John F. Kennedy

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
John F. Kennedy
John F. Kennedy, White House color photo portrait.jpg
Potret resmi, 1963
Presiden Amerika Serikat ke-35
Masa jabatan
20 Januari 1961 – 22 November 1963
Wakil PresidenLyndon B. Johnson
PendahuluDwight D. Eisenhower
PenggantiLyndon B. Johnson
Senator Amerika Serikat
dari Massachusetts
Masa jabatan
3 Januari 1953 – 22 Desember 1960
PendahuluHenry Cabot Lodge, Jr.
PenggantiBenjamin A. Smith II
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat A.S.
dari dapil ke-11 Massachusetts
Masa jabatan
3 Januari 1947 – 3 Januari 1953
PendahuluJames Michael Curley
PenggantiTip O'Neill
Informasi pribadi
Lahir
John Fitzgerald Kennedy

(1917-05-29)29 Mei 1917
Amerika Serikat Brookline, Massachusetts, Amerika Serikat
Meninggal22 November 1963(1963-11-22) (umur 46)
Amerika Serikat Dallas, Texas, Amerika Serikat
Sebab kematianDibunuh
MakamPemakaman Nasional Arlington, Amerika Serikat
Partai politikDemokrat
Suami/istriJacqueline Lee Bouvier
(m. 1953–63; meninggal)
Hubungan
Anak
Alma materHarvard College
ProfesiPolitikus
Penghargaan sipil
Tanda tanganCursive signature in ink
Karier militer
Pihak Amerika Serikat
Dinas/cabang United States Navy
Masa dinas1941–1945
PangkatUS-O3 insignia.svg Letnan
SatuanMotor Torpedo Boat PT-109
Pertempuran/perangPerang Dunia II
Kampanye Kepulauan Solomon

John Fitzgerald Kennedy (29 Mei 1917 – 22 November 1963), dikenal dengan nama inisialnya JFK, adalah Presiden Amerika Serikat ke-35 yang menjabat sejak Januari 1961 sampai dibunuh bulan November 1963.

Setelah menjalani dinas militer sebagai komandan Kapal Torpedo Motor PT-109 dan PT-59 saat Perang Dunia II di Pasifik Selatan, Kennedy menjadi perwakilan distrik kongres ke-11 Massachusetts di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat sejak 1947 sampai 1953 dari Partai Demokrat. Setelah itu, ia menjabat di Senat Amerika Serikat sejak 1953 sampai 1960. Kennedy mengalahkan Wakil Presiden dan kandidat Republik Richard Nixon dalam pemilu presiden AS 1960. Pada usia 43 tahun, ia menjadi presiden termuda yang pernah menjabat,[2][a] presiden termuda kedua (setelah Theodore Roosevelt), dan presiden pertama yang lahir pada abad ke-20.[3] Sampai sekarang, Kennedy, seorang Katolik, adalah satu-satunya presiden non-Protestan dan satu-satunya presiden pemenang Hadiah Pulitzer.[4]

Peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahannya adalah Invasi Teluk Babi, Krisis Rudal Kuba, Perlombaan Antariksa—dengan memulai Proyek Apollo (yang berpuncak pada pendaratan di Bulan) pembangunan Tembok Berlin, Gerakan Hak-Hak Sipil Afrika-Amerika, dan tahap-tahap awal Perang Vietnam. Waktu itu, Kennedy menambah jumlah penasihat militer, pasukan operasi khusus, dan helikopter untuk menghambat penyebaran komunisme di Asia Tenggara.[5] Pemerintahan Kennedy mengadopsi kebijakan Strategic Hamlet Program yang diterapkan oleh pemerintah Vietnam Selatan. Kebijakan ini melibatkan relokasi paksa, pengurungan desa, dan pemisahan pedesaan Vietnam Selatan dari milisi komunis utara dan selatan.[6]

Kennedy dibunuh tanggal 22 November 1963 di Dallas, Texas. Lee Harvey Oswald dituding sebagai pelakunya dan ditahan malam itu juga, namun Jack Ruby menembaknya sampai mati dua hari kemudian, sebelum pengadilan Oswald diselenggarakan. FBI dan Komisi Warren secara resmi menyimpulkan Oswald sebagai pembunuh tunggal. Akan tetapi, Komite Pembunuhan Istimewa DPR Amerika Serikat (HSCA) berpendapat bahwa investigasi tersebut tidak sepenuhnya benar dan Kennedy mungkin dibunuh akibat persekongkolan.[7] Program kontroversial Kennedy berupa pengebom tempur TFX Departemen Pertahanan memaksa Kongres melakukan investigasi yang berlangsung sejak 1963 sampai 1970.[8] Sejak 1960-an, informasi seputar kehidupan pribadi Kennedy perlahan terungkap. Rincian masalah kesehatan Kennedy semakin jelas, terutama sejak 1990-an. Walaupun awalnya dirahasiakan dari masyarakat, laporan bahwa Kennedy sering main wanita sudah mendapat sorotan pers. Kennedy menempati peringkat tinggi dalam penilaian opini publik.[9]

Kennedy menjadi Presiden Amerika Serikat keempat yang meninggal karena dibunuh, yaitu Abraham Lincoln, James A. Garfield dan William McKinley.

Masa muda dan pendidikan[sunting | sunting sumber]

John Fitzgerald Kennedy lahir di 83 Beals Street, Brookline, Massachusetts, pada tanggal 29 Mei 1917[10] dari pasangan pebisnis/politikus Joseph Patrick "Joe" Kennedy, Sr. (1888–1969) dan filantropis Rose Elizabeth Fitzgerald (1890–1995). Joe adalah putra sulung pebisnis/politikus Patrick Joseph "P. J." Kennedy (1858–1929) dan Mary Augusta Hickey (1857–1923). Rose adalah putri sulung Wali Kota Boston John Francis "Honey Fitz" Fitzgerald (1863–1950) dan Mary Josephine "Josie" Hannon (1865–1964). Keempat kakek-neneknya adalah anak-anak imigran Irlandia.[1]

Adik-adik Jack adalah Robert Francis "Bobby" Kennedy (1925–1968) dan Edward Moore "Ted" Kennedy (1932–2009). Bobby dan Ted kelak menjadi Senator ternama. Kennedy tinggal di Brookline selama sepuluh tahun dan bersekolah di Edward Devotion School, Noble and Greenough Lower School, dan Dexter School, sampai kelas 4. Pada tahun 1927, keluarganya pindah ke 5040 Independence Avenue di Riverdale, Bronx, New York City. Dua tahun kemudian, mereka pindah ke 294 Pondfield Road di Bronxville, New York. Di sana Kennedy menjadi anggota Scout Troop 2.[1]

Kennedy menghabiskan musim panas bersama keluarganya di rumah mereka di Hyannisport, Massachusetts, dan Natal dan Paskah bersama keluarganya di rumah musim dingin mereka di Palm Beach, Florida. Kennedy bersekolah dari kelas 5 sampai kelas 7 di Riverdale Country School, sekolah swasta laki-laki. Pada September 1930, Kennedy yang berusia 13 tahun menyelesaikan kelas 8 di Canterbury School di New Milford, Connecticut. Pada akhir April 1931, ia menjalani apendektomi, lalu keluar dari Canterbury dan istirahat di rumah.[11]

Bulan September 1931, Kennedy dikirimkan ke The Choate School di Wallingford, Connecticut untuk menyelesaikan kelas 9 sampai 12. Kakaknya, Joseph Patrick "Joe" Kennedy, Jr. (1915–1944), sudah bersekolah di Choate selama dua tahun dan menjadi bintang sepak bola sekaligus siswa terbaik. Jack menghabiskan tahun-tahun pertamanya di Choate di bawah bayang-bayang kakaknya dan memiliki perilaku melawan yang menarik perhatian teman-temannya. Tingkah mereka yang paling terkenal adalah meledakkan toilet duduk menggunakan kembang api berkekuatan besar. Dalam pertemuan kapel hari itu, kepala sekolah mereka yang disiplin, George St. John, membawa dudukan toilet tersebut dan mengeluhkan "berandalan" tertentu yang hendak "meludah di laut kita". Jack Kennedy yang keras kepala malah melanjutkan aksinya dan menamai kelompoknya "The Muckers Club". Salah satu anggotanya adalah teman sekamar Kennedy, Kirk LeMoyne "Lem" Billings.[12]

Di Choate, Kennedy menderita masalah kesehatan sampai-sampai ia dilarikan ke Yale – New Haven Hospital pada tahun 1934. Bulan Juni 1934, ia dibawa ke Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, dan didiagnosis menderita colitis. Kennedy lulus dari Choate bulan Juni 1935. Kennedy menjadi manajer bisnis buku tahunan sekolahnya dan dijuluki sebagai "siswa yang sangat mungkin berhasil".[12]

Pada September 1935, ia pertama kali ke luar negeri bersama orang tua dan adiknya, Kathleen ke London dengan tujuan belajar pada Harold Laski di London School of Economics (LSE) seperti kakaknya, Joe. Kesehatannya yang memburuk memaksa Kennedy pulang ke Amerika bulan Oktober 1935. Ia terlambat daftar dan menghabiskan enam minggu di Universitas Princeton. Ia kemudian menjalani rawat inap di Peter Bent Brigham Hospital, Boston. Ia beristirahat di rumah musim dingin Kennedy di PalmBeach, kemudian menghabiskan musim semi 1936 (bersama kakaknya, Joe) dengan bekerja sebagai pembantu peternak di peternakan "Jay Six" seluas 40.000 ekar (160 km2) di luar Benson, Arizona.[13] Kabarnya peternak Jack Speiden memaksa keduanya bekerja "sangat keras".

Keluarga Kennedy di Hyannisport tahun 1931. Jack di kiri atas mengenakan baju putih.

Pada bulan September 1936, Kennedy mengawali kuliahnya di Harvard College. Di sana ia memproduseri "Freshman Smoker" edisi tahun itu yang dipuji sebagai contoh "hiburan lengkap yang melibatkan para tokoh industri radio, perfilman, dan olahraga".[14] Ia pernah menjadi bagian tim sepak bola, golf, dan renang, dan berhasil masuk tim renang universitas.[15] Bulan Juli 1937, Kennedy berlayar ke Prancis—sambil membawa mobil konvertibelnya—dan menghabiskan sepuluh minggu keliling Eropa bersama Billings.[16] Bulan Juni 1938, Kennedy berlayar ke luar negeri bersama ayah dan kakaknya, Joe, untuk bekerja bersama ayahnya yang saat itu merupakan Duta Besar Amerika Serikat era Franklin D. Roosevelt untuk Court of St. James's di kedutaan AS di London.[17]

Tahun 1939, Kennedy keliling Eropa, Uni Soviet, Balkan, dan Timur Tengah untuk mempersiapkan tesis kehormatan seniornya di Harvard. Ia kemudian pergi ke Cekoslowakia dan Jerman sebelum pulang ke London tanggal 1 September 1939, hari ketika Jerman menyerbu Polandia. Tanggal 3 September 1939, keluarganya berada di Dewan Rakyat untuk mendengarkan pidato dukungan deklarasi perang Britania Raya terhadap Jerman. Kennedy dikirim sebagai perwakilan ayahnya untuk menyusun rencana bantuan untuk korban selamat SS Athenia dari Amerika Serikat, lalu pulang ke AS dari Foynes, Irlandia, ke Port Washington, New York. Saat itu ia pertama kali merasakan penerbangan lintas Atlantik.

Sebagai mahasiswa senior di Harvard, Kennedy mulai serius dan mengembangkan ketertarikannya dalam fisafat politik. Pada masa juniornya, ia berhasil masuk Dean's List.[18] Tahun 1940, Kennedy menyelesaikan tesisnya, "Appeasement in Munich", yang membahas partisipasi Britania Raya dalam Perjanjian Munich. Tesisnya dijadikan buku berjudul Why England Slept dan laris terjual.[19] Ia lulus dari Harvard College dengan gelar Bachelor of Science cum laude dalam bidang urusan internasional tahun 1940. Kennedy mendaftar dan melakukan audit kuliah di Stanford Graduate School of Business pada musim gugur tahun itu.[20] Pada awal 1941, ia membantu ayahnya menulis memoar tiga tahun pengalamannya sebagai duta besar Amerika Serikat, kemudian melakukan perjalanan keliling Amerika Selatan.[21]

Dinas militer (1941–45)[sunting | sunting sumber]

Letnan John F. Kennedy (berdiri, kanan) bersama awak PT-109, 1943.

Pada September 1941, setelah terkena diskualifikasi medis dari Angkatan Darat akibat penyakit punggung bawah kronisnya, Kennedy bergabung dengan Angkatan Laut AS atas bantuan direktur Office of Naval Intelligence, mantan atase AL untuk Joseph Kennedy.[22] Kennedy adalah ensign yang bekerja di kantor Menteri Angkatan Laut ketika serangan ke Pearl Harbor terjadi. Ia masuk Naval Reserve Officer Training Corps dan secara sukarela mendaftar ke Motor Torpedo Boat Squadron Training Center di Melville, Rhode Island. Setelah itu, ia ditugaskan ke Panama dan teater Pasifik. Di Pasifik, Kennedy mendapat pangkat letnan dan menjadi komandan kapal patroli torpedo (PT).[23]

Kennedy di kapal patrolinya, PT-109.

Pada tanggal 2 Agustus 1943, kapal Kennedy, PT-109, bersama PT-162 dan PT-169, sedang melakukan patroli malam dekat New Georgia di Kepulauan Solomon,[24] lalu PT-109 ditabrak oleh kapal penghancur Jepang Amagiri.[25] Kennedy mengumpulkan para anggota awaknya yang selamat di perairan sekitar bangkai kapal untuk memilih "berjuang atau menyerah". Kennedy menyatakan, "Situasi semacam ini tidak ada di buku. Banyak dari kalian yang punya keluarga dan beberapa di antara kalian punya anak. Apa yang mau kalian lakukan? Saya tidak perlu kehilangan apa-apa." Menolak menyerah, mereka semua akhirnya berenang ke sebuah pulau kecil.[26]

Meski punggungnya kembali cedera dalam tabrakan itu, Kennedy menarik seorang awak yang mengalami luka bakar parah menggunakan tali pelampung yang tertambat di giginya.[27] Ia menarik orang tersebut ke pulau kecil, kemudian ke pulau kedua tempat mereka semua diselamatkan.[28] Atas tindakannya, Kennedy mendapatkan Navy and Marine Corps Medal dengan alasan sebagai berikut:

Atas tindakan yang sangat heroik sebagai Perwira Komandan Motor Torpedo Boat 109 pasca tabrakan dan tenggelamnya kapal tersebut di Teater Perang Pasifik pada tanggal 1–2 Agustus 1943. Tanpa memikirkan bahaya pribadi, Letnan (saat itu Letnan Junior) Kennedy tanpa ragu melawan segala kesulitan dan ancaman kegelapan untuk memimpin operasi penyelamatan, berenang berjam-jam untuk menjamin bantuan dan makanan setelah ia berhasil membawa awaknya ke daratan. Keberanian, ketahanan, dan kepemimpinannya yang luar biasa berujung pada selamatnya beberapa orang dan sesuai dengan tradisi tertinggi Dinas Angkatan Laut Amerika Serikat.

Bulan Oktober 1943, Kennedy memimpin kapal PT yang dijadikan kapal senjata, PT-59. Kapal ini ambil bagian dalam penyelamatan Marinir di Pulau Choiseul pada November 1943.[29] Kennedy kemudian meninggalkan PT-59 dan pulang ke Amerika Serikat pada awal Januari 1944. Setelah cedera punggungnya dirawat, ia dibebaskan dari tugas aktif pada akhir 1944.[30]

Kennedy dibebastugaskan secara resmi pada awal 1945, tepat sebelum penyerahan diri Jepang. Penghargaan lain yang diterima Kennedy sepanjang Perang Dunia II adalah Purple Heart, American Defense Service Medal, American Campaign Medal, Asiatic-Pacific Campaign Medal dengan tiga bintang jasa perunggu, dan World War II Victory Medal.[1] Saat ditanyai sebab ia menjadi pahlawan perang, Kennedy berkelakar: "Mudah saja. Mereka membelah kapal PT-ku menjadi dua."[31]

Bulan April 1945, ayah Kennedy, sahabat William Randolph Hearst, menempatkan Kennedy sebagai koresponden khusus untuk Hearst Newspapers. Tugas tersebut menjaga nama Kennedy di mata publik dan "memperkenalkannya ke dunia jurnalisme sebagai karier yang menjanjikan."[32] Ia menjadi koresponden pada Mei tahun itu dan meliput Konferensi Potsdam dan peristiwa lainnya.[33]

Karier Kongres[sunting | sunting sumber]

Dewan Perwakilan Rakyat (1946–52)[sunting | sunting sumber]

Ketika Kennedy masih dinas, kakaknya, Joe Jr., gugur saat bertugas tanggal 12 Agustus 1944 dalam Operasi Aphrodite. Karena Joe Jr. merupakan patokan politik keluarga, tugas tersebut akhirnya dibebankan pada Jack.[34]

Pada tahun 1946, Anggota DPR AS James Michael Curley berhenti dari jabatannya sebagai anggota Demokrat di distrik Kongres ke-11 Massachusetts—atas saran Joe—untuk menjadi wali kota Boston. Kennedy mencalonkan diri dan berhasil mengalahkan lawan Republiknya dengan margin besar.[35] Ia menjabat sebagai anggota kongres selama enam tahun.

Senat (1952–60)[sunting | sunting sumber]

Kennedy berbaring setelah bedah tulang belakang ditemani Jackie, Desember 1954.

Pada pemilu 1952, ia mengalahkan petahana Republik Henry Cabot Lodge, Jr. untuk memperebutkan kursi Senat AS Tahun berikutnya ia menikah dengan Jacqueline.[36]

Kennedy menjalani serangkaian operasi tulang belakang selama dua tahun berikutnya. Sering absen dari Senat, ia sering sakit kritis dan diwejangi ritus-ritus terakhir Katolik. Sambil beristirahat tahun 1956, ia menulis Profiles in Courage, buku tentang para Senator AS yang mempertaruhkan kariernya untuk kepercayaan pribadinya. Buku tersebut dianugerahi Hadiah Pulitzer untuk kategori Biografi pada tahun 1957.[37] Rumor bahwa karyanya juga ditulis oleh penasihat dekat dan penulis pidato, Ted Sorensen, dibenarkan dalam autobiografi Sorensen tahun 2008.[38]

Pada Konvensi Nasional Demokrat 1956, Kennedy dicalonkan sebagai Wakil Presiden bersama calon presiden Adlai Stevenson, tetapi jumlah suaranya berada di peringkat dua di bawah Senator Estes Kefauver dari Tennessee. Sejak itu Kennedy mulai dikenal secara nasional. Ayahnya menganggap wajar saja putranya kalah, karena sentimen politik terhadap kepercayaan Katoliknya dan kuatnya pengaruh Eisenhower.

Jack Paar mewawancarai Senator Kennedy di The Tonight Show (1959).

Salah satu hal yang menarik perhatian Kennedy di Senat adalah RUU Civil Rights Act of 1957 yang diajukan Presiden Eisenhower.[39] Kennedy memberi suara prosedural yang dianggap sejumlah pihak sebagai bentuk pemuasan bagi kaum Demokrat Selatan yang menolak RUU ini.[39] Kennedy menyetujui Bab III rancangan undang-undang itu yang isinya memberi kuasa penggabungan kepada Jaksa Agung, namun Ketua Mayoritas Lyndon Johnson sepakat membiarkan poin tersebut dibatalkan sebagai bentuk tindakan penyesuaian.[40] Kennedy juga menyetujui Bab IV yang berjudul "Jury Trial Amendment". Banyak pendukung hak sipil mengkritik suara setuju tersebut karena dapat memperlemah undang-undangnya.[41] RUU penyesuaian finalnya yang didukung Kennedy disahkan pada bulan September 1957.[42]

Tahun 1958, Kennedy terpilih lagi sebagai anggota Senat, mengalahkan lawan Republiknya, Boston lawyer Vincent J. Celeste, dengan margin besar. Saat kampanye pencalonan dirinya, sekretaris pers Robert E Thompson membuat film berjudul The U.S. Senator John F. Kennedy Story yang menceritakan kisah hidup sang Senator dan menunjukkan kehidupan keluarganya beserta aktivitas kantornya. Ini adalah film terlengkap tentang Kennedy waktu itu.[43]

Senator Joseph McCarthy adalah sahabat keluarga Kennedy; Joseph Kennedy, Sr. merupakan pendukung utama McCarthy, Robert F. Kennedy bekerja untuk subkomite McCarthy, dan McCarthy mengencani Patricia Kennedy. Pada tahun 1954, ketika Senat sepakat melontarkan kecaman resmi kepada McCarthy, Kennedy menyusun pidato yang mendukung kecaman resmi tersebut. Pidato tersebut tidak tersampaikan karena ia tengah berada di rumah sakit. Walaupun absen, ia dapat berpartisipasi secara prosedural dengan "menyamakan" suaranya melawan senator lain, namun ia tidak melakukannya. Ia tidak pernah memberitahu cara ia memberi suara, tetapi keputusannya tersebut melemahkan dukungan untuk Kennedy dari kalangan liberalis, termasuk Eleanor Roosevelt, pada pemilu 1956 dan 1960.[44]

Pemilihan umum presiden 1960[sunting | sunting sumber]

John F. Kennedy dan Richard Nixon berpartisipasi dalam debat presiden 1960.

Pada tanggal 2 Januari 1960, Kennedy memulai kampanye presidennya dalam pemilihan pendahuluan Demokrat. Ia menghadapi Senator Hubert Humphrey dari Minnesota dan Senator Wayne Morse Dari Oregon. Kennedy mengalahkan Humphrey di Wisconsin dan West Virginia, Morse di Maryland dan Oregon, serta lawan kunci (biasanya calon tertulis) di New Hampshire, Indiana, dan Nebraska.

Kennedy mengunjungi tambang batu bara di West Virginia. Kebanyakan penambang dan penduduk di negara bagian yang didominasi Protestan konservatisme agak khawatir dengan keyakinan Katolik Roma yang dianut Kennedy. Kemenangannya di West Virginia adalah bukti bahwa dirinya diterima masyarakat.

Di Konvensi Demokrat, ia menyampaikan pidato "New Frontier"-nya yang terkenal: "Karena tak semua masalah terselesaikan dan tak semua pertempuran dimenangkan—dan hari ini kita berdiri di ambang Batas Baru ... Namun Batas Baru yang saya sebutkan bukanlah setumpuk janji—melainkan setumpuk tantangan. Ini bukan tawaran saya untuk rakyat Amerika, tetapi tuntutan saya dari mereka."[45]

Jackie dan Jack berkampanye di Appleton, Wisconsin, Maret 1960.

Setelah menyingkirkan Humphrey dan Morse, lawan utama Kennedy di konvensi Los Angeles adalah Senator Lyndon B. Johnson dari Texas. Kennedy memenangkan tantangan resmi ini dan beberapa tantangan tak resmi dari Adlai Stevenson, calon Demokrat tahun 1952 dan 1956, Stuart Symington, dan sejumlah putra favorit partai. Pada 13 Juli, konvensi Demokrat mengangkat Kennedy sebagai calon presiden. Kennedy memilih Johnson sebagai calon Wakil Presiden, walaupun ditentang banyak delegasi liberal dan staf pribadi Kennedy, termasuk adiknya, Bobby.[46]

Kennedy memerlukan kekuatan Johnson di kawasan Selatan untuk memenangkan pemilu terdekat sejak 1916. Masalah utama yang diangkat meliputi cara menghidupkan ekonomi, keyakinan Katolik Roma Kennedy, Kuba, dan perbandingan perkembangan program antariksa dan rudal Soviet dan Amerika Serikat. Untuk meredam kekhawatiran bahwa keyakinan Katoliknya akan memengaruhi pembuatan keputusannya, pada tanggal 12 September 1960 ia mengatakan di hadapan Greater Houston Ministerial Association bahwa, "Saya bukan calon Presiden Katolik. Saya adalah calon Presiden dari Partai Demokrat yang kebetulan juga seorang Katolik. Saya tidak mencampurkan agama dengan urusan publik – dan agama tidak memengaruhi saya."[47] Kennedy secara retoris mempertanyakan apakah seperempat warga Amerika Serikat menjadi warga kelas dua hanya karena mereka Katolik, dan pernah menyatakan bahwa, "Tak ada yang menanyakan agamaku [saat berdinas di Angkatan Laut] di Pasifik Selatan."[48]

Pada bulan September dan Oktober, Kennedy tampil bersama capres Richard Nixon dari Partai Republik, yang saat itu Wakil Presiden petahana, dalam siaran debat presiden AS pertama dalam sejarah AS Nixon, dengan kaki cedera dan janggut tipisnya, berkeringat dan terlihat tegang dan tidak nyaman, sementara Kennedy yang menolak dirias tampak rileks sehingga banyak penonton televisi yang menjagokan Kennedy sebagai pemenang. Pendengar radio mengira Nixon menang atau debat tersebut berujung seri.[49] Sejak itu debat dianggap sebagai patokan penting dalam sejarah politik Amerika Serikat dan televisi mulai memainkan peran penting dalam perpolitikan.[37]

Presiden Dwight D. Eisenhower bertemu Presiden terpilih John F. Kennedy tanggal 6 Desember 1960

Kampanye Kennedy membuahkan hasil setelah debat pertama dan unggul atas Nixon di sejumlah pemungutan suara. Tanggal 8 November, Kennedy mengalahkan Nixon dalam salah satu pemilu presiden terdekat abad ke-20. Di tingkat nasional, Kennedy mengalahkan Nixon dengan perbedaan dua per sepuluh satu persen (49,7% banding 49,5%), sedangkan di tingkat Electoral College ia memenangkan 303 suara dan Nixon 219 suara (269 suara diperlukan untuk menang).[50]

14 pemilih dari Mississippi dan Alabama menolak mendukung Kennedy karena ia mendukung gerakan hak sipil. Mereka bersama pemilih dari Oklahoma memilih Senator Harry F. Byrd dari Virginia.[50] Kennedy adalah orang termuda yang terpilih sebagai presiden, menggantikan Eisenhower, presiden tertua saat itu. Ronald Reagan mengalahkan Eisenhower sebagai presiden tertua pada tahun 1981.[51]

Kepresidenan[sunting | sunting sumber]

John F. Kennedy mengambil sumpah jabatan yang dipimpin Ketua Mahkamah Agung Earl Warren pada tanggal 20 Januari 1961 di Capitol

John F. Kennedy disumpah sebagai Presiden ke-35 pada siang 20 Januari 1961. Dalam pidato pelantikannya, ia meminta agar semua penduduk Amerika Serikat aktif dengan menyatakan, "Jangan tanya apa yang bisa negara berikan untuk kalian; tanyalah apa yang bisa kalian berikan untuk negara." Ia meminta negara-negara di dunia ikut memerangi "musuh bersama umat manusia: tirani, kemiskinan, penyakit, dan perang itu sendiri".[52]

Ia menambahkan: "Semuanya tidak akan selesai dalam kurun seratus hari pertama, tidak pula dalam seribu hari pertama, tidak juga dalam masa pemerintahan ini, bahkan tidak dalam kurun hayat kita di planet ini. Tetapi marilah kita merintisnya." Sebagai penutup, ia mengutarakan keinginannya untuk menciptakan internasionalisme yang lebih besar: "Akhirnya, entah kalian warga Amerika atau warga dunia, berikan kami standar kekuatan dan pengorbanan yang sama tingginya seperti yang kami mintakan kepada kalian."[52]

Kita memilih pergi ke Bulan pada dasawarsa ini dan melakukan hal yang lain bukan karena mudah dilakukan, melainkan susah dilakukan; karena tujuan tersebut akan menentukan dan mengukur tenaga dan kemampuan terbaik kita; karena tantangan itu adalah tantangan yang ingin kita terima, yang tak mau kita tunda, dan yang hendak kita menangkan ...
Karena alasan itulah saya menganggap tindakan mengalihkan upaya penjelajahan antariksa kita dari ambang bawah ke atas sebagai salah satu keputusan terpenting sepanjang masa kepresidenan saya.
- JFK, 1962[53]

Pidato ini mencerminkan keyakinan diri Kennedy bahwa pemerintahannya akan mencetak sejarah baik dalam kebijakan dalam maupun luar negeri. Perbedaan antar visi optimistis dan tekanan mengelola realita politik sehari-hari di dalam dan luar negeri kelak menjadi salah satu ketegangan utama yang terus mengiringi tahun-tahun masa pemerintahannya.[54]

Kennedy menyusun organisasi Gedung Putih yang jauh berbeda ketimbang struktur pembuatan keputusan mantan jenderal Eisenhower, dan ia tidak segan membuang metode Eisenhower.[55] Kennedy memilih struktur organisasi roda, sehingga semua juru bicara mengerucut pada presiden. Ia siap dan mau menambah jumlah keputusan cepatnya jika diperlukan. Ia menunjuk orang-orang berpengalaman dan tidak berpengalaman sebagai anggota kabinetnya. "Kita bisa mempelajari tugas kita bersama-sama," katanya.[56]

Ada beberapa peristiwa ketika presiden terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Ia pernah mengumumkan dalam rapat kabinet tanpa pemberitahuan terlebih dahulu bahwa Edward Lansdale akan menjadi Duta Besar untuk Vietnam Selatan, keputusan yang nantinya dicabut Kennedy setelah ditanggapi Menteri Luar Negeri Rusk.[57] Ada pula insiden Harris Wofford yang dipanggil ke Gedung Putih untuk mengambil sumpah tanpa mengetahui jabatan yang akan diembannya.[58]

Karena ditekan oleh para penasihat ekonominya yang meminta agar pajak dikurangi, Kennedy langsung menyetujui anggaran berimbang. Keputusan ini diperlukan dengan imbalan suara untuk memperbesar keanggotaan Komite Peraturan DPR agar Partai Demokrat memperoleh suara mayoritas dalam menetapkan agenda legislatif.[59] Presiden berfokus pada masalah mendatang dan spesifik yang dihadapi pemerintahannya. Ia langsung menyatakan ketidaksabarannya with pondering of deeper meanings. Wakil penasihat keamanan nasional Walt Whitman Rostow pernah melontarkan kritik keras tentang pertumbuhan komunisme, lalu dipotong Kennedy dengan bertanya, "Apa yang Anda inginkan dari saya hari ini?"[60]

Pada Mei 1961, pers menerbitkan artikel bahwa Menteri Dalam Negeri Stewart Udall meminta seorang eksekutif minyak menggelapkan sumbangan $100 dari acara penggalangan dana yang dihadiri petinggi perusahaan minyak dan gas. Udall menuntut agar namanya yang dipakai di berkas penggelapan dana tersebut dihapus.[61] Satu minggu sebelumnya, Kennedy mengusulkan agar Kongres memperketat hukum konflik kepentingan.[61] Dalam sebuah konferensi pers, Kenedy menyalahkan hukum pendanaan kampanye, bukan Udall.[61] Kennedy mengaku telah berbicara dengan Udall dan puas mendengar penjelasannya.[61] Kennedy menyatakan bahwa siapapun yang menyumbang dana kampanye tidak boleh mengharap imbalan.[62] Udall membantah melakukan kesalahan dan menegaskan bahwa eksekutif minyak tadi menyalahartikan niatnya.[61]

Kebijakan luar negeri[sunting | sunting sumber]

Perjalanan luar negeri John F. Kennedy sepanjang masa pemerintahannya

Kebijakan luar negeri Presiden Kennedy didominasi oleh konfrontasi Amerika Serikat dengan Uni Soviet yang didasari persaingan proksi pada tahap awal Perang Dingin. Pada tahun 1961, Kennedy sangat ingin bertemu dengan Perdana Menteri Soviet Nikita Khrushchev. Presiden pun salah langkah dengan bereaksi agresif terhadap pidato rutin Khrushchev tentang konfrontasi Perang Dingin pada awal 1961. Pidato tersebut ditujukan pada pendengar dalam negeri Uni Soviet, tetapi Kennedy mengartikannya sebagai tantangan pribadi. Kesalahannya justru menambah ketegangan saat Pertemuan Wina Juni 1961.[63]

Dalam perjalanan ke konferensi tingkat tinggi itu, Kennedy berhenti di Paris untuk bertemu Charles de Gaulle. De Gaulle menyarankan Kennedy agar mengabaikan gaya abrasifnya Khrushchev. Presiden Prancis yang ini sangat nasionalis dan mencurigai pengaruh Amerika Serikat di Eropa. Meski begitu, de Gaulle lumayan terkesima oleh presiden muda tersebut dan keluarganya. Kennedy mengangkat kesan de Gaulle dalam pidatonya di Paris dengan mengatakan bahwa ia akan dikenang sebagai "pria yang menemani Jackie Kennedy ke Paris."[64]

Pada tanggal 4 Juni 1961, presiden bertemu Khrushchev di Wina dan meninggalkan rapat dalam keadaan marah dan kecewa karena ia membiarkan Khrushchev mempermainkannya, sekalipun sudah diperingatkan. Khrushchev secara pribadi terpesona dengan kecerdasan sang presiden, namun menganggapnya lemah. Kennedy memang berhasil menyampaikan intisari masalah yang paling sensitif bagi keduanya, yaitu rencana perjanjian antara Moskwa dan Berlin Timur. Ia menjelaskan bahwa perjanjian apapun yang melanggar hak akses AS ke Berlin Barat akan dianggap sebagai tindakan perang.[65]

Sesaat setelah presiden pulang. Uni Soviet mengumumkan keinginannya untuk menandatangani perjanjian dengan Berlin Timur yang otomatis melanggar hak pendudukan pihak ketiga apapun di semua sektor kota. Depresi dan marah, Kennedy pun memperkirakan satu-satunya pilihan baginya adalah mempersiapkan Amerika Serikat untuk perang nuklir. Ia secara pribadi menganggap kemungkinan perang nuklir pecah adalah satu banding lima.[66]

Beberapa minggu setelah pertemuan Wina, lebih dari 20.000 orang mengungsi dari Berlin Timur ke sektor barat sebagai reaksi terhadap pernyataan Uni Soviet. Kennedy memulai serangkaian rapat intensif tentang masalah Berlin. Dean Acheson merekomendasikan pengerahan militer bersama para sekutu NATO.[67] Dalam pidato Juli 1961, Kennedy mengumumkan keinginannya untuk menambahkan $3,25 miliar ke anggaran pertahanan dan 200.000 tentara tambahan. Ia juga menyatakan bahwa serangan ke Berlin Barat akan dianggap sebagia serangan terhadap Amerika Serikat. Pidato tersebut mendapat persetujuan rakyat sebesar 85%.[68]

Bulan berikutnya, Uni Soviet dan Berlin Timur mulai memblokir semua jalan dari Berlin Timur ke Berlin Barat dan membangun pagar kawat berduri di seluruh kota, lalu diperkuat menjadi Tembok Berlin. Tanggapan awal Kennedy adalah mengabaikannya selama akses bebas dari Berlin Barat ke Timur diperbolehkan. Rencana tersebut berubah setelah diketahui bahwa warga Berlin Barat tidak mempercayakan lagi pertahanan mereka kepada Amerika Serikat. Kennedy mengutus Wakil Presiden Johnson dan sejumlah personel militer untuk berkonvoi melintasi Jerman Barat, termasuk melalui pos pemeriksaan Soviet, untuk menunjukkan bahwa komitmen AS di Berlin Barat terus berlanjut.[69]

Kennedy menyampaikan pidato di Saint Anselm College pada tanggal 5 Mei 1960 tentang sikap Amerika Serikat dalam Perang Dingin. Pidato tersebut merincikan bagaimana kebijakan luar negeri AS seharusnya diterapkan pada negara-negara Afrika. Ia memberi tanda dukungan untuk nasionalisme modern Afrika dengan mengatakan, "Kami juga dulu mendirikan bangsa baru dengan memberontak melawan pemerintah kolonial."[70]

Kuba dan Invasi Teluk Babi[sunting | sunting sumber]

Presiden Kennedy dan Wakil Presiden Johnson.

Pemerintahan Eisenhower sebelumnya menciptakan rencana untuk menggulingkan rezim Fidel Castro di Kuba. Rencana yang dipimpin Central Intelligence Agency (CIA) dengan bantuan militer AS ini merupakan penyerbuan ke Kuba oleh pasukan kontra-revolusioner yang terdiri dari warga Kuba anti-Castro yang mengasingkan diri dan dilatih AS.[71][72] Pasukan ini dipimpin para pejabat paramiliter CIA. Tujuannya adalah menyerbu Kuba dan mencetuskan pemberontakan di kalangan rakyat Kuba dengan harapan akan menjatuhkan Castro dari kekuasaannya.[73]

Pada tanggal 17 April 1961, Kennedy memerintahkan serangan yang kelak diberi nama "Invasi Teluk Babi": "Brigade 2506" yang terdiri dari 1.500 warga Kuba didikan AS mendarat di pulau Kuba. Tidak ada bantuan udara dari Amerika Serikat. Allen Dulles, direktur CIA, kemudian menyatakan bahwa mereka mengira presiden akan mengizinkan aksi apapun yang diperlukan demi kesuksesan misi setelah pasukan mendarat.[74]

Tanggal 19 April 1961, pemerintah Kuba telah menangkap atau menewaskan para penyerbu yang terasingkan ini, dan Kennedy terpaksa menegosiasikan pembebasan 1.189 tentara yang selamat. Setelah 20 bulan, Kuba membebaskan mereka dengan imbalan makanan dan obat-obatan senilai $53 juta.[75] Insiden ini membuat Castro khawatir dengan AS dan membuatnya yakin bahwa suatu saat invasi semacam itu akan terjadi lagi.[76]

Menurut penulis biografi Richard Reeves, Kennedy lebih berfokus pada dampak politik rencana ini daripada pertimbangan militernya. Jika misi gagal, ia yakin rencana ini dibuat untuk mencemarkan nama baiknya.[77] Meski begitu, ia mau bertanggung jawab dengan mengatakan, "... Kaki kami ditendang keras dan kami pantas mendapatkannya. Namun kami mungkin mendapat pelajaran dari kegagalan tersebut."[78]

Pada akhir 1961, Gedung Putih membentuk "Special Group (Augmented)". Grup ini dipimpin oleh Robert Kennedy dan melibatkan Edward Lansdale, Menteri Pertahanan Robert McNamara, dan lain-lain. Tujuan grup ini adalah menggulingkan Castro melalui spionase, sabotase, dan taktik rahasia lainnya, tetapi tidak pernah dilaksanakan.[79]

Krisis Rudal Kuba[sunting | sunting sumber]

Bertemu Nikita Khrushchev tahun 1961.

Tanggal 14 Oktober 1962, pesawat mata-mata U-2 milik CIA mengambil foto situs-situs rudal balistik jarak menengah yang dibangun di Kuba oleh Soviet. Foto-foto tersebut diperlihatkan ke Kennedy tanggal 16 Oktober. Konsensus pun tercapai bahwa rudal tersebut bersifat ofensif dan memiliki ancaman nuklir.[80] Kennedy menghadapi dilema: jika AS menyerang tempat tersebut, akibatnya adalah perang nuklir dengan Uni Soviet, tetapi jika AS tidak berbuat apa-apa, akibatnya adalah bertambahnya ancaman senjata nuklir jarak dekat. AS juga akan terlihat kurang berkomitmen terhadap pertahanan di belahan barat. Secara pribadi, Kennedy merasa perlu mencarikan solusinya dengan Khruschev, khususnya setelah pertemuan Wina.[81]

Lebih dari sepertiga anggota National Security Council (NSC) mengusulkan serangan udara mendadak terhadap situs rudal tersebut, tetapi sebagian anggota merasa hal ini akan membangun citra "kebalikan Pearl Harbor".[82] Ada pula reaksi dari komunitas internasional (yang ditanyai secara rahasia) bahwa rencana serangan tersebut berlebihan karena AS sudah menempatkan rudalnya di Turki pada masa pemerintahan Eisenhower. Tidak ada jaminan bahwa serangan ini efektif 100%.[83] Menyetujui suara mayoritas NSC, Kennedy memutuskan melancarkan karantina laut. Pada 22 Oktober, ia mengirim pesan ke Khrushchev dan mengumumkan keputusan tersebut di TV.[84]

Angkatan Laut AS akan menghentikan dan memeriksa semua kapal Soviet yang tiba di lepas pantai Kuba terhitung 24 Oktober. Organization of American States mendukung penuh pelucutan rudal tersebut. Presiden bertukar dua set surat dengan Khrushchev tanpa dampak apapun.[85] Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa U Thant meminta agar kedua pihak mencabut keputusan mereka dan menahan diri. Khrushchev setuju, tetapi Kennedy tidak setuju.[86]

Satu kapal berbendera Soviet dihentikan dan dinaiki. Pada 28 Oktober, Khrushchev sepakat mengosongkan situs rudal tersebut sesuai pemeriksaan PBB.[87] AS secara terbuka berjanji tidak akan menyerbu Kuba dan secara tertutup setuju mencabut rudalnya di Turki yang saat itu sudah kedaluwarsa dan digantikan dengan kapal-kapal selam bermuatan rudal UGM-27 Polaris.[88]

Krisis ini adalah titik terdekat dunia dengan perang nuklir. Pada akhirnya, "sisi kemanusiaan" kedua pemimpin ini menang.[89] Krisis rudal Kuba memperbaiki citra tekad Amerika Serikat dan kredibilitas presidennya. Penilaian positif Kennedy langsung naik dari 66% menjadi 77%.[90]

Amerika Latin dan komunisme[sunting | sunting sumber]

Dengan berpendapat bahwa "siapapun yang menjadikan revolusi damai mustahil akan menjadikan revolusi keras tidak mustahil,"[91] Kennedy berusaha mengurangi persepsi ancaman komunisme di Amerika Latin dengan mendirikan Alliance for Progress. Badan ini mengirim bantuan ke beberapa negara dan menuntut standar hak asasi manusia yang lebih tinggi di kawasan tersebut.[92] Ia bekerja sama dengan Gubernur Puerto Riko Luis Muñoz Marín dalam pengembangan Alliance of Progress, lalu mulai merencanakan otonomi Persemakmuran Puerto Riko.

Ketika presiden menjabat, pemerintahan Eisenhower melalui CIA sudah menyusun rencana pembunuhan Castro di Kuba dan Rafael Trujillo di Republik Dominika. Kennedy secara pribadi menginstruksikan CIA bahwa rencana semacam itu harus mencakup bantahan plausibel oleh AS Rencana tersebut mempertaruhkan citranya di masyarakat.[93] Pada Juni 1961, pemimpin Republik Dominika tersebut dibunuh. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Wakil Menteri Luar Negeri Chester Bowles membuat penduduk AS menanggapi pembunuhan ini dengan hati-hati. Robert Kennedy, yang melihat adanya kesempatan bagi AS, menyebut Bowles "berandalan pengecut" langsung di hadapannya.[94]

Akan tetapi, sejumlah sejarawan mengkritik Kennedy karena memegang standar ganda seputar hak asasi manusia dan kebebasan politik. Misalnya, Noam Chomsky menemukan bukti bahwa kudeta di Guatemala tahun 1963 yang menggagalkan pemilihan umum dibantu habis-habisan oleh pemerintahan Kennedy. Chomsky berpendapat Kennedy mendukung kudeta ini karena proposal kebijakan utama yang diusung Jacobo Arbenz, pemain terdepan dalam pemilu, adalah undang-undang reformasi tanah yang sangat populis dan tidak bersahabat dengan kepentingan United Fruit Company milik Amerika Serikat.[95] Pakar-pakar lain berpendapat bahwa Kennedy dan penggantinya, Lyndon B. Johnson, mendukung rezim militer yang melakukan kampanye kontra-pemberontak brutal pada 1960-an dan menewaskan puluhan ribu warga sipil.[96]

Korps Perdamaian[sunting | sunting sumber]

Salah satu keputusan pertama Kennedy sebagai presiden adalah meminta Kongres membentuk Korps Perdamaian. Saudara tirinya, Sargent Shriver, menjadi direktur pertamanya.[97] Melalui program ini, warga Amerika Serikat secara sukarela membantu negara-negara mundur di bidang pendidikan, pertanian, kesehatan, dan pembangunan. Organisasi ini berkembang menjadi 5.000 anggota pada Maret 1963 dan 10.000 pada tahun berikutnya.[98] Sejak 1961, lebih dari 200.000 warga AS telah bergabung dengan Korps Perdamaian dan bekerja di 139 negara.[99][100]

Asia Tenggara[sunting | sunting sumber]

Saat menyampaikan taklimat ke Kennedy, Eisenhower menegaskan bahwa ancaman komunis di Asia Tenggara perlu diutamakan. Eisenhower menganggap Laos sebagai "tutup botol" ancaman regional. Pada Maret 1961, Kennedy mengusulkan perubahan kebijakan dari mendukung Laos "bebas" menjadi Laos "netral", secara pribadi menandakan bahwa Vietnam, bukan Laos, harus dianggap sebagai tali jerat Amerika Serikat untuk menghambat penyebaran komunisme di kawasan itu.[101]

Bulan Mei 1961, ia mengirim Lyndon Johnson untuk bertemu Presiden Vietnam Selatan Ngo Dinh Diem. Johnson menjamin Diem bahwa negaranya akan menerima banyak bantuan untuk memperkuat pasukan melawan komunis.[102] Kennedy mengumumkan perubahan kebijakan dari dukungan menjadi kerja sama dengan Diem untuk mengalahkan komunisme di Vietnam Selatan.[103]

Kennedy awalnya mengikuti jejak Eisenhower, yaitu dengan menggunakan aksi militer terbatas untuk memerangi pasukan komunis yang dipimpin Ho Chi Minh.[104] Ia melanjutkan kebijakan penyediaan bantuan politik, ekonomi, dan militer untuk pemerintah Vietnam Selatan.[104] Pada akhir 1961, Viet Cong mulai memperkuat keberadaannya, diawali dengan merebut ibu kota provinsi Phuoc Vinh.[105] Kennedy menambah jumlah helikopter, penasihat militer, dan Pasukan Khusus AS tak resmi di daerah itu, tetapi ia enggan memerintahkan pengerahan tentara besar-besaran.[106][107]

Pada akhir 1961, Presiden Kennedy mengirim Roger Hilsman, direktur Biro Intelijen dan Riset Departemen Luar Negeri, untuk menilai keadaan di Vietnam. Di sana Hilsman bertemu Sir Robert Thompson, kepala Misi Penasihat Britania Raya untuk Vietnam Selatan, dan konsep Strategic Hamlet Program pun dibentuk. Program ini disetujui Kennedy dan Presiden Vietnam Selatan Ngo Dinh Diem. Program ini diberlakukan pada awal 1962 dan melibatkan relokasi paksa, pengurungan desa, dan pemecahan pedesaan Vietnam Selatan menjadi desa-desa baru yang para petaninya diisolasi dari pengaruh pemberontak Komunis. Diharapkan desa-desa baru ini melindungi petani dan memperkuat hubungan warga dan pemerintah pusat. Akan tetapi, pada November 1963 program ini melemah dan dihentikan secara resmi tahun 1964.[6]

Awal 1962, Kennedy secara resmi mengizinkan peningkatan keterlibatan melalui pengesahan "National Security Action Memorandum – Subversive Insurgency (War of Liberation)".[108] Menteri Luar Negeri Dean Rusk sangat mendukung keterlibatan AS.[109] "Operation Ranch Hand", upaya defoliasi udara berskala besar, dimulai di semua pinggiran jalan Vietnam Selatan.[110][b]

Kennedy bersama calon Perdana Menteri Australia Harold Holt di Oval Office tahun 1963.

Bulan April 1963, Kennedy menilai situasi di Vietnam: "Kami tidak berniat menetap di Vietnam. Masyarakatnya membenci kami. Mereka akan mencampakkan orang-orang kami kapan saja. Tetapi saya tidak mau menyerahkan daerah tersebut ke pihak komunis dan memaksa rakyat Amerika Serikat memilih saya kembali".[111] Kennedy menghadapi krisis di Vietnam pada bulan Juli. Meski bantuan AS ditambah, militer Vietnam Selatan hanya efektif secara marginal dalam perlawanan terhadap pasukan pro-komunis Viet Cong.

Tanggal 21 Agustus, tepat setelah Duta Besar AS yang baru Henry Cabot Lodge, Jr. tiba, Diem dan adiknya Ngo Dinh Nhu memerintahkan pasukan Vietnam Selatan yang didanai dan dilatih CIA meredam demonstrasi Buddha. Tindakan ini menambah kecurigaan rencana kudeta untuk menjatuhkan Diem dan (atau oleh) adiknya, Nhu.[112] Lodge diinstruksikan untuk meminta Diem dan Nhu mundur dan meninggalkan negara itu. Diem tidak mau mengikuti saran Lodge.[113]

Cable 243 (DEPTEL 243), tertanggal 24 Agustus, keluar yang isinya menyatakan bahwa Washington tidak bisa membiarkan lagi aksi-aksi Nhu, dan Lodge disuruh menekan Diem untuk memecat Nhu. Jika Diem menolak, Amerika Serikat akan mencari pemimpin alternatif.[114] Lodge mengatakan satu-satunya opsi yang mungkin adalah membiarkan jenderal Vietnam Selatan menggulingkan Diem dan Nhu seperti yang direncanakan sebelumnya.[115]

Akhir pekan itu, Kennedy mengetahui dari Lodge bahwa pemerintahan Diem, karena Nhu dibantu Prancis, mungkin diam-diam bekerja sama dengan komunis—dan meminta warga Amerika Serikat meninggalkan negara itu. Surat perintah pun disebarkan ke Saigon dan Washington untuk "memusnahkan semua kawat kudeta".[116] Pada saat yang sama, sentimen anti perang Vietnam resmi yang pertama dilontarkan oleh pendeta AS dari Ministers' Vietnam Committee.[117]

Rapat Gedung Putih bulan September dipenuhi berbagai macam hasil penilaian. Presiden mendapatkan laporan penilaian baru setelah pemeriksaan pribadi di lapangan oleh Departemen Pertahanan (Jenderal Victor Krulak) dan Departemen Luar Negeri (Joseph Mendenhall). Krulak mengatakan bahwa pertempuran militer melawan komunis sedang berlangsung dan dimenangkan, sementara Mendenhall menyatakan bahwa pengaruh AS semakin memudar di Vietnam Selatan. Kennedy menanggapi dengan bertanya, "Apakah kalian mengunjungi negara yang sama?" Presiden tidak tahu bahwa keduanya sedang bertentangan sampai-sampai mereka tidak saling berbicara dalam penerbangan pulang.[118]

Bulan Oktober 1963, presiden menunjuk Menteri Pertahanan McNamara dan Jenderal Maxwell D. Taylor untuk melakukan misi ke Vietnam demi menyelaraskan informasi dan penyusunan kebijakan. Tugas misi McNamara Taylor adalah "menekankan pentingnya mencari dasar perbedaan laporan perwakilan AS di Vietnam".[119] Dalam pertemuan dengan McNamara, Taylor, dan Lodge, Diem lagi-lagi menolak setuju dengan peraturan yang diinginkan AS, sehingga McNamara kehilangan optimismenya terhadap Diem.[120]

Taylor dan McNamara juga diberitahu Wakil Presiden Vietnam, Nguyen Ngoc Tho (calon pengganti Diem potensial jika terjadi kudeta), bahwa informasi Taylor seputar keberhasilan militer di pedesaan tidak benar.[121] Karena Kennedy bersikeras, laporan misinya menyertakan rekomendasi jadwal penarikan tentara: 1.000 orang pada akhir tahun dan penarikan penuh tahun 1965, sesuatu yang dianggap sebagai fantasi strategis oleh NSC.[122] Laporan akhirnya menyatakan bahwa militer sedang membuat kemajuan, bahwa pemerintahan Diem yang semakin tidak populer rentan terhadap kudeta, dan bahwa pembunuhan Diem atau Nhu mungkin saja terjadi.[123]

Pada akhir Oktober, kawat intelijen kembali melaporkan bahwa kudeta terhadap pemerintahan Diem sudah dekat. Sumbernya, Jenderal Vietnam Duong Van Minh (dijuluki "Minh Besar"), ingin mengetahui posisi AS Kennedy menginstruksikan Lodge untuk menawarkan bantuan kudeta secara rahasia, tidak termasuk pembunuhan, dan menjamin adanya bantahan dari AS.[124] Pada bulan yang sama, seiring mendekatnya kudeta, Kennedy memerintahkan semua kawat dialihkan ke kantornya. Kebijakan "pengendalian dan pemutusan" diterapkan untuk menjamin kendali presiden terhadap semua respon AS dan memutuskannya dari jejak berkasnya.[125]

Tanggal 1 November 1963, beberapa jenderal Vietnam Selatan yang dipimpin "Minh Besar" menggulingkan pemerintahan Diem, menangkap dan membunuh Diem dan Nhu. Kennedy dikejutkan oleh kematian dua orang tersebut. Ia kemudian mengetahui bahwa Minh telah meminta pejabat lapangan CIA memberikan akses aman keluar Vietnam bagi Diem dan Nhu, namun diberitahu bahwa pesawat baru bisa didatangkan dalam kurun 24 jam. Minh merespon bahwa ia tidak sanggup melindungi mereka selama itu.[126]

Berita tentang kudeta ini awalnya meningkatkan kepercayaan—baik di Amerika dan Vietnam Selatan—bahwa perang bisa dimenangkan.[127] McGeorge Bundy merancang National Security Action Memo untuk dipaparkan ke Kennedy sepulangnya dari Dallas. Memo ini menekankan kembali solusi penumpasan komunisme di Vietnam melalui bantuan militer dan ekonomi dan perluasan operasi sampai Laos dan Kamboja. Sebelum berangkat ke Dallas, Kennedy memberitahu Michael Forrestal bahwa "setelah awal tahun ... [ia menginginkan] penelitian mendalam terhadap semua opsi yang memungkinkan, termasuk cara keluar dari sana ... untuk meninjau hal ini secara keseluruhan dari bawah ke atas". Saat ditanya tentang maksud presiden, Forrestal menjawab, "itu urusan pemuja iblis."[128]

Sejarawan belum menyepakati apakah Vietnam akan memanas seandainya Kennedy selamat dan terpilih lagi tahun 1964.[129] Pernyataan yang dilontarkan Menteri Pertahanan McNamara di film "The Fog of War" bahwa Kennedy mempertimbangkan kuat untuk menarik tentara dari Vietnam setelah pemilu 1964 ikut meramaikan perdebatan ini.[130] Film tersebut juga berisi rekaman pernyataan Lyndon Johnson bahwa Kennedy berencana menarik pasukan, tindakan yang tidak disetujui Johnson.[131] Kennedy menandatangani National Security Action Memorandum (NSAM) 263 pada 11 Oktober yang memerintahkan penarikan 1.000 personel militer pada akhir tahun itu.[132][133] Aksi semacam ini memerlukan pembatalan kebijakan, namun Kennedy tidak bergerak secara terburu-buru setelah berpidato tentang perdamaian dunia di American University tanggal 10 Juni 1963.[134]

Ketika Robert Kennedy ditanyai tahun 1964 tentang apa yang akan dilakukan kakaknya jika Vietnam Selatan berada di ambang kekalahan, ia menjawab, "Kami akan menghadapinya ketika kami mengalaminya."[135] Pada waktu kematian Kennedy, tidak ada keputusan kebijakan akhir yang dibuat mengenai Vietnam.[136] Keterlibatan AS di kawasan itu meningkat sampai Lyndon Johnson, penggantinya, secara langsung mengerahkan pasukan militer reguler AS untuk bertempur dalam Perang Vietnam.[137][138] Pasca pembunuhan Kennedy, Presiden Johnson mengesahkan NSAM 273 pada tanggal 26 November 1963. Dokumen ini membatalkan keputusan Kennedy untuk menarik 1.000 tentara dan menegaskan kembali kebijakan bantuan untuk Vietnam Selatan.[139][140]

Pidato American University[sunting | sunting sumber]

Kennedy menyampaikan pidato kelulusan di American University, June 10, 1963

Pada tanggal 10 Juni 1963, Kennedy menyampaikan pidato kelulusan di American University, Washington, D.C., "untuk membahas topik yang terlalu sering diabaikan dan kebenarannya jarang dilihat—tetapi merupakan topik terpenting di muka bumi: perdamaian dunia ... Saya mengambil tema perdamaian karena perang memiliki wujud baru... pada masa ketika satu senjata nuklir memiliki kekuatan ledak sepuluh kali lipat lebih besar daripada semua kekuatan pasukan sekutu pada Perang Dunia Kedua ... masa ketika racun mematikan yang dihasilkan oleh reaksi nuklir akan disebarkan oleh angin dan udara dan tanah dan benih sampai ujung terjauh dunia dan generasi manusia yang belum lahir ... karena itu, saya mengambil tema perdamaian sebagai solusi rasional terakhir yang dimiliki manusia rasional ... perdamaian dunia, seperti perdamaian masyarakat, tidak mengharuskan setiap orang mencintai tetangganya—mereka hanya perlu hidup berdampingan dibarengi toleransi bersama ... semua masalah kita adalah buatan manusia—karena itu penyelesaiannya juga datang dari manusia. Dan manusia bisa sebesar apapun yang diinginkannya."[141] Presiden juga membuat dua pengumuman—bahwa Soviet ingin menegosiasikan perjanjian larangan uji nuklir dan AS menunda rencana uji atmosfer.[142]

Pidato Berlin Barat[sunting | sunting sumber]

Kennedy berpidato di Berlin Barat