Bahasa Jawa: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
Swarabakti (bicara | kontrib)
k →‎Vokal: menambah contoh [e]
Tag: Suntingan visualeditor-wikitext
Tidak ada ringkasan suntingan
(436 revisi perantara oleh 57 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{status artikel|AB|1|1|2020}}
{{pp-semi-indef|small=yes}}
{{under construction}}
{{Teks Jawa}}
{{Infobox Bahasa
{{Infobox Bahasa
|name=Bahasa Jawa
| name = Bahasa Jawa
|nativename={{jav|ꦧꦱꦗꦮ}}<br/>Basa Jawa/Båså Jåwå<br/>باسا جاوا
| nativename = ''Basa Jawa''<br>
{{jav|ꦧꦱꦗꦮ}}{{*}}{{script/Arabic|باسا جاوا}}
|region=[[Pulau Jawa]] dan beberapa bagian lainnya di [[Indonesia]], beberapa wilayah di [[Suriname]] dan [[Belanda]], serta daerah dengan [[diaspora Jawa]] yang signifikan
| states =
| image =
| imagecaption =
* {{flag|Indonesia}}
| pronunciation = [basa d͡ʒawa] <small>(dialek barat)</small><br>
* {{flag|Belanda}}
[bɔsɔ d͡ʒɔwɔ] <small>(dialek tengah & timur)</small>
* {{flag|Curacao}}
| states = {{plainlist|
* {{flag|Guyana Prancis}}
* {{flag|Hong Kong}}
*{{flag|Indonesia}}
* {{flag|Kaledonia Baru}}
*{{flag|Belanda}}
* {{flag|Kepulauan Cocos}}
*{{flag|Malaysia}}
* {{flag|Malaysia}}
*{{flag|Suriname}}
* {{flag|Singapura}}
*{{flag|Kaledonia Baru}}
}} dan negara-negara lainnya
* {{flag|Suriname}}
| region = [[Jawa Tengah]], [[Jawa Timur]]; [[Lampung]] dan wilayah transmigrasi lainnya di [[Indonesia]]; daerah dengan diaspora Jawa yang signifikan di [[Belanda]], [[Suriname]], [[Malaysia]], dan [[Kaledonia Baru]]
* {{flag|Taiwan}}
| ethnicity = {{plainlist|
* {{flag|Thailand}}
*[[Suku Jawa|Jawa]]
* {{flag|Timor Leste}}
*• [[orang Banyumasan|Banyumasan]]
| ethnicity = [[Suku jawa|Jawa]] ([[Kesultanan Mataram|Mataram]], [[Suku Tengger|Tengger]], [[Suku Bawean|Bawean]], [[Suku Samin|Samin]], [[suku Osing|Osing]], [[Banyumasan]], [[Jawa Suriname]], dll)
*• [[Suku Tengger|Tengger]]
|speakers={{sigfig|100|2}} juta
*• [[Suku Cirebon|Cirebon]]
|date=2013
*• [[suku Osing|Osing]]}}
|ref=ne2007
| speakers = {{sigfig|58,4|3}} juta [[bahasa ibu|penutur jati]]
|rank=12
| date = 2023
|familycolor=Austronesia
| ref = <ref name=":2">{{Cite web|last=Wulandari|first=Trisna|title=Badan Bahasa: Ada Kemunduran Penutur Bahasa Jawa, Bagaimana agar Tak Punah?|url=https://www.detik.com/edu/edutainment/d-6625656/badan-bahasa-ada-kemunduran-penutur-bahasa-jawa-bagaimana-agar-tak-punah|website=detikedu|language=id-ID|access-date=2023-11-25}}</ref>
|fam2=[[bahasa Melayu-Polinesia|Malayo-Polinesia]]
| familycolor = Austronesia
|ancestor=[[Bahasa Jawa Kuna]]
| fam2 = <!-- PARAMETER USANG -->
|script=
| ancestor = [[Bahasa Jawa Kuno]]
* [[Alfabet Latin]]
| ancestor2 = [[Sastra Jawa Pertengahan|Bahasa Jawa Pertengahan]]
* [[Aksara Jawa]]
| stand1 = Bahasa Jawa Surakarta
* [[Abjad Pegon]]
| dialects = {{infobox
|iso1=jv|iso2=jav
|bodyclass=collapsible autocollapse
|lc1=jav|ld1=bahasa Jawa|ll1=none
|bodystyle={{Subinfobox bodystyle}}
|lc2=jvn|ld2=bahasa Jawa Karibia
|datastyle= text-align:left
|lc3=jas|ld3=bahasa Jawa Kaledonia Baru
|header1= [[#Dialek|''Lihat bagian dialek]]
|lc4=osi|ld4=bahasa Osing
|data2={{Tree list}}{{Dialek bahasa Jawa}}{{Tree list/end}}}}
|lc5=tes|ld5=bahasa Tengger
| script = [[Alfabet Latin]]<br/>[[Aksara Jawa]]<br/>[[Abjad Pegon]]
|lc6=kaw|ld6=bahasa Jawa Kuno|ll6=bahasa Kawi
| nation = [[Daerah Istimewa Yogyakarta]]<ref name="perda-no-2-tahun-2021" />
| agency = Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah<br>Balai Bahasa DI Yogyakarta<br>Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur
| iso1 = jv
| iso2 = jav
| lc1 = jav
| ld1 = bahasa Jawa
| lc2 = jvn
| ld2 = [[bahasa Jawa Suriname]]
| lc3 = jas
| ld3 = bahasa Jawa Kaledonia Baru
| lc4 = osi
| ld4 = [[bahasa Osing]]
| lc5 = tes
| ld5 = [[bahasa Tengger]]
| lc6 = kaw
| ld6 = [[bahasa Jawa Kuno]]
| glotto = java1253
| glottorefname = Javanesic
| map = Javanese language distribution.png
| mapcaption = {{legend3|#070|Wilayah tempat bahasa Jawa sebagai bahasa mayoritas}} {{legend3|#0f0|Wilayah tempat bahasa Jawa sebagai bahasa minoritas}}
| contoh_berkas = WIKITONGUES- Disa and Niken speaking Javanese.webm
| contoh_deskripsi = Dua orang penutur bahasa Jawa yang sedang berbincang-bincang
| sk = NE
| HAM = ya
| contoh_cat = (Ditulis dalam [[aksara Jawa]] dan [[Pegon]])&nbsp;
|contoh_teks={{PWB norm text|Aksara Jawa|https://unicode.org/udhr/d/udhr_jav_java.html|mati}}<div style="line-height:1.7;">{{Lang|jv|꧋ꦱꦧꦼꦤ꧀ꦲꦸꦮꦺꦴꦁ ꦏꦭꦲꦶꦂꦫꦏꦺ ꦏꦤ꧀ꦛꦶ ꦩꦂꦢꦶꦏ ꦭꦤ꧀ꦢꦂꦧꦺ ꦩꦂꦠꦧꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦏ꧀ꦲꦏ꧀ꦏꦁ ꦥꦝ꧉ ꦏꦧꦺꦃ ꦥꦶꦤꦫꦶꦁꦔꦤ꧀ꦲꦏꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦏꦭ꧀ꦧꦸ ꦱꦂꦠ ꦏꦲꦗꦧ꧀ꦥꦱꦿꦮꦸꦁꦔꦤ꧀ꦲꦁꦒꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺ ꦩꦼꦩꦶꦠꦿꦤ꧀ꦱꦶꦗꦶ ꦭꦤ꧀ꦱꦶꦗꦶꦤꦺ ꦏꦤ꧀ꦛꦶ ꦗꦶꦮ ꦱꦸꦩ ꦢꦸꦭꦸꦂ꧉​}}</div>
{{PWB norm text|Pegon}}
{{rtl-para|سابَين أووَوڠ كالائيراكَي كانڟي مرديكا لان داربَي مرتبة لان حق كاڠ ڤاڎا. كابَيه ڤيناريڠان أكال لان كالبو سارتا كاأجاب ڤاسراوُونڠان أڠڮَونَي مَيميتران سيجي لان كانڟي جيوا سومادولور.}}
| contoh_romanisasi = Saben uwong kalairaké kanthi mardika lan darbé martabat lan hak-hak kang padha. Kabeh pinaringan akal lan kalbu sarta kaajab pasrawungan anggoné memitran siji lan sijiné kanthi jiwa sumadulur.
| pranala_HAM = https://www.ohchr.org/en/human-rights/universal-declaration/translations/javanese
| contoh_suara = Universal Declaration of Human Rights - jav - Article 1.ogg
| notice = IPA
| notice2 = Jawa
| catatan =<references group="ib"/>
}}
}}
{{Budaya Indonesia}}


'''Bahasa Jawa''' adalah bahasa [[rumpun bahasa Austronesia|Austronesia]] yang utamanya dituturkan oleh penduduk bersuku [[suku Jawa|Jawa]] di wilayah bagian tengah dan timur [[pulau Jawa]]. Bahasa Jawa juga dituturkan oleh diaspora Jawa di wilayah lain di Indonesia, seperti di [[Sumatra]] dan [[Kalimantan]]; serta di luar Indonesia seperti di [[Suriname]], [[Belanda]], dan [[Malaysia]]. Jumlah total penutur bahasa Jawa diperkirakan mencapai sekitar 80 juta pada tahun 2023.<ref name=":2" /> Sebagai bahasa Austronesia dari subkelompok [[rumpun bahasa Melayu-Polinesia|Melayu-Polinesia]], bahasa Jawa juga berkerabat dengan bahasa [[bahasa Melayu|Melayu]], [[bahasa Sunda|Sunda]], [[bahasa Bali|Bali]] dan banyak bahasa lainnya di Indonesia, meskipun para ahli masih memperdebatkan mengenai posisi pastinya dalam rumpun Melayu-Polinesia. Bahasa Jawa berstatus [[bahasa resmi]] di [[Daerah Istimewa Yogyakarta]] di samping [[bahasa Indonesia]].
'''Bahasa Jawa''' ([[Hanacaraka]]: ꦧꦱꦗꦮ [[Pegon]]: باسا جاوا) adalah bahasa yang digunakan penduduk [[suku Jawa|bersuku bangsa Jawa]] di [[Jawa Tengah]], [[Yogyakarta]], dan [[Jawa Timur]]. Selain itu, bahasa Jawa juga digunakan oleh penduduk yang tinggal di beberapa daerah lain seperti [[Banten]] (terutama [[Serang]], [[Cilegon]], dan [[Tangerang]]) serta [[Jawa Barat]] (terutama kawasan pantai utara yang meliputi [[Indramayu]], [[Karawang]], dan [[Subang]].


Sejarah tulisan bahasa Jawa bermula sejak abad ke-9 dalam bentuk bahasa [[bahasa Jawa Kuno|Jawa Kuno]], yang kemudian berevolusi hingga menjadi bahasa [[#Bahasa Jawa Baru|Jawa Baru]] sekitar abad ke-15. Bahasa Jawa awalnya ditulis dengan [[aksara Brahmik|sistem aksara dari India]] yang kemudian diadaptasi menjadi [[aksara Jawa]], walaupun bahasa Jawa masa kini lebih sering ditulis dengan [[alfabet Latin]]. Bahasa Jawa memiliki tradisi sastra kedua tertua di antara bahasa-bahasa Austronesia setelah [[bahasa Melayu]].
==Klasifikasi==
Bahasa Jawa merupakan bagian dari subkelompok [[rumpun bahasa Melayu-Polinesia|Melayu-Polinesia]] dalam rumpun bahasa [[rumpun bahasa Austronesia|Austronesia]], walaupun hubungannya dengan bahasa-bahasa Melayu-Polinesia yang lain sulit ditentukan. Berdasarkan kesamaan kosa kata, Isidore Dyen pertama kali mengelompokkan bahasa Jawa ke dalam kelompok yang ia sebut "Javo-Sumatra Hesion", yang juga mencakup bahasa [[bahasa Sunda|Sunda]] dan bahasa-bahasa [[rumpun bahasa Melayik|Melayik]].{{efn|Definisi "Melayik" Dyen berbeda dengan definisi yang diterima para ahli secara luas sejak 1990-an; Melayik versi Dyen memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk di antaranya bahasa [[bahasa Madura|Madura]] dan bahasa [[bahasa Aceh|Aceh]].}}{{sfn|Dyen|1965|p=26}} Kelompok ini juga disebut "Melayu-Jawanik" oleh ahli bahasa Berndt Nothofer yang pertama kali berusaha merekonstuksi leluhur dari bahasa-bahasa dalam kelompok hipotetis ini dengan data yang saat itu hanya terbatas pada empat bahasa saja (bahasa Jawa, Sunda, [[bahasa Madura|Madura]], dan [[bahasa Melayu|Melayu]]).{{sfn|Nothofer|1975|p=1}}


[[Nomina]] dalam bahasa Jawa umumnya diletakkan sebelum atribut yang memodifikasinya. [[Verba]] dapat dibedakan menjadi bentuk [[transitif]] dan [[intransitif]], bentuk [[bentuk aktif|aktif]] dan [[bentuk pasif|pasif]], atau dibedakan berdasarkan [[modus]]nya ([[modus indikatif|indikatif]], [[modus irealis|irealis]]/[[modus subjungtif|subjungtif]], [[modus imperatif|imperatif]], dan [[modus propositif|propositif]]). Bahasa Jawa mengenal pembedaan antara beberapa tingkat tutur yang penggunaannya ditentukan oleh derajat kedekatan hubungan atau perbedaan status sosial antara pembicara dan lawan bicara atau orang yang dibicarakan.
Pengelompokan Melayu-Jawanik telah dikritisi dan ditolak oleh berbagai ahli bahasa.{{sfn|Blust|1981}}{{sfn|Adelaar|2005|pp=357, 385}} Ahli [[linguistik sejarah]] Austronesia [[K. Alexander Adelaar]] tidak memasukkan bahasa Jawa dalam subkelompok [[rumpun bahasa Melayu-Sumbawa|Melayu-Sumbawa]] (yang mencakup bahasa-bahasa Melayik, Sunda, dan Madura) yang diusulkannya pada tahun 2005.{{sfn|Adelaar|2005|pp=357, 385}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=590}} Ahli linguistik sejarah Austronesia yang lain, [[Robert Blust]], juga tidak memasukkan bahasa Jawa dalam subkelompok [[rumpun bahasa Borneo Utara Raya|Borneo Utara Raya]] yang ia usulkan sebagai alternatif dari hipotesis Melayu-Sumbawa pada tahun 2010. Meski begitu, Blust juga mengemukakan kemungkinan bahwa subkelompok Borneo Utara Raya berkerabat dekat dengan bahasa-bahasa Indonesia Barat lainnya, termasuk bahasa Jawa.{{sfn|Blust|2010|p=97}} Usulan Blust ini telah dikembangkan secara lebih terperinci oleh ahli bahasa Alexander Smith yang memasukkan bahasa Jawa ke dalam subkelompok Indonesia Barat (yang juga mencakup bahasa-bahasa Borneo Utara Raya) berdasarkan bukti leksikal dan fonologis.{{sfn|Smith|2017|pp=443, 453–454}}


==Sejarah==
== Klasifikasi ==
[[Berkas:Klasifikasi bahasa Jawa.png|jmpl|ka|300px|Posisi bahasa Jawa (ditebalkan) dalam rumpun bahasa [[rumpun bahasa Austronesia|Austronesia]] menurut beberapa skema klasifikasi ahli bahasa dari masa ke masa.]]
{{sect-stub}}
Bahasa Jawa merupakan bagian dari subkelompok Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia.{{sfn|Dyen|1965|p=26}}{{sfn|Nothofer|2009|p=560}} Namun, tingkat kekerabatan bahasa Jawa dengan bahasa-bahasa Melayu-Polinesia yang lain sulit ditentukan. Menggunakan metode [[leksikostatistik]], pada tahun 1965 ahli bahasa Isidore Dyen menggolongkan bahasa Jawa ke dalam kelompok yang ia sebut "Javo-Sumatra Hesion", yang juga mencakup bahasa [[bahasa Sunda|Sunda]] dan bahasa-bahasa "Melayik".{{efn|Definisi "Melayik" Dyen berbeda dengan definisi yang diterima para ahli secara luas sejak 1990-an; Melayik versi Dyen memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk di antaranya bahasa [[bahasa Madura|Madura]] dan bahasa [[bahasa Aceh|Aceh]].}}{{sfn|Dyen|1965|p=26}}{{sfn|Nothofer|2009|p=560}} Kelompok ini juga disebut "Melayu-Jawanik" oleh ahli bahasa Berndt Nothofer yang pertama kali berusaha merekonstuksi leluhur dari bahasa-bahasa dalam kelompok hipotetis ini dengan data yang saat itu hanya terbatas pada empat bahasa saja (bahasa Jawa, Sunda, [[bahasa Madura|Madura]], dan [[bahasa Melayu|Melayu]]).{{sfn|Nothofer|1975|p=1}}

Pengelompokan Melayu-Jawanik telah dikritik dan ditolak oleh berbagai ahli bahasa.{{sfn|Blust|1981}}{{sfn|Adelaar|2005|pp=357, 385}} Ahli [[linguistik sejarah]] Austronesia [[K. Alexander Adelaar]] tidak memasukkan bahasa Jawa dalam subkelompok [[rumpun bahasa Melayu-Sumbawa|Melayu-Sumbawa]] (yang mencakup bahasa-bahasa [[rumpun bahasa Melayik|Melayik]], Sunda, dan Madura) yang diusulkannya pada tahun 2005.{{sfn|Adelaar|2005|pp=357, 385}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=590}} Ahli linguistik sejarah Austronesia yang lain, [[Robert Blust]], juga tidak memasukkan bahasa Jawa dalam subkelompok [[rumpun bahasa Borneo Utara Raya|Borneo Utara Raya]] yang ia usulkan sebagai alternatif dari hipotesis Melayu-Sumbawa pada tahun 2010. Meski begitu, Blust juga mengemukakan kemungkinan bahwa subkelompok Borneo Utara Raya berkerabat dekat dengan bahasa-bahasa Indonesia Barat lainnya, termasuk bahasa Jawa.{{sfn|Blust|2010|p=97}} Usulan Blust ini telah dikembangkan secara lebih terperinci oleh ahli bahasa Alexander Smith yang memasukkan bahasa Jawa ke dalam subkelompok [[Rumpun bahasa Indonesia Barat|Indonesia Barat]] (yang juga mencakup bahasa-bahasa Borneo Utara Raya) berdasarkan bukti leksikal dan fonologis.{{sfn|Smith|2017|pp=443, 453–454}}

== Sejarah ==
Secara garis besar, perkembangan bahasa Jawa dapat dibagi ke dalam dua fase bahasa yang berbeda, yaitu 1) bahasa Jawa Kuno dan 2) bahasa Jawa Baru.{{sfn|Ogloblin|2005|p=590}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=1}}

=== Bahasa Jawa Kuno ===
{{utama|Bahasa Jawa Kuno}}
Bentuk terawal bahasa Jawa Kuno yang terlestarikan dalam tulisan, yaitu [[Prasasti Sukabumi]], berasal dari tahun 804 Masehi.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=2}} Sejak abad ke-9 hingga abad ke-15, ragam bahasa ini umum digunakan di pulau Jawa. Bahasa Jawa Kuno lazimnya dituliskan dalam bentuk puisi yang berbait. Ragam ini terkadang disebut juga dengan istilah ''kawi'' 'bahasa kesusastraan', walaupun istilah ini juga merujuk pada unsur-unsur arkais dalam ragam tulisan bahasa Jawa Baru.{{sfn|Ogloblin|2005|p=590}} Sistem tulisan yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa Kuno merupakan adaptasi dari aksara [[aksara Pallawa|Pallawa]] yang berasal dari India.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=2}} Sebanyak hampir 50% dari keseluruhan kosakata dalam tulisan-tulisan berbahasa Jawa Kuno berakar dari bahasa [[bahasa Sanskerta|Sanskerta]], walaupun bahasa Jawa Kuno juga memiliki kata serapan dari bahasa-bahasa lain di Nusantara.{{sfn|Ogloblin|2005|p=590}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=2}}

Ragam bahasa Jawa Kuno yang digunakan pada beberapa naskah dari abad ke-14 dan seterusnya terkadang disebut juga "bahasa Jawa Pertengahan". Walaupun ragam bahasa Jawa Kuno dan Jawa Pertengahan tidak lagi digunakan secara luas di Jawa setelah abad ke-15, kedua ragam tersebut masih lazim digunakan di Bali untuk keperluan ritual keagamaan.{{sfn|Ogloblin|2005|p=590}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=8}}

=== Bahasa Jawa Baru ===
Bahasa Jawa Baru tumbuh menjadi ragam literer utama bahasa Jawa sejak abad ke-16. Peralihan bahasa ini terjadi secara bersamaan dengan datangnya pengaruh Islam.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=1}} Pada awalnya, ragam baku bahasa Jawa Baru didasarkan pada ragam bahasa wilayah [[pasisir|pantai utara Jawa]] yang masyarakatnya pada saat itu sudah beralih menjadi Islam. Karya tulis dalam ragam bahasa ini banyak yang bernuansa keislaman, dan sebagiannya merupakan terjemahan dari bahasa Melayu.{{sfn|Ogloblin|2005|p=591}} Bahasa Jawa Baru juga mengadopsi [[Abjad Arab|huruf Arab]] dan menyesuaikannya menjadi [[Abjad Pegon|huruf Pegon]].{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=1}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=591}}

Kebangkitan [[Kesultanan Mataram|Mataram]] menyebabkan ragam tulisan baku bahasa Jawa beralih dari wilayah pesisir ke pedalaman. Ragam tulisan inilah yang kemudian dilestarikan oleh penulis-penulis Surakarta dan Yogyakarta, dan menjadi dasar bagi ragam baku bahasa Jawa masa kini.{{sfn|Ogloblin|2005|p=591}}{{sfn|Poedjosoedarmo|1968|p=57}} Perkembangan bahasa lainnya yang diasosiasikan dengan kebangkitan Mataram pada abad ke-17 adalah pembedaan antara tingkat tutur ''[[ngoko]]'' dan ''[[krama]]''.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=11}} Pembedaan tingkat tutur ini tidak dikenal dalam bahasa Jawa Kuno.{{sfn|Ogloblin|2005|p=591}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=11}}

Buku-buku cetak dalam bahasa Jawa mulai muncul sejak tahun 1830-an, awalnya dalam [[aksara Jawa]], walaupun kemudian [[alfabet Latin]] juga mulai digunakan. Sejak pertengahan abad ke-19, bahasa Jawa mulai digunakan dalam novel, cerita pendek, dan puisi bebas. Kini, bahasa Jawa digunakan dalam berbagai media, mulai dari buku hingga acara televisi. Ragam bahasa Jawa Baru yang digunakan sejak abad ke-20 hingga sekarang terkadang disebut pula "bahasa Jawa Modern".{{sfn|Ogloblin|2005|p=591}}


== Demografi dan persebaran ==
== Demografi dan persebaran ==
[[Berkas:Numbers of Javanese speakers by province (dec point).svg|jmpl|500px|Jumlah penduduk setiap provinsi di Indonesia yang menggunakan bahasa Jawa sebagai [[bahasa ibu]], berdasarkan [[Sensus Penduduk Indonesia 2010|sensus 2010]].]]
Migrasi suku Jawa membuat bahasa Jawa bisa ditemukan di berbagai daerah, bahkan di luar negeri. Banyaknya orang Jawa yang merantau ke Malaysia turut membawa bahasa dan kebudayaan Jawa ke [[Malaysia]], sehingga terdapat kawasan pemukiman mereka yang dikenal dengan nama kampung Jawa, padang Jawa. Di samping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik [[Indonesia]]. Kawasan-kawasan luar Jawa yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang cukup signifikan adalah [[Lampung]] (61,9%), [[Sumatra Utara]] (32,6%), [[Jambi]] (27,6%), [[Sumatra Selatan]] (27%), [[Aceh]](15,87%) yang dikenal sebagai [[Aneuk Jawoe]]. Khusus masyarakat Jawa di [[Sumatra Utara]], mereka merupakan keturunan para kuli kontrak yang dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah [[Deli Serdang|Deli]] sehingga kerap disebut sebagai ''Jawa Deli'' atau ''Pujakesuma'' (Putra Jawa Kelahiran Sumatra), dengan dialek dan beberapa kosakata Jawa Deli. Sedangkan masyarakat Jawa di daerah lain disebarkan melalui program [[transmigrasi]] yang diselenggarakan semenjak zaman penjajahan Belanda.

Di antara bahasa-bahasa Austronesia, bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa dengan komunitas [[bahasa ibu|penutur jati]] yang besar.{{sfn|Ogloblin|2005|p=590}} Jumlah total penutur bahasa Jawa diperkirakan mencapai sekitar 80 juta pada tahun 2023.<ref name=":2" /> Sayangnya, 27% orang Jawa tidak lagi menuturkan bahasa ini di lingkup keluarga. Hal ini mendorong bahasa Jawa ke jurang kemunduran bahasa.<ref name=":2" />

Sebagian besar penutur bahasa Jawa mendiami wilayah tengah dan timur Pulau Jawa.{{sfn|Ogloblin|2005|p=590}} Jumlah penutur jati bahasa Jawa yang berasal dari provinsi [[Jawa Tengah]], [[Daerah Istimewa Yogyakarta]], dan [[Jawa Timur]] mencakup 83% dari total jumlah penutur jati bahasa Jawa di Indonesia.{{sfn|Naim|Syaputra|2011|p=53}} Selain di pulau Jawa, bahasa Jawa juga dituturkan sebagai bahasa ibu di daerah-daerah transmigrasi seperti di [[Lampung]], sebagian wilayah [[Riau]], [[Jambi]], [[Kalimantan Tengah]], dan di tempat lainnya di Indonesia. Di luar Indonesia, penutur bahasa Jawa terpusat di beberapa negara, seperti di [[Suriname]], [[Hong Kong]], [[Belanda]], [[Kaledonia Baru]], dan [[Malaysia]] (terutama di pesisir barat [[Johor]]).{{sfn|Ogloblin|2005|p=590}}{{sfn|Wedhawati, dkk|p=1}}


=== Status hukum ===
Selain di kawasan [[Nusantara]], masyarakat Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di [[Suriname]], yang mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di [[Kaledonia Baru]] bahkan sampai kawasan [[Aruba]] dan [[Curacao]] serta [[Belanda]]. Sebagian kecil bahkan menyebar ke wilayah [[Guyana Prancis]] dan [[Venezuela]]. Pengiriman tenaga kerja ke [[Korea]], [[Hong Kong]], serta beberapa negara [[Timur Tengah]] juga memperluas wilayah sebar pengguna bahasa ini meskipun belum bisa dipastikan kelestariannya.
Bahasa Jawa ditetapkan sebagai [[bahasa resmi]] [[Daerah Istimewa Yogyakarta]] berdasarkan Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2021.<ref name="perda-no-2-tahun-2021">{{cite web|title=Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa|url=https://peraturan.go.id/id/perda-provinsi-di-yogyakarta-no-2-tahun-2021|archive-url=|archive-date=|dead-url=no|access-date=2021-03-19|via=}}</ref> Sebelumnya, [[Jawa Tengah]] menetapkan peraturan serupa—Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012—tetapi tidak menyiratkan status resmi.<ref>{{Cite web|title=Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 9 Tahun 2012|url=https://data.go.id/dataset/peraturan-daerah-provinsi-jawa-tengah-no-9-tahun-2012|via=data.go.id|access-date=2021-03-20|archive-date=2021-05-02|archive-url=https://web.archive.org/web/20210502093916/https://data.go.id/dataset/peraturan-daerah-provinsi-jawa-tengah-no-9-tahun-2012|dead-url=no}}</ref><ref>{{Cite web|date=2015-09-03|title=Pertahankan Bahasa Lokal Sebagai Identitas|url=https://republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/09/03/nu3wsy284-pertahankan-bahasa-lokal-sebagai-identitas|website=Republika Online|last=Putra|first=Yudha Manggala P.|language=id|access-date=2021-03-20|archive-date=2021-05-02|archive-url=https://web.archive.org/web/20210502093715/https://republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/09/03/nu3wsy284-pertahankan-bahasa-lokal-sebagai-identitas|dead-url=no}}</ref>


==Fonologi==
== Fonologi ==
Bahasa Jawa memiliki 23–25 fonem konsonan dan 6–8 fonem vokal.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=14}}{{sfn|Subroto|Soenardji|Sugiri|1991|pp=13–15}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=592–593}} Dialek-dialek bahasa Jawa memiliki kekhasan masing-masing dalam hal fonologi.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=14–15, 17–18, 21–22}}
Bahasa Jawa memiliki 23–25 fonem konsonan dan 6–8 fonem vokal.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=14}}{{sfn|Subroto|Soenardji|Sugiri|1991|pp=13–15}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=592–593}} Dialek-dialek bahasa Jawa memiliki kekhasan masing-masing dalam hal fonologi.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=14–15, 17–18, 21–22}}
===Vokal===
=== Vokal ===
Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah [[fonem]] vokal dalam bahasa Jawa. Menurut ahli bahasa Jawa [[E. M. Uhlenbeck]], bahasa Jawa memiliki enam fonem vokal yang semuanya memiliki dua variasi pengucapan, kecuali fonem pepet {{IPA|/ə/}}. Pendapat ini disetujui oleh beberapa ahli bahasa Jawa lainnya. Namun, analisis alternatif dari beberapa ahli bahasa menyimpulkan bahwa bahasa Jawa memiliki dua fonem tambahan, yaitu {{IPA|/ɛ/}} dan {{IPA|/ɔ/}} yang dianggap sebagai fonem mandiri, terpisah dari {{IPA|/e/}} dan {{IPA|/o/}}.{{sfn|Subroto|Soenardji|Sugiri|1991|pp=13–15}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=593}}
Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah [[fonem]] vokal dalam bahasa Jawa. Menurut ahli bahasa Jawa [[E. M. Uhlenbeck]], bahasa Jawa memiliki enam fonem vokal yang masing-masingnya memiliki dua variasi pengucapan ([[alofon]]), kecuali fonem pepet {{IPA|/ə/}}.{{sfn|Uhlenbeck|1982|p=27}} Pendapat ini disetujui oleh beberapa ahli bahasa Jawa lainnya. Namun, analisis alternatif dari beberapa ahli bahasa menyimpulkan bahwa bahasa Jawa memiliki dua fonem tambahan, yaitu {{IPA|/ɛ/}} dan {{IPA|/ɔ/}} yang dianggap sebagai fonem mandiri, terpisah dari {{IPA|/e/}} dan {{IPA|/o/}}.{{sfn|Subroto|Soenardji|Sugiri|1991|pp=13–15}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=593}}


{| class="wikitable" style="text-align: center;"
{| class="wikitable" style="text-align: center;"
Baris 104: Baris 158:
| ||''mung''||{{IPA|[mʊŋ]}}||'hanya'
| ||''mung''||{{IPA|[mʊŋ]}}||'hanya'
|}
|}
* Fonem {{IPA|/e/}} memiliki dua alofon, yaitu {{IPA|[e]}} dan {{IPA|[ɛ]}} yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=69–70}} Dalam suku kata terbuka, {{IPA|/e/}} hanya dapat direalisasikan sebagai {{IPA|[ɛ]}} jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal {{IPA|[i]}} atau {{IPA|[u]}}, 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal {{IPA|[ə]}}.{{sfn|Nothofer|2009|p=560}}
* Fonem {{IPA|/e/}} memiliki dua alofon, yaitu {{IPA|[e]}} dan {{IPA|[ɛ]}} yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=69–70}} Dalam suku kata terbuka, {{IPA|/e/}} direalisasikan sebagai {{IPA|[ɛ]}} jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal {{IPA|[i]}} atau {{IPA|[u]}}, 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal {{IPA|[ə]}}.{{sfn|Nothofer|2009|p=560}}
:{|
:{|
| ||''saté''||{{IPA|[sate]}}||'satai'
| ||''saté''||{{IPA|[sate]}}||'satai'
Baris 112: Baris 166:
| ||''kalèn''||{{IPA|[kalɛn]}}||'selokan'
| ||''kalèn''||{{IPA|[kalɛn]}}||'selokan'
|}
|}
* Fonem {{IPA|/o/}} memiliki dua alofon, yaitu {{IPA|[o]}} yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan {{IPA|[ɔ]}} yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=70–71}} Dalam suku kata terbuka, {{IPA|/o/}} hanya dapat direalisasikan sebagai {{IPA|[ɔ]}} jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal {{IPA|[i]}} atau {{IPA|[u]}}, 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal {{IPA|[ə]}}.{{sfn|Nothofer|2009|p=560}}
* Fonem {{IPA|/o/}} memiliki dua alofon, yaitu {{IPA|[o]}} yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan {{IPA|[ɔ]}} yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=70–71}} Dalam suku kata terbuka, {{IPA|/o/}} direalisasikan sebagai {{IPA|[ɔ]}} jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal {{IPA|[i]}} atau {{IPA|[u]}}, 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal {{IPA|[ə]}}.{{sfn|Nothofer|2009|p=560}}
:{|
:{|
| ||''loro''||{{IPA|[loro]}}||'dua'
| ||''loro''||{{IPA|[loro]}}||'dua'
Baris 120: Baris 174:
| ||''sorot''||{{IPA|[sorɔt]}}||'cahaya'
| ||''sorot''||{{IPA|[sorɔt]}}||'cahaya'
|}
|}
* Fonem {{IPA|/a/}} memiliki dua alofon, yaitu {{IPA|[a]}} yang umumnya muncul dalam suku kata [[ultima|penultima]] dan antepenultima{{efn|[[Ultima]] merujuk pada suku kata terakhir sebuah kata. Penultima merupakan suku kata kedua dari belakang, dan antepenultima merupakan suku kata ketiga dari belakang.}} (baik yang terbuka maupun yang tertutup), serta {{IPA|[ɔ]}} yang dapat muncul dalam suku kata terbuka.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=71–72}} Dalam suku kata terbuka, {{IPA|/a/}} hanya dapat direalisasikan sebagai {{IPA|[ɔ]}} jika suku kata tersebut berada di akhir kata, atau jika suku kata tersebut merupakan suku kata penultima dari kata yang berakhir dengan {{IPA|/a/}}.{{sfn|Nothofer|2009|p=560}}
* Fonem {{IPA|/a/}} memiliki dua alofon, yaitu alofon {{IPA|[a]}} yang umumnya muncul dalam suku kata [[penultima]] (kedua terakhir) dan antepenultima (ketiga dari akhir),{{efn|[[Ultima]] merujuk pada suku kata terakhir sebuah kata. Penultima merupakan suku kata kedua dari belakang, dan antepenultima merupakan suku kata ketiga dari belakang.}} baik yang terbuka maupun yang tertutup, serta alofon {{IPA|[ɔ]}} yang dapat muncul dalam suku kata terbuka.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=71–72}} Dalam suku kata terbuka, {{IPA|/a/}} hanya dapat direalisasikan sebagai {{IPA|[ɔ]}} jika suku kata tersebut berada di akhir kata, atau jika suku kata tersebut merupakan suku kata penultima dari kata yang berakhir dengan {{IPA|/a/}}.{{sfn|Nothofer|2009|p=560}}
:{|
:{|
| ||''bali''||{{IPA|[bʰali]}}||'pulang'
| ||''bali''||{{IPA|[bʰali]}}||'pulang'
Baris 135: Baris 189:
|}
|}


===Konsonan===
=== Konsonan ===
Bahasa Jawa memiliki 21 fonem konsonan jika hanya menghitung kosa kata "asli". Sekitar 2–4 fonem konsonan tambahan dapat ditemui dalam kata-kata pinjaman. Dalam tabel di bawah ini, fonem dalam tanda kurung menandakan fonem pinjaman.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=73–74}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=592}}
Bahasa Jawa memiliki 21 fonem konsonan jika hanya menghitung kosakata "asli". Sekitar 2–4 fonem konsonan tambahan dapat ditemui dalam kata-kata pinjaman. Dalam tabel di bawah ini, fonem dalam tanda kurung menandakan fonem pinjaman.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=73–74}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=592}}
{| class="wikitable" style="text-align: center" |
{| class="wikitable" style="text-align: center" |
|+ 2. Konsonan{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=73–74}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=592}}{{sfn|Nothofer|2009|p=560}}
|+ 2. Konsonan{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=73–74}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=592}}{{sfn|Nothofer|2009|p=560}}
Baris 142: Baris 196:
!
!
! [[Konsonan bibir|Labial]]
! [[Konsonan bibir|Labial]]
! [[Konsonan dental|Dental]]/[[Konsonan alveolar|alveolar]]{{efn|Fonem {{IPA|/n/}}, {{IPA|/l/}}, {{IPA|/r/}}, dan {{IPA|/s/}} (serta {{IPA|/z/}}) ditandai sebagai fonem dental dalam analisis {{harvcoltxt|Ogloblin|2006}}, alveolar dalam analisis {{harvcoltxt|Wedhawati, dkk|2006}}, dan retrofleks dalam analisis {{harvcoltxt|Nothofer|2009}}. Fonem {{IPA|/t/}} dan {{IPA|/d/}} secara konsisten selalu ditandai sebagai konsonan dental; {{harvcoltxt|Wedhawati, dkk|2006}} secara spesifik menyebut keduanya sebagai konsonan "apiko-dental" yaitu konsonan yang diucapkan dengan menempelkan ujung lidah ke gigi atas.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=80}}}}
! [[Konsonan dental|Dental]]/[[Konsonan alveolar|alveolar]]{{efn|Fonem {{IPA|/n/}}, {{IPA|/l/}}, {{IPA|/r/}}, dan {{IPA|/s/}} (serta {{IPA|/z/}}) ditandai sebagai fonem dental dalam analisis {{harvcoltxt|Ogloblin|2005}}, alveolar dalam analisis {{harvcoltxt|Wedhawati, dkk|2006}}, dan retrofleks dalam analisis {{harvcoltxt|Nothofer|2009}}. Fonem {{IPA|/t/}} dan {{IPA|/d/}} secara konsisten selalu ditandai sebagai konsonan dental; {{harvcoltxt|Wedhawati, dkk|2006}} secara spesifik menyebut keduanya sebagai konsonan "apiko-dental", yaitu konsonan yang diucapkan dengan menempelkan ujung lidah ke gigi atas.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=80}}}}
! [[Retrofleks]]
! [[Retrofleks]]
! [[Palatal]]
! [[Palatal]]
Baris 156: Baris 210:
|
|
|-
|-
! [[Plosif|Letup]]/[[afrikat]]
! Hambat [[Plosif|letup]]/[[afrikat]]
| {{IPA|p}}&nbsp;{{IPA|b}}
| {{IPA|p}}&nbsp;{{IPA|b}}
| {{IPA|t}}&nbsp;{{IPA|d}}
| {{IPA|t}}&nbsp;{{IPA|d}}
Baris 188: Baris 242:
|
|
|}
|}
Kecuali dalam kluster sengau homorganik{{efn|Kluster homorganik adalah gabungan konsonan yang diucapkan pada satu tempat artikulasi yang sama, seperti {{IPA|/mb/}} dan {{IPA|/nd/}}.}}, fonem {{IPA|/b/}}, {{IPA|/d/}}, {{IPA|/ɖ/}}, {{IPA|/dʒ/}}, dan {{IPA|/ɡ/}} cenderung diucapkan dengan [[Aspirasi (linguistik)|aspirasi]] dan hampir tanpa [[Suara (fonetik)|menggetarkan pita suara]], sehingga mendekati bunyi {{IPA|[pʰ]}}, {{IPA|[tʰ]}}, {{IPA|[ʈʰ]}}, {{IPA|[tʃʰ]}}, dan {{IPA|[kʰ]}}.{{sfn|Ogloblin|2005|p=593}} Bunyi hambat pada akhir suku kata umumnya diucapkan tanpa letupan ({{IPA|/p/}} diucapkan {{IPA|[p̚]}}, {{IPA|/t/}} diucapkan {{IPA|[t̚]}}, {{IPA|/k/}} diucapkan {{IPA|[k̚]}}, dan seterusnya).{{sfn|Ogloblin|2005|p=593}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=75, 81, 91–92}}
Kecuali dalam kluster sengau homorganik{{efn|Kluster homorganik adalah gabungan konsonan yang diucapkan pada satu tempat artikulasi yang sama, seperti {{IPA|/mb/}} dan {{IPA|/nd/}}.}}, fonem {{IPA|/b/}}, {{IPA|/d/}}, {{IPA|/ɖ/}}, {{IPA|/dʒ/}}, dan {{IPA|/ɡ/}} dalam posisi awal suku kata cenderung diucapkan dengan [[Aspirasi (linguistik)|aliran udara]] yang lebih besar daripada biasanya dan hampir tanpa [[Suara (fonetik)|menggetarkan pita suara]], sehingga mendekati bunyi {{IPA|[pʰ]}}, {{IPA|[tʰ]}}, {{IPA|[ʈʰ]}}, {{IPA|[tʃʰ]}}, dan {{IPA|[kʰ]}}.{{sfn|Ogloblin|2005|p=593}} Ahli [[ilmu fonetik]] [[Peter Ladefoged]] dan Ian Maddieson mengistilahkan seri fonem ini sebagai konsonan hambat "bersuara kendur" (''slack voiced''), kontras dengan seri fonem {{IPA|/p/}}, {{IPA|/t/}}, {{IPA|/ʈ/}}, {{IPA|/tʃ/}}, dan {{IPA|/k/}} yang "bersuara kencang" (''stiff voiced''). Walaupun keduanya sama-sama diucapkan tanpa menggetarkan pita suara dalam beberapa kondisi, seri konsonan kendur memiliki bukaan [[pita suara]] yang lebih lebar daripada seri konsonan kencang.{{sfn|Ladefoged|Maddieson|1996|pp=63–64}} Selain itu, bunyi vokal yang mengikuti seri konsonan kendur juga diucapkan dengan aliran udara yang lebih besar (''breathy voice'').{{sfn|Ogloblin|2005|p=593}}{{sfn|Ladefoged|Maddieson|1996|pp=63–64}} Bunyi hambat pada akhir suku kata umumnya diucapkan tanpa letupan ({{IPA|/p/}} diucapkan {{IPA|[p̚]}}, {{IPA|/t/}} diucapkan {{IPA|[t̚]}}, {{IPA|/k/}} diucapkan {{IPA|[k̚]}}, dan seterusnya).{{sfn|Ogloblin|2005|p=593}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=75, 81, 91–92}}


=== Fonotaktik ===
=== Fonotaktik ===
Baris 201: Baris 255:
| ||KVK||: ''ku-'''lon''''' 'barat'
| ||KVK||: ''ku-'''lon''''' 'barat'
|-
|-
| ||KKV (termasuk NKV)||: '''''bla'''-bag'' 'papan', '''''mbo'''-ten'' 'tidak'
| ||KKV (termasuk NKV)||: '''''bla'''-bag'' 'papan', '''''kre'''-teg'' 'jembatan'
|-
|-
| ||KKVK (termasuk NKVK)||: '''''prap'''-ta'' 'datang'
| ||KKVK (termasuk NKVK)||: '''''prap'''-ta'' 'datang'
Baris 207: Baris 261:
| ||NKKVK||: '''''ngglam'''-byar'' 'tidak fokus'
| ||NKKVK||: '''''ngglam'''-byar'' 'tidak fokus'
|}
|}
Deret konsonan antarvokal umumnya terdiri dari konsonan sengau + letup homorganik (seperti [mp], [mb], [ɲtʃ], dan seterusnya), atau [ŋs]. Bunyi /l/, /r/, dan /j/ dapat pula ditambahkan di akhir deret konsonan semacam ini. Contoh deret konsonan semacam ini adalah ''wo'''nt'''en'' 'ada', ''ba'''ngs'''a'' 'bangsa', dan ''sa'''ntr'''i'' 'santri, Muslim yang taat'. Dalam bahasa Jawa, suku kata sebelum deret konsonan semacam ini secara konvensional dianggap sebagai suku kata terbuka, sebab bunyi /a/ dalam suku kata seperti ini akan mengalami pembulatan. Kata ''tampa'' 'terima', misalnya, diucapkan sebagai [tɔmpɔ]. Bandingkan dengan kata tanpa 'tanpa' yang diucapkan sebagai [tanpɔ].{{sfn|Ogloblin|pp=593–594}}
Deret konsonan antarvokal umumnya terdiri dari konsonan sengau + letup homorganik (seperti [mp], [mb], [ɲtʃ], dan seterusnya), atau [ŋs]. Bunyi /l/, /r/, dan /j/ dapat pula ditambahkan di akhir deret konsonan semacam ini. Contoh deret konsonan semacam ini adalah ''wo'''nt'''en'' 'ada', ''ba'''ngs'''a'' 'bangsa', dan ''sa'''ntr'''i'' 'santri, Muslim yang taat'. Dalam bahasa Jawa, suku kata sebelum deret konsonan semacam ini secara konvensional dianggap sebagai suku kata terbuka, sebab bunyi /a/ dalam suku kata seperti ini akan mengalami [[Kebulatan vokal|pembulatan]] menjadi {{IPA|[ɔ]}}. Kata ''tampa'' 'terima', misalnya, diucapkan sebagai [tɔmpɔ]. Bandingkan dengan kata ''tanpa'' 'tanpa' yang diucapkan sebagai [tanpɔ].{{sfn|Ogloblin|2005|pp=593–594}}


Sebagian besar (85%) morfem dalam bahasa Jawa terdiri dari 2 suku kata; morfem sisanya memiliki satu, tiga, atau empat suku kata. Penutur bahasa Jawa memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengubah morfem dengan satu suku kata menjadi morfem dengan dua suku kata. Morfem dengan empat suku kata kadang pula dianalisis sebagai gabungan dua morfem yang masing-masingnya memiliki dua suku kata.{{sfn|Ogloblin|2005|p=593}}
Sebagian besar (85%) morfem dalam bahasa Jawa terdiri dari 2 suku kata; morfem sisanya memiliki satu, tiga, atau empat suku kata. Penutur bahasa Jawa memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengubah morfem dengan satu suku kata menjadi morfem dengan dua suku kata. Morfem dengan empat suku kata kadang pula dianalisis sebagai gabungan dua morfem yang masing-masingnya memiliki dua suku kata.{{sfn|Ogloblin|2005|p=593}}

== Sistem penulisan ==
=== Aksara Latin ===
{{sect-stub}}
{| class="prettytable"
|+ Nama dan penulisan abjad Latin dalam bahasa Jawa
|-
! Pra 1942 !! Yogyakarta (1991) !! Nama
|-
| align="center"| b || align="center" | b || align="center" | bé
|-
| align="center"| tj || align="center" | c || align="center" | cé
|-
| align="center"| d || align="center" | d || align="center" | dé
|-
| align="center"| ḍ || align="center" | dh || align="center" | dhé
|-
| align="center"| || align="center" | f || align="center" | ef
|-
| align="center"| g || align="center" | g || align="center" | gé
|-
| align="center"| h || align="center" | h || align="center" | ha
|-
| align="center"| dj || align="center" | j || align="center" | jé
|-
| align="center"| k || align="center" | k || align="center" | ka
|-
| align="center"| l || align="center" | l || align="center" | el
|-
| align="center"| m || align="center" | m || align="center" | em
|-
| align="center"| n || align="center" | n || align="center" | en
|-
| align="center"| p || align="center" | p || align="center" | pé
|-
| align="center"| || align="center" | q || align="center" | ki
|-
| align="center"| r || align="center" | r || align="center" | er
|-
| align="center"| s || align="center" | s || align="center" | es
|-
| align="center"| t || align="center" | t || align="center" | té
|-
| align="center"| ṭ || align="center" | th<ref>{{cite web |title=Language Documentation Training Center|url=http://www.ling.hawaii.edu/ldtc/languages/javanese_pekalongan/orthography.html|accessdate=2013-09-25}}</ref><ref>{{cite book|title=Lehrbuch des modernen Djawanisch|last=Herrfurth|first=Hans|year=1964|publisher=VEB Verlag Enzyklopädie|location=Leipzig|series=Lehrbücher für das Studium der orientalischen und afrikanischen Sprachen|volume=IX|page=19}}</ref>|| align="center" | thé
|-
| align="center"| || align="center" | v || align="center" | vé
|-
| align="center"| w || align="center" | w || align="center" | wé
|-
| align="center"| || align="center" | x || align="center" | eks
|-
| align="center"| j || align="center" | y || align="center" | yé
|-
| align="center"| || align="center" | z || align="center" | zet
|}

=== Aksara Jawa ===
{{utama|Aksara Jawa}}
Aksara jawa ({{jav|꧊ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦗꦮ꧊}}) berbeda dengan huruf Latin yang kita gunakan sekarang ini untuk menulis. Aksara jawa terdiri dari:
# Aksara Carakan / {{jav|ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦕꦫꦏꦤ꧀}}. Aksara inti yang terdiri dari 20 suku kata ato biasa disebut Dentawiyanjana, yaitu: ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga ;
# Aksara Pasangan / {{jav|ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦥꦱꦔꦤ꧀}}. Bentuk mati (huruf) dari aksara inti, yaitu: h, n, c, r, k, d, t, s, w, l, p, dh, j, y, ny, m, g, b, th, ng ; pasangan
# Aksara Swara / {{jav|ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦱ꧀ꦮꦫ}}. Biasanya untuk huruf awal penulisan nama kota ato nama orang yang dihormati yang diawali dengan huruf hidup, yaitu: A, I, U, E, O
# Aksara Rekan / {{jav|ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦉꦏꦤ꧀}}. Untuk penulisan huruf-huruf yang berasal dari serapan bahasa asing, yaitu: kh, f, dz, gh, z
# Aksara Murda / {{jav|ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦩꦸꦂꦢ}}. Biasanya untuk huruf awal penulisan nama kota ato nama orang yang dihormati, yaitu: Na, Ka, Ta, Sa, Pa, Nya, Ga, Ba
# Aksara Wilangan / {{jav|ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ꦮꦶꦭꦔꦤ꧀}}. Untuk penulisan bilangan dalam bahasa Jawa, yaitu angka 1 s/d 10 dalam aksara Jawa.
# Tanda Baca (Sandangan / {{jav|ꦱꦤ꧀ꦢꦔꦤ꧀}}). Merupakan tanda baca yang biasa digunakan, huruf hidup serta huruf mati yang biasa dipakai dalam bahasa sehari-hari, yaitu tanda: koma, titik, awal kamimat, dll. huruf: i, o, u, e. huruf mati: _r, _ng, _ra, _re, dll

=== Pegon ===
{{utama|Pegon}}
Huruf Pegon adalah huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa juga Bahasa Sunda. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

<p>Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan Gundhil. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal (aksara swara) yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.</p>

=== Abjad Jawi ===
{{utama|Abjad Jawi}}
Abjad Jawi (Bahasa Arab: جوي Jăwi) (atau Yawi di daerah Patani, Gundhil di daerah Jawa disamping Pegon, Jawoe di daerah Aceh) adalah abjad Arab yang diubah untuk menuliskan Bahasa Melayu. Abjad ini digunakan sebagai salah satu dari tulisan resmi di Brunei, dan juga di Malaysia, Indonesia, Patani dan Singapura untuk keperluan religius.

<p>Kemunculannya berkait secara langsung dengan kedatangan agama Islam ke Nusantara. Abjad ini didasarkan pada abjad Arab dan digunakan untuk menuliskan ucapan Melayu. Dengan demikian, tidak terhindarkan adanya tambahan atau modifikasi beberapa huruf untuk mengakomodasi bunyi yang tidak ada dalam bahasa Arab (misalnya ucapan /o/, /p/, atau /ŋ/).</p>

Bukti terawal tulisan Jawi ini berada di Malaysia dengan adanya Prasasti Terengganu yang bertarikh 702 Hijriah atau abad ke-14 Masehi (Tarikh ini agak problematis sebab bilangan tahun ini ditulis, tidak dengan angka). Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Tetapi kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain: (20 sampai 29) atau -lapan -> dualapan -> "delapan". Kata ini bisa pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, atau 780 - 789 H). Tetapi karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: yaitu tahun 1326M atau 1386M.


== Tata bahasa ==
== Tata bahasa ==
{{main|Tata bahasa Jawa}}
{{main|Tata bahasa Jawa}}
=== Pronomina persona ===
{{sect-stub}}
Bahasa Jawa tidak memiliki [[pronomina]] persona khusus untuk menyatakan jamak kecuali kata ''kita'' dan ''kami.'' Penjamakan kata ganti dapat diabaikan atau dinyatakan dengan menggunakan frasa semisal ''aku kabèh'' 'kami', ''awaké dhéwé'' 'kita', ''dhèwèké kabèh'' 'mereka' dan semacamnya.{{sfn|Ogloblin|2005|p=598}}
===Pronomina===
Bahasa Jawa tidak memiliki kata ganti personal khusus untuk menyatakan jamak kecuali kata ''kita''{{sfn|Wedhawati, dkk|p=268}} yang kemungkinan diserap dari bahasa Indonesia.{{sfn|Ogloblin|2005|p=598}} Penjamakan kata ganti dapat diabaikan atau dinyatakan dengan menggunakan frasa semisal ''aku kabèh'' 'kami', ''awaké dhéwé'' 'kita', ''dhèwèké kabèh'' 'mereka' dan semacamnya.{{sfn|Ogloblin|2005|p=598}}


{| class="wikitable" style="text-align: left;"
== Sastra ==
|+ 3. Pronomina persona{{sfn|Ogloblin|2005|p=598}}{{sfn|Uhlenbeck|1982|p=242}}{{sfn|Robson|2014|p=1}}
{{utama|Sastra Jawa}}
|-
{{sect-stub}}
! rowspan="2" | Glos
! colspan="4" | Bentuk bebas
! rowspan="2" | Awalan
! rowspan="2" | Akhiran
|-
! ''[[Kata ngoko|Ngoko]]''
! ''[[Kata madya|Madya]]''
! ''[[Kata krama|Krama]]''
! ''[[Kata krama inggil|Krama inggil]]/''<br />''[[Kata krama andhap|andhap]]''
|-
| {{gcl|1SG}}<br />'aku, saya'
| ''aku''
| –
| ''kula''
| ''dalem''
| ''tak''-, ''dak''-
| -''ku''
|-
|{{gcl|1PL.EXCL|persona pertama, jamak eksklusif}} 'kami'
|''kami''
|–
|–
|–
|–
|–
|-
| {{gcl|1PL.INCL|persona pertama, jamak inklusif}} 'kita'
| ''kita''
| –
| –
| –
| –
| –
|-
| {{gcl|2SG}}, {{gcl|2PL}}<br />'kamu, Anda, kalian'
| ''kowé''
| ''samang''
| ''sampéyan''
| ''panjenengan''
| ''ko''-, ''kok''-
| -''mu''
|-
| {{gcl|3SG}}, {{gcl|3PL}}<br />'dia, ia, ia, mereka'
| ''dhèwèké''{{efn|Varian ''dhèwèkné'', ''dhèkné'', dan ''dhèknéné'' juga umum ditemui.{{sfn|Uhlenbeck|1982|p=242}}}}
| –
| ''piyambakipun''
| ''panjenengané'',<br />''panjenenganipun''{{efn|''Panjenengané'' dipakai dalam konteks ''ngoko'', sementara ''panjenenganipun'' dipakai dalam konteks ''krama''.{{sfn|Robson|2014|p=1}}}}
| ''di''-, ''dipun-''
| -''(n)é'', -''(n)ipun''
|}


Pronomina persona dalam bahasa Jawa, terutama untuk persona kedua dan ketiga, lebih sering digantikan dengan nomina atau gelar tertentu.{{sfn|Robson|2014|p=1}}{{sfn|Uhlenbeck|1982|p=239}} Selain pronomina yang dijabarkan di dalam tabel di atas, bahasa Jawa masih memiliki beragam pronomina lain yang penggunaannya bervariasi tergantung dialek atau tingkat tutur.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=268–269}}
== Ragam ==
=== Geografis ===
Bahasa Jawa sangat beragam, dan keragaman ini masih terpelihara sampai sekarang, baik karena dituturkan maupun melalui dokumentasi tertulis. Dialek geografi, dialek temporal serta register dalam bahasa Jawa sangat kaya sehingga seringkali menyulitkan orang yang mempelajarinya.


=== Demonstrativa ===
Klasifikasi berdasarkan dialek geografi mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck (1964)<ref>Uhlenbeck, E.M. 1964.A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura. The Hague: Martinus Nijhoff</ref>. Peneliti lain seperti W.J.S. Poerwadarminta dan Hatley memiliki pendapat yang berbeda.{{fact}}
[[Demonstrativa]] atau kata tunjuk dalam bahasa Jawa adalah sebagai berikut:{{sfn|Uhlenbeck|1982|pp=236, 248, 264, 268, 276, 279, 283}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=270–275}}
{| class="wikitable" style="text-align: left;"
|+ 4. Demonstrativa{{sfn|Uhlenbeck|1982|pp=236, 248, 264, 268, 276, 279, 283}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|pp=270–275}}
|-
!
! dekat
! agak jauh
! jauh
|-
! netral
| ''iki'', ''kiyi'', ''kiyé'' 'ini'
| ''iku'', ''kuwi'', ''kuwé'' 'itu'
| (''ika''), ''kaé'' 'itu'
|-
! lokal
| ''kéné'' 'sini'
| ''kono'' 'situ'
| ''kana'' 'sana'
|-
! arah
| ''mréné'', ''réné'' 'ke sini'
| ''mrono'', ''rono'' 'ke situ'
| ''mrana'', ''rana'' 'ke sana'
|-
! modal
| ''mengkéné'', ''ngéné'' 'begini'
| ''mengkono'', ''ngono'' 'begitu'
| ''mengkana'', ''ngana'' 'begitu'
|-
! kuantitatif
| ''seméné'', ''méné'' 'sekian ini'
| ''semono'', ''mono'' 'sekian itu'
| ''semana'', ''mana'' 'sekian itu'
|-
! temporal
| ''sepréné'' 'hingga saat ini'
| –
| ''seprana'' 'hingga saat itu'
|}


Kata ''iki'' dan ''iku'' dapat digunakan baik dalam tulisan maupun percakapan. Bentuk ''kiyi'', ''kiyé'', ''kuwi'', dan ''kuwé'' utamanya digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bentuk ''ika'' hanya dipakai dalam tembang. Bentuk ''madya'' dari ''iki/kiyi/kiyé'', ''iku/kuwi/kuwé'' dan ''kaé'' adalah ''niki'', ''niku'', dan ''nika''. Ketiga jenis demonstrativa ini memiliki bentuk krama yang sama, yaitu ''punika'' atau ''menika'', walaupun dalam beberapa kasus, kata ''mekaten'' atau ''ngaten'' juga digunakan sebagai padanan ''krama'' dari ''kaé''.{{sfn|Uhlenbeck|1982|pp=248–249}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=270}}
;Kelompok Barat


=== Nomina ===
# [[dialek Banten]]
Dalam bahasa Jawa, atribut pewatas (''modifier'') nomina inti diletakkan setelah nomina.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=243}} Nomina inti tidak diberi imbuhan jika diikuti dengan atribut [[adjektiva]] atau verba non-pasif (penanda tujuan atau kegunaan) yang membatasi makna nomina tersebut. Kepemilikan dapat dinyatakan secara implisit tanpa imbuhan, atau secara eksplisit dengan akhiran ''-(n)é'' atau ''-(n)ipun'' pada nomina inti.{{sfn|Ogloblin|2005|p=608}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=252}}
# [[dialek Indramayu]], ([[Jawa Barat]]), [[Kabupaten Indramayu]], sebagian utara kabupaten [[Subang]] dan [[Karawang]]
:{|
# [[dialek Tegal]] (sebagian barat [[Jawa Tengah]] (kabupaten [[Kabupaten Tegal|Tegal]], [[Pemalang]] dan [[Brebes]] dan kota [[Tegal]]))
| ||''wit kinah''||'pohon kina'
# [[dialek Banyumasan]] (sebagian barat laut [[Jawa Tengah]] (seluruh kabupaten [[Banyumas]], [[Purbalingga]], [[Banjarnegara]] dan [[Cilacap]]))
|-
# [[dialek Bumiayu]] (peralihan Tegal dan Banyumas)
| ||''sumur jero''||'sumur dalam'
|-
| ||''peranti nenun''||'peralatan menenun'
|-
| ||''idham-idhaman kita''||'cita-cita kita'
|-
| ||''omahé Marsam''||'rumahnya Marsam'
|}
Imbuhan ''-(n)ing'', yang utamanya digunakan dalam ragam tulisan, memiliki beberapa makna berbeda yang menyatakan hubungan antara inti dan atribut.{{sfn|Ogloblin|2005|p=608}}
:{|
| ||''ratuning buta''||'rajanya para raksasa'
|-
| ||''rerengganing griya''||'hiasan untuk rumah'
|-
| ||''dèwining kaéndahan''||'dewi kecantikan'
|}


=== Numeralia ===
;Kelompok Tengah
[[Numeralia]] atau angka umumnya diletakkan setelah nomina.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=305}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=608–609}}
:{|
| ||''wong siji''||'satu orang'
|-
| ||''gelas pitu''||'tujuh gelas'
|-
| ||''candhi sèwu''||'seribu candi'
|}


Numeralia diletakkan sebelum nomina jika nomina tersebut merupakan penunjuk satuan ukuran atau satuan bilangan. Numeralia dalam posisi ini akan mendapatkan pengikat nasal ''-ng'' jika berakhir dengan bunyi vokal, atau ''-ang'' jika berakhir dengan konsonan non-sengau. Satu-satunya pengecualian adalah numeralia ''siji'' 'satu' yang diganti dengan imbuhan ''sa-/se-/s-'' dalam konteks ini.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=305}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=608–609}}
# [[dialek Pekalongan]] ([[Jawa Tengah]] (kabupaten [[Kabupaten Pekalongan|Pekalongan]] dan [[Kabupaten Batang|Batang]] dan kota [[Pekalongan]]))
:{|
# [[Bahasa Jawa Kedu|dialek Kedu]] ([[Jawa Tengah]] bagian tengah (eks Karesidenan Kedu) (kabupaten [[Kabupaten Magelang|Magelang]], [[Wonosobo]], [[Temanggung]], [[Purworejo]], [[Kebumen]] dan kota [[Magelang]]))
| ||''telu-ng puluh''||'tiga puluh'
# [[dialek Bagelan]] ([[Jawa Tengah]] ([[Bagelen, Purworejo]]))
|-
# [[dialek Semarang]] ([[Jawa Tengah]] (Semarang Metro (kabupaten [[Kabupaten Semarang|Semarang]], [[Demak]], [[Kendal]] dan kota [[Semarang]] dan [[Salatiga]]))
| ||''pat-ang pethi''||'empat peti'
# [[dialek Pantai Utara Timur]] (sebagian timur laut [[Jawa Tengah]] (eks Karesidenan Pati) (kabupaten [[Pati]], [[Rembang]], [[Jepara]], [[Kudus]], [[Rembang]]) dan sebagian barat daya [[Jawa Timur]] (kabupaten [[Bojonegoro]], [[Tuban]]))
|-
# [[dialek Blora]] (sebagian timur [[Jawa Tengah]] (eks Karesidenan Pati) (kabupaten [[Blora]], [[Grobogan]]) dan [[Jawa Timur]] (sebagian barat kabupaten [[Bojonegoro]]))
| ||''sa-genthong''||'satu tempayan'
# dialek Mataram ([[D.I. Yogyakarta]] dan sebagian tenggara [[Jawa Tengah]] (eks Karesidenan Surakarta) (kabupaten [[Boyolali]], [[Klaten]], [[Sragen]], [[Sukoharjo]], [[Wonogiri]], [[Karanganyar]] dan kota [[Surakarta]]))
|-
# [[dialek Madiun]] (sebagian barat dan barat laut [[Jawa Timur]] (eks Karesidenan Madiun) (kabupaten [[Kabupaten Madiun|Madiun]], [[Magetan]], [[Ngawi]], [[Pacitan]], [[Ponorogo]] dan kota [[Madiun]], kabupaten [[Kabupaten Kediri|Kediri]], [[Kabupaten Blitar|Blitar]], [[Trenggalek]], [[Nganjuk]] dan [[Tulungagung]] dan kota [[Blitar]] dan [[Kediri]]))
| ||''se-gelas''||'segelas'
|-
| ||''s-atus rupiyah''||'seratus rupiah'
|}


=== Verba ===
Kelompok kedua ini dikenal sebagai bahasa Jawa Tengahan. Dialek Mataram (Surakarta dan Yogyakarta) menjadi acuan baku bagi pemakaian resmi bahasa Jawa (bahasa Jawa Baku).
<section begin="list-of-glossing-abbreviations"/><div style="display:none;">
GEN:genitif
LOC:penanda lokasi
TR1:transitif I, aplikatif
TR2:transitif II, kausatif
</div><section end="list-of-glossing-abbreviations"/>
Paradigma verba bahasa Jawa baku dapat diringkaskan sebagai berikut:{{sfn|Conners|2008|p=235}}{{sfn|Uhlenbeck|1982|p=133}}
{| class="wikitable" style="text-align: left"
|+ 5. Paradigma verba{{sfn|Conners|2008|p=235}}{{sfn|Uhlenbeck|1982|p=133}}
|-
! rowspan="2" |modus
! rowspan="2" |diatesis
! rowspan="2" |awalan
! colspan="3" |akhiran
|-
! netral
! aplikatif I
! aplikatif II
|-
! rowspan="3" |indikatif
! aktif
| ''N-''
| rowspan="3" |''-Ø''
| rowspan="2" |''-i''
| rowspan="2" |''-aké''
|-
! pasif I
| ''tak-/kok-/di-''
|-
! pasif II
| ''ke-''
| ''-an''
| ''-Ø''
|-
! rowspan="2" |imperatif
! aktif
| ''N-''
| ''-a''
| rowspan="2" |''-ana''
| rowspan="2" |''-na''
|-
! pasif I
| ''Ø-''
| ''-en''
|-
! rowspan="2" |propositif
! aktif
| (''aku'') ''tak'' ''N-''
| ''-Ø''
| ''-i''
| ''-aké''
|-
! pasif I
| ''tak-''
| ''-é''
| ''-ané''
| ''-né''
|-
! rowspan="2" |subjungtif
! aktif
| ''N-''
| ''-a''
| ''-ana''
| rowspan="2" |''-na''
|-
! pasif I
| ''tak-/kok-/di-''
| ''-en''
| ''-na''
|}


Tidak semua imbuhan verba dalam paradigma yang dijabarkan di atas lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari. Selain itu, dialek bahasa Jawa lainnya umumnya memiliki paradigma verba yang lebih sederhana, seperti misalnya dialek Tengger yang tidak menggunakan imbuhan berbeda bagi verba dengan modus [[modus subjungtif|subjungtif]] dan [[modus imperatif|imperatif]] (walaupun dialek baku juga tidak membedakan keduanya dalam bentuk aktif, sama-sama ditandai dengan imbuhan ''N-'' dan ''-a'').{{sfn|Conners|2008|pp=200, 237–238}}
;Kelompok Timur


Verba [[transitif]] dalam bahasa Jawa dapat dibentuk dengan merangkaikan awalan sengau ''N-'' pada kata dasar untuk bentuk aktif atau awalan pronominal seperti ''di-'', ''tak-'', dan ''kok-'' untuk bentuk pasif.{{sfn|Ogloblin|2005|p=600}}
# [[Bahasa Jawa Arekan|dialek Arekan]] ([[Jawa Timur]] (Surabaya Metro (kota [[Surabaya]] dan [[Mojokerto]], kabupaten [[Lamongan]], [[Kabupaten Mojokerto|Mojokerto]], [[Sidoarjo]] dan [[Gresik]]), Malang Raya (kota [[Kota Batu|Batu]], [[Malang]] dan [[Pasuruan]] dan kabupaten [[Kabupaten Malang|Malang]] dan [[Kabupaten Pasuruan|Pasuruan]]) dan sebagian besar [[Tapal Kuda, Jawa Timur|Tapal Kuda]] (kabupaten [[Kabupaten Probolinggo|Probolinggo]], [[Lumajang]], [[Jember]], [[Situbondo]], [[Bondowoso]] dan kota [[Probolinggo]]))
:{{interlinear |lang=jv |number=(1) |indent=2
# [[dialek Jombang]] ([[Jawa Timur]] (kabupaten [[Jombang]], [[Nganjuk]]))
|Wis '''nemu''' akal aku
# [[dialek Tengger]] ([[Jawa Timur]] (wilayah sekitar [[Taman Nasional Bromo Tengger Semeru]]))
|sudah AV:temu akal aku
# [[Bahasa Osing|dialek Banyuwangi]] ([[Jawa Timur]] (kabupaten [[Banyuwangi]]))
|'Aku sudah menemukan solusinya.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=601}}
}}
:{{interlinear |lang=jv |number=(2) |indent=2
|Kandha{{=}}ku '''di-gugu''' wong akèh
|perkataan{{=}}1.GEN PASS:3-percaya orang banyak
|'Perkataanku dipercaya oleh orang-orang.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=601}}
}}


Penambahan akhiran ''-i'' dan ''-aké'' umumnya menandakan [[Valensi (linguistik)|valensi]] yang lebih tinggi.{{efn|Valensi adalah konsep tata bahasa mengenai hubungan antara verba dengan jumlah [[Argumen (linguistik)|argumen]] yang dirujuk olehnya. Semakin tinggi valensi sebuah verba, semakin banyak argumen yang bisa dirujuk olehnya. Verba intransitif, misalnya, memiliki valensi terkecil, karena hanya dapat merujuk pada satu argumen saja.}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=600}} Akhiran ''-i'' biasanya bersifat aplikatif, seperti dalam kata ''tanduri'' 'tanami (dengan sesuatu)' dari kata dasar ''tandur'' 'tanam'. Akhiran ''-aké'' (bentuk ''krama'': ''-aken'') dapat membentuk verba kausatif dari verba transitif, contohnya kata ''lebokaké'' 'masukkan (ke dalam sesuatu)' dari kata ''mlebu''. Jika dipasangkan pada verba intransitif, verba yang terbentuk dapat bersifat benefaktif, contohnya seperti kata ''jupukaké'' 'ambilkan (untuk seseorang)' dari bentuk dasar ''jupuk'' 'ambil'.{{sfn|Ogloblin|2005|p=610–611}}
Kelompok ketiga ini dikenal sebagai bahasa Jawa Wetanan (Timur).
:{{interlinear |lang=jv |number=(3) |indent=2
|Kuwi '''mangan-i''' godhong tèh
|itu AV:makan-TR1 daun teh
|'[Serangga] itu memakani daun-daun teh.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=611}}
}}
:{{interlinear |lang=jv |number=(4) |indent=2
|Para utusan mau uga '''ng-islam-aké''' wong-wong ing Pejajaran
|PL utusan ANAPH juga AV-Islam-TR2 orang-orang LOC Pejajaran
|'Para utusan ini juga mengislamkan orang-orang di Pejajaran.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=611}}
}}


Baik verba transitif maupun intransitif memiliki beberapa bentuk tergantung [[modus|modus gramatikanya]]. Selain bentuk dasar atau bentuk [[Modus indikatif|indikatif]], ada pula bentuk [[Modus irealis|irealis]]/subjungtif, imperatif, dan propositif.{{sfn|Ogloblin|2005|p=600}} Modus irealis dalam bahasa Jawa diekspresikan dengan imbuhan ''-a'', yang dapat memiliki beberapa makna, yaitu:{{sfn|Ogloblin|2005|p=605}}
Selain dialek-dialek di tanah asal, dikenal pula dialek-dialek yang dituturkan oleh orang Jawa diaspora, seperti di Sumatra Utara, Lampung, Suriname, Kaledonia Baru, dan Curaçao.
* Menyatakan kemungkinan (''potential'').
==== Bahasa Jawa Suriname ====
:{{interlinear |lang=jv |number=(5) |indent=2
{{utama|Bahasa Jawa Suriname}}
|Daya-daya '''tekan-a''' ing omah
Bahasa Jawa Suriname merupakan ragam atau dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname dan oleh komunitas Jawa Suriname di Belanda. Jumlah penuturnya kurang lebih ada 65.000 jiwa di Suriname dan 30.000 jiwa di Belanda. Orang Jawa Suriname merupakan keturunan kuli kontrak yang didatangkan dari Tanah Jawa dan sekitarnya. Di Suriname, orang Indonesia tersebar di beberapa tempat dan kampung yang mudah dikenali karena Kampung mereka masih menggunakan nama-nama dalam bahasa Indonesia, misalnya seperti Desa Tamansari, Desa Tamanrejo, dan lain-lain semacam itu. Untuk mengingat akan tanah airnya Indonesia, selain dengan menggunakan nama pemukiman mereka dengan Bahasa Indonesia, bahasa penutur yang (sering) digunakan adalah Bahasa Jawa.
|secepatnya sampai-IRR LOC rumah
|'Secepatnya [ia] sampailah ke rumah.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=605}}
}}
* Menyatakan pengandaian (''conditional'').
:{{interlinear |lang=jv |number=(6) |indent=2
|'''Aja-a''' ana lawa, lemud kuwi rak ndadi
|NEG.IMP-IRR EXIST kelelawar, nyamuk itu PTCL menjadi
|'Seandainya tidak ada kelelawar, nyamuk-nyamuk itu akan semakin menjadi-jadi.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=605}}
}}
* Menyatakan harapan (''optative'').
:{{interlinear |lang=jv |number=(7) |indent=2
|Lelakon iku '''di-gawé-a''' kaca
|Kejadian itu PASS:3-buat-IRR cermin
|'Jadikanlah kejadian itu pelajaran.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=605}}
}}
* Menyatakan permintaan (''hortative'').
:{{interlinear |lang=jv |number=(8) |indent=2
|'''Ngombé-a''' banyu godhogan
|minum-IRR air rebusan
|'Minumlah air rebusan.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=605}}
}}


Verba dengan modus imperatif tidak dapat diawali dengan [[pelengkap]] yang berupa pelaku, dan ditandai dengan imbuhan ''-en'' atau ''-a''. Verba intransitif tidak memiliki bentuk imperatif khusus.{{sfn|Ogloblin|2005|pp=600, 603}}
Pada Tahun 1990 sekitar 34,2% Penduduk Suriname atau 143.640 orang keturunan asal Indonesia ( etnis jawa ) dan merupakan salah satu etnis terbesar di Suriname saat itu. Namun seiring dengan perkembangan jaman banyak di antara mereka yang pindah mengikuti keluarga dan bermukim di Belanda. Anehnya, walau mereka pada umumnya belum pernah melihat Indonesia, mereka sangat fasih dalam berbahasa Jawa yang digunakan sehari-hari dalam pergaulan antara sesama etnis Jawa.
:{{interlinear |lang=jv |number=(9) |indent=2
|Mripat{{=}}mu '''tutup-an-a'''
|mata{{=}}2.GEN tutup-TR1-IMP
|'Pejamkan matamu.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=603}}
}}


Bentuk propositif merupakan bentuk imperatif yang digunakan untuk memerintahkan diri sendiri atau mengekspresikan keinginan untuk melakukan sesuatu.{{sfn|Ogloblin|2005|pp=600, 603}} Morfem ''tak'' atau ''dak'' digunakan sebelum verba untuk memarkahi modus propositif aktif. Tidak seperti awalan pronominal ''tak-'' atau ''dak-'' yang tidak dapat didahului oleh subjek persona pertama, konstruksi propositif aktif dengan ''tak/dak'' dapat didahului oleh subjek ({{abbr|mis.|misal}} '''''aku''' tak nggorèng iwak'' 'aku bermaksud menggoreng ikan'). Pemarkah propositif aktif ini juga bisa dipisahkan dari verba yang mengikutinya, seperti yang bisa dilihat dari contoh (10–11).{{sfn|Ogloblin|2005|p=605}}{{sfn|Uhlenbeck|1982|p=135}}
Bukan di Suriname saja bahasa Jawa digunakan oleh masyarakat yang berasal dari Indonesia, tetapi juga di Belanda. Bahkan, dari sebuah catatan menyebutkan lebih-kurang 65 ribu warga negara Suriname etnis Jawa dan tiga puluh ribu warga Negara Belanda beretnis Jawa menggunakan Bahasa Jawa dalam bersosialisasi dengan sesama mereka dalam pergaulan sosial di tengah-tengah masyarakatnya.
:{{interlinear |lang=jv |number=(10) |indent=2
|Aku '''tak''' '''nusul''' Bapak dhéwéan
|1 1.PRPV AV:susul Bapak sendirian
|'Biarkan aku menyusul Bapak sendirian.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=606}}
}}
:{{interlinear |lang=jv |number=(11) |indent=2
|Aku '''tak''' dhéwéan waé '''nusul''' Bapak
|1 1.PRPV sendirian PTCL AV:susul Bapak
|'Biarkan aku sendiri saja menyusul Bapak.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=606}}
}}


Imbuhan ''-é'' atau ''-ipun'' digunakan untuk menandakan bentuk propositif pasif.{{sfn|Ogloblin|2005|p=600}} Di sini morfem ''tak-'' berfungsi serupa dengan awalan pronomina ''tak-'' yang digunakan dalam bentuk pasif pada modus indikatif dan irealis.{{sfn|Ogloblin|2005|p=606}}
Di Suriname hanya terdapat satu dialek Jawa. Namun, adanya varian-varian kata menunjukkan bahwa pada masa lalu para migran Jawa itu menuturkan sejumlah dialek yang berbeda. Di Suriname juga pernah ada penutur bahasa Banyumasan (ngapak-ngapak). Sayangnya, bahasa ini dianggap tidak baik dan penuturnya sering dihina. Akibatnya, keturunan mereka tak lagi mempelajari dan menuturkan bahasa Banyumasan.
:{{interlinear |lang=jv |number=(12) |indent=2
|'''Tak{{=}}Ø-plathok-an-é''' kayu{{=}}mu
|1{{=}}PASS:1/2-belah-TR1-PRPV kayu{{=}}2.GEN
|'Biarkan kubelah kayumu.' {{harvtxt|Ogloblin|2005|p=606}}
}}


Dalam bentuk-bentuk non-indikatif (irealis/subjungtif, imperatif, dan propositif), imbuhan ''-i'' dan ''-aké'' bersinonim dengan imbuhan ''-an'' dan ''-n'' seperti dalam rangkaian imbuhan ''-an-a'', ''-an-é'', ''-n-a'', dan ''-n-é''. Imbuhan-imbuhan ini sering dianggap sebagai bentuk yang padu (''-ana'', ''-ané'', ''-na'', dan ''-né''), walaupun beberapa linguis menganggap bahwa imbuhan-imbuhan ini sejatinya terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu ''-an'' dan ''-n'' yang merupakan imbuhan derivatif, serta ''-a'' dan ''-é'' yang merupakan pemarkah modus.{{sfn|Conners|2008|p=235}}{{sfn|Ogloblin|2005|p=600}}{{sfn|Subroto|Soenardji|Sugiri|1991|p=111}}
Kosakata bahasa Jawa di Suriname banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda dan Sranan Tongo. Meskipun demikian, kedua bahasa tersebut tak memengaruhi fonologi dan tata bahasa. Akan tetapi orang Jawa di Suriname tidak bisa berbahasa Indonesia karena sejak Belanda mendatangkan orang jawa untuk menjadi kuli kontrak, ketika itu orang asli Jawa dahulu hanya bisa berbahasa Jawa saja. Kata-kata Sranan Tongo yang sudah diserap malah ada yang memiliki bentuk bahasa krama.


== Sistem penulisan ==
Fonologi bahasa Jawa di Suriname tak berbeda dengan bahasa Jawa baku di Tanah Jawa. Fonologi dialek Kedu yang menjadi leluhur bahasa Jawa Suriname tidak berbeda dengan bahasa Jawa baku. Namun terdapat fenomena baru dalam bahasa Jawa Suriname, yakni perbedaan antara fonem dental dan retrofleks (/t/ dan /d/ vs. /ṭ/ dan /ḍ/) semakin hilang.
Saat ini bahasa Jawa modern ditulis menggunakan tiga jenis aksara, yaitu aksara Jawa, abjad Pegon, dan alfabet Latin.


=== Aksara Jawa ===
Bahasa Jawa Suriname memiliki cara penulisan yang berbeda dengan bahasa Jawa di Pulau Jawa. Pada tahun 1986, bahasa Jawa Suriname mendapatkan cara pengejaan baku. Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan antara sistem Belanda sebelum PD II dengan ejaan Pusat Bahasa di Daerah Istimewa Yogyakarta.
{{utama|Aksara Jawa}}
Aksara Jawa merupakan [[Rumpun aksara Brahmi|aksara berumpun Brahmi]] yang diturunkan dari [[aksara Pallawa]] lewat [[aksara Kawi]]. Aksara tersebut muncul pada abad ke-16 tepatnya pada era keemasan hingga akhir Majapahit.<ref name=":1">{{Cite book|first=Javaholic Genk Kobra Community|url=https://www.worldcat.org/oclc/953823997|title=Gaul aksara Jawa|location=Yogyakarta|publisher=LKiS Pelangi Aksara|isbn=978-602-0809-08-3|edition=1|others=|oclc=953823997|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Kozok|first=Uli|date=1999|url=https://www.worldcat.org/oclc/46390839|title=Warisan leluhur : sastra lama dan aksara Batak|location=Jakarta [Indonesia]|publisher=Ecole française d'Extrême-Orient|isbn=979-9023-33-5|others=École française d'Extrême-Orient., Kepustakaan Populer Gramedia.|oclc=46390839|access-date=2019-12-25|archive-url=https://web.archive.org/web/20230412225703/https://www.worldcat.org/title/46390839|archive-date=2023-04-12|url-status=live|dead-url=no}}</ref>


Pengurutan aksara Jawa secara tradisional menggunakan pengurutan Hanacaraka. Pengurutan aksara ini diciptakan menurut legenda [[Aji Saka]] untuk mengenang dua orang pembantunya, Dora dan Sembada, yang berselisih paham tentang pusaka Aji Saka. Sembada ingat bahwa hanya Aji Sakalah yang boleh mengambil pusaka tersebut, sedangkan Dora diminta Aji Saka untuk membawakan pusaka Aji Saka ke Tanah Jawa. Perselisihan ini berujung pada pertarungan sengit; mereka memiliki kesaktian yang setara dan kedua-duanya pun mati.<ref>{{Cite book|last=Dwiyanto|first=Djoko|date=2009|url=https://www.worldcat.org/oclc/320349826|title=Kraton Yogyakarta : sejarah, nasionalisme & teladan perjuangan|location=Yogyakarta|publisher=Paradigma Indonesia|isbn=978-979-17834-0-8|edition=1|oclc=320349826|url-status=live}}</ref>
Dalam bahasa Jawa Suriname, terdapat juga basa krama (bahasa halus), tetapi tak lagi serupa dengan bahasa Jawa di Jawa. Bahkan generasi mudanya sudah banyak yang tak bisa menuturkan basa krama. Terdapat tiga ragam bahasa Jawa di Suriname, yakni ngoko, krama, dan krama napis. Krama di Jawa adalah madya, krama napis adalah krama, dan krama adalah inggil.


Aksara Jawa saat ini digunakan secara luas di ruang publik, terutama di wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Aksara Jawa dipasang mendampingi alfabet Latin pada papan nama jalan, papan nama instansi, maupun di tempat umum.<ref>{{Cite news|url=https://news.okezone.com/read/2008/02/04/1/80815/solo-wajibkan-aksara-jawa-di-papan-nama|title=Solo Wajibkan Aksara Jawa di Papan Nama|last=Sumarno|date=2008-02-04|work=[[Okezone.com]]|language=id-ID|access-date=2019-12-25|archive-date=2019-12-25|archive-url=https://web.archive.org/web/20191225043647/https://news.okezone.com/read/2008/02/04/1/80815/solo-wajibkan-aksara-jawa-di-papan-nama|dead-url=no}}</ref><ref>{{Cite news|url=https://travel.tempo.co/read/874712/papan-nama-jalan-di-yogyakarta-akan-tampil-antik-dan-khas|title=Papan Nama Jalan di Yogyakarta Akan Tampil Antik dan Khas|last=Widjanarko|first=Tulus|date=2017-05-12|work=[[Tempo.co]]|language=id|access-date=2019-12-25|editor-last=Widjanarko|editor-first=Tulus|archive-date=2019-12-25|archive-url=https://web.archive.org/web/20191225043648/https://travel.tempo.co/read/874712/papan-nama-jalan-di-yogyakarta-akan-tampil-antik-dan-khas|dead-url=no}}</ref>
Sejak tahun 2000, dibuka kursus bahasa Indonesia dan bahasa Jawa untuk warga Suriname. Bertempat di KBRI Paramaribo, pesertanya memang tidak banyak dan masih didominasi orang tua. Agar kemampuan berbahasa yang diperoleh dari kursus tidak hilang begitu saja, dibentuk Ikatan Alumni Kursus Bahasa Jawa (IKA-KBJ) dan Ikatan Alumni Kursus Bahasa Indonesia (IKA-KBI). Secara berkala, alumni berkumpul untuk berbicara dalam bahasa Jawa dan Indonesia.


Aksara yang berkerabat dengan aksara Jawa adalah [[aksara Bali]] yang diturunkan dari versi awal dari aksara Jawa pada abad ke-16.
Dari kursus itulah mereka menguasai bahasa Indonesia serta mengerti tata bahasa Jawa sesuai dengan tatanan yang berlaku di tempat asalnya. Selama ini penggunakan ejaan Belanda untuk menulis kosakata bahasa Jawa marak digunakan oleh masyarakat suku Jawa di Suriname. Kemampuan berbahasa Jawa dan Indonesia itu penting bagi warga keturunan Jawa di Suriname. Meski bukan berkebangsaan Indonesia, mereka tetaplah manusia Jawa. "Manusia Jawa itu punya identitas, salah satunya bahasa Jawa. Maka agar tidak kehilangan identitas, mereka harus menguasai bahasa Jawa."


=== Tingkatan ===
=== Abjad Pegon ===
{{utama|Abjad Pegon}}
[[Berkas:Javanese_register_Krama_&_Ngoko.jpg|pus|jmpl|400x400px|Perbedaan unggah-ungguh atau undhak-undhuk Ngoko dan Krama]]
[[Berkas:Javanese John 3 16.png|jmpl|Sampel teks Pegon untuk Alkitab terjemahan bahasa Jawa ([[Yohanes 3:16|Yoh 3:16]])]]
Muncul bersama masuknya Islam di Jawa serta berkembang selama masa-masa keemasan Kerajaan Demak hingga Pajang, [[abjad Pegon]] yang bersaudara dengan [[abjad Jawi]] (Arab-Melayu) mengadopsi huruf-huruf Arab standar dengan ditambahkan huruf-huruf baru yang sama sekali tidak ada dalam abjad Arab maupun bahasa Arab asli. Kecuali jika orang Arab memahami dan menguasai bahasa Jawa, huruf-huruf pegon tidak bisa dipahami oleh orang Arab. Jika abjad Jawi selalu tanpa [[harakat]] (penanda vokal), abjad Pegon ada yang berharakat dan ada yang tidak. Pegon yang tidak berharakat disebut Gundhil. Abjad Pegon menjadi materi wajib yang diajarkan di banyak pesantren Jawa. Kata ''pegon'' berarti "menyimpang", maksudnya adalah bahwa "bahasa Jawa yang ditulis menggunakan abjad Arab merupakan sesuatu yang tidak lazim."<ref name=":0">{{Cite web|url=https://islamindonesia.id/budaya/budaya-mengenal-aksara-arab-pegon-simbol-perlawanan-dan-pemersatu-ulama-nusantara.htm|title=BUDAYA–Mengenal Aksara Arab Pegon: Simbol Perlawanan dan Pemersatu Ulama Nusantara|access-date=2019-09-05|archive-date=2019-09-05|archive-url=https://web.archive.org/web/20190905152326/https://islamindonesia.id/budaya/budaya-mengenal-aksara-arab-pegon-simbol-perlawanan-dan-pemersatu-ulama-nusantara.htm|dead-url=no}}</ref><ref>{{Cite web|date=2016-07-01|title=Huruf Pegon, Sarana Kreativitas Umat Islam di Jawa Masa Lalu|url=http://poskotanews.com/2016/07/01/huruf-pegon-sarana-kreativitas-umat-islam-di-jawa-masa-lalu/|website=Poskota News|language=|archive-url=https://web.archive.org/web/20190905152327/http://poskotanews.com/2016/07/01/huruf-pegon-sarana-kreativitas-umat-islam-di-jawa-masa-lalu/|archive-date=2019-09-05|dead-url=yes|access-date=2019-09-05}}</ref><ref>{{Cite book|last=Sedyawati|first=Edi|date=2001|url=https://www.worldcat.org/oclc/48399092|title=Sastra Jawa : suatu tinjauan umum|location=Jakarta|publisher=Pusat Bahasa|isbn=979-666-652-9|edition=1|others=|oclc=48399092|access-date=2019-12-25|archive-url=https://web.archive.org/web/20230412225707/https://www.worldcat.org/title/48399092|archive-date=2023-04-12|url-status=live|dead-url=no}}</ref>


=== Alfabet Latin ===
Bahasa Jawa mengenal ''undhak-undhuk basa'' dan menjadi bagian integral dalam tata krama (etiket) masyarakat Jawa dalam berbahasa. Dialek Surakarta biasanya menjadi rujukan dalam hal ini. Bahasa Jawa bukan satu-satunya bahasa yang mengenal hal ini karena beberapa bahasa Austronesia lain dan bahasa-bahasa Asia Timur seperti bahasa Korea dan bahasa Jepang juga mengenal hal semacam ini. Dalam sosiolinguistik, undhak-undhuk merupakan salah satu bentuk register.
Latinisasi bahasa-bahasa Nusantara telah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda. Pada abad ke-17, teknologi percetakan sudah mulai diperkenalkan di Hindia Belanda dan hal ini menyulitkan sejumlah pihak Belanda untuk menuliskan bahasa Jawa menggunakan alfabet Latin. Alfabet Latin sendiri mulai diintensifkan untuk mentranskripsi karya-karya yang ditulis menggunakan aksara Jawa dan Pegon pada abad ke-19. Dengan kompleksnya penulisan aksara Jawa, transkripsi itu membutuhkan sebuah standar. Standar yang pertama kali dibuat untuk transkripsi Jawa-Latin adalah ''[[Wewaton Sriwedari|Paugeran Sriwedari]]'', diciptakan di Solo pada tahun 1926.<ref name=":1" /> Karena paugeran tersebut sangat kompleks dan sulit menyesuaikan perkembangan zaman—terutama banyaknya kosakata serapan bahasa Inggris dan Indonesia ke dalam bahasa Jawa—pada tahun 1993 diterbitkanlah buku berjudul ''Pedoman Penulisan Aksara Jawa'', di Yogyakarta.<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/38048239|title=Memperkirakan titimangsa suatu naskah|last=Dipodjojo, Asdi S.|date=1996|publisher=Lukman Ofset Yogyakarta|isbn=979-8515-06-4|location=Yogyakarta|oclc=38048239|access-date=2019-12-25|archive-date=2023-04-12|archive-url=https://web.archive.org/web/20230412225711/https://www.worldcat.org/title/38048239|dead-url=no}}</ref>


=== Aksara lain ===
Terdapat tiga bentuk utama variasi, yaitu ''[[ngoko]]'' ("kasar"), ''madya'' ("biasa"), dan ''[[krama]]'' ("halus"). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk "penghormatan" (''ngajengake'', ''honorific'') dan "perendahan" (''ngasorake'', ''humilific''). Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, tetapi ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.
Pada masa lampau, bahasa Jawa kuno ditulis menggunakan [[aksara Kawi]] dan [[Aksara Nāgarī|aksara Nagari]]. Banyak dijumpai di prasasti-prasasti dari abad ke-8 hingga abad ke-16, aksara ini terus mengalami perubahan baik dari segi bentuk dan tipografinya.<ref>{{Cite book|last=Nala|first=Ngurah|date=2006|url=https://www.worldcat.org/oclc/170909278|title=Aksara Bali dalam Usada|location=Surabaya|publisher=Pāramita|isbn=979-722-238-1|edition=1|oclc=170909278|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Rochkyatmo|first=Amir|year=1996|url=https://repositori.kemdikbud.go.id/7638/1/PELESTARIAN%20DAN%20MODERNISASI%20AKSARA%20DAERAH.pdf|title=Pelestarian dan Modernisasi Aksara Daerah: Perkembangan Metode dan Teknis Menulis Aksara Jawa|location=Jakarta|publisher=Direktorat Jenderal Kebudayaan|isbn=|editor-last=Guritno|editor-first=Sri|pages=|url-status=live}}</ref>


== Sastra ==
Sebagai tambahan, terdapat bentuk ''bagongan'' dan ''kedhaton'', yang keduanya hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton. Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya, madhyantara, krama, krama inggil, bagongan, kedhaton.
{{utama|Sastra Jawa}}

Di antara bahasa-bahasa Austronesia, bahasa Jawa merupakan bahasa dengan budaya kesusastraan paling tua. Bahasa Melayu Kuno, walaupun lebih dulu muncul secara kronologis dalam prasasti-prasasti dari abad ke-7, tidak merepresentasikan sebuah budaya kesusastraan yang stabil.{{sfn|Conners|2008|p=19}} Sastra Jawa Kuno mayoritasnya berbentuk ''[[kakawin]]'', sementara sastra Jawa Pertengahan banyak yang menggunakan bentuk ''[[kidung]]''.{{sfn|Conners|2008|p=20}} Ratusan karya sastra berbahasa Jawa Kuno disusun antara abad ke-9 dan ke-15. Banyak di antara karya ini yang didasarkan pada karya sastra yang berasal dari India, seperti [[Ramayana]] dan [[Mahabharata]].{{sfn|Conners|2008|pp=20–21}}
Di bawah ini disajikan contoh sebuah kalimat dalam beberapa gaya bahasa yang berbeda-beda ini.

* [[Bahasa Indonesia]]: "Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?"

# Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng<sup>*</sup>ndi?’
# Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
<li>Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” '''(ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)'''</li>
# Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar))
# Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
# Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
# Krama lugu: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
# Krama alus “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”

<sup>*</sup>nèng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan dari bentuk baku ana ing yang disingkat menjadi (a)nêng.

Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semuanya register itu. Biasanya mereka hanya mengenal ''ngoko (kasar)'' dan sejenis ''madya (biasa)''.

==== Ngoko ====
{{artikel utama|Ngoko}}


Sejak setidaknya awal abad ke-20, pertumbuhan pesat dalam populasi serta tingkat literasi telah menjadikan karya sastra tulisan sebagai sesuatu yang tidak lagi eksklusif ditemui pada kalangan aristokrat semata. Karya-karya sastra pun bermunculan dalam genre yang lebih beragam.{{sfn|Ras|1979|pp=1–2}}
Ngoko adalah salah satu tingkatan bahasa dalam Bahasa Jawa. Bahasa ini paling umum dipakai di kalangan orang Jawa. Pemakaiannya dihindari untuk berbicara dengan orang yang dihormati atau orang yang lebih tua.
<!--sastra lisan-->


== Dialek ==
Tingkat tutur ngoko yaitu ungah ungguh bahasa jawa yang berintikan leksikon ngoko. Ciri-ciri katanya terdapat afiks di-,-e dan –ake. Ragam ngoko dapat digunakan oleh mereka yang sudah akrab dan oleh mereka yang merasa dirinya lebih tinggi status sosialnya daripada lawan bicara (mitra wicara). Ragam ngoko mempunyai dua bentuk varian, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus (Sasangka 2004:95).
{{utama|Daftar dialek bahasa Jawa}}
<!--ringkasan klasifikasi dialek Poerwadarminta, Wurm/Hattori, dan Ras; penjabaran variasi fonologi utama (pengucapan /a/ di posisi ultima, realisasi fonem hambat, dst)-->
Bahasa Jawa dapat dibagi ke dalam dua kelompok dialek utama, yaitu kelompok barat yang masih mempertahankan pengucapan /a/ sebagai {{IPA|[a]}} di posisi terbuka, serta kelompok tengah dan timur yang mengganti {{IPA|[a]}} dengan {{IPA|[ɔ]}}. Konsonan hambat dalam kelompok dialek barat umumnya juga masih diucapkan dengan [[Suara (fonetik)|menggetarkan pita suara]].{{sfn|Ogloblin|2005|p=591}}


Menurut [[J. J. Ras]], profesor emeritus bahasa dan sastra Jawa di [[Universitas Leiden]], dialek-dialek bahasa Jawa dapat digolongkan berdasarkan persebarannya menjadi tiga, yaitu 1) dialek-dialek barat, 2) dialek-dialek tengah, dan 3) dialek-dialek timur. Penjabarannya adalah sebagai berikut:{{sfn|Ras|1985|pp=304–306}}
==== Krama ====
# Dialek-dialek yang dipertuturkan di wilayah barat/Banyumasan (Kulon)
{{artikel utama|Krama}}
## Banyumas–Wonosobo–Kebumen Barat ([[Bahasa Jawa Banyumasan|Banyumasan]])
## Indramayu–Cirebon ([[Bahasa Jawa Indramayu]])
## Tegal–Brebes–Pemalang–Pekalongan ([[Bahasa Jawa Tegal|Tegalan]]–[[Bahasa Jawa Pekalongan|Kalonganan]])
## Banten ([[Bahasa Jawa Serang|Jawa Serang]])
# Dialek-dialek yang dipertuturkan di wilayah tengah (Tengah)
## Kebumen–Bagelen–Magelang–Temanggung ([[Bahasa Jawa Kedu|Jawa Kedu]])
## Surakarta–Yogyakarta ([[Bahasa Jawa Surakarta|Mataram]])
## Madiun–Kediri–Blitar ([[Bahasa Jawa Mataraman|Mataraman]])
## Semarang–Demak–Kudus–Jepara ([[Bahasa Jawa Semarang|Jawa Semarang]])
## Blora–Rembang–Pati–Bojonegoro–Tuban ([[Bahasa Jawa Muria|Muria/Aneman]])
# Dialek-dialek yang dipertuturkan di wilayah timur (Wetanan)
## Surabaya–Malang–Pasuruan ([[Rumpun dialek Arekan|Arekan]])
## Banyuwangi ([[Bahasa Osing]])


== Tingkat tutur ==
Krama adalah salah satu tingkatan bahasa dalam Bahasa Jawa. Bahasa ini paling umum dipakai di kalangan orang Jawa. Pemakaiannya sangat baik untuk berbicara dengan orang yang dihormati atau orang yang lebih tua.
{{dab|Informasi lebih lanjut mengenai tingkatan bahasa: [[Ngoko]] dan [[Krama]]}}
{{dab|Informasi lebih lanjut mengenai kosakata: [[Kata ngoko]], [[Kata krama]], dan [[Kata krama inggil]]/[[Kata krama andhap|andhap]]}}
[[Berkas:WIKITONGUES- Disa and Niken speaking Javanese.webm|jmpl|320px|Percakapan bahasa Jawa yang menggunakan tingkat tutur ''krama'']]
Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkat tutur, atau ragam bahasa yang berhubungan dengan etika pembicara pada lawan bicara atau orang yang dibicarakan. Penggunaannya bergantung pada hal-hal seperti derajat tingkat sosial, umur, jarak kekerabatan dan keakraban.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=10}}{{sfn|Poedjosoedarmo|1968|pp=56–57}} Perbedaan antara tingkat tutur dalam bahasa Jawa utamanya adalah pada kosakata serta imbuhan yang digunakan.{{sfn|Poedjosoedarmo|1968|pp=57}} Berdasarkan derajat formalitasnya, kosakata dalam bahasa Jawa dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu 1) ''ngoko'', 2) ''madya'', dan 3) ''krama''.{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=10}} Bentuk ''ngoko'' digunakan untuk berbicara kepada orang yang akrab dengan pembicara. Bentuk ''krama'', yang jumlahnya ada sekitar 850 kata, digunakan untuk berbicara secara formal kepada orang yang belum akrab atau derajat sosialnya lebih tinggi. Beberapa imbuhan juga memiliki padanan ''krama''. Sementara itu, bentuk ''madya'' jumlahnya amat terbatas, hanya sekitar 35 kosakata khusus, dan digunakan untuk mengekspresikan derajat formalitas yang sedang.{{sfn|Ogloblin|2005|p=591}}{{sfn|Wedhawati, dkk|2006|p=10–11}}{{sfn|Poedjosoedarmo|1968|pp=57–58}}


Selain tiga ragam kosakata yang didasarkan pada derajat formalitas, ada pula jenis kosakata yang digunakan untuk menandakan penghormatan (''honorific'') atau perendahan diri (''humilific''), yaitu ''krama inggil'' dan ''krama andhap''.{{sfn|Poedjosoedarmo|1968|pp=57–58}}{{sfn|Robson|2014|p=xvii}} Bentuk ''krama inggil'' digunakan untuk merujuk pada seseorang yang dihormati oleh pembicara, kepemilikannya, serta perbuatannya. Bentuk ''krama andhap'' digunakan untuk merujuk pada hal-hal yang ditujukan pembicara atau orang lain kepada orang yang dihormati tersebut. Beberapa pronomina persona juga memilki padanan ''krama andhap''.{{sfn|Poedjosoedarmo|1968|pp=57–58}} Karena bentuk ''krama inggil'' dan ''krama andhap'' bukan penanda derajat formalitas, kosakata jenis ini dapat digunakan dalam semua tingkat tutur.{{sfn|Poedjosoedarmo|1968|pp=57–58}}{{sfn|Robson|2014|p=xvii}} Jumlah seluruh kosakata dalam kategori ini adalah sekitar 280 buah.{{sfn|Ogloblin|2005|p=591}}
Yang dimaksud dengan ragam krama adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang berintikan leksikon krama, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam krama adalah leksikon krama bukan leksikon yang lain. Afiks yang muncul dalam ragam ini pun semuanya berbentuk krama (misalnya, afiks dipun-, -ipun, dan –aken). Ragam krama digunakan oleh mereka yang belum akrab dan oleh mereka yang merasa dirinya lebih rendah status sosialnya daripada lawan bicara. Ragam krama mempunyai tiga bentuk varian, yaitu krama lugu, karma andhap dan krama alus (Sasangka 2004:104).


Padu-padan kosakata dari kategori-kategori ini membentuk tiga tingkat tutur kalimat, sesuai nama leksikon utama yang digunakan, yaitu ''ngoko'', ''madya'', dan ''krama'', yang masing-masingnya juga memiliki beberapa subtingkat. Pilihan penggunaan tingkat tutur ini bergantung pada keakraban atau kedekatan hubungan antara pembicara dengan lawan bicaranya. Perbedaan antara subtingkat dalam setiap tingkat tutur biasanya tergantung pada penggunaan leksikon ''krama inggil'' dan ''krama andhap'' yang menandakan penghormatan pembicara kepada lawan bicara yang memiliki status sosial yang lebih tinggi.{{sfn|Poedjosoedarmo|1968|pp=58–59}}
==== Madya ====
Madya adalah salah satu tingkatan bahasa Jawa yang paling umum dipakai di kalangan orang Jawa. Tingkatan ini merupakan bahasa campuran antara ngoko dan krama, bahkan kadang dipengaruhi dengan bahasa Indonesia. Bahasa madya ini mudah dipahami dan dimengerti.


== Kosa kata ==
== Keterangan ==
{{sect-stub}}

==Keterangan==
{{notelist}}
{{notelist}}


== Rujukan ==
== Rujukan ==
===Catatan kaki===
=== Catatan kaki ===
{{reflist}}
{{reflist}}
===Daftar pustaka===
=== Daftar pustaka ===
* {{cite journal |last=Adelaar |first=Karl Alexander |title=Malayo-Sumbawan |journal=Oceanic Linguistics |volume=44 |issue=2 |date=2005 |pages=356–388 |doi=10.1353/ol.2005.0027 |url=http://muse.jhu.edu/article/191360 |publisher=University of Hawai'i Press |ref=harv}}
* {{cite journal |last=Adelaar |first=Karl Alexander |title=Malayo-Sumbawan |journal=Oceanic Linguistics |volume=44 |issue=2 |date=2005 |pages=356–388 |doi=10.1353/ol.2005.0027 |url=http://muse.jhu.edu/article/191360 |publisher=University of Hawai'i Press |ref=harv}}
* {{cite journal |last=Blust |first=Robert |authorlink=Robert Blust |title=The reconstruction of proto-Malayo-Javanic: an appreciation |url=https://brill.com/view/journals/bki/137/4/article-p456_4.xml |journal=Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde |publisher=Brill |volume=137 |issue=4 |date=1981 |pages=456–459 |jstor=27863392|ref=harv}}
* {{cite journal |last=Blust |first=Robert |authorlink=Robert Blust |title=The reconstruction of proto-Malayo-Javanic: an appreciation |url=https://brill.com/view/journals/bki/137/4/article-p456_4.xml |journal=Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde |publisher=Brill |volume=137 |issue=4 |date=1981 |pages=456–459 |jstor=27863392|ref=harv}}
* {{cite journal |last=Blust |first=Robert |year=2010 |title=The Greater North Borneo Hypothesis |journal=Oceanic Linguistics |publisher=University of Hawai'i Press |volume=49 |issue=1 |pages=44–118 |jstor=40783586 |ref=harv}}
* {{cite journal |last=Blust |first=Robert |year=2010 |title=The Greater North Borneo Hypothesis |journal=Oceanic Linguistics |publisher=University of Hawai'i Press |volume=49 |issue=1 |pages=44–118 |jstor=40783586 |ref=harv}}
* {{cite thesis |last=Conners |first=Thomas J. |year=2008 |title=Tengger Javanese |type=Doktoral |location=New Haven |publisher=Yale University |ref=harv}}
* {{cite book |last=Dyen |first=Isidore |authorlink=Isidore Dyen |year=1965 |title=A lexicostatistical classification of the Austronesian languages |url=https://books.google.com/books?id=GGOCAAAAIAAJ |location=Baltimore |publisher=Waverly Press |ref=harv}}
* {{cite book |last=Dyen |first=Isidore |authorlink=Isidore Dyen |year=1965 |title=A lexicostatistical classification of the Austronesian languages |url=https://books.google.com/books?id=GGOCAAAAIAAJ |location=Baltimore |publisher=Waverly Press |ref=harv}}
* {{cite book |authorlink=Peter Ladefoged |last=Ladefoged |first=Peter |authorlink2=Ian Maddieson|last2=Maddieson|first2=Ian |year=1996 |title=The Sounds of the World's Languages |location=Oxford |publisher=Blackwell |ISBN=9780631198154 |ref=harv}}
* {{cite book |last1=Naim |first1=Akhsan |last2=Syaputra |first2=Hendry |year=2011 |title=Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-Hari Penduduk Indonesia: Hasil Sensus Penduduk 2010 |location=Jakarta |publisher=Badan Pusat Statistik |isbn=9789790644175 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Nothofer |first=Berndt |year=1975 |title=The reconstruction of Proto-Malayo-Javanic |series=Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde |volume=73 |location=Den Haag |publisher=Martinus Nijhoff |isbn=9024717728 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Nothofer |first=Berndt |year=1975 |title=The reconstruction of Proto-Malayo-Javanic |series=Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde |volume=73 |location=Den Haag |publisher=Martinus Nijhoff |isbn=9024717728 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Nothofer |first=Berndt |year=2009 |chapter=Javanese |title=Concise Encyclopedia of Languages of the World |chapter-url=https://books.google.com/books?id=F2SRqDzB50wCpg=PA560 |editor1=Keith Brown |editor2=Sarah Ogilvie |location=Oxford |publisher=Elsevier |isbn=9780080877754 |pages=560–561 |isbn=9780700712861 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Nothofer |first=Berndt |year=2009 |chapter=Javanese |title=Concise Encyclopedia of Languages of the World |chapter-url=https://books.google.com/books?id=F2SRqDzB50wC&pg=PA560 |editor1=Keith Brown |editor2=Sarah Ogilvie |location=Oxford |publisher=Elsevier |isbn=9780080877754 |pages=560–561 |isbn=9780700712861 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Ogloblin |first=Alexander K. |year=2005 |chapter=Javanese |title=The Austronesian Languages of Asia and Madagascar |chapter-url=https://books.google.com/books?id=BAShwSYLbUYC&pg=PA590 |editor1=K. Alexander Adelaar |editor2=Nikolaus Himmelmann |location=London dan New York |publisher=Routledge |pages=590–624 |isbn=9780700712861 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Ogloblin |first=Alexander K. |year=2005 |chapter=Javanese |title=The Austronesian Languages of Asia and Madagascar |chapter-url=https://books.google.com/books?id=BAShwSYLbUYC&pg=PA590 |editor1=K. Alexander Adelaar |editor2=Nikolaus Himmelmann |location=London dan New York |publisher=Routledge |pages=590–624 |isbn=9780700712861 |ref=harv}}
* {{cite journal |last=Poedjosoedarmo |first=Soepomo |year=1968 |title=Javanese Speech Levels |url=https://archive.org/details/sim_indonesia_1968-10_6/page/54 |journal=Indonesia |publisher=Cornell University Press |volume=6 |pages=54–81 |jstor=3350711 |ref=harv}}
* {{cite book |editor-last=Ras |editor-first=Johannes Jacobus |editorlink=Johannes Jacobus Ras |year=1979 |title=Javanese Literature since Independence |url=https://brill.com/view/title/26998?lang=en |location=Den Haag |publisher=Martinus Nijhoff |isbn=9789004287198 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Ras |first=Johannes Jacobus |year=1985 |title=Inleiding tot het modern Javaans |url=https://books.google.com/books?id=vCy5AAAAIAAJ |location=Dordrecht, Belanda dan Cinnaminson, AS |publisher=Foris Publications |isbn=9789067650731 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Robson |first=Stuart Owen |year=2014 |title=Javanese Grammar for Students: A Graded Introduction |url=https://books.google.com/books?id=JOrrnQEACAAJ |location=Clayton, Victoria |publisher=Monash University Publishing |isbn=9781922235374 |ref=harv}}
* {{cite journal |last=Smith |first=Alexander D. |year=2017 |title=The Western Malayo-Polynesian Problem |journal=Oceanic Linguistics |publisher=University of Hawai'i Press |volume=56 |issue=2 |pages=435–490 |doi=10.1353/ol.2017.0021 |url=http://muse.jhu.edu/article/677288 |ref=harv}}
* {{cite journal |last=Smith |first=Alexander D. |year=2017 |title=The Western Malayo-Polynesian Problem |journal=Oceanic Linguistics |publisher=University of Hawai'i Press |volume=56 |issue=2 |pages=435–490 |doi=10.1353/ol.2017.0021 |url=http://muse.jhu.edu/article/677288 |ref=harv}}
* {{cite book |last1=Subroto |first1=Daliman Edi |last2=Soenardji |last3=Sugiri |year=1991 |title=Tata bahasa deskriptif bahasa Jawa |url=https://books.google.com/books?id=V6ZkAAAAMAAJ |location=Jakarta |publisher=Departemen Pendidikan dan Kebudayaan |ref=harv}}
* {{cite book |last1=Subroto |first1=Daliman Edi |last2=Soenardji |last3=Sugiri |year=1991 |title=Tata bahasa deskriptif bahasa Jawa |url=https://books.google.com/books?id=V6ZkAAAAMAAJ |location=Jakarta |publisher=Departemen Pendidikan dan Kebudayaan |ref=harv}}
* {{cite book |author=Wedhawati, dkk |year=2006 |title=Tata bahasa Jawa mutakhir |url=https://books.google.com/books?id=GgUSxxXw0JIC |location=Yogyakarta |publisher=[[Kanisius]] |isbn=9789792110371 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Uhlenbeck |first=Eugenius Marius |authorlink=Eugenius Marius Uhlenbeck |year=1982 |title=Kajian morfologi bahasa Jawa |url=https://books.google.com/books?id=lW9JSQAACAAJ |series=Indonesian Linguistics Development Project |volume=4 |location=Jakarta |publisher=Penerbit Djambatan |ref=harv}}
* {{cite book |author=Kawruh Basa Jawa, dkk |year=2023 |title=Tata bahasa Jawa mutakhir |url=https://kawruhbasa.com/ejaan-bahasa-jawa/?id=GgUSxxXw0JIC |location=Yogyakarta |publisher=[[Kanisius]] |isbn=9789792110371 |ref=harv}}


== Bacaan lanjutan ==
* {{cite book |last=Errington |first=James Joseph |year=1988 |title=Structure and style in Javanese: a semiotic view of linguistic etiquette |url=https://books.google.com/books?id=Um2CAAAAIAAJ |location=Philadelphia |publisher=University of Pennsylvania Press |isbn=9780812281033 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Suharno |first=Ignatius |title=A Descriptive Study of Javanese |series=Pacific Linguistics |volume=D45 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1982 |doi=10.15144/PL-D45 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Poedjosoedarmo |first=Soepomo |title=Javanese influence on Indonesian |series=Pacific Linguistics |volume=D38 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1982 |doi=10.15144/PL-D38 |ref=harv}}
* {{cite book |last=Zoetmulder |first=Petrus Josephus |authorlink=Petrus Josephus Zoetmulder |year=1974 |title=Kalangwan: A survey of Old Javanese literature |title-link=Kalangwan |series=Translation series (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) |volume=16 |location=Den Haag |publisher=Martinus Nijhoff |isbn=9789024716746 |ref=harv}}
<!--Sumber potensial
<!--Sumber potensial
* {{cite journal |last=Ananta |first=Aris |last2=Utami |first2=Dwi Retno Wilujeng Wahyu |last3=Purbowati |first3=Ari |title=Declining Dominance of an Ethnic Group in a Large Multi-ethnic Developing Country: The Case of the Javanese in Indonesia |journal=Population Review |volume=55 |issue=1 |year=2016 |pages=1–26 |publisher=Sociological Demography Press |doi=10.1353/prv.2016.0000}}
* {{cite journal |last=Ananta |first=Aris |last2=Utami |first2=Dwi Retno Wilujeng Wahyu |last3=Purbowati |first3=Ari |title=Declining Dominance of an Ethnic Group in a Large Multi-ethnic Developing Country: The Case of the Javanese in Indonesia |journal=Population Review |volume=55 |issue=1 |year=2016 |pages=1–26 |publisher=Sociological Demography Press |doi=10.1353/prv.2016.0000}}
* {{cite book |last=Nothofer |first=Bernd |chapter=Central Javanese dialects |editor1=Halim, A. |editor2=Carrington, L. |editor3=Wurm, S.A. |title=Papers from the Third International Conference on Austronesian Linguistics, Vol. 3: Accent on variety |series=Pacific Linguistics |volume=C76 |pages=287–309 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1982 |doi=10.15144/PL-C76.287 }}
* {{cite book |last=Nothofer |first=Bernd |chapter=Central Javanese dialects |editor1=Halim, A. |editor2=Carrington, L. |editor3=Wurm, S.A. |title=Papers from the Third International Conference on Austronesian Linguistics, Vol. 3: Accent on variety |series=Pacific Linguistics |volume=C76 |pages=287–309 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1982 |doi=10.15144/PL-C76.287 }}
* {{cite book |last=Poedjosoedarmo |first=Soepomo |title=Javanese influence on Indonesian |series=Pacific Linguistics |volume=D38 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1982 |doi=10.15144/PL-D38 }}
* {{cite book |last=Ramelan |chapter=Javanese indicative and imperative passives |editor-last=Halim, A. Carrington, L. and Wurm, S.A. |title=Papers from the Third International Conference on Austronesian Linguistics, Vol. 4: Thematic variation |series=Pacific Linguistics |volume=C77 |pages=199–214 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1983 |doi=10.15144/PL-C77.199 }}
* {{cite book |last=Ramelan |chapter=Javanese indicative and imperative passives |editor-last=Halim, A. Carrington, L. and Wurm, S.A. |title=Papers from the Third International Conference on Austronesian Linguistics, Vol. 4: Thematic variation |series=Pacific Linguistics |volume=C77 |pages=199–214 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1983 |doi=10.15144/PL-C77.199 }}
* {{cite journal |last=Ross |first=Malcolm |title=Javanese Grammar for Students (review) |journal=Language |volume=81 |issue=4 |year=2005 |page=1019 |publisher=Linguistic Society of America |doi=10.1353/lan.2005.0196}}
* {{cite journal |last=Ross |first=Malcolm |title=Javanese Grammar for Students (review) |url=https://archive.org/details/sim_language_2005-12_81_4/page/1019 |journal=Language |volume=81 |issue=4 |year=2005 |page=1019 |publisher=Linguistic Society of America |doi=10.1353/lan.2005.0196}}
* {{cite journal |last=Schleef |first=Erik |title=Shifting Languages: Interaction and Identity in Javanese Indonesia (review) |journal=Language |volume=78 |issue=2 |year=2002 |pages=392–393 |publisher=Linguistic Society of America |doi=10.1353/lan.2002.0129}}
* {{cite journal |last=Schleef |first=Erik |title=Shifting Languages: Interaction and Identity in Javanese Indonesia (review) |url=https://archive.org/details/sim_language_2002-06_78_2/page/392 |journal=Language |volume=78 |issue=2 |year=2002 |pages=392–393 |publisher=Linguistic Society of America |doi=10.1353/lan.2002.0129}}
* {{cite book |last=Soemarmo |first=Marmo |chapter=Quantifiers in Javanese and Indonesian |editor=Nguyễn Đ.L. |title=Southeast Asian linguistic studies, Vol. 4 |series=Pacific Linguistics |volume=C49 |pages=315–363 |publisher=Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1979 |doi=10.15144/PL-C49.315 }}
* {{cite book |last=Soemarmo |first=Marmo |chapter=Quantifiers in Javanese and Indonesian |editor=Nguyễn Đ.L. |title=Southeast Asian linguistic studies, Vol. 4 |series=Pacific Linguistics |volume=C49 |pages=315–363 |publisher=Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1979 |doi=10.15144/PL-C49.315 }}
* {{cite book |last=Soemarmo |first=Marmo |chapter=Subject-Predicate, Focus-Presupposition and Topic-Comment in Bahasa Indonesia and Javanese |editor=Steinhauer, H. |title=Papers in Western Austronesian Linguistics No. 3 |series=Pacific Linguistics |volume=A78 |pages=63–136 |publisher=Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1988 |doi=10.15144/PL-A78.63}}
* {{cite book |last=Soemarmo |first=Marmo |chapter=Subject-Predicate, Focus-Presupposition and Topic-Comment in Bahasa Indonesia and Javanese |editor=Steinhauer, H. |title=Papers in Western Austronesian Linguistics No. 3 |series=Pacific Linguistics |volume=A78 |pages=63–136 |publisher=Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1988 |doi=10.15144/PL-A78.63}}
* {{cite book |last=Suharno |first=Ignatius |title=A Descriptive Study of Javanese |series=Pacific Linguistics |volume=D45 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1982 |doi=10.15144/PL-D45 }}
* {{cite journal |last=Thurgood |first=Elzbieta |year=2004 |title=Phonation Types in Javanese |journal=Oceanic Linguistics |volume=43 |issue=2 |pages=277–295 |publisher=University of Hawai'i Press |doi=10.1353/ol.2005.0013}}
* {{cite journal |last=Thurgood |first=Elzbieta |year=2004 |title=Phonation Types in Javanese |journal=Oceanic Linguistics |volume=43 |issue=2 |pages=277–295 |publisher=University of Hawai'i Press |doi=10.1353/ol.2005.0013}}
* {{cite book |last=Uhlenbeck |first=Eugenius Marius |authorlink=E.M. Uhlenbeck |chapter=The Use of Respect Forms in Javanese |editor1=Wurm, S.A. |editor2=Laycock, D.C. |title=Pacific linguistic studies in honour of Arthur Capell |series=Pacific Linguistics |volume=C13 |pages=441–466 |publisher=Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1970 |doi=10.15144/PL-C13.441 }}
* {{cite book |last=Uhlenbeck |first=Eugenius Marius |authorlink=E.M. Uhlenbeck |chapter=Two mechanisms of Javanese syntax: the construction with sing (kang, ingkang) and with olehe (enggone, anggenipun) |editor=Halim, A. |editor2=Carrington, L. |editor3=Wurm, S.A. |title=Papers from the Third International Conference on Austronesian Linguistics, Vol. 4: Thematic variation |series=Pacific Linguistics |volume=C77 |pages=9–20 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1983 |doi=10.15144/PL-C77.9 }}
* {{cite book |last=Uhlenbeck |first=Eugenius Marius |authorlink=E.M. Uhlenbeck |chapter=Two mechanisms of Javanese syntax: the construction with sing (kang, ingkang) and with olehe (enggone, anggenipun) |editor=Halim, A. |editor2=Carrington, L. |editor3=Wurm, S.A. |title=Papers from the Third International Conference on Austronesian Linguistics, Vol. 4: Thematic variation |series=Pacific Linguistics |volume=C77 |pages=9–20 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1983 |doi=10.15144/PL-C77.9 }}
* {{cite book |last=Uhlenbeck |first=Eugenius Marius |authorlink=E.M. Uhlenbeck |chapter=Antonymic processes within the system of Javanese adjectives |editor-last=Dutton, T. Ross, M. and Tryon, D. |title=The Language Game: Papers in memory of Donald C. Laycock |series=Pacific Linguistics |volume=C110 |pages=491–500 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1992 |doi=10.15144/PL-C110.491 }}
* {{cite book |last=Uhlenbeck |first=Eugenius Marius |authorlink=E.M. Uhlenbeck |chapter=Antonymic processes within the system of Javanese adjectives |editor-last=Dutton, T. Ross, M. and Tryon, D. |title=The Language Game: Papers in memory of Donald C. Laycock |series=Pacific Linguistics |volume=C110 |pages=491–500 |publisher= Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1992 |doi=10.15144/PL-C110.491 }}
Baris 442: Baris 674:
* {{cite journal |last=Vander Klok |first=Jozina |year=2019 |title=The Javanese language at risk? Perspectives from an East Java village |journal=Language Documentation & Conservation |volume=13 |pages=300–345 |publisher=University of Hawai'i Press |url=http://hdl.handle.net/10125/24868}}
* {{cite journal |last=Vander Klok |first=Jozina |year=2019 |title=The Javanese language at risk? Perspectives from an East Java village |journal=Language Documentation & Conservation |volume=13 |pages=300–345 |publisher=University of Hawai'i Press |url=http://hdl.handle.net/10125/24868}}
* {{cite book |last=Yallop |first=Collin |chapter=The phonology of Javanese vowels |editor1=Halim, A. |editor2=Carrington, L. |editor3=Wurm, S.A. |title=Papers from the Third International Conference on Austronesian Linguistics, Vol. 2: Tracking the travellers |series=Pacific Linguistics |volume=C75 |pages=299–319 |publisher=Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1982 |doi=10.15144/PL-C75.299 }}
* {{cite book |last=Yallop |first=Collin |chapter=The phonology of Javanese vowels |editor1=Halim, A. |editor2=Carrington, L. |editor3=Wurm, S.A. |title=Papers from the Third International Conference on Austronesian Linguistics, Vol. 2: Tracking the travellers |series=Pacific Linguistics |volume=C75 |pages=299–319 |publisher=Pacific Linguistics, The Australian National University |year=1982 |doi=10.15144/PL-C75.299 }}

* {{cite book |last=Zoetmulder |first=Petrus Josephus |authorlink=Petrus Josephus Zoetmulder |year=1974 |title=Kalangwan: A survey of Old Javanese literature |series=Translation series (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) |volume=16 |location=Den Haag |publisher=Martinu Nijhoff |isbn=9789024716746 |ref=harv}}
-->
-->

== Pranala luar ==
{{InterWiki|code=jv}}
{{InterWiki|code=jv}}
{{Commons category|Javanese pronunciation}}
* [https://archive.org/details/PUEBJ-2011 Pedoman Umum Ejaan Bahasa Jawa (PUEBJ)]
* [https://www.sastra.org Sastra.org—Program digitalisasi bahasa dan sastra Jawa]
* [https://www.sastra.org/leksikon Leksikon di Sastra.org—memuat himpunan kamus, sinonim, dan glosarium bahasa Jawa yang dikompilasi dari berbagai sumber]
* [https://archive.org/details/kamus-indonesia-jawa-iii Kamus Indonesia-Jawa—kamus dwibahasa terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah]
* [http://www.jseals.org/java/dictionary.htm SEALang Library Javanese Lexicography—memuat kamus dwibahasa Jawa-Inggris (berdasarkan kamus Robson & Wibisono (2002)) serta korpus ekabahasa Jawa (dikompilasi dari berbagai sumber internet)]

{{Bahasa daerah di Indonesia}}
{{Bahasa daerah di Indonesia}}
{{bahasa Jawa|state=show}}
{{bahasa Jawa|state=show}}
{{Authority control}}
[[Kategori:Bahasa Austronesia]]
{{artikel bagus}}

{{DEFAULTSORT:Jawa, Bahasa}}
[[Kategori:Bahasa Jawa| ]]
[[Kategori:Rumpun bahasa Austronesia]]
[[Kategori:Bahasa di Indonesia]]
[[Kategori:Bahasa di Indonesia]]
[[Kategori:Bahasa di Suriname]]
[[Kategori:Bahasa di Suriname]]
[[Kategori:Bahasa di Jawa Timur]]
[[Kategori:Bahasa di Jawa Timur]]
[[Kategori:Bahasa di Jawa]]
[[Kategori:Bahasa di Jawa]]
[[Kategori:Bahasa di Jawa Tengah]]
[[Kategori:Bahasa di Banten]]
[[Kategori:Bahasa di Ngawi]]
[[Kategori:Rumpun bahasa Melayu-Polinesia]]
[[Kategori:Bahasa aglutinatif]]
[[Kategori:Bahasa di Malaysia]]
[[Kategori:Bahasa berpola subjek–predikat–objek]]

Revisi per 26 April 2024 18.03

Simbol artikel bagus
Artikel ini telah dinilai sebagai artikel bagus pada 1 Januari 2020 (Pembicaraan artikel)
Bahasa Jawa
BPS: 0088 3
Basa Jawa
ꦧꦱꦗꦮ • باسا جاوا
Pengucapan[basa d͡ʒawa] (dialek barat)
[bɔsɔ d͡ʒɔwɔ] (dialek tengah & timur)
Dituturkan di dan negara-negara lainnya
WilayahJawa Tengah, Jawa Timur; Lampung dan wilayah transmigrasi lainnya di Indonesia; daerah dengan diaspora Jawa yang signifikan di Belanda, Suriname, Malaysia, dan Kaledonia Baru
Etnis
Penutur
58,4 juta penutur jati (2023)[1]
Rincian data penutur

Jumlah penutur beserta (jika ada) metode pengambilan, jenis, tanggal, dan tempat.[2]

Lihat sumber templat}}
Bentuk awal
Bentuk baku
Bahasa Jawa Surakarta
Dialek
Lihat bagian dialek
Alfabet Latin
Aksara Jawa
Abjad Pegon
Status resmi
Bahasa resmi di
Daerah Istimewa Yogyakarta[3]
Diatur olehBalai Bahasa Provinsi Jawa Tengah
Balai Bahasa DI Yogyakarta
Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur
Kode bahasa
ISO 639-1jv
ISO 639-2jav
ISO 639-3Mencakup:
jav – bahasa Jawa
jvn – bahasa Jawa Suriname
jas – bahasa Jawa Kaledonia Baru
osi – bahasa Osing
tes – bahasa Tengger
kaw – bahasa Jawa Kuno
Glottologjava1253[4]
BPS (2010)0088 3
Status pemertahanan
Terancam

CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
Aman

NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
Bahasa Jawa belum diklasifikasikan dalam tingkatan manapun pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan
C10
Kategori 10
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa telah punah (Extinct)
C9
Kategori 9
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa sudah ditinggalkan dan hanya segelintir yang menuturkannya (Dormant)
C8b
Kategori 8b
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa hampir punah (Nearly extinct)
C8a
Kategori 8a
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa sangat sedikit dituturkan dan terancam berat untuk punah (Moribund)
C7
Kategori 7
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mulai mengalami penurunan ataupun penutur mulai berpindah menggunakan bahasa lain (Shifting)
C6b
Kategori 6b
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mulai terancam (Threatened)
C6a
Kategori 6a
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa masih cukup banyak dituturkan (Vigorous)
C5
Kategori 5
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mengalami pertumbuhan populasi penutur (Developing)
C4
Kategori 4
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa digunakan dalam institusi pendidikan (Educational)
C3
Kategori 3
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa digunakan cukup luas (Wider Communication)
C2
Kategori 2
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan di berbagai wilayah (Provincial)
C1
Kategori 1
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa nasional maupun bahasa resmi dari suatu negara (National)
C0
Kategori 0
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan bahasa pengantar internasional ataupun bahasa yang digunakan pada kancah antar bangsa (International)
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
EGIDS SIL EthnologueC4 Educational
Bahasa Jawa dikategorikan sebagai C4 Educational menurut SIL Ethnologue, artinya bahasa ini digunakan di institusi pendidikan, baik dalam bahasa ajar-mengajar maupun sebagai kurikulum ajaran
Referensi: [5][6][7]

Lokasi penuturan
Wilayah tempat bahasa Jawa sebagai bahasa mayoritas
Wilayah tempat bahasa Jawa sebagai bahasa minoritas
Catatan
  1. ^ Penggolongan untuk seluruh rantai dialek bahasa Jawa, termasuk varietas lain seperti bahasa Osing dan bahasa Tengger
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
Artikel ini mengandung karakter aksara Jawa. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode.
 Portal Bahasa
L • B • PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat

Bahasa Jawa adalah bahasa Austronesia yang utamanya dituturkan oleh penduduk bersuku Jawa di wilayah bagian tengah dan timur pulau Jawa. Bahasa Jawa juga dituturkan oleh diaspora Jawa di wilayah lain di Indonesia, seperti di Sumatra dan Kalimantan; serta di luar Indonesia seperti di Suriname, Belanda, dan Malaysia. Jumlah total penutur bahasa Jawa diperkirakan mencapai sekitar 80 juta pada tahun 2023.[1] Sebagai bahasa Austronesia dari subkelompok Melayu-Polinesia, bahasa Jawa juga berkerabat dengan bahasa Melayu, Sunda, Bali dan banyak bahasa lainnya di Indonesia, meskipun para ahli masih memperdebatkan mengenai posisi pastinya dalam rumpun Melayu-Polinesia. Bahasa Jawa berstatus bahasa resmi di Daerah Istimewa Yogyakarta di samping bahasa Indonesia.

Sejarah tulisan bahasa Jawa bermula sejak abad ke-9 dalam bentuk bahasa Jawa Kuno, yang kemudian berevolusi hingga menjadi bahasa Jawa Baru sekitar abad ke-15. Bahasa Jawa awalnya ditulis dengan sistem aksara dari India yang kemudian diadaptasi menjadi aksara Jawa, walaupun bahasa Jawa masa kini lebih sering ditulis dengan alfabet Latin. Bahasa Jawa memiliki tradisi sastra kedua tertua di antara bahasa-bahasa Austronesia setelah bahasa Melayu.

Nomina dalam bahasa Jawa umumnya diletakkan sebelum atribut yang memodifikasinya. Verba dapat dibedakan menjadi bentuk transitif dan intransitif, bentuk aktif dan pasif, atau dibedakan berdasarkan modusnya (indikatif, irealis/subjungtif, imperatif, dan propositif). Bahasa Jawa mengenal pembedaan antara beberapa tingkat tutur yang penggunaannya ditentukan oleh derajat kedekatan hubungan atau perbedaan status sosial antara pembicara dan lawan bicara atau orang yang dibicarakan.

Klasifikasi

Posisi bahasa Jawa (ditebalkan) dalam rumpun bahasa Austronesia menurut beberapa skema klasifikasi ahli bahasa dari masa ke masa.

Bahasa Jawa merupakan bagian dari subkelompok Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia.[8][9] Namun, tingkat kekerabatan bahasa Jawa dengan bahasa-bahasa Melayu-Polinesia yang lain sulit ditentukan. Menggunakan metode leksikostatistik, pada tahun 1965 ahli bahasa Isidore Dyen menggolongkan bahasa Jawa ke dalam kelompok yang ia sebut "Javo-Sumatra Hesion", yang juga mencakup bahasa Sunda dan bahasa-bahasa "Melayik".[a][8][9] Kelompok ini juga disebut "Melayu-Jawanik" oleh ahli bahasa Berndt Nothofer yang pertama kali berusaha merekonstuksi leluhur dari bahasa-bahasa dalam kelompok hipotetis ini dengan data yang saat itu hanya terbatas pada empat bahasa saja (bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan Melayu).[10]

Pengelompokan Melayu-Jawanik telah dikritik dan ditolak oleh berbagai ahli bahasa.[11][12] Ahli linguistik sejarah Austronesia K. Alexander Adelaar tidak memasukkan bahasa Jawa dalam subkelompok Melayu-Sumbawa (yang mencakup bahasa-bahasa Melayik, Sunda, dan Madura) yang diusulkannya pada tahun 2005.[12][13] Ahli linguistik sejarah Austronesia yang lain, Robert Blust, juga tidak memasukkan bahasa Jawa dalam subkelompok Borneo Utara Raya yang ia usulkan sebagai alternatif dari hipotesis Melayu-Sumbawa pada tahun 2010. Meski begitu, Blust juga mengemukakan kemungkinan bahwa subkelompok Borneo Utara Raya berkerabat dekat dengan bahasa-bahasa Indonesia Barat lainnya, termasuk bahasa Jawa.[14] Usulan Blust ini telah dikembangkan secara lebih terperinci oleh ahli bahasa Alexander Smith yang memasukkan bahasa Jawa ke dalam subkelompok Indonesia Barat (yang juga mencakup bahasa-bahasa Borneo Utara Raya) berdasarkan bukti leksikal dan fonologis.[15]

Sejarah

Secara garis besar, perkembangan bahasa Jawa dapat dibagi ke dalam dua fase bahasa yang berbeda, yaitu 1) bahasa Jawa Kuno dan 2) bahasa Jawa Baru.[13][16]

Bahasa Jawa Kuno

Bentuk terawal bahasa Jawa Kuno yang terlestarikan dalam tulisan, yaitu Prasasti Sukabumi, berasal dari tahun 804 Masehi.[17] Sejak abad ke-9 hingga abad ke-15, ragam bahasa ini umum digunakan di pulau Jawa. Bahasa Jawa Kuno lazimnya dituliskan dalam bentuk puisi yang berbait. Ragam ini terkadang disebut juga dengan istilah kawi 'bahasa kesusastraan', walaupun istilah ini juga merujuk pada unsur-unsur arkais dalam ragam tulisan bahasa Jawa Baru.[13] Sistem tulisan yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa Kuno merupakan adaptasi dari aksara Pallawa yang berasal dari India.[17] Sebanyak hampir 50% dari keseluruhan kosakata dalam tulisan-tulisan berbahasa Jawa Kuno berakar dari bahasa Sanskerta, walaupun bahasa Jawa Kuno juga memiliki kata serapan dari bahasa-bahasa lain di Nusantara.[13][17]

Ragam bahasa Jawa Kuno yang digunakan pada beberapa naskah dari abad ke-14 dan seterusnya terkadang disebut juga "bahasa Jawa Pertengahan". Walaupun ragam bahasa Jawa Kuno dan Jawa Pertengahan tidak lagi digunakan secara luas di Jawa setelah abad ke-15, kedua ragam tersebut masih lazim digunakan di Bali untuk keperluan ritual keagamaan.[13][18]

Bahasa Jawa Baru

Bahasa Jawa Baru tumbuh menjadi ragam literer utama bahasa Jawa sejak abad ke-16. Peralihan bahasa ini terjadi secara bersamaan dengan datangnya pengaruh Islam.[16] Pada awalnya, ragam baku bahasa Jawa Baru didasarkan pada ragam bahasa wilayah pantai utara Jawa yang masyarakatnya pada saat itu sudah beralih menjadi Islam. Karya tulis dalam ragam bahasa ini banyak yang bernuansa keislaman, dan sebagiannya merupakan terjemahan dari bahasa Melayu.[19] Bahasa Jawa Baru juga mengadopsi huruf Arab dan menyesuaikannya menjadi huruf Pegon.[16][19]

Kebangkitan Mataram menyebabkan ragam tulisan baku bahasa Jawa beralih dari wilayah pesisir ke pedalaman. Ragam tulisan inilah yang kemudian dilestarikan oleh penulis-penulis Surakarta dan Yogyakarta, dan menjadi dasar bagi ragam baku bahasa Jawa masa kini.[19][20] Perkembangan bahasa lainnya yang diasosiasikan dengan kebangkitan Mataram pada abad ke-17 adalah pembedaan antara tingkat tutur ngoko dan krama.[21] Pembedaan tingkat tutur ini tidak dikenal dalam bahasa Jawa Kuno.[19][21]

Buku-buku cetak dalam bahasa Jawa mulai muncul sejak tahun 1830-an, awalnya dalam aksara Jawa, walaupun kemudian alfabet Latin juga mulai digunakan. Sejak pertengahan abad ke-19, bahasa Jawa mulai digunakan dalam novel, cerita pendek, dan puisi bebas. Kini, bahasa Jawa digunakan dalam berbagai media, mulai dari buku hingga acara televisi. Ragam bahasa Jawa Baru yang digunakan sejak abad ke-20 hingga sekarang terkadang disebut pula "bahasa Jawa Modern".[19]

Demografi dan persebaran

Jumlah penduduk setiap provinsi di Indonesia yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, berdasarkan sensus 2010.

Di antara bahasa-bahasa Austronesia, bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa dengan komunitas penutur jati yang besar.[13] Jumlah total penutur bahasa Jawa diperkirakan mencapai sekitar 80 juta pada tahun 2023.[1] Sayangnya, 27% orang Jawa tidak lagi menuturkan bahasa ini di lingkup keluarga. Hal ini mendorong bahasa Jawa ke jurang kemunduran bahasa.[1]

Sebagian besar penutur bahasa Jawa mendiami wilayah tengah dan timur Pulau Jawa.[13] Jumlah penutur jati bahasa Jawa yang berasal dari provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur mencakup 83% dari total jumlah penutur jati bahasa Jawa di Indonesia.[22] Selain di pulau Jawa, bahasa Jawa juga dituturkan sebagai bahasa ibu di daerah-daerah transmigrasi seperti di Lampung, sebagian wilayah Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, dan di tempat lainnya di Indonesia. Di luar Indonesia, penutur bahasa Jawa terpusat di beberapa negara, seperti di Suriname, Hong Kong, Belanda, Kaledonia Baru, dan Malaysia (terutama di pesisir barat Johor).[13][23]

Status hukum

Bahasa Jawa ditetapkan sebagai bahasa resmi Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2021.[3] Sebelumnya, Jawa Tengah menetapkan peraturan serupa—Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012—tetapi tidak menyiratkan status resmi.[24][25]

Fonologi

Bahasa Jawa memiliki 23–25 fonem konsonan dan 6–8 fonem vokal.[26][27][28] Dialek-dialek bahasa Jawa memiliki kekhasan masing-masing dalam hal fonologi.[29]

Vokal

Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah fonem vokal dalam bahasa Jawa. Menurut ahli bahasa Jawa E. M. Uhlenbeck, bahasa Jawa memiliki enam fonem vokal yang masing-masingnya memiliki dua variasi pengucapan (alofon), kecuali fonem pepet /ə/.[30] Pendapat ini disetujui oleh beberapa ahli bahasa Jawa lainnya. Namun, analisis alternatif dari beberapa ahli bahasa menyimpulkan bahwa bahasa Jawa memiliki dua fonem tambahan, yaitu /ɛ/ dan /ɔ/ yang dianggap sebagai fonem mandiri, terpisah dari /e/ dan /o/.[27][31]

1. Vokal[32][31]
Depan Madya Belakang
Tertutup i u
Semitertutup e o
Semiterbuka (ɛ) ə (ɔ)
Terbuka a

Mengikuti analisis enam vokal, fonem-fonem di atas memiliki alofon sebagai berikut:

  • Fonem /i/ memiliki dua alofon, yaitu [i] yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan [ɪ] dalam suku kata tertutup.[33]
mari [mari] 'sembuh'
wit [wɪt] 'bibit'
  • Fonem /u/ memiliki dua alofon, yaitu [u] yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan [ʊ] dalam suku kata tertutup.[34]
kuru [kuru] 'kurus'
mung [mʊŋ] 'hanya'
  • Fonem /e/ memiliki dua alofon, yaitu [e] dan [ɛ] yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup.[35] Dalam suku kata terbuka, /e/ direalisasikan sebagai [ɛ] jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal [i] atau [u], 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal [ə].[9]
saté [sate] 'satai'
mèri [mɛri] 'iri'
kalèn [kalɛn] 'selokan'
  • Fonem /o/ memiliki dua alofon, yaitu [o] yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan [ɔ] yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup.[36] Dalam suku kata terbuka, /o/ direalisasikan sebagai [ɔ] jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal [i] atau [u], 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal [ə].[9]
loro [loro] 'dua'
kori [kɔri] 'pintu gerbang'
sorot [sorɔt] 'cahaya'
  • Fonem /a/ memiliki dua alofon, yaitu alofon [a] yang umumnya muncul dalam suku kata penultima (kedua terakhir) dan antepenultima (ketiga dari akhir),[b] baik yang terbuka maupun yang tertutup, serta alofon [ɔ] yang dapat muncul dalam suku kata terbuka.[37] Dalam suku kata terbuka, /a/ hanya dapat direalisasikan sebagai [ɔ] jika suku kata tersebut berada di akhir kata, atau jika suku kata tersebut merupakan suku kata penultima dari kata yang berakhir dengan /a/.[9]
bali [bʰali] 'pulang'
kaloka [kalokɔ] 'termasyhur'
kaya [kɔyɔ] 'seperti'
  • Fonem /ə/ selalu diucapkan sebagai [ə].[38]
metu [mətu] 'keluar'
pelem [pələm] 'mangga'

Konsonan

Bahasa Jawa memiliki 21 fonem konsonan jika hanya menghitung kosakata "asli". Sekitar 2–4 fonem konsonan tambahan dapat ditemui dalam kata-kata pinjaman. Dalam tabel di bawah ini, fonem dalam tanda kurung menandakan fonem pinjaman.[39][40]

2. Konsonan[39][40][9]
Labial Dental/alveolar[c] Retrofleks Palatal Velar Glotal
Sengau m n ɲ ŋ
Hambat letup/afrikat p b t d ʈ ɖ[d]   k ɡ ʔ
Frikatif[e] (f) s (z) (ʃ) (x) h
Likuida l r
Semivokal w j

Kecuali dalam kluster sengau homorganik[f], fonem /b/, /d/, /ɖ/, /dʒ/, dan /ɡ/ dalam posisi awal suku kata cenderung diucapkan dengan aliran udara yang lebih besar daripada biasanya dan hampir tanpa menggetarkan pita suara, sehingga mendekati bunyi [pʰ], [tʰ], [ʈʰ], [tʃʰ], dan [kʰ].[31] Ahli ilmu fonetik Peter Ladefoged dan Ian Maddieson mengistilahkan seri fonem ini sebagai konsonan hambat "bersuara kendur" (slack voiced), kontras dengan seri fonem /p/, /t/, /ʈ/, /tʃ/, dan /k/ yang "bersuara kencang" (stiff voiced). Walaupun keduanya sama-sama diucapkan tanpa menggetarkan pita suara dalam beberapa kondisi, seri konsonan kendur memiliki bukaan pita suara yang lebih lebar daripada seri konsonan kencang.[42] Selain itu, bunyi vokal yang mengikuti seri konsonan kendur juga diucapkan dengan aliran udara yang lebih besar (breathy voice).[31][42] Bunyi hambat pada akhir suku kata umumnya diucapkan tanpa letupan (/p/ diucapkan [p̚], /t/ diucapkan [t̚], /k/ diucapkan [k̚], dan seterusnya).[31][43]

Fonotaktik

Struktur suku kata paling umum dalam bahasa Jawa adalah V, KV, VK, dan KVK. Suku kata dapat pula diawali dengan gabungan konsonan, yang umumnya terbagi menjadi tiga jenis: 1) gabungan konsonan homorganik yang terdiri dari bunyi sengau ditambah bunyi letup bersuara (NKV, NKVK), 2) gabungan konsonan yang terdiri dari bunyi letup ditambah bunyi likuida atau semivokal (KKV, KKVK), dan 3) gabungan konsonan sengau homorganik yang diikuti dengan bunyi likuida dan semivokal (NKKV, NKKVK).[31][44]

V : ka-é 'itu'
KV : gu-la 'gula'
VK : pa-it 'pahit'
KVK : ku-lon 'barat'
KKV (termasuk NKV) : bla-bag 'papan', kre-teg 'jembatan'
KKVK (termasuk NKVK) : prap-ta 'datang'
NKKVK : ngglam-byar 'tidak fokus'

Deret konsonan antarvokal umumnya terdiri dari konsonan sengau + letup homorganik (seperti [mp], [mb], [ɲtʃ], dan seterusnya), atau [ŋs]. Bunyi /l/, /r/, dan /j/ dapat pula ditambahkan di akhir deret konsonan semacam ini. Contoh deret konsonan semacam ini adalah wonten 'ada', bangsa 'bangsa', dan santri 'santri, Muslim yang taat'. Dalam bahasa Jawa, suku kata sebelum deret konsonan semacam ini secara konvensional dianggap sebagai suku kata terbuka, sebab bunyi /a/ dalam suku kata seperti ini akan mengalami pembulatan menjadi [ɔ]. Kata tampa 'terima', misalnya, diucapkan sebagai [tɔmpɔ]. Bandingkan dengan kata tanpa 'tanpa' yang diucapkan sebagai [tanpɔ].[45]

Sebagian besar (85%) morfem dalam bahasa Jawa terdiri dari 2 suku kata; morfem sisanya memiliki satu, tiga, atau empat suku kata. Penutur bahasa Jawa memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengubah morfem dengan satu suku kata menjadi morfem dengan dua suku kata. Morfem dengan empat suku kata kadang pula dianalisis sebagai gabungan dua morfem yang masing-masingnya memiliki dua suku kata.[31]

Tata bahasa

Pronomina persona

Bahasa Jawa tidak memiliki pronomina persona khusus untuk menyatakan jamak kecuali kata kita dan kami. Penjamakan kata ganti dapat diabaikan atau dinyatakan dengan menggunakan frasa semisal aku kabèh 'kami', awaké dhéwé 'kita', dhèwèké kabèh 'mereka' dan semacamnya.[46]

3. Pronomina persona[46][47][48]
Glos Bentuk bebas Awalan Akhiran
Ngoko Madya Krama Krama inggil/
andhap
1SG
'aku, saya'
aku kula dalem tak-, dak- -ku
1PL.EXCL 'kami' kami
1PL.INCL 'kita' kita
2SG, 2PL
'kamu, Anda, kalian'
kowé samang sampéyan panjenengan ko-, kok- -mu
3SG, 3PL
'dia, ia, ia, mereka'
dhèwèké[g] piyambakipun panjenengané,
panjenenganipun[h]
di-, dipun- -(n)é, -(n)ipun

Pronomina persona dalam bahasa Jawa, terutama untuk persona kedua dan ketiga, lebih sering digantikan dengan nomina atau gelar tertentu.[48][49] Selain pronomina yang dijabarkan di dalam tabel di atas, bahasa Jawa masih memiliki beragam pronomina lain yang penggunaannya bervariasi tergantung dialek atau tingkat tutur.[50]

Demonstrativa

Demonstrativa atau kata tunjuk dalam bahasa Jawa adalah sebagai berikut:[51][52]

4. Demonstrativa[51][52]
dekat agak jauh jauh
netral iki, kiyi, kiyé 'ini' iku, kuwi, kuwé 'itu' (ika), kaé 'itu'
lokal kéné 'sini' kono 'situ' kana 'sana'
arah mréné, réné 'ke sini' mrono, rono 'ke situ' mrana, rana 'ke sana'
modal mengkéné, ngéné 'begini' mengkono, ngono 'begitu' mengkana, ngana 'begitu'
kuantitatif seméné, méné 'sekian ini' semono, mono 'sekian itu' semana, mana 'sekian itu'
temporal sepréné 'hingga saat ini' seprana 'hingga saat itu'

Kata iki dan iku dapat digunakan baik dalam tulisan maupun percakapan. Bentuk kiyi, kiyé, kuwi, dan kuwé utamanya digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bentuk ika hanya dipakai dalam tembang. Bentuk madya dari iki/kiyi/kiyé, iku/kuwi/kuwé dan kaé adalah niki, niku, dan nika. Ketiga jenis demonstrativa ini memiliki bentuk krama yang sama, yaitu punika atau menika, walaupun dalam beberapa kasus, kata mekaten atau ngaten juga digunakan sebagai padanan krama dari kaé.[53][54]

Nomina

Dalam bahasa Jawa, atribut pewatas (modifier) nomina inti diletakkan setelah nomina.[55] Nomina inti tidak diberi imbuhan jika diikuti dengan atribut adjektiva atau verba non-pasif (penanda tujuan atau kegunaan) yang membatasi makna nomina tersebut. Kepemilikan dapat dinyatakan secara implisit tanpa imbuhan, atau secara eksplisit dengan akhiran -(n)é atau -(n)ipun pada nomina inti.[56][57]

wit kinah 'pohon kina'
sumur jero 'sumur dalam'
peranti nenun 'peralatan menenun'
idham-idhaman kita 'cita-cita kita'
omahé Marsam 'rumahnya Marsam'

Imbuhan -(n)ing, yang utamanya digunakan dalam ragam tulisan, memiliki beberapa makna berbeda yang menyatakan hubungan antara inti dan atribut.[56]

ratuning buta 'rajanya para raksasa'
rerengganing griya 'hiasan untuk rumah'
dèwining kaéndahan 'dewi kecantikan'

Numeralia

Numeralia atau angka umumnya diletakkan setelah nomina.[58][59]

wong siji 'satu orang'
gelas pitu 'tujuh gelas'
candhi sèwu 'seribu candi'

Numeralia diletakkan sebelum nomina jika nomina tersebut merupakan penunjuk satuan ukuran atau satuan bilangan. Numeralia dalam posisi ini akan mendapatkan pengikat nasal -ng jika berakhir dengan bunyi vokal, atau -ang jika berakhir dengan konsonan non-sengau. Satu-satunya pengecualian adalah numeralia siji 'satu' yang diganti dengan imbuhan sa-/se-/s- dalam konteks ini.[58][59]

telu-ng puluh 'tiga puluh'
pat-ang pethi 'empat peti'
sa-genthong 'satu tempayan'
se-gelas 'segelas'
s-atus rupiyah 'seratus rupiah'

Verba

GEN:genitif LOC:penanda lokasi TR1:transitif I, aplikatif TR2:transitif II, kausatif

Paradigma verba bahasa Jawa baku dapat diringkaskan sebagai berikut:[60][61]

5. Paradigma verba[60][61]
modus diatesis awalan akhiran
netral aplikatif I aplikatif II
indikatif aktif N- -i -aké
pasif I tak-/kok-/di-
pasif II ke- -an
imperatif aktif N- -a -ana -na
pasif I Ø- -en
propositif aktif (aku) tak N- -i -aké
pasif I tak- -ané -né
subjungtif aktif N- -a -ana -na
pasif I tak-/kok-/di- -en -na

Tidak semua imbuhan verba dalam paradigma yang dijabarkan di atas lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari. Selain itu, dialek bahasa Jawa lainnya umumnya memiliki paradigma verba yang lebih sederhana, seperti misalnya dialek Tengger yang tidak menggunakan imbuhan berbeda bagi verba dengan modus subjungtif dan imperatif (walaupun dialek baku juga tidak membedakan keduanya dalam bentuk aktif, sama-sama ditandai dengan imbuhan N- dan -a).[62]

Verba transitif dalam bahasa Jawa dapat dibentuk dengan merangkaikan awalan sengau N- pada kata dasar untuk bentuk aktif atau awalan pronominal seperti di-, tak-, dan kok- untuk bentuk pasif.[63]

(1)

Wis

sudah

nemu

AV:temu

akal

akal

aku

aku

Wis nemu akal aku

sudah AV:temu akal aku

'Aku sudah menemukan solusinya.' (Ogloblin 2005, hlm. 601)

(2)

Kandha=ku

perkataan=1.GEN

di-gugu

PASS:3-percaya

wong

orang

akèh

banyak

Kandha=ku di-gugu wong akèh

perkataan=1.GEN PASS:3-percaya orang banyak

'Perkataanku dipercaya oleh orang-orang.' (Ogloblin 2005, hlm. 601)

Penambahan akhiran -i dan -aké umumnya menandakan valensi yang lebih tinggi.[i][63] Akhiran -i biasanya bersifat aplikatif, seperti dalam kata tanduri 'tanami (dengan sesuatu)' dari kata dasar tandur 'tanam'. Akhiran -aké (bentuk krama: -aken) dapat membentuk verba kausatif dari verba transitif, contohnya kata lebokaké 'masukkan (ke dalam sesuatu)' dari kata mlebu. Jika dipasangkan pada verba intransitif, verba yang terbentuk dapat bersifat benefaktif, contohnya seperti kata jupukaké 'ambilkan (untuk seseorang)' dari bentuk dasar jupuk 'ambil'.[64]

(3)

Kuwi

itu

mangan-i

AV:makan-TR1

godhong

daun

tèh

teh

Kuwi mangan-i godhong tèh

itu AV:makan-TR1 daun teh

'[Serangga] itu memakani daun-daun teh.' (Ogloblin 2005, hlm. 611)

(4)

Para

PL

utusan

utusan

mau

ANAPH

uga

juga

ng-islam-aké

AV-Islam-TR2

wong-wong

orang-orang

ing

LOC

Pejajaran

Pejajaran

Para utusan mau uga ng-islam-aké wong-wong ing Pejajaran

PL utusan ANAPH juga AV-Islam-TR2 orang-orang LOC Pejajaran

'Para utusan ini juga mengislamkan orang-orang di Pejajaran.' (Ogloblin 2005, hlm. 611)

Baik verba transitif maupun intransitif memiliki beberapa bentuk tergantung modus gramatikanya. Selain bentuk dasar atau bentuk indikatif, ada pula bentuk irealis/subjungtif, imperatif, dan propositif.[63] Modus irealis dalam bahasa Jawa diekspresikan dengan imbuhan -a, yang dapat memiliki beberapa makna, yaitu:[65]

  • Menyatakan kemungkinan (potential).
(5)

Daya-daya

secepatnya

tekan-a

sampai-IRR

ing

LOC

omah

rumah

Daya-daya tekan-a ing omah

secepatnya sampai-IRR LOC rumah

'Secepatnya [ia] sampailah ke rumah.' (Ogloblin 2005, hlm. 605)

  • Menyatakan pengandaian (conditional).
(6)

Aja-a

NEG.IMP-IRR

ana

EXIST

lawa,

kelelawar,

lemud

nyamuk

kuwi

itu

rak

PTCL

ndadi

menjadi

Aja-a ana lawa, lemud kuwi rak ndadi

NEG.IMP-IRR EXIST kelelawar, nyamuk itu PTCL menjadi

'Seandainya tidak ada kelelawar, nyamuk-nyamuk itu akan semakin menjadi-jadi.' (Ogloblin 2005, hlm. 605)

  • Menyatakan harapan (optative).
(7)

Lelakon

Kejadian

iku

itu

di-gawé-a

PASS:3-buat-IRR

kaca

cermin

Lelakon iku di-gawé-a kaca

Kejadian itu PASS:3-buat-IRR cermin

'Jadikanlah kejadian itu pelajaran.' (Ogloblin 2005, hlm. 605)

  • Menyatakan permintaan (hortative).
(8)

Ngombé-a

minum-IRR

banyu

air

godhogan

rebusan

Ngombé-a banyu godhogan

minum-IRR air rebusan

'Minumlah air rebusan.' (Ogloblin 2005, hlm. 605)

Verba dengan modus imperatif tidak dapat diawali dengan pelengkap yang berupa pelaku, dan ditandai dengan imbuhan -en atau -a. Verba intransitif tidak memiliki bentuk imperatif khusus.[66]

(9)

Mripat=mu

mata=2.GEN

tutup-an-a

tutup-TR1-IMP

Mripat=mu tutup-an-a

mata=2.GEN tutup-TR1-IMP

'Pejamkan matamu.' (Ogloblin 2005, hlm. 603)

Bentuk propositif merupakan bentuk imperatif yang digunakan untuk memerintahkan diri sendiri atau mengekspresikan keinginan untuk melakukan sesuatu.[66] Morfem tak atau dak digunakan sebelum verba untuk memarkahi modus propositif aktif. Tidak seperti awalan pronominal tak- atau dak- yang tidak dapat didahului oleh subjek persona pertama, konstruksi propositif aktif dengan tak/dak dapat didahului oleh subjek (mis. aku tak nggorèng iwak 'aku bermaksud menggoreng ikan'). Pemarkah propositif aktif ini juga bisa dipisahkan dari verba yang mengikutinya, seperti yang bisa dilihat dari contoh (10–11).[65][67]

(10)

Aku

1

tak

1.PRPV

nusul

AV:susul

Bapak

Bapak

dhéwéan

sendirian

Aku tak nusul Bapak dhéwéan

1 1.PRPV AV:susul Bapak sendirian

'Biarkan aku menyusul Bapak sendirian.' (Ogloblin 2005, hlm. 606)

(11)

Aku

1

tak

1.PRPV

dhéwéan

sendirian

waé

PTCL

nusul

AV:susul

Bapak

Bapak

Aku tak dhéwéan waé nusul Bapak

1 1.PRPV sendirian PTCL AV:susul Bapak

'Biarkan aku sendiri saja menyusul Bapak.' (Ogloblin 2005, hlm. 606)

Imbuhan atau -ipun digunakan untuk menandakan bentuk propositif pasif.[63] Di sini morfem tak- berfungsi serupa dengan awalan pronomina tak- yang digunakan dalam bentuk pasif pada modus indikatif dan irealis.[68]

(12)

Tak=Ø-plathok-an-é

1=PASS:1/2-belah-TR1-PRPV

kayu=mu

kayu=2.GEN

Tak=Ø-plathok-an-é kayu=mu

1=PASS:1/2-belah-TR1-PRPV kayu=2.GEN

'Biarkan kubelah kayumu.' (Ogloblin 2005, hlm. 606)

Dalam bentuk-bentuk non-indikatif (irealis/subjungtif, imperatif, dan propositif), imbuhan -i dan -aké bersinonim dengan imbuhan -an dan -n seperti dalam rangkaian imbuhan -an-a, -an-é, -n-a, dan -n-é. Imbuhan-imbuhan ini sering dianggap sebagai bentuk yang padu (-ana, -ané, -na, dan -né), walaupun beberapa linguis menganggap bahwa imbuhan-imbuhan ini sejatinya terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu -an dan -n yang merupakan imbuhan derivatif, serta -a dan yang merupakan pemarkah modus.[60][63][69]

Sistem penulisan

Saat ini bahasa Jawa modern ditulis menggunakan tiga jenis aksara, yaitu aksara Jawa, abjad Pegon, dan alfabet Latin.

Aksara Jawa

Aksara Jawa merupakan aksara berumpun Brahmi yang diturunkan dari aksara Pallawa lewat aksara Kawi. Aksara tersebut muncul pada abad ke-16 tepatnya pada era keemasan hingga akhir Majapahit.[70][71]

Pengurutan aksara Jawa secara tradisional menggunakan pengurutan Hanacaraka. Pengurutan aksara ini diciptakan menurut legenda Aji Saka untuk mengenang dua orang pembantunya, Dora dan Sembada, yang berselisih paham tentang pusaka Aji Saka. Sembada ingat bahwa hanya Aji Sakalah yang boleh mengambil pusaka tersebut, sedangkan Dora diminta Aji Saka untuk membawakan pusaka Aji Saka ke Tanah Jawa. Perselisihan ini berujung pada pertarungan sengit; mereka memiliki kesaktian yang setara dan kedua-duanya pun mati.[72]

Aksara Jawa saat ini digunakan secara luas di ruang publik, terutama di wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Aksara Jawa dipasang mendampingi alfabet Latin pada papan nama jalan, papan nama instansi, maupun di tempat umum.[73][74]

Aksara yang berkerabat dengan aksara Jawa adalah aksara Bali yang diturunkan dari versi awal dari aksara Jawa pada abad ke-16.

Abjad Pegon

Sampel teks Pegon untuk Alkitab terjemahan bahasa Jawa (Yoh 3:16)

Muncul bersama masuknya Islam di Jawa serta berkembang selama masa-masa keemasan Kerajaan Demak hingga Pajang, abjad Pegon yang bersaudara dengan abjad Jawi (Arab-Melayu) mengadopsi huruf-huruf Arab standar dengan ditambahkan huruf-huruf baru yang sama sekali tidak ada dalam abjad Arab maupun bahasa Arab asli. Kecuali jika orang Arab memahami dan menguasai bahasa Jawa, huruf-huruf pegon tidak bisa dipahami oleh orang Arab. Jika abjad Jawi selalu tanpa harakat (penanda vokal), abjad Pegon ada yang berharakat dan ada yang tidak. Pegon yang tidak berharakat disebut Gundhil. Abjad Pegon menjadi materi wajib yang diajarkan di banyak pesantren Jawa. Kata pegon berarti "menyimpang", maksudnya adalah bahwa "bahasa Jawa yang ditulis menggunakan abjad Arab merupakan sesuatu yang tidak lazim."[75][76][77]

Alfabet Latin

Latinisasi bahasa-bahasa Nusantara telah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda. Pada abad ke-17, teknologi percetakan sudah mulai diperkenalkan di Hindia Belanda dan hal ini menyulitkan sejumlah pihak Belanda untuk menuliskan bahasa Jawa menggunakan alfabet Latin. Alfabet Latin sendiri mulai diintensifkan untuk mentranskripsi karya-karya yang ditulis menggunakan aksara Jawa dan Pegon pada abad ke-19. Dengan kompleksnya penulisan aksara Jawa, transkripsi itu membutuhkan sebuah standar. Standar yang pertama kali dibuat untuk transkripsi Jawa-Latin adalah Paugeran Sriwedari, diciptakan di Solo pada tahun 1926.[70] Karena paugeran tersebut sangat kompleks dan sulit menyesuaikan perkembangan zaman—terutama banyaknya kosakata serapan bahasa Inggris dan Indonesia ke dalam bahasa Jawa—pada tahun 1993 diterbitkanlah buku berjudul Pedoman Penulisan Aksara Jawa, di Yogyakarta.[78]

Aksara lain

Pada masa lampau, bahasa Jawa kuno ditulis menggunakan aksara Kawi dan aksara Nagari. Banyak dijumpai di prasasti-prasasti dari abad ke-8 hingga abad ke-16, aksara ini terus mengalami perubahan baik dari segi bentuk dan tipografinya.[79][80]

Sastra

Di antara bahasa-bahasa Austronesia, bahasa Jawa merupakan bahasa dengan budaya kesusastraan paling tua. Bahasa Melayu Kuno, walaupun lebih dulu muncul secara kronologis dalam prasasti-prasasti dari abad ke-7, tidak merepresentasikan sebuah budaya kesusastraan yang stabil.[81] Sastra Jawa Kuno mayoritasnya berbentuk kakawin, sementara sastra Jawa Pertengahan banyak yang menggunakan bentuk kidung.[82] Ratusan karya sastra berbahasa Jawa Kuno disusun antara abad ke-9 dan ke-15. Banyak di antara karya ini yang didasarkan pada karya sastra yang berasal dari India, seperti Ramayana dan Mahabharata.[83]

Sejak setidaknya awal abad ke-20, pertumbuhan pesat dalam populasi serta tingkat literasi telah menjadikan karya sastra tulisan sebagai sesuatu yang tidak lagi eksklusif ditemui pada kalangan aristokrat semata. Karya-karya sastra pun bermunculan dalam genre yang lebih beragam.[84]

Dialek

Bahasa Jawa dapat dibagi ke dalam dua kelompok dialek utama, yaitu kelompok barat yang masih mempertahankan pengucapan /a/ sebagai [a] di posisi terbuka, serta kelompok tengah dan timur yang mengganti [a] dengan [ɔ]. Konsonan hambat dalam kelompok dialek barat umumnya juga masih diucapkan dengan menggetarkan pita suara.[19]

Menurut J. J. Ras, profesor emeritus bahasa dan sastra Jawa di Universitas Leiden, dialek-dialek bahasa Jawa dapat digolongkan berdasarkan persebarannya menjadi tiga, yaitu 1) dialek-dialek barat, 2) dialek-dialek tengah, dan 3) dialek-dialek timur. Penjabarannya adalah sebagai berikut:[85]

  1. Dialek-dialek yang dipertuturkan di wilayah barat/Banyumasan (Kulon)
    1. Banyumas–Wonosobo–Kebumen Barat (Banyumasan)
    2. Indramayu–Cirebon (Bahasa Jawa Indramayu)
    3. Tegal–Brebes–Pemalang–Pekalongan (TegalanKalonganan)
    4. Banten (Jawa Serang)
  2. Dialek-dialek yang dipertuturkan di wilayah tengah (Tengah)
    1. Kebumen–Bagelen–Magelang–Temanggung (Jawa Kedu)
    2. Surakarta–Yogyakarta (Mataram)
    3. Madiun–Kediri–Blitar (Mataraman)
    4. Semarang–Demak–Kudus–Jepara (Jawa Semarang)
    5. Blora–Rembang–Pati–Bojonegoro–Tuban (Muria/Aneman)
  3. Dialek-dialek yang dipertuturkan di wilayah timur (Wetanan)
    1. Surabaya–Malang–Pasuruan (Arekan)
    2. Banyuwangi (Bahasa Osing)

Tingkat tutur

Percakapan bahasa Jawa yang menggunakan tingkat tutur krama

Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkat tutur, atau ragam bahasa yang berhubungan dengan etika pembicara pada lawan bicara atau orang yang dibicarakan. Penggunaannya bergantung pada hal-hal seperti derajat tingkat sosial, umur, jarak kekerabatan dan keakraban.[86][87] Perbedaan antara tingkat tutur dalam bahasa Jawa utamanya adalah pada kosakata serta imbuhan yang digunakan.[20] Berdasarkan derajat formalitasnya, kosakata dalam bahasa Jawa dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu 1) ngoko, 2) madya, dan 3) krama.[86] Bentuk ngoko digunakan untuk berbicara kepada orang yang akrab dengan pembicara. Bentuk krama, yang jumlahnya ada sekitar 850 kata, digunakan untuk berbicara secara formal kepada orang yang belum akrab atau derajat sosialnya lebih tinggi. Beberapa imbuhan juga memiliki padanan krama. Sementara itu, bentuk madya jumlahnya amat terbatas, hanya sekitar 35 kosakata khusus, dan digunakan untuk mengekspresikan derajat formalitas yang sedang.[19][88][89]

Selain tiga ragam kosakata yang didasarkan pada derajat formalitas, ada pula jenis kosakata yang digunakan untuk menandakan penghormatan (honorific) atau perendahan diri (humilific), yaitu krama inggil dan krama andhap.[89][90] Bentuk krama inggil digunakan untuk merujuk pada seseorang yang dihormati oleh pembicara, kepemilikannya, serta perbuatannya. Bentuk krama andhap digunakan untuk merujuk pada hal-hal yang ditujukan pembicara atau orang lain kepada orang yang dihormati tersebut. Beberapa pronomina persona juga memilki padanan krama andhap.[89] Karena bentuk krama inggil dan krama andhap bukan penanda derajat formalitas, kosakata jenis ini dapat digunakan dalam semua tingkat tutur.[89][90] Jumlah seluruh kosakata dalam kategori ini adalah sekitar 280 buah.[19]

Padu-padan kosakata dari kategori-kategori ini membentuk tiga tingkat tutur kalimat, sesuai nama leksikon utama yang digunakan, yaitu ngoko, madya, dan krama, yang masing-masingnya juga memiliki beberapa subtingkat. Pilihan penggunaan tingkat tutur ini bergantung pada keakraban atau kedekatan hubungan antara pembicara dengan lawan bicaranya. Perbedaan antara subtingkat dalam setiap tingkat tutur biasanya tergantung pada penggunaan leksikon krama inggil dan krama andhap yang menandakan penghormatan pembicara kepada lawan bicara yang memiliki status sosial yang lebih tinggi.[91]

Keterangan

  1. ^ Definisi "Melayik" Dyen berbeda dengan definisi yang diterima para ahli secara luas sejak 1990-an; Melayik versi Dyen memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk di antaranya bahasa Madura dan bahasa Aceh.
  2. ^ Ultima merujuk pada suku kata terakhir sebuah kata. Penultima merupakan suku kata kedua dari belakang, dan antepenultima merupakan suku kata ketiga dari belakang.
  3. ^ Fonem /n/, /l/, /r/, dan /s/ (serta /z/) ditandai sebagai fonem dental dalam analisis Ogloblin (2005), alveolar dalam analisis Wedhawati, dkk (2006), dan retrofleks dalam analisis Nothofer (2009). Fonem /t/ dan /d/ secara konsisten selalu ditandai sebagai konsonan dental; Wedhawati, dkk (2006) secara spesifik menyebut keduanya sebagai konsonan "apiko-dental", yaitu konsonan yang diucapkan dengan menempelkan ujung lidah ke gigi atas.[41]
  4. ^ Kedua konsonan ini ditandai sebagai "apiko-palatal" oleh Wedhawati, dkk (2006).
  5. ^ Wedhawati, dkk (2006) tidak memasukkan /ʃ/ dan /x/ sebagai fonem pinjaman dalam bahasa Jawa.
  6. ^ Kluster homorganik adalah gabungan konsonan yang diucapkan pada satu tempat artikulasi yang sama, seperti /mb/ dan /nd/.
  7. ^ Varian dhèwèkné, dhèkné, dan dhèknéné juga umum ditemui.[47]
  8. ^ Panjenengané dipakai dalam konteks ngoko, sementara panjenenganipun dipakai dalam konteks krama.[48]
  9. ^ Valensi adalah konsep tata bahasa mengenai hubungan antara verba dengan jumlah argumen yang dirujuk olehnya. Semakin tinggi valensi sebuah verba, semakin banyak argumen yang bisa dirujuk olehnya. Verba intransitif, misalnya, memiliki valensi terkecil, karena hanya dapat merujuk pada satu argumen saja.

Rujukan

Catatan kaki

  1. ^ a b c d Wulandari, Trisna. "Badan Bahasa: Ada Kemunduran Penutur Bahasa Jawa, Bagaimana agar Tak Punah?". detikedu. Diakses tanggal 2023-11-25. 
  2. ^ Ethnologue (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-25, 19), Dallas: SIL International, ISSN 1946-9675, OCLC 43349556, Wikidata Q14790, diakses tanggal 23 April 2022 
  3. ^ a b "Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa". Diakses tanggal 2021-03-19. 
  4. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Javanesic". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  5. ^ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011. 
  6. ^ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022. 
  7. ^ "Bahasa Jawa". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue. 
  8. ^ a b Dyen 1965, hlm. 26.
  9. ^ a b c d e f Nothofer 2009, hlm. 560.
  10. ^ Nothofer 1975, hlm. 1.
  11. ^ Blust 1981.
  12. ^ a b Adelaar 2005, hlm. 357, 385.
  13. ^ a b c d e f g h Ogloblin 2005, hlm. 590.
  14. ^ Blust 2010, hlm. 97.
  15. ^ Smith 2017, hlm. 443, 453–454.
  16. ^ a b c Wedhawati, dkk 2006, hlm. 1.
  17. ^ a b c Wedhawati, dkk 2006, hlm. 2.
  18. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 8.
  19. ^ a b c d e f g h Ogloblin 2005, hlm. 591.
  20. ^ a b Poedjosoedarmo 1968, hlm. 57.
  21. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 11.
  22. ^ Naim & Syaputra 2011, hlm. 53.
  23. ^ Wedhawati, dkk, hlm. 1.
  24. ^ "Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 9 Tahun 2012". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-05-02. Diakses tanggal 2021-03-20 – via data.go.id. 
  25. ^ Putra, Yudha Manggala P. (2015-09-03). "Pertahankan Bahasa Lokal Sebagai Identitas". Republika Online. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-05-02. Diakses tanggal 2021-03-20. 
  26. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 14.
  27. ^ a b Subroto, Soenardji & Sugiri 1991, hlm. 13–15.
  28. ^ Ogloblin 2005, hlm. 592–593.
  29. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 14–15, 17–18, 21–22.
  30. ^ Uhlenbeck 1982, hlm. 27.
  31. ^ a b c d e f g Ogloblin 2005, hlm. 593.
  32. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 66.
  33. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 67.
  34. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 68–69.
  35. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 69–70.
  36. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 70–71.
  37. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 71–72.
  38. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 70.
  39. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 73–74.
  40. ^ a b Ogloblin 2005, hlm. 592.
  41. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 80.
  42. ^ a b Ladefoged & Maddieson 1996, hlm. 63–64.
  43. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 75, 81, 91–92.
  44. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 97.
  45. ^ Ogloblin 2005, hlm. 593–594.
  46. ^ a b Ogloblin 2005, hlm. 598.
  47. ^ a b Uhlenbeck 1982, hlm. 242.
  48. ^ a b c Robson 2014, hlm. 1.
  49. ^ Uhlenbeck 1982, hlm. 239.
  50. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 268–269.
  51. ^ a b Uhlenbeck 1982, hlm. 236, 248, 264, 268, 276, 279, 283.
  52. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 270–275.
  53. ^ Uhlenbeck 1982, hlm. 248–249.
  54. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 270.
  55. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 243.
  56. ^ a b Ogloblin 2005, hlm. 608.
  57. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 252.
  58. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 305.
  59. ^ a b Ogloblin 2005, hlm. 608–609.
  60. ^ a b c Conners 2008, hlm. 235.
  61. ^ a b Uhlenbeck 1982, hlm. 133.
  62. ^ Conners 2008, hlm. 200, 237–238.
  63. ^ a b c d e Ogloblin 2005, hlm. 600.
  64. ^ Ogloblin 2005, hlm. 610–611.
  65. ^ a b Ogloblin 2005, hlm. 605.
  66. ^ a b Ogloblin 2005, hlm. 600, 603.
  67. ^ Uhlenbeck 1982, hlm. 135.
  68. ^ Ogloblin 2005, hlm. 606.
  69. ^ Subroto, Soenardji & Sugiri 1991, hlm. 111.
  70. ^ a b Gaul aksara Jawa (edisi ke-1). Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara. ISBN 978-602-0809-08-3. OCLC 953823997. 
  71. ^ Kozok, Uli (1999). Warisan leluhur : sastra lama dan aksara Batak. École française d'Extrême-Orient., Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta [Indonesia]: Ecole française d'Extrême-Orient. ISBN 979-9023-33-5. OCLC 46390839. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-12. Diakses tanggal 2019-12-25. 
  72. ^ Dwiyanto, Djoko (2009). Kraton Yogyakarta : sejarah, nasionalisme & teladan perjuangan (edisi ke-1). Yogyakarta: Paradigma Indonesia. ISBN 978-979-17834-0-8. OCLC 320349826. 
  73. ^ Sumarno (2008-02-04). "Solo Wajibkan Aksara Jawa di Papan Nama". Okezone.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-12-25. Diakses tanggal 2019-12-25. 
  74. ^ Widjanarko, Tulus (2017-05-12). Widjanarko, Tulus, ed. "Papan Nama Jalan di Yogyakarta Akan Tampil Antik dan Khas". Tempo.co. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-12-25. Diakses tanggal 2019-12-25. 
  75. ^ "BUDAYA–Mengenal Aksara Arab Pegon: Simbol Perlawanan dan Pemersatu Ulama Nusantara". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-09-05. Diakses tanggal 2019-09-05. 
  76. ^ "Huruf Pegon, Sarana Kreativitas Umat Islam di Jawa Masa Lalu". Poskota News. 2016-07-01. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-09-05. Diakses tanggal 2019-09-05. 
  77. ^ Sedyawati, Edi (2001). Sastra Jawa : suatu tinjauan umum (edisi ke-1). Jakarta: Pusat Bahasa. ISBN 979-666-652-9. OCLC 48399092. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-12. Diakses tanggal 2019-12-25. 
  78. ^ Dipodjojo, Asdi S. (1996). Memperkirakan titimangsa suatu naskah. Yogyakarta: Lukman Ofset Yogyakarta. ISBN 979-8515-06-4. OCLC 38048239. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-12. Diakses tanggal 2019-12-25. 
  79. ^ Nala, Ngurah (2006). Aksara Bali dalam Usada (edisi ke-1). Surabaya: Pāramita. ISBN 979-722-238-1. OCLC 170909278. 
  80. ^ Rochkyatmo, Amir (1996). Guritno, Sri, ed. Pelestarian dan Modernisasi Aksara Daerah: Perkembangan Metode dan Teknis Menulis Aksara Jawa (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan. 
  81. ^ Conners 2008, hlm. 19.
  82. ^ Conners 2008, hlm. 20.
  83. ^ Conners 2008, hlm. 20–21.
  84. ^ Ras 1979, hlm. 1–2.
  85. ^ Ras 1985, hlm. 304–306.
  86. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 10.
  87. ^ Poedjosoedarmo 1968, hlm. 56–57.
  88. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 10–11.
  89. ^ a b c d Poedjosoedarmo 1968, hlm. 57–58.
  90. ^ a b Robson 2014, hlm. xvii.
  91. ^ Poedjosoedarmo 1968, hlm. 58–59.

Daftar pustaka

Bacaan lanjutan

Pranala luar