar uyung di Sumatra Barat mempunyai kekuasaan yang luas dari Sikilang Aia Bangih adalah batas Utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatra Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah-daerah pesisir Selatan hingga ke Mukomuko. Abdul Syukur awal mula-mula mengembangkan agama Islam di wilayah Sungai Itam hingga ke Lembak Delapan.

Singaran yang datang dari Lembak Beliti dusun Taba Pingin Pucuk Palembang dalam sumber lain nama Singaran disebut juga dengan nama Aswanda. Karena Aswanda berkelakuan baik dan berasal dari keturunan bangsawan maka oleh baginda Sebayam diambil menjadi menantu dan diberi sebagian wilayah kerajaannya, yaitu daerah pesisir yang terbentang antara Sungai Itam dan sungai Bengkulu ke hulu sampai sungai Renah Kepahiang dan ke hilir sampai ke pinggir laut, peristiwa ini kemungkinan terjadi pada abad ke-16. Kedatangan kerabat Singaran yang beragama Islam pada masa pemerintahan Paduka Baginda Muda dari kerajaan Sungai Lemau berarti telah terjadi kontak hubungan antara masyarakat Sungai Lemau khususnya di wilayah Sungai Itam hingga ke Lembak Delapan dengan agama Islam sekitar sebelum abad ke-17 Masehi.

Pada abad ke-16 Masehi kerajaan Sungai Lemau dan kerajaan Sillebar yang ada di Bengkulu mengadakan hubungan kerjasama dengan sultan Banten. Utusan kerajaan Sungai Lemau diwakili oleh Depati Bangsa Raja, sedangkan utusan dari kerajaan Sillebar diwakili oleh Depati Bangso Radin. Kedua utusan dari dua kerajaan tersebut menyatakan wilayahnya memiliki hubungan kerjasama yang baik terhadap sultan Banten.

Selain itu peninggalan sejarah menyangkut kontak hubungan masyarakat Bengkulu dengan agama Islam yang masih dapat dilihat sampai sekarang adanya perayaan ritual Tabot yang dilaksanakan untuk memperingati kematian cucu Nabi Muhammad S.A.W. yakni Hasan dan Husein.

Awal datangnya Tabut di Bengkulu dibawa oleh orang Benggali India pada jauh sebelum abad 16 Masehi. Di Bengkulu Syekh Burhanudin mempersunting dua orang dara yang masing-masing berasal dari dusun Cinggri dan Sungai Leman menetap disebuah perkampungan yang terletak dipesisir bantai Berkas dengan anak dan cucunya . Masuknya budaya Tabut ke Bengkulu pada masa jauh sebelum penjajahan Inggris sekitar abad XVI yang dibawa oleh suku Sipai dan Benggali.

Pada masa kolonial Inggris berada di Bengkulu, suku Benggala termasuk kelompok ke lima dalam pelapisan sosial. Suku Benggala lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan suku Cina. Tabiat suku Benggala penuh curiga, suka berkelahi, dalam bekerja lebih lamban dari suku Melayu. Selain itu mereka menciptakan suatu tradisi perayaan yang lain dari kebudayaan suku Melayu yang ada di Bengkulu, suku Benggala dikenal juga sebagai Sipaijer atau suku Sipai. Kebudayaan dan tradisi yang diciptakan oleh suku Benggala tersebut sampai saat ini dikenal dengan perayaan Tabut.

Selain bukti sejarah berupa adat dan kebudayaan, tulisan, dan lain sebagainya, bukti lain yang mengindikasikan masuknya dakwah Islam ke suatu daerah antara lain adalah adanya adat dan budaya yang masih di pertahankan hingga sekatang, makam umat Islam atau makam orang Islam. Seperti ditemukannya batu nisan tanda kuburan tua yang bertuliskan dan atau berarsitektur Timur Tengah.

Di Bengkulu, salah satu peninggalan makam yang umat Islam terdapat pada makam Sentot Ali Basya tertulis tanggal pemakaman. Menurut penuturan masyarakat, bangunan cungkup yang ada di atas makam Sentot Alibasyah adalah bangunan baru. Hal itu menunjukan bangunan makam tersebut pada awalnya sangat sederhana, tanpa bangunan tambahan. Makam tidak ditandai.

Lokasi makam Sentot Alibasyah ini berada di daerah Kampung Bali atau lebih tepatnya berada pada arah Barat provinsi Bengkulu. Kondisi makam cukup terawat dengan baik, dipasang cungkup berwarna putih, serta disekelilingnya terdapat makam-makam lain yang berasal dari masyarakat sekitar. Lokasi makam mudah dijangkau dengan kendaraan, karena berada sekitar 200 meter dari jalan raya.

Bukti-bukti sejarah masuknya Islam di Bengkulu telah teridentifikasi secara utuh dengan dibuktikan adat dan budaya setempat masih dipertahankan berjalan sebagai mana mestinya. Namun perkembangan sejarah dakwah di Bengkulu dapat juga dilihat dari beberapa manuskrip yang menunjukkan pra-Islam adalah adanya naskah yang ditulis pada ruas/gelondong dari bambu, yang dikenal dengan tulisan Aksara Rencong, atau aksara Ulu. Masyarakat turunan Pasemah khususnya masyakat yang ada di Padang Guci kabupaten Kaur menyebut tulisan Ka-Ga-Nga dengan sebutan tulisan Ke-Ge-Nge, dan dari informasi yang penulis dapatkan mungkin tidak ada perbedaan antara Ka-Ga-Nga suku-suku Rejang, Suku Lampung dengan tulisan Ke-Ge-Nge yang pernah ada di Padang Guci.

Walaupun demikian tulisan Rencong Ka-Ga-Nga merupakan tulisan suku Rejang Bengkulu pertengahan abad XV, dan dikenal dengan sebutan Aksara Rencong, yang cara menulisnya dilakukan dari kiri ke kanan secara melintang (horizontal). Istilah Rencong lazim dipergunakan oleh sarjana Belanda. Tulisan aksara rencong disebut juga dengan aksara Ka-Ga-Nga, atau Surat Ulu. Dari sumber lokal yang terhimpun dalam tulisan pada ruas-ruas Gelumpa.

Selain peninggalan adat istiadat, tulisan, makam, dan artefak, masjid merupakan sebuah bukti sejarah Islam. Sehingga untuk mengkaji sejarah Islam, tidak jarang adat istiadat, masjid, bebatuan menjadi tolok ukur masuk dan berkembangnya Islam di suatu daerah. Budaya, Masjid sebagai sentral kegiatan ibadah dan dakwah Islam yang dapat menjadi bukti sejarah masuknya Islam di Bengkulu, namun di sayangkan sangat sedikit dapat ditemukan masjid-masjid tua yang menunjukkan indikasi bahwa masjid tersebut dibangun pada awal masuknya Islam di Bengkulu. Pada umumnya masjid yang ada di Bengkulu dibangun setelah jaman pra-sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebagai bukti masuk dan berkembangnya Islam di Bengkulu, tidak salah kiranya ditelusuri melalui adat, budaya serta masjid tua yang ada di Bengkulu. Dalam tulisannya Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia Abdul Baqie Zein mengemukakan ada beberapa masjid tertua dan bersejarah di kota Bengkulu adalah: masjid Baiturrahim simpang lima th 1910, masjid Taqwa Jl Sutoyo Rt. 4 th 1910, masjid Al-Muhtadin Jl S. Parman Rt. 10 th 1912, masjid Lembaga Pemasyarakatan th 1915, masjid Al-Muhtadin th 1920, masjid Al-Iman Jl. Sutoyo Rt. 5 th 1921. masjid-masjid inilah yang tercatat dalam direktori masjid Kanwil Depag Bengkulu tahun 1997. Sumber lain menyebutkan bahwa masjid-masjid yang bersejarah di Bengkulu di antaranya masjid Jamik di Jl. Suprapto, masjid Syuhada di kelurahan Dusun Besar, masjid Al-Mujahidin di kelurahan Pasar Baru, dan masjid Baitul Hamdi di kelurahan Pasar Baru.

Di Bengkulu Selatan terdapat sebuah masjid yang bernama Masjid Al Mannar yang kondisinya saat ini telah dipugar karena mengalami kerusakan berat setelah gempa tahun 2000. Menurut Burhanuddin (Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Mannar) masjid Al-Manar merupakan masjid tertua di Kota Manna, Bengkulu Selatan, karena dibangun sekitar tahun 1327 Hijriyah. Masjid Al-Mannar yang berlokasi di perkampungan nelayan Pasar Bawah memiliki nilai-nilai historis, karena terkait erat dengan sejarah perkembangan Islam di Bengkulu Selatan. Di masjid tersebut, dimakamkan pula Syech Moh Amin, yang merupakan penyebar agama Islam dan pendiri masjid pertama di Bengkulu Selatan tersebut.[4][5]

Interaksi Awal

Interaksi awal masyarakat Bengkulu dengan Islam dapat diketahu melalui beberapa jalur, antara lain melalui jalur Sumatra Selatan, jalur Sumatra Barat pengaruh Islam di Sumatra Barat di Mukomuko, dan jalur kerjasama perdagangan antar kerajaan Sillebar dengan Banten. Banyaknya jalur masuk dan berkembangnya dakwah Islam di Bengkulu, membuat corak tersendiri dalam aplikasi keberagamaan masyarakat Bengkulu. Mencermati beberapa data yang ada tentang sejarah Islam di Bengkulu, dapat diketahui telah adanya kajian secara holistik tentang proses masuknya Islam ke Bengkulu, waktu masuknya Islam ke Bengkulu, daerah mukomuko yang pertama bersentuhan dengan Islam, siapa penyebar agama Islam pertama kali adalah Mujahid, dari daerah pasai para pembawa Islam ke Bengkulu berasal, penyebaran dengan cara melalui adat dan budaya setempat, telah terhimpunnya bukti-bukti peninggalan sejarah Islam di Bengkulu. Dari fenomena yang ada, mengingat Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Bengkulu, maka dapat di simpulkan secara mendalam tentang sejarah Islam di Bengkulu melalui adat dan budaya awal dengan dibuktikan tulisan aksara Ka-Ga-Nga sama dengan tulisan Aksara Lampung Ka-Ga-Nga yang telah ada dari abad ke-9 masehi sejaman dengan di temukannya Prasasti Hujung Langit di hakha kuning bunukh tenuwakh. Pada jaman berikutnya pra-sejarah penyebaran Islam, Orang Mukomuko mendapat pengaruh adat istiadat dan budaya dari kerajaan pagaruyung di perkirakan abad ke-15 Masehi dengan cara berdakwah memperdalam ajaran-ajaran agama Islam masa itu.[6][7][8]

Peninggalan-peninggalan Islam

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Provinsi Bengkulu terdapat sejumlah tingalan arkeologi dan sejarah yang berasal dari masa sebelum kolonial Inggris dan Belanda. Tinggalan tersebut berasal dari kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di sejumlah daerah di Bengkulu antara lain Kerajaan Mukomuko, Sungai Lemau, Kerajaa Lillebar, dan Kerajaan Sungai Hitam. Makam-makam kuno yang masih tersisa berada dalam kondisi yang tidak terawat. Bekas lokasi berdirinya istana atau pusat pemerintahan berada di Desa Pondok Kelapa dari Kerajaan Sungai Lemau dan Istana Tuanku di Pasar Mukomuko.

  • Makam Kuno Zaman Islam

Makam-makam kuno ditemukan di Tapak Jedah, Pekiknyaring, Pondik Kelapa, dan Mukomuko. Makam-makam tersebut mempunyai jirat yang disusun dengan menggunakan bata berspesi dan ditandai dengan nisan kepala dan nisan kaki. Makam-makam yang menggunakan jirat hanya dijumpai di Tapak Jedah dan Mukomuko, sedangkan makam-makam di Pekiknyaring dan Pondok Kelapa aslinya tanoa jirat sehingga nisannya langsung ditanam di dalam tanah. Yang mernarik adalah bentuk jirat yang terdapat di makam raja-raja Mukomuko., karena berbentuk kubus dan dihiasi dengan motif kuncup bunga di keempat sudutnya. Begitu juga dengan jirat yang menggunakan tipe Aceh berbentuk gada, karena bentuknya menyerupai jirat-jirat makam yang ada di Makassar.

  • Pecahan Keramik

Pecahan keramik asing ditemukan di Balai Buntar, Codong (bukit) Bendera, benteng tanah, Babadan, dan Pauh Terenjam, semuanya berjumlah 68 buah. Pecahan-pecahan keramik tersebut berasal dari bagian tepian, badan, dan dasar. Keramik berasal dari Eropa dan Cina pada abad 18-19 M

  • Keramik Lokal Bermotif Islam

Pecahan keramik local atau tembikar ditemukan di Sungai Jenggalu dan Pauh Terenjam yang berjumlah 8 buah. Bahan dasar yang digunakan untuk membuat berasal dari campuran pasir dan tanah liat dengan menggunakan teknik roda putar lambat. Pasir yang digunakan adalah pasir laut sehingga kandungan kwarsanya tinggi. Beberapa keramik bertuliskan huruf Arab.

  • Benteng Tanah

Benteng tanah ditemukan di Babadan dan Kerkap. Benteng Babadan berbentuk bujursangkar dengan dua buah bastion, sementara benteng Kerkap berbentuk empat persegi panjang tanpa bastion.

Distribusi geografi

Berikut merupakan sebaran Muslim per kota/kabupaten di Bengkulu.

Kota/kabupaten Muslim[9] %
Bengkulu Selatan 140.881 98.56%
Rejang Lebong 241.191 97.73%
Bengkulu Utara 246.848 95.80%
Kaur 107.440 99.57%
Seluma 169.655 97.78%
Mukomuko 150.520 96.64%
Lebong 98.377 99.16%
Kepahiang 123.377 98.81%
Bengkulu Tengah 96.344 97.98%
Kota Bengkulu 294.448 95.43%
TOTAL 1.669.081 97.29%

Referensi

Daftar Pustaka

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII XVIII, Bandung: Mizan, 1998.

Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu, Jakarta: Balai Pustaka, 2001.

Abdullah Sidik, Sejarah Bengkulu, Jakarta: Balai Pustaka, t.t.

Abdul Baqir Zein, Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani, 1999.

Badrul Munir Hamidy, Makalah; Masuk dan Berkembangnya Islam di Daerah Bengkulu, Panitia Penyelenggara STQ Nasional, 2004.Dudung

Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, Jakarta; Logos, 2007.

Gadjahnata, Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatra Selatan, Jakarta: UI-Press, 1986.

Kemas Badarudin, Pendayagunaan Masjid dan Mushala di Kota Bengkulu, Laporan Hasil Penelitian pada P3M STAIN Bengkulu, 2002.

Marwati Djoned Poesponegoro, dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia I, Jakarta: Balai Pustaka, 1992.

Rini Fitria, Ritual Tabut Sebagai Media Komunikasi Masyarakat kota Bengkulu, Tesis Pada Pasca Sarjana Universitas Padjajaran Bandung, 2005.

Salim Bella Pili, Makalah; Masuk dan Berkembangnya Islam di Tanah Rejang, Bengkulu, 2007.

Pranala luar